Sssst - 7

thumbnail
Sssttt – 7
- Aktor Nicholas Cage yang sering jadi jagoan di film itu ternyata mengidap penyakit vertigo atau gampang pusing keliling tanpa sebab jelas.
- Nicholas Cage juga pernah punya mobil merk Lamborghini yang dulunya milik Shah Iran.
- Siapa sangka nama Nicholas Cage yang asli itu adalah Nicholas Coppola. Dia memakai nama Cage gara-gara gandrung pada tokoh komik Luke Cage.

Artukel-7

thumbnail

Artikel tamu


Hollywood

Oleh FX Bachtiar
Apa yang muncul di benak kita saat membaca judul tulisan di atas? Sebuah kawasan di California, Amerika Serikat, dimana sejak awal Abad Ke-XX menjadi pusat industri film AS yang hasil produksinya telah berhasil menguasai pasar dunia, tidak tersaingi oleh produsen fim negara mana pun.
Menikmati hiburan produk Hollywood saya mulai dari berbagai film segala umur (istlah masa itu) di awal tahun 50-an seperti Peter Pan, Snow White and the Seven Dwarfs, meningkat ke yang untuk 13 tahun ke atas seperti 20,000 Leagues to the Bottom of the Sea, around the World in 80 Days, Sinbad, Robin Hood, kemudian setelah cukup umur mulai menonton yang untuk 17 tahun ke atas, entah sudah berapa ratus judul dan jenis cerita, ada drama yang serius, ada komedi yang konyol, ada aksi laga yang menegangkan dan lain-lain. Sebagian latar belakang di samping nuasnsa sejarah seperti jaman Romawi, masa perang saudara Utara-Selatan, Perang Dunia I dan II, perang Pasifik, perang Vietnam sampai perang di Timur Tengah, banyak ditampilkan keragaman geografi, demografi, dan kondisi sosial seprti panasnya gurun di Arizona dan Nevada, rawa-rawa yang menyimpan misteri di Florida, gersangnya padang rumput dan ladang minyak di Texas, terjalnya tebing-tebing Rocky Mountains di Colorado, gemerlapnya kasino di Las Vegas, hiruk-pikuknya kehidupan di New York, indahnya pantai Hawaii, kokoh dan ketatnya penjara Alcatraz di Teluk San Fransisco, mistisnya kehidupan kaum Indian, kerasnya komunitas cowboy penggembala sapi, ganasnya kriminalitas di kota-kota besar, hebatnya Secret Service, FBI dan SWAT, canggihnya sistem pengamanan Gedung Putih dan pesawat terbang kepresidenan Air Force One, luasnya jaringan CIA, ampuh dan berani matinya personel Green Berrets, Delta Force, US Marine, Navy SEAL, dan para penerbang tempur US Air Force.
Dari nonton film saya lebih banyak mengingat nama-nama bintang film daripada nama-nama teman satu klas dan tetangga, bahkan kerabat. Nama-nama Jerry Lewis, Alan Ladd, Rock Hudson, Tony Curtis, Yull Bryner, Stewart Granger, Gary Cooper, Audy Murphy, Johnny Weismuller, John Wayne, Jack Palance, Robert Wagner, David Niven, Anthony Quinn, Burt Lancaster, Franco Nero, Dirk Bogarde, Liz Taylor, Brigitte Bardot, Claudia Cardinale, Gina Lolobrigida, disusul generasi berikutnya seperti Chuck Norris, Clint Eastwood, Robert Redford, Harrison Ford, Tommy Lee Jones, Sylvester Stallone, Barbara Streisand, Julia Roberts, Whoopy Goldberg, Pierce Brosnan, Sandra Bullock, dan puluhan nama lainnya, seakan tidak mungkin hilang dari ingatan. Akting mereka membekas sebagai the good guys atau the bad guys, the winners atau the losers, the lovers atau the cheaters.
Dulu saya rasakan bahwa film apa pun darinegara mana pun termausk produk Hollywood,menyuguhkan pelajran tentang bagaimana hal-hal baik (cinta, kejujuran, kesetiaan, kepintaran) pasti mengalahkan semua yang buruk (kedengkian, keserakahan, kecurangan, kebodohan). Paling tidak film masa itubenar-benar memberi hiburan segar kepada para penontonnya. Dampak yang muncul kemudian adalah tumbuhnya rasa kagum terhadap AS, terhadap orang Amerika, terhadap produk buatan Amerika dan terhadap gaya Amerika yang secara perlahan lalu memunculkan jiwa bebasa a la Amerika di kalangan masyarakat Indonesia terutama generasi muda waktu itu. Celana jeans ketat atau cutbray, rambut divaseline, rok can-can, musik ngak-ngik-ngok (rock and roll), juga kemudian muncul grup-grup crossboys di kota-kota besar yangmenjamur begitu luas smapai-sampai pemerintah Indonesia masa itu merasa perlu mengambil langkah tegas untuk memagari budaya Indonesia.
Sekarang, di mana teknologi informasi telah berkembang sedemikian cangguh dan tidak lagi bisa dibatasi oleh waktu maupun ditangkal oleh kedaulatannegara, Hollywood pun (sengaja atau tidak) telah berkembang perannya dari yang semula hanya memproduksi hiburan untuk dunia, menjadi agen pembentuk opini bagi kepentingan Amerika Serikat di seantero dunia. Melalui layar perah, di bioskop Grup 21 atau di layar tancap, disebarkan berbagai kisah tentang kebobrokan negara dan pemerintahan komunis, tentang kekejaman teroris (baca: Islam fundamentalis), tentang petaka mengerikan kalau nuklir digunakan negara selain AS yang semua itu dibuat dengan dukungan tkenologi perfilman modern dan penggapran script secara halus untuk bis amenumbuhkan kebencian penontonnya terhadap pihak-pihak yag dianggap berbahaya bagi AS. Para penontonnya, terutama di luar AS, dijejali pemahaman bahwa amannya AS adalah amannya dunia, menyerang AS berarti menyerang dunia.
Disadari atau tidak, dewasa ini kota bansa Indonesia telah terjerumus ke dalam suasana kehidupan berbangsa dan bernegara yang disukai oleh Sang Adikuasa, ikut membenci lawan-lawannya tanpa terlebih dahulu berusaha memahami akar permasalahan sebenarnya yang melatarbelakangi munculnya sikap dan tindakan memerangi kepentinan AS. Kondisi ini apabila tidak kita sikapi secara cerdas dan bijak pasti akan mendisharmoni hubungan bangsa Indonesia dengan bangsa-bangsa lain yang dibenci AS, yang apabila benar-benar trjadi maka berakhirlah komitmen bangsa Indonesia untuk bersikap bebas-aktif dalam percaturan antarbangsa.
Di dalam negeri tumbuh rasa caling mencurigai dan dicurigai. Di bidang kehidupan beragama, sebagian warga negara Indonesia pemeluk agama minoritas (non-muslim) menjadi gelisah dan libung berada di lingkungan pemeluk agama mayoritas (muslim) yang oleh Hollywood digambarkan sebagai berpihak kepada teroris yang mengancam kedamaian dunia, sementara di sisi lain sebgaian kaum muslim terpancing untuk menampilkan arogansi mayoritas. Di bidang ideologi, para keturunan ex-PKI tetap emrasa terkucilkan dari kehidupan bermasyarakat sehingga ada yang laluberupaya keluar dari himpitan psikologi itu dengan menyatukan diri, berkegiatan dalam organisasi-organisasi yangmereka bentuk, sementar di sisi lain fobia terhadap komunisme masih tetap ditampilkan dalam sikap penolakan tanpa kompromi.
Di bidang teknologi, rakyat yang takut terhadap bahaya nuklir berhadapan dengan pemerintah yangbernafsu membangun PLTN tanpa (mudah-mudahan sudah) memperhitungkan kemungkinan adanya kecerobohan dari pekerja yang masih belum trbiasa menempatkan masalah keselamatan sebagai bagian budaya kerja terpenting dan kemungkinan bahaya lain yang justru non-teknis yaitu bahwa pada suatu hari nanai bisa saja dimunculkan kecurigaan adanya penyalahgunaan nuklir oleh Indonesia (ingat Irak dan Korea Utara) sehingga Indonesia harus dihukum.
Lebih hebat lagi di bidang kebudayaan, indikasi hilangnya jati diri bangsa dan sopan santun ajaran adat ketimuran terliaht dan terdengar hampir setiap saat terutama di layar televisi, aa tayangan acara musik country yang sangat saya gemari namun menontonnya sambil geli atas tingkah para cowboy sato matang yang kebanyakan belm pernahmenunggang kuda dan bahkan sama kuda delman saja takut, ber-country dance lengkap dengan boots, kemeja kotak-kotak dan topi Stetson, lalu ada tayangan infotainment yang terlalu blak-blakan, ada ungkapan kekesalan penuh caci-maki, ada acara dialog langsung (live) diwarnai adegan saling memotong pembicaraan bahkan dengan gerak tangan yangmuda menunjuk-nunjuk wajah lawan bicara yang lebih berumur, sebuah kebebasan berekspresi yang di Amerika pun tidak semua orang menyukainya, sebuah lompatan yang luar biasa.
Akan menuju ke manakah kita? Kalau seluruh bangsa Indonesia tidak segera mengubah arah perjalanan saat ini yang jelas-jelas menuju perpecahan, tidak segera kembali ke arah perjalanan sesuai cita-cita proklamasi di atas landasan adat budaya bangsa. Mari kita kubur dalam-dalam impian kita untuk menjadi bangsa yang besar yanghidup di Bumi Nusantara yang tata tentrem kertaraharja gemah ripah loh jinawi.
Nasib dan masa depan Indonesia akan sangat tergantung kepada Sang Adikuasa. Mari kita tonton terus film-film made in Hollywood dan resapi salam-dalam ucapan Clint “Dirty Harry” Eastwood setiap akan menghabisi lawan dengan Colt Phyton kaliber 44 Magnum-nya: “MAKE MY DAY”.
thumbnail
Mutiara Hati

Penulis Adji Subela
Bagian Ke-6

Bagi saya tidak ada kata mundur, sama seperti ketika bertempur dulu. Maka jadilah acara lamaran sederhana kami laksanakan di Jalan Yogya No.2. Tidak ada acara adat, tidak ada formalitas. Kelihatannya mereka semua sudah maklum dan menerima saya apa adanya, perantau dari tanah Parahyangan ini. Semuanya berlangsung lancar, dan kemudian diadakan tukar menukar cincin. Pada hari itu juga, kami resmi bertunangan. Alangkah bahagianya!
Saya masih ingat Kucik waktu itu memakai baju kurung Melayu terbuat dari kain satijn berwarna hijau serta kain Pelekat. Pakaian inilah yang menjadi kebanggaan kaumnya pada waktu itu. Bahkan setelah kami menikah dan berkunjung ke Jakarta, Kucik masih tetap mengenakan pakaian adat itu ke mana-mana sampai banyak orang yang melihatnya dengan keheran-heranan. Adapun cincin pertunangan itu, hingga sekarang masih tetap saya pakai. Bentuknya sederhana, hanya berupa sigar penjalin atau rotan dibelah dua, tidak seperti model cincin tunangan jaman sekarang. Di bagian dalam ada tertulis nama kami berdua. Selain cincin itu, saya hingga sekarang pun memakai cincin bermata zamrud hadiah perkawinan kami dari Ibu Permaisuri. Bentuknya sederhana tapi indah dan tetap bersinar hingga sekarang. Tentu saja kedua cincin itu sudah beberapa kali saya besarkan ukurannya agar tetap enak dipakai.
Acara bertunangan itu pun terlaksana juga dengan sangat sederhana, dihadiri oleh sekitar 20 orang kerabat. Tunangan itu diadakan diam-diam guna menghindarkan diri dari para saudara yang tidak setuju dengan hubungan kami berdua. Sebenarnya saya bisa saja berbuat semaunya, karena saya seorang militer, kenyang dalam pertempuran sehingga apa saja siap saya lawan, apalagi menyangkut kehormatan. Namun keutuhan keluarga Kucik tetap harus dipertahankan sebaik-baiknya, ibarat menarik benang dari tepung, benang tertarik tepung tak berserak.
Selesai acara penting itu, tak ada lagi kegiatan khusus, seperti selamatan misalnya. Kalau soal makan, setiap kali berkunjung saya selalu diajak makan bersama mereka, tidak perlu suasana tertentu. Bila tiba waktu makan mereka mengajak menyantap hidangan yang tersedia di meja besar. Dan itulah kebiasaan mereka, spontan, tidak berbasa-basi, hubungan menjadi akrab dan hangat. Hanya saja setelah bertunangan itu, Ibu sering memasak hidangan khusus untuk saya, umumnya dari bermacam-macam jenis ikan laut serta udang galah yang besar-besar itu. Bagi saya ini suatu keistimewaan, sebab ketika masih di kampung halaman, jenis ikan yang kami tahu hanya ikan darat dari balong (kolam, tebat) itu saja seperti ikan mas, gurami, mujair, dan sebagainya. Kebiasaan itu Ibu lakukan hingga saat kami bertugas di Singapura maupun Jakarta. Istana mereka pun dahulu selalu terbuka bagi masyarakat umum. Siapa pun boleh bertandang dan selalu ada acara makan bagi mereka.
Setelah kami bertunangan, Kucik mulai ikut kegiatan kemasyarakatan saya seperti bermain badminton, tenis, atau bridge dengan para kenalan, handai taulan. Di sanalah ia berkenalan dengan keluarga Kartakusuma, yang kemudian menjadi sahabat dekat kami hingga sekarang ini. Lagi-lagi, kami masih tetap mendapat pengawalan dari sanak saudaranya, walau pun jumlahnya tidak ‘satu peleton’ seperti ketika menonton film dahulu itu. Hubungan saya dengan para kerabat perempuan lebih erat lagi. Mereka biasa memanggil saya dengan sebutan adik, bahkan dengan menyebut nama Barkah saja, seperti Ibunda Kucik memanggil saya. Ada yang memanggil saya dengan menyebut pangkat saya, Kapten. Lucunya, Atok atau Eyang Kucik selalu memanggil saya dengan sapaan Kapten, tidak peduli saya sudah berpangkat Kolonel sampai Brigadir Jenderal sekali pun.
Menikah di kota lain
Menjelang akhir tahun 1950 itu keputusan untuk segera menikah semakin kental. Namun dengan ketidak setujuan para paman Kucik, maka hal ini merepotkan juga. Salah seorang kakak laki-laki Kucik harus mengasingkan diri ke Singapura dengan biaya kami, karena ia tidak ingin menyulitkan posisi kami dalam perkawinan itu. Dalam adat mereka, jika sebuah pernikahan tidak direstui secara bulat oleh seluruh keluarga, maka pernikahan harus dilangsungkan di tempat lain, menjauh.
Atas persetujuan para anggota keluarga yang mendukung, saya menyiapkan tempat menikah di kota lainnya. Pilihan saya jatuh ke kota Pematang Siantar, kira-kira 120 km dari Medan ke arah tenggara. Tempat itu cukup baik, aman, dan para kolega saya di Komando Militer Kota (KMK) setempat sangat mendukung, dan mereka menjadi semacam panitia untuk melaksanakannya termasuk yang mengatur semuanya. Saya pikir mungkin atas instruksi Pak D.I. Panjaitan.
Tempat pernikahan kami adalah Hotel Siantar. Bukan di aulanya, tapi cukup di salah satu dari dua kamar yang dipesan teman-teman KMK. ‘Panitia’ lokal itu terdiri dari tiga orang, termasuk Komandan KMK-nya, walau pun dalam acara sesungguhnya ia tidak hadir. Tentu saya sangat berterimakasih kepada mereka ini. Sedangkan rombongan dari Medan terdiri dari kira-kira 10 orang, berangkat menggunakan dua mobil. Komandan KMK sangat mendukung rencana saya itu. Malahan dua orang anak buahnya bertindak sebagai saksi pernikahan tersebut. Di antaranya tentu saja Tengku Kamaliah, termasuk Ibu tiri Kucik. Ibu ini mengerti sekali kesulitan yang saya hadapi, dan dengan sabar selalu mendampingi kami.
Surat nikah pada waktu itu masih sangat sederhana terdiri dari selembar kertas tebal dilipat menjadi dua. Yang mengeluarkan surat itu adalah Djawatan Agama Daerah Sumatra Timur, Medan, diserahkan melalui Kotapradja Pematang Siantar.
Kami menikah 11 Januari 1951 atau tanggal dua bulan empat tahun 1370 Hijriyah. Usia saya genap 27 tahun, suatu umur yang cukup matang untuk menikah, sedangkan calon istri saya 18 tahun, cukup dewasa untuk menjalani hidup berumah tangga.
Bertindak sebagai kadhi atau naib kadhi adalah H. Abdul Halim, yang sekaligus menjadi wali nikahnya. Sedangkan para saksi terdiri dari Rasyid Ali, kemudian dua orang kolega saya anggota KMK masing-masing Letnan Dua Suwarsono, serta Letnan Muda J. Arsyad.
Saya tahu betul siapa Letnan Dua Suwarsono. Ia adalah bekas anggota Tentara Pelajar dari salah satu kota di Jawa. Prestasinya sangat baik, dan dia ditugaskan ke Teritorium I oleh karena kemampuannya itu. (Bersambung)

Mari Berkorups!

thumbnail
Cerpen

PENGANTAR:
Cerita pendek ini pernah dimuat di harian Sinar Harapan, Jakarta, Sabtu, 20 Desember 2003 di Halaman 12, juga dikutip di berbagai situs lainnya. Kini cerita saya turunkan lagi di blog ini gara-gara gegap-gempita masalah korupsi dan bagaimana wajah intitusi-institusi penegak hukumnya saat ini.
Selamat mengikuti.




Oleh Adji Subela
Ketika larangan itu anjuran, saat hukuman cuma senyum kecil di bibir manis dan tatkala dosa dan neraka cuma kata-kata kempis di mimbar khotbah, maka Tengul berteriak-teriak di Bundaran di depan Hotel Indonesia, di bawah lambaian Patung Selamat Datang, melambai orang-orang lewat untuk menggalakkan hidup berkorupsi.
Sewaktu seorang sahabatnya menyebutnya gila dan bisa dituntut karena menganjurkan orang lain untuk melanggar hukum, Tengul cuma nyengir menangkis: “Siapa sih manusia yang paling bersih di negeri kita? Hayo?”
Belakangan ini gejolak batin Tengul memang tak terkira-kira besarnya. Sering ia merasa eneg hendak muntah mendengar tuntutan setiap detik setiap hari agar korupsi diberantas hingga ke akar-akarnya. Berpuluh-puluh organisasi antikorupsi didirikan orang, dan diberi nama gagah-gagah dengan tujuan luhur dunia akhirat: memberantas korupsi dan dan menciptakan pemerintahan yang bersih dan berwibawa, selalu memikirkan dan berpihak kepada wong cilik!
“Siapa yang menjamin sih, kalau korupsi lantas berkurang? Siapa yang berani bertanggung jawab kalau organisasi-organisasi itu nanti tidak korup sendiri?” ia tetap bertahan pada prinsipnya.
Di depan teman-temannya ia selalu serius berpidato bahwa di zaman Orde Lama, pemerintah tak menyuapi rakyatnya pakai makanan, tapi menyekokinya dengan Tujuh Bahan Indoktrinasi alias Tubapi. Rakyat tetap tak berubah, masih saja kelaparan sambil mendengarkan pidato-pidato. Di zaman Orde Baru, rakyat makan setengah kenyang, sambil melihat pejabat-pejabat dan keluarganya berkorupsi sembari dicekoki Penataran P4, dengan lauk harian berupa peringatan-peringatan, ancaman dan intimidasi. Korupsi menjadi-jadi gilanya, dan orang malah bangga menjadi koruptor, lalu korupsi menjadi yang lebih utama. Hasilnya dipamerkan ke mana-mana.
Zaman reformasi ini, Tengul menamainya sebagai Orde Bingung, orang seperti kethek ditulup (1). Kebobrokan peninggalan Orde Baru terlalu banyak, sulit dituntasi seketika. Penguasa seperti tak ada, lantaran mereka sendiri bingung mana yang benar dan mana yang salah. Tengul melihat yang banyak cumalah kebingungan dan keluhan, tuntutan, teriak-teriak tak menentu, kritikan konstruktif maupun yang ngawur asal bunyi, dan juga muncul komentar-komentar bodoh sementara korupsi malah disebutnya tidak marak sama sekali!
“Ah, bohoooong,” seorang temannya tak percaya.
“Sungguh! Tidak marak! Tapi korupsi sudah jadi way of life masing-masing individu warga negara dan sudah meresap dalam darah dagingnya dan jadi acuan-tindak untuk hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Tinggal menunggu adanya pejabat yang berkata – darah daging saya koruptor, itu saja.” Korupsi telah jadi bukan persoalan dan yang berteriak-teriak antikorupsi bagi Tengul cuma orang yang kurang pekerjaan saja.
Resep yang paling baik, adalah menganjurkan setiap orang untuk berkorupsi sedapat-dapat dan semampu-mampunya. Malahan diharuskan. Tengul tetap percaya bahwa kalau semakin dilarang, orang Indonesia akan diam-diam mengerjakannya. Sedangkan kalau dianjurkan, malah tidak dikerjakan!
Dalam sebuah diskusi kecil di ruangan mewah hotel berbintang lima, Tengul meyakinkan para peserta bahwa anjuran berkorupsi harus dituangkan dalam seperangkat aturan yang memungkinkan pembinaan dan pelaksanaannya berjalan baik.
Gerakan meningkatkan kegiatan korupsi ini bagi pria ceking tersebut begitu serius sehingga ia ia ngotot agar Dewan Perwakilan Rakyat harus dilibatkan secara aktif. Semua komponen masyarakat yang mendukung maupun yang kontra korupsi harus diundang untuk merumuskan pelaksanaannya.
“Bagaimana kalau kelompok antikorupsi di luar maupun di dalam parlemen gigih menentang rencana gila kamu itu?” kata Sodrun, yang dalam hatinya sebenarnya setuju saja.
“Bagi kita mudah, kita bikin saja pemungutan suara secara tertutup alias rahasia. Aku kira hasilnya akan positif. Sebelumnya kaum antikorupsi kita lobby dulu, lalu kita ajak studi banding ke luar negeri,” ini jalan keluar Tengul.
“Lho LSM-LSM yang antikorupsi bagaimana? Apa mereka tidak teriak-teriak?” sambar Sodrun lagi.
Tengul yakin itu perkara mudah saja. Solusinya? Beri mereka Proyek Penelitian Pelaksanaan Korupsi dari Pusat Hingga Daerah, Antara Fakta dan Harapan. Beri kebebasan mereka untuk menyampaikan hasilnya. “Berapa saja besarnya rencana biaya yagn diajukannya kita lipatkan tiga saja, karena program ini penting untuk kelangsungan hidup bangsa di masa mendatang. Mereka tentulah senang,” enteng betul si Tengul itu menjawabnya.
“Bung apa sampeyan (2) pikir MPR akan setuju?” Drs Ir Sastro Kenthir MPA, MM, MBA, Phd mengujinya.
“Ya inilah masalahnya. Tapi semua anggota DPR ‘kan merangkap jadi anggota MPR juga? Mudah-mudahan bisa diatur. Teknis di lapangannya, nanti kita adakan demonstrasi alias unjuk rasa mendukung korupsi secara mantap dan berkelanjutan. Orang-orang untuk itu sudah siap tinggal call saja. Ini semacam pressure saja, biasalah.”
Tengul berencana melibatkan para artis-selebritis, karena hanyamerekalah kini yang dipercaya orang. Yudikatif tidak sama sekali, eksekutif telah bolong dan legislatif dianggapnya lebih serakah. Akan dibikinnya promosi besar-besaran, karena oran Indonesia paling gampang termakan iklan. Apa yang dikatakan iklan ditelan bulat-bulat tanpa dilihat.
Pria ceking itu menyambung lagi: “Pendeknya, kehidupan berkorupsi sudah meresap hinga ke sel-sel otak dan hati kita semua. Tinggal direalisasikan atau kita lembagakan saja secara terbuka, daripada sembunyi-sembunyi dan malu-malu kucing, wong ini sudah bukan barang aneh dan menjijikkan kok. Saya yakin gerakan ini akan didukung banyak orang secara diam-diam. Kalau pun ada yang menentang, itu karena mereka belum mendapatkan pencerahan dan penjelasan yangkomprehensif, atau ragu-ragu apakah mereka bisa memanfaatkan gerakan ini apa tidak, itu isa diatur kok, tenang saja.”
Pria ceking tokoh kita ini meyakinkan mereka, bahwa kebocoran APBN rata-rata 30% karena berbagai sebab – tentu di atnaranya korupsi – itu prestasi manajemen yang canggih, yaitu bagaimana mengatur-atur agar copetan mereka tak ketahuan. Ini memerlukan skill tinggi.
“Bung Tengul, apakah Anda tidak takut dicap antirevolusi, antipembangunan, ekstrem kiri-kanan, tengah, depan, belakang dan apakah Anda bisa menangkis tuduhan unsur keterpengaruhan. Nanti Anda akan deitanya teman dekat Anda itu siapa saja dan apa organisasinya,” Sastro mengingatkannya dengan serius.
“Mudah. Unsur keterpengaruhannya banyak. Kita tanya para pemeriksa kita, para jaksa, hakim serta pengacara. Siapa yang tidak pernah berkorupsi? Hayo ngacung (3). Siapa yang pernah berkorupsi? Ngacung.”
“Kalau mereka mereka mengaku berkorupsi?” tanya Sastro.
“Itu calon anggota kita!”
“Kalau mereka mengaku tidak berkorupsi?”
“Itu juga calon anggota kita, maksudnya anggota tingkat percobaan.”
“Kalau tidak mengacung untuk kedua hal itu?” kejar Sastro.
“Itu anggota utama kita, karena untuk berpendapat saja mereka mengorupsi dirinya sendiri, hingga ia pantas mendapat kedudukan istimewa di kelompok kita.”
Semangat Tengul untuk menggalakkan korupsi betul-betul nekat luar biasa. Organisasi itu segera akan akan dibentuknya, dengan nama sementara Komite Penggalakan Korupsi. Malahan dengan bantuan seorang pengarang lagu yang namanya minta dirahasikan betul-betul (bahkan kabarnya dengan perjanjian di atas kertas bersegel), ia menyiptakan lagu Mars Mari Berkorupsi. Seperti ini:
Marilah kita berkorupsi
Korupsi sampai mati
Hukuman jangan peduli
Itu soal nanti
Soal syairnya, Tengul menyilakan seua orang untuk mengutak-atiknya kembali, karena semangatnya memang untuk berkorupsi. “Yang penting intinya berupa ajakan untuk berkorupsi, itu saja, simpel kok,” begitu Tengul meyakinkan teman-temannya. Sodrun malahan menyumbang hymne korupsi:
Korupsi, korupsi, sungguh nikmat sekali
Marilah bangsaku kita berkorupsi, enak sekali
Jangan cuma sekali saudaraku,
Tapi berkali-kali
Sampai mati, sampai mati
Sodrun, yang tampaknya sudah jadi pendukung fanatik Tengul, menganjurkan agar untuk mengiringi lagu itu dicomot saja dari hymne-hymne yang ada – yang indah-indah bukan main – tanpa perlu minta izin pada pemilik hak ciptanya karena memang namnaya juga korupsi.
Usaha gigih Tengul dan wakilnya, Sodrun, tampaknya mendapat hasil juga. Beberapa orang mendaftarkan diri menjadi anggota. Sampai suatu ketika, Tengul mendesak diadakannya deklarasi pembentukan Komite Penggalakan Korupsi.
“Ini masalah urgen sehingga sehingga haus cepat-cepat kita realisasikan,” ujarnya dengan penuh semangat.
Ada kira-kira tiga puluh orang calon peserta, terdiri dari lima belas pria dan lima belas perempuan. Barangkali itu artinya korupsi tidak memandang jender. Semua jenis kelamin punya potensi sama untuk berkorupsi, tidak pilih-pilih. Kelihatannya asal ada peluang sikat saja, beres. Tengul dengan serius minta calon peserta agar pada saat deklarasi Komite Penggalakan Korupsi nanti di sebuah hotel berbintang lima, mereka mengenakan pakaian olahraga saja, dengan sepatu kets. Maksudnya begitu selesai acara, mereka disuruh lari kencang-kencang meninggalkan tempat itu akrena biaya sewa ruangan tidak akan dibayar. Sebab, begitu Tengul menjelaskan kepada peserta, membayar biaya ruangan itu tidak berspirit korupsi sama sekali.
****
Tiba pada hari deklarasi penting itu, calon anggota yang datang hanya sepuluh orang, masing-masing lima orang pria dan lima lainnya perempuan. Itu saja.
Banyak sekali wartawan yang datang, baik dari media ceta maupun elektronik, termasuk cyberjournalists yang dari dotkom-dotkom. Di acara itu, Komite Penggalakan Korupsi mengenalkan bandera serta simbul mereka, yaitu berupa gambar-gambar dua jari mengacung membentuk huruf V seperti gayanya PM Inggris Sinston Churchill dahulu itu. Cuma ambar tangan ini dipasang terbalik dan digambarkan menjepit selembar uang kertas. Simbul itu juga menjadi gambar bendera Komite, yang warnanya putih bersih sebagai lambang kebersihan nait mereka. Semula Sodrun mengusulkan agar benderanya berwarna hitam dan ada gamabr tengkorak yang ditutup matanya sebelah, tapi semua anggota menolah mentah-mentah karena itu identik dengan perompak. Kalau perompak, itu korupsi cara barbar. Black collar corruption. Komite ini hanya menanmpung yang white dan blue collar saja.
Belum lagi acaranya dimulai, Tengul sudah dicegar para wartawan dan diguyuri pertanyaan aneh-aneh. Maka berkatalah Tengul, sang penggagas Komite Penggalakan Korupsi itu:
“Saudara-saudara, para pengamat asing menempatkan negeri kita sebagai negeri yang paling korup nomer sekian. Itu jangan dianggap memalukan tapi harus disikapi sebagai potensi yang harus disyukuri dan dianggap sebagai peluang. Tak banyak negara yang mampu mengembangkan korupsi begitu hebat hingga semakin canggih seperti negeri kita. Oleh sebab itu saudara-saudara, kita akan menjadikan korupsi sebagai ekspor andalan kita. Ekspor andalan saudara-saudara ... uhuk-uhuk-uhuk....,” teriak Tengul kemudian terhenti karena terbatuk-batuk. Seorang asistennya datang memberi air putih segelas.
“....kemudian ita buka konsultasi mengenai teknik-teknik berkorupsi dan kita masyarakatkan ke dalam dan ke luar negeri. Nantinya akan ada semacam buku Panduan Dasar untuk Berkorupsi. Untuk tahap pertama kita minta pengakuan agar korupsi merupakan ketrampilan dasar yang perlu dikembangkan. Bila seluruh komponen bangsa lebih serius lagi, korupsi mudah-mudahan menjadi ilmu terapan yag memiliki methode dan sistematikanya sendiri. Itu sudah di depan mata kita semua, cuma ya itulah tadi, belum ada pengakuan terbuka. Yang jelas, kegiatan korupsi sekarang ini sudah membentuk satu siklus ekonominya sendiri sehingga cita-cita kita tadi tidak muluk-muluk. Kita harus tetap yakin mengenai hal itu, janganlah ragu sedikit pun.”
Disebutkannya, investor asing enggak ke Indonesia karena korupsi itu. tapi Tengul dengan berapi-rapi membela bahwa ekonomi kita berputar anara lain dibiayai pakai uang hasil korupsian itu, yang beredar diam-diam dan meningkatkan daya beli rakyat!
“Dulu sebelum kedatangan tenaga kerja dari negeri kita, polisi-polisi Malaysia sangat berdisiplin tinggi. Kini setelah bergaul dengan orang Indonesia, mereka mulai tahu apa namanya korupsi itu,” Tengul nekat mernjelaskan.
“Pak, peneliti asing menilai Indonesia harus dihindari untuk investasi karena sangat korup, biaya silumannya banyak, premannya tak terkira-kira. Bunakankah penggalakan korupsi itu nanti justru akan mencegah investasi asing masuk ke sini?” seorang wartawan mengetes keteguhan Tengul.
“Begini, Bung. Investor asing itu hipokrit, munafik. Ketika pemodal asing berjejal-jejal masuk ke negeri kita di masa awal Orde Baru dulu, mereka itu main sogok sana sogok sini, tahu enggak? Jadi kita diajari teknik dagang yang seperti itu. Sekarang ketika kemampuan kita meningkat pesat, mereka justru menuding kita negeri korup. Apa itu adil?”
“Bagaimana dengan daya saing produk kita, karena cost-nya jelas akan lebih tinggi?” serbu wartawan lainnya.
“Begini kawan, pengusaha luar negeri itu licik-licik. Praktik suap dan korupsi juga mereka lakukan tapi mereka lantas menimbang-nimbang negeri mana yang korupsinya lebih kecil itu yang dicari. Mau cari yang bersih? Imposibeeeeel...imposibellll.”
“Lantas apa sih upaya Komite Anda untuk itu?” lanjut si wartawan.
“Kita akan menuntut suatu konvensi internasional mengenai korupsi. Kita tentukan berapa uagn siluman yang pantas, dan masukkan semuanya dalam biaya produksi. Maka dari itu kami akan mengadakan pendekatan kepada negara-negara yang dinyatakan bersih untuk mengadopsi korupsi. Jadi kita globalkan korupsi ini, yang penting jelas aturan mainnya hingga semuanya berjalan fair. Kira-kira seperti itu idenya.”
“Untuk tingkat regional,” lanjut si Tengul, “kita dekati negara-negara tetangga kita. ada lho, negara tetangga yang dinyatakan bersih korupsi, tapi mereka mampu menyimpan koruptor di sana asal bawa uang. Itu korupsi supercanggih namanya dan sudah berskala global-regional.”
“Pak, bukankah menganjurkan orang lain untuk melanggar hukum itu juga bisa dituntut?” kejar seorang jurnalis lainnya.
“Tidak masalah kok dik, kalau pun kita dibui karena penyebaran ide yang sebenarnya sudah kita jiwai dan kita praktikkan ramai-ramai, apa boleh buat. Departemen Kehakiman dan HAM sudah memperbaiki rutan Cipinang begitu bagusnya, dan kabarnya rutan-rutan lainnya di seluruh negeri akan segera menyusul berturut-turut. Itu bagus, langkah antisipatif yangjitu namanya.”
******
Upaya tulus di Tengul dan kawan-kawannya tentu saja mendapatkan reaksi keras dari sana-sini. Itu sudah ukan hal aneh baginya, sudah diperhitungkan masak-masak. Suatu kali rumahnya didatangi oleh segerombolan orang berbadan tegap-tegap dan berambut cepak, lain hari datang pula beberapa pria berambut gondrong. Juga ada sejumlah pria erdasi dan bermobil mwwah datang kepadanya. Tak ketinggalan sejumlah pria bermartabat yangmengenakan hem safari datang diam-diam mengendarai sedan hitam-hitam dengan tiang bendera kecil di bagian bemper depan. Apa urusan mereka itu semua dengan Tengul, tidak ada yag tahu-menahu...........
Perkebangan selanjutnya, lama tak terdengar berita mengenai Komite Penggalakan Korupsi ini. Tapi belum lagi seminggu yang lalu ada berita mengenai ditemukannya sesosok mayat di tepi Kali Ciliwung. Mayat seorang pria ceking. Jenasah itu telah diotopsi, hasilnya menyebutkan bahwa si pria tewas dicekik. Berdasarkan KT yang ada di dompetnya, di diketahui bernama Pro. Dr. Drs. Ir. Tengul SH, MM, MBA. Mayatnya diserahkan kepada keluarganya. Sayangsekali keluarganya tidak mau menerima hasil otopsi itu lalu minta otopsi ulang di kampung halamannya. Hasilnya, Tengul tewas karena obat terlarang. Tapi dokter tak mampu menyebutkan obat apa yang telah dipakainya, karena setibanya di tempat kelahirannya, wajah si mayat telah berubah menjadi tersenum seperti orang yang sedang lega hatinya, atau barangkali lebih mirip sepeti orang yang kegelian digelitiki pinggangnya.
Selesai.
Keterangan:
Kethek ditulup = monyet disumpit. Ungkapan dalam Bahasa Jawa guna menggambarkan orang yantg sedang mengalami kebingungan.
Sampeyan = Anda
Ngacung = mengangkat tangan, terutama untuk pemungutan suara.

Senyum dikit

thumbnail
Betul. Saya menyesal tak menampilkan senyum dikit kali ini. Rasanya tak perlu ada senyum di tengah ingar-bingar polah para penegak hukum kita saat ini.

Mutiara Hati - 5

thumbnail
Mutiara Hati

Penulis Adji Subela
Bagian Ke-5

‘Upacara’ pengawalan semacam itu jelas berlaku pula pada saat kami mengadakan perjalanan ke luar kota untuk berekreasi. Beberapa orang anggota keluarga menyertai kami untuk pergi ke luar kota. Tempat yang paling kami senangi adalah Brastagi, atau kota Prapat yang sejuk. Tentu saja kami tidak pernah menginap di sana. Kami cuma menikmati pemandangan alam, menikmati sejuknya udara pegunungan serta mengamati bunga-bungaan yang banyak ditanam dan dijual orang di sana. Tidak lupa kami pun membeli buah-buahan yang banyak terdapat di sana, kemudian balik ke Medan pada petang harinya.

Bertukar cincin
Minggu demi minggu kami lewati, hingga pada pada suatu saat, Tengku Kamaliah menjajagi keseriusan saya untuk meneruskan hubungan dengan Kucik ke jenjang pernikahan. Saya merasa sudah waktunya untuk mengatakan keinginan mempersunting putri Sultan Langkat tersebut. Akan tetapi saya kemudian mendapatkan bahwa proses itu tidaklah semudah membalikkan tangan. Ketika saya mengatakan niat untuk mempersunting Kucik, terjadi semacam kegaduhan di antara anggota keluarga Sultan.
Hal itu dapat dimaklumi karena saya berasal dari ‘seberang’, berbeda suku, dan bukan dari keluarga kesultanan. Tidak mudah menikah dengan putri seorang bangsawan, apalagi dengan putri seorang Sultan seperti Kucik pada jaman itu.
Kejadianya berawal pada suatu siang, kalau tidak salah hari Minggu, saya datang dengan memakai Pakaian Dinas Harian (PDH). Bagi saya ini sebagai suatu kebanggaan sebagai seorang militer. Kedatangan itu dengan maksud yang sudah amat jelas yaitu untuk melamar Kucik. Sebelum menyatakan maksud hati, dada saya kembali berdebar-debar. Meskipun saya seorang anggota militer dan berkali-kali terlibat dalam berbagai-bagai pertempuran, ternyata dalam urusan melamar gadis merasa agak deg-degan juga. Tapi hati saya sudah bulat betul. Saya sampaikan keinginan itu.
Sebelum maju melamar Kucik, saya harus memberitahu kedua orang tua mengenai rencana itu. Saya berkirim surat kepada ayah ibu di Purwakarta, Jabar. Beberapa hari kemudian datanglah telegram dari mereka yang mengatakan tidak berkeberatan dengan rencana tersebut, semua diserahkannya kepada saya, dan sekaligus minta maaf tidak dapat menghadiri acara itu, namun tetap mendoakan kami berdua. Telegram itu saya tunjukkan kepada keluarga Kucik sebagai tanda persetujuan. Sedangkan yang kedua, saya harus menyelesaikan segala rencana pernikahan itu dengan institusi saya.
Di luar dugaan, Pak D.I. Panjaitan, pahlawan revolusi itu, mendukung sepenuhnya. Sebagai sesama Kapten dan juga sama-sama Kepala Staff beliau antusias sekali mendengar rencana saya itu lalu berkata: “Go ahead, teruskan saja, saya akan dukung penuh”. Ucapan itu sangat bermakna. Di kemudian hari ketika kami mengadakan resepsi di Medan, segala sesuatunya didukung dan digerakkan oleh Pak Panjaitan. Segala keperluan resepsi pernikahan beliau atur, hingga sampai ke kado-kado segala macam. Saya sungguh tidak menduga akan kebaikan hati kolega saya itu.
Selain itu ada pula Kepala Staff TT I yaitu Pak Kartakusuma, yang kebetulan saja satu daerah dengan saya. Beliau mendengar keadaan itu, lalu berkata:
“Ah…..enggak usah khawatir, bereslah itu…”
Hal sebaliknya justru saya terima dari Komandan saya, Kolonel Simbolon. Sebagai bawahan, saya mengirimkan surat permohonan pernikahan resmi kepada beliau. Setelah sekian lama, surat itu tidak dibalas-balas juga. Saya amat sungkan menanyakannya, lagi pula beliau nampak tidak pernah mempedulikan kepentingan saya sebagai anak buahnya langsung. Ini membuat saya agak risau. Hal ini saya sampaikan kepada Pak Panjaitan. Beliau kaget sekali, dan kemudian entah dengan cara bagaimana, pada suatu hari Pak Panjaitan bilang: “Sudah beres, semua sudah saya selesaikan”. Itu saja yang diucapkannya, tapi saya paham sekali bahwa beliau selalu serius.
Satu hal lagi yang saya tidak habis mengerti, pada resepsi pernikahan kami pun Pak Simbolon tetap tidak hadir, bahkan secarik surat ucapan selamat pun tidak pernah saya terima darinya. Aneh memang. Di kemudian hari, Pak Simbolon terlibat gerakan PRRI, dan saya mempunyai pengalaman menarik tentang hal itu dengannya. Akan saya ceritakan di bab selanjutnya nanti.
Pada waktu pelamaran ada kejadian yang amat menarik. Yang hadir dalam pertemuan kecil itu hanyalah kakak tertua Kucik, yaitu Tengku Kamaliah, kemudian kakak-kakak perempuannya yang lain, Ibu, serta beberapa orang kerabat. Semuanya perempuan! Lalu ke mana saudara laki-lakinya? Inilah permasalahannya. Belakangan saya tahu bahwa ternyata hubungan saya dengan Kucik tidak mendapat restu dari para paman. Berbagai cara mereka cari guna memutuskan hubungan kami. Hal ini dapat dipahami, karena mereka berasal dari keluarga ningrat, terikat oleh adat istiadat yang ketat. Masalah perjodohan selalu ditangani oleh keluarga, sehingga jarang ada orang luar datang mencoba melamar putri-putri mereka. Gadis-gadis selalu dicarikan jodoh oleh keluarga, yang umumnya dari antara para kerabat dari kalangan ningrat pula. Sedangkan saya sendiri, dianggap sebagai orang asing, berlainan suku serta barangkali, menurut dugaan saya, profesi militer saya meninggalkan kenangan buruk bagi keluarga besar ini, setelah mengalami kejadian yang teramat pahit dua tiga tahun sebelumnya. Bahkan saya didesas-desuskan sebagai orang Batak, dan sebagainya. Rupanya aksi ini memengaruhi para kakak laki-laki Kucik pula. Mereka tidak setuju dengan hubungan kami dan menolak hadir dalam acara pelamaran. (Bersambung)
thumbnail
Artikel Tamu

Merengkuh Kembali Sumpah Pemuda

Oleh F.X. Bahtiar
Sumpah Pemuda yang diikrarkan pada Kongres Pemuda 28 Oktober 1928 merupakan warisan sangat berharga dan bernilai tinggi dari generasi pendahulu bangsa Indonesia yang menandai adanya kebulatan rasa, pikiran, dan sikap satu bangsa (one nation) dari berbagai suku dan ras yang bermukim di satu wilayah (one territory) yang dikenal dengan sebutan Nusantara sejak ratusan tahun silam.
Isi serta makna Sumpah Pemuda merupakan satu-satunya bentuk kesepakatan seluruh bangsa Indonesia yang terbukti keampuhannya menyatukan tekad dan kekuatan seluruh bangsa untuk mengusir panjajah dari bumi Nusantara.
Dewasa ini masih terus bergulir wacana untuk mengubah ataupun mengamandemen UUD 45. Selain itu terjadi pula perbedaan sikap terhadap implementasi dasar negara Pancasila, serta sisa-sisa eforia reformasi yang dewasa ini justru mengarah kepada terbuknya peluang perpecahan bangsa.
Menyimak itu semua, kini tinggal Sumpah Pemuda-lah yang perlu kita gemakan kembali semangatnya dan kita hidupkan lagi ruhnya. Semangat untuk bertanah air satu, berbahasa satu dan berbangsa satu perlu rekomitmen lagi dari kita semua. Kita percaya bangsa kita masih memiliki semangat itu dalam kadar berlain-lainan, sehingga kewajiban kita semua untuk kembali menggelorakan ruh-semangat Sumpah Pemuda itu kembali sehingga mampu menjadi milestone kedua setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, menuju ke Indonesia Raya yang gemah ripah loh jinawi tata tentrem kartaraharja.
Sudah terlalu lama bangsa kita tidak memperlakukan fakta sejarah terjadinya pengikraran Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 secara pantas, patut. Kita hanya mengenangnya sebagai kejadian sejarah masa lalu, dan sekedar memberi sebutan Hari Sumpah Pemuda yang hanya jadi peringatan sekedarnya tiap tahun. Perlu penegasan kembali Sumpah Pemuda itu agar cita-cita para pendahulu sejak Budi Utomo tetap terpelihara. Isi naskah Sumpah Pemuda perlu dijaga jangan sampai kehilangan makna besarnya.

Perlu gerakan besar
Nampaknya kita memerlukan gerakan besar lagi untuk kembali merengkuh semangat Sumpah Pemuda, di tengah tantangan besar yang menghalang pembangunan bangsa kita. Perlu sekali adanya kebangkitan jiwa dan semangat menyatukan seluruh potensi bangsa dengan mengutamakan harmonisasi atas segala perbedaan untuk mengatasi permasalahan bangsa dan negara dalam frame Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Barangkali perlu kita tetapkan momen Kongres Pemuda yang melahirkan Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 sebagai pilar utama (soko guru) NKRI dengan dideklarasikannya pengakuan bertanah air satu Indonesia, berbangsa satu Indonesia, dan menjunjung bahasa persatuan Indonesia. Mungkin perlu juga kita mulai mengakui bahwa para peserta Kongres Pemuda saat itu sebagai Angkatan Pemersatu Bangsa, di samping Angkatan 45 dan Angkatan 66.
Di samping itu ada baiknya pula kita sepakat untuk menyetarakan kedudukan dan perlakuan terhadap naskah asli teks Sumpah Pemuda dengannaskah asli teks Proklamasi, serta menetapkan lembaga yang lebih tepat untuk menangani eksistensi jiwa dan semangat Sumpah Pemuda itu. Pada pendapat saya, Lemhannas lebih tepat ketimbang kini Kantor Menpora.
Kita perlu mengingat filosofis bahwa NKRI akan berdiri lebih kokoh dan stabil bila ditopang oleh empat sokoguru yaitu Budi Utomo tanggal 20 Mei 1908, Dasar Negara Pancasila 1 Juni 1945 dan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945.

Senyum dikit - 6

thumbnail
Perkawinan
- Ada yang mengatakan: Perkawinan adalah harga yang harus dibayarkan pria untuk sex. Dan sex adalah harga yang harus dibayarkan perempuan untuk perkawinan.
- Ada yang bilang: Perkawinan itu diciptakan untuk tidak mantap.
- Malah disebutkan: Perkawinan bukan lotere. Masalahnya, di lotere kita masih mendapatkan kesempatan.
- Tapi ada petuah: Perkawinan memiliki sisi baik pula. Ia mengajari kita kesetiaan, penahanan diri, dan hal-hal baik yang tidak akan diperlukan bila kita tetap membujang. Satu-satunya sifat yang terus berjalan adalah berbohong.

Ssst - 6

thumbnail
- Masih soal pendidikan aktor Hollywood. Will Smith pernah kita ceritakan menolak beasiswa atas prestasi akademiknya yang gemilang. Ternyata aktor The X Files, David Duchovny, adalah kandidat PhD di bidang sastra Inggris di Universitas Yale yang kesohor itu. Sebelum presentasi disertasinya, Duchovny malah keluar membintangi serial TV tersebut. Untung serialnya laris.
- Universitas Yale itu pernah dipimpin oleh Kingman Brewster, kakek aktris Jordana Brewster.
- Aktor Jason Alexander dikeluarkan dari Universitas Boston, yang cukup beken juga, hanya beberapa hari sebelum wisuda!
- Ayah si Heather Locklear, aktris molek itu, adalah pensiunan dekan Faulktas Teknik Univ. Los Angeles (UCLA) yang termasuk kampus top juga.

Mutiara Hati

thumbnail
Bagian Ke-4

Penulis Adji Subela

Esok petangnya, diam-diam surat saya serahkan pada Kucik dengan isyarat agar ia diam-diam pula menerimanya, tak perlu ada kehebohan. Saya jelas akan repot nantinya.
Harapan saya ternyata tidak tercapai. Surat itu oleh Kucik ditunjukkannya kepada kakaknya, Tengku Kamaliah, serta ibunya. Matilah saya!
Kakaknya tentu saja tertawa terpingkal-pingkal melihat kepolosan adik kecilnya itu. Entah kepada siapa lagi Kucik membawa surat itu, saya tidak pernah tahu. Bahkan hingga Kucik berpulang ke Rahmatullah, saya tidak pernah menanyakan surat itu lagi. Bagi saya surat itu sudah menjadi milik pribadinya yang tak boleh saya tanya-tanyakan lagi, apalagi untuk memintanya kembali, tentu akan lucu sekali jadinya, bukan?
Tentu saja pada pertemuan berikutnya, saya merasa kikuk dan malu kepada Tengku Kamaliah. Akan tetapi pendidikan Barat mereka sungguh luar biasa. Beliau minta saya bersabar menghadapi Kucik. Tapi terdapat kesan sekilas, Tengku Kamaliah nampaknya mendukung hubungan saya dengan adiknya. Itu terbukti dalam pertemuan-pertemuan berikutnya, di mana kami berdua ditinggalkannya, dan bahkan Kucik pun dibiarkannya menyajikan sendiri minuman dan makanan kecil. Biasanya tugas itu menjadi tanggung jawab pembantu mereka. Sekarang mereka ada di mana saat itu? Mungkin bersembunyi sambil ketawa-ketawa, saya tidak tahu.
Ketika pertama kalinya kami duduk berdua memang sulit bagi saya untuk membuka kata. Topik apa yang harus saya jual kepada si polos ini? Namun kelihatannya tidak bagi Kucik. Ia tetap tenang-tenang saja seolah tak ada persoalan baginya sehingga pada hari-hari berikutnya, adegan mengalir dengan amat sangat lancarnya. Topik diskusi tidak pernah habis! Dan kami selalu bergantian menjadi tukang cerita. Hubungan saya dengan Kucik pun semakin rekat. Saya tetap memanggilnya Kucik hingga akhir hayatnya, sedangkan dia memanggil saya Barkah. Bagi saya tidak menjadi masalah, namun Ibu Permaisuri ketika itu marah besar padanya. Beliau minta Kucik untuk memanggil saya dengan sebutan Kakak atau Abang, tapi Kucik tidak peduli, karena dengan memanggil nama saya langsung, ia merasa lebih akrab.
Pergi Keluar Bersama
Setelah berjalan kira-kira dua bulan, saya berpikir sudah waktunya mengajak Kucik untuk keluar makan angin, satu istilah di jaman itu untuk berjalan-jalan, berekreasi mencuci mata. Tempat yang paling tepat tentunya adalah gedung bioskop. Dapat dibayangkan, kala itu bioskop menjadi satu-satunya tempat mencari hiburan bagi muda-mudi kota Medan. Setiap kali ada film baru, gedung selalu dipenuhi penonton. Ada gedung bioskop Rex namanya. Ke sanalah saya dan Kucik mau pergi. Tidak mungkin membawa Kucik pada hari-hari biasa, sehingga saya pilihlah pada hari Sabtu malam Minggu. Barangkali orang di jaman sekarang akan membayangkan alangkah asyiknya kami berdua pergi ke bioskop guna memupuk cinta memadu kasih. Tapi tidak, betul-betul tidak!
Kami tetap dalam adat gaya Siti Nurbaya. Tak mungkin bagi saya untuk mengajak Kucik keluar rumah sendiri. Anak Sultan tidak patut berlaku seperti itu, sehingga ia perlu dikawal oleh anggota keluarganya. Barangkali pengawalan semacam ini bukanlah aneh di kala itu, tapi yang mengagetkan, pengawalan dilakukan oleh sekitar dua puluh orang lebih anggota keluarga almarhum Sultan Langkat, seperti kakak-kakak Kucik, ibu tiri, saudara tiri, sepupu, tante-tante, dan sebagainya. Jadi untuk utusan nonton film seperti itu, kami harus dikawal ‘satu peleton’ keluarga Kucik. Agaknya ini memang sudah adat kebiasaan mereka untuk selalu bersama, berkumpul dalam suasana suka maupun duka. Maka dari itu tidak mengherankan jika untuk rombongan ini, kami memerlukan dua baris kursi di gedung bioskop. Entah apa kata orang, yang jelas acara menonton itu kami lakukan berkali-kali beramai-ramai, kecuali Ibu Permaisuri yang tidak pernah ikut menonton.
Tentu saja untuk urusan membeli karcis atau tiket, saya tidak bisa melakukannya sendiri dengan cara mengantri misalnya. Saya cukup ‘perintahkan’ anak buah saya untuk mengurus karcis untuk ‘satu peleton’ penonton malam itu, dengan pembayaran dari saya sepenuhnya. Gaji saya sebagai Kapten bujangan sangat berlebih. Kala itu saya menerima Rp.150 per bulan, suatu jumlah yang lebih dari cukup. Dengan penghasilan sebesar itu saya mampu membeli kemeja Arrow yang berharga Rp.25,- per potong setiap bulan, sisa gaji saya pakai untuk menabung dan jajan. Uang karcis untuk menonton film di gedung bioskop waktu itu kurang dari serupiah per orang.
Biasanya setelah film usai kami langsung pulang ke rumah, tidak pernah mampir ke restoran untuk makan-makan seperti kebiasaan orang jaman sekarang. Penyebabnya yang pertama adalah, jumlah restoran di Medan waktu itu masih sedikit sekali. Kedua, mereka tidak suka datang ke restoran apalagi berjumpa orang lain di tempat tersebut. Yang paling bisa kami lakukan hanyalah membeli martabak dan kemudian menikmatinya bersama-sama di rumah. (Bersambung)

Senyum Dikit-5

thumbnail
Cerai Saja

Seorang pria kurus dan penuh dengan luka-luka mengajukan gugatan cerai kepada istrinya. Hakim bertanya apa sebabnya.
Pria : Istri saya amat berbahaya Pak. Selama 12 tahun menikah kalau bertengkar dia suka melempari saya piring, asbak, gelas, botol dan lain-lain.
Hakim : Kenapa baru sekarang minta cerai?
Pria : Sebab dia semakin pandai memilih sasaran dan semakin tepat saja Pak.

Seekor Kucing Kurus

thumbnail
Cerpen

Oleh Adji Subela

“Rakus!!” dengus seekor kucing kurus kecil di meja di depanku, setelah sebelumnya mengeong-ngeong melihat aku lahap memakan sebongkah daging panggang lezat tanpa menoleh ke sana dan ke mari, lalu ia melompat dengan sisa tenaganya sebelum mati kelaparan, dan ternyata yang dilihatnya kemudian cumalah setumpuk tulang licin, dan bahkan bagian rawannya pun telah tandas habis kugilas.
Semula ia masih mencoba menggigiti tulang-tulang licin tadi dengan taring-taringnya. Sebuah usaha yang sia-sia dan bodoh, walau pun untuk usahanya itu ia pantas disemati medali kegigihan.
“Rakus!!” seringainya dengan bersit kebencian padaku.
“Bawel!! Kucing kurus tak berguna!” balasku, tak kalah-kalah pula benciku.
“Lihat, bahkan makhluk yang tertinggi derajatnya di dunia ini pun tak menyisakan rejekinya buat si miskin dan si kelaparan seperti kita,” adunya kepada seekor cicak, yang setelah mendengarnya, lantas tertawa terkekeh-kekeh, setengah takut jangan-jangan dirinya kemudian dimangsa oleh kucing kelaparan tadi. Ia cepat-cepat merayap jauh ke tempat yang lebih atas lagi, khawatir kalau setengah ketakutannya tersebut jadi kenyataan bulat-bulat.
“Dasar kucing bodoh, pemalas. Kamu ‘kan masih bisa mengais-ngais tong sampah buat mencari sekedar remah-remah sisa makanan manusia?” dampratku.
“Apa? Kau samakan aku dengan anjing najis itu? Tidak! Takkan! Aku kucing pembersih, hanya di restoran elit semacam inilah aku mau makan.”
“Sombong! Snobbish! Kalian binatang manja, sedangkan kerja kalian tak ada, manfaat kalian pun tak nampak. Cuma orang-orang yang kurang pekerjaan dan kelebihan uang sajalah yang mau mengelus-elus kamu serta mendandanimu seperti banci-banci.”
“Tapi aku binatang kesukaan Rasulullah,” bantahnya dengan mata menyala-nyala seperti hendak menghanguskan aku seketika . Belum pernah kulihat mata kucing yang begitu ganasnya. Biasanya sorot matanya selalu layu mengiba-iba kepada manusia. Ia sudah bermanja-manja kepada manusia selama ribuan tahun dan tak mampu lagi ia mengaiskan cakarnya sendiri untuk makan.
“Tapi kau bukan kucing Rasulullah dahulu. Tentu kucing itu sudah mati ratusan tahun lalu. Kalian hanya macan kerdil yang linglung, pemalas yang cuma suka bergolek di lantai panas. Lantas kalau tuanmu datang, kau pun takkan peduli secuil pun guna menunjukkan kesetian dan balas budimu, dan mencuri lauk-pauknya bila ia lengah. Itulah sketsa kucing pada jaman sekarang ini, bukan ribuan tahun lalu, ketika kalian masih punya harga diri, sebagai pemburu melawan binatang buas-buas untuk memberi keluargamu makan,” semprotku.
“Sok! Tak punya hati, tak punya rasa belas kasihan.....,” kucing itu bersungut-sungut.
“Ha-ha. Kami disuruh mengasihani para pemalas yang memanipulasi rasa kasihan itu untuk hidup enak? Tanpa kerja keras seperti singa di gurun, atau harimau di hutan yang menyabung nyawa guna memberi suap demi suap makanan dan melindungi keluarganya? Cis! Cis! Puih-puih! Ketika para pekerja keras mengaso sebentar untuk sekedar makan agar tenaganya pulih, supaya bisa bekerja keras kembali, kalian seenaknya mengeong-ngeong mengemis dan bahkan merebut makanan di meja. Bahkan Rasulullah sendiri bersabda bahwa menelungkupkan tapak tangan jauh lebih baik dan mulia ketimbang menengadahkannya.”
“Tapi, bagaimana pun kami ada gunanya. Kau terlalu picik,” ia membela diri.
“Berguna? Sebagai pajangan, mungkin juga. Tapi lihat, sedang anjing yang najis pun tahu siapa tuannya, tahu bagaimana berterimakasih dan loyal. Ia akan membela tuannya. Kalian? Kepada tikus pun sudah takut! Apa lagi guna kalian itu? Ketika tuanmu memberimu kepercayaan untuk menjaga makanan, kau malah habiskan barang itu, berbagi kesempatan dengan tikus yang sesungguhnya harus kau kejar dan kau binasakan. Kalian sungguh-sungguh tak bisa dipercaya.”
Aku masih juga bersemangat menyemprotkan kata-kata makian yang kulepas dengan suka hati hari itu,”Bung, kalian cuma mengandalkan nama besar nenek moyangmu sejak zaman Mesir Kuno. Nama besar nenek-moyangmu dan bongkah-bongkah kebangganmu telah menutupi matamu akan kenyataan hari ini. Kalian diminyaki kemanjaan yang tak pernah kau pelihara sendiri dan ditimbuni hutan dan sungai yang kaya kayu dan geleparan jutaan ikan-ikan lalu kalian lupa untuk memeliharanya hingga kalian kini tak punya apa-apa, dan kalian kini cuma memakan tulang-tulang, duri-duri di tempat sampah.”
Kucing itu diam, tapi tampaknya ia ingin memberontak menyampaikan bantahannya. Lalu sebelum kemauannya itu terlaksana, aku sudah menambah kata-kata kasarku lagi:
"Hahahaha, hei kucing. Kalian sekarang ini cuma mewarisi loreng ganasnya harimau, tajamnya taring singa dan kumis garangnya cheetah. Tapi, semuanya itu tak ada artinya apa-apa padamu. Hahaha...cuma hiasan palsu, aksesoris belaka! Tahu enggak? Kenapa? Kalian cuma menadah tangan pada tuan-tuan kalian dan lalu bergolek tidur di lantai hangat. Titik, cuma itu.”
“Apa gunanya tuanmu memelihara kamu? Cuma sebagai kembang layu dalam vas yang kering di pojok ruangan? Agar tetangganya mengakui bahwa rumah tuanmu itu indah, penuh kasih-sayang, dan aman tenteram? Itu semuanya sebuah nol yang amat besar tak terhingga,” tambahku lagi.
Kukatakan pula bahwa kucing, baik yang kurus, yang gemuk, yang kudisan atau pun yang cantik, hidupnya tergantung sekali pada manusia, dus pihak lain: Binatang buas yang telah kehilangan jati dirinya karena ribuan tahun selalu diberi makan enak, minum susu dan dielus-elus. Mereka telah lupa cara berburu mencari nafkah, tak ingat lagi berjuang mengadu nyawa. Mereka sudah takut mati.
Aku berkata seperti yang aku lihat. Kucing-kucing selalu berkumpul di perkampungan manusia, amat banyak, serta boleh jadi lebih besar jumlahnya ketimbang manusianya sendiri. Gelandangan berkaki empat itu suka berkeliaran dengan malas dan bebal – seperti halnya manusia juga – hingga sering jadi santapan roda-roda mobil di jalan raya. Lalu isi perutnya tumpah di jalan, menjijikkan sekali. Begitu banyak roda menggilasnya hingga tubuh berloreng-loreng itu menjadi gepeng, kering seperti dendeng tanpa bumbu!
“Tidak, kami tetap mandiri. Lihat diriku. Aku berjuang sendiri! Teman-teman yang lain begitu pula. Kamu ceroboh menuduh orang,” bantahnya.
“Ha...ha....ha...ha....berburu sisa-sisa makanan di keranjang sampah di perumahan manusia? Itu pekerjaan kere. Lihat dirimu, Bung. Gigimu tajam-tajam, kukumu lancip-lancip, lorengmu pun menakutkan! Lalu saat musim kawin pun kalian ribut membikin berisik lingkungan kami malam-malam, ketika kami tidur setelah seharian bekerja keras. Seharusnya kau berlaga di hutan-hutan melawan dan menangkap tupai, atau pelanduk,” begitu aku menyerangnya, “gigi-geligimu akan tajam-tajam, berkilat menyinar wibawa seorang pemburu, bukan pengorek tempat sampah dan pencuri rejeki orang! Hahahaha!”
“Ha...ha...ha...lihat, seekor macan kerdil makan sisa-sisa roti restoran, sisa tulang di tong-tong di pinggir jalan. Bagaimana tikus pun tak menghina kaliam, menyibirkan bibir mereka kepada kalian?” kataku lagi, lalu aku ketawa keras-keras.
“Pekerjaan itu cuma pantas dilakukan oleh tikus kurap atau kecoak-kecoak...haha..haha..haha......”
Tanpa aku duga, kucing itu lalu mengerutkan badannya, melingkar lalu menangis tersedu-sedu di meja di depanku.
“Sesungguhnya akulah binatang yang harus dikasihani dan diberi dukungan bathin. Aku akui kata-katamu itu benar adanya. Kucing, kini hanyalah jadi hiasan karena nafsu-nafsu kuasa manusia. Kami dikebiri. Tapi janganlah kalian menyalahkan kami. Ini sebuah status yang harus aku pikul selama hidupku, tanpa aku tahu dan aku sempat untuk menyadarinya, karena nenek-moyangku terlalu loba dan malas dan hanya mengangakan mulutnya untuk disuapi tuan-tuan mereka. Cakarnya sudah tumpul, giginya telah majal, pun otaknya kini mengental beku. Dan kesalahan itu kami pikul akibatnya hingga sekarang......,” ia lalu terdiam dan kemudian sedu-sedannya pecah menjadi tangis berantakan keras-keras. Rupa kecengengan dan kemanjaannya kini semakin berbentuk. Ah, makhluk yang sial! Bodoh!
“Sepatutnyalah nenek-moyang kami tak menggantungkan tali nasibnya pada pohon orang lain. Mereka seharusnya lari mengasah cakar dan giginya di hutan-hutan......bangga mati setelah melawan, mempertahankan nyawanya secara gagah perwira............”
Pembaca, ternyatalah kata-kata terakhirnya itu mampu mengelitiki mataku, hingga sempat aku hendak menangisi binatang yang suka menggantungkan nasibnya pada orang lain sampai tak mampu lagi berbuat lain kecuali atas perintah dan persetujuan tuannya.
“Sebenarnya, Bung,” begitu si kucing celaka itu kemudian berkata-kata sambil mengusap-usap matanya, “aku tadi begitu laparnya hingga aku melompat dengan sisa-sisa tenagaku untuk memakan sisa-sisa daging itu. Laparku mengulas perutku tanpa ampun lagi, dan telah melupakan segalanya. Lapar memang mendorong siapa saja untuk berbuat apa saja.”
“Aku minta maaf padamu kini,” ujarku.
“Sudahlah, engkau telah memberi aku begitu banyak pencerahan bathin siang ini, mengenyangiku dengan sinar-sinar terang,” ucapnya sambil berlalu. Tiba-tiba ia berhenti. Aku merasa heran, dan memperhatikannya sungguh-sungguh.
Kucing kurus tersebut lantas menoleh ke arahku sambil ketawa sinis, lalu berkata:
“Paling tidak, engkau telah menyelamatkan aku untuk tidak memakan bangsaku sendiri siang ini. Kau boleh mengatakan kami pembohong permanen, tapi percayalah, saat ini aku jujur mengatakan yang sebenarnya....hihi...hihi...hihi....”
Kurangajar! Bukan main terkejutku! Perutku pun langsung terasa mual-mual hendak melontarkan kembali segala isi yang aku jejalkan padanya! Seluruhnya!
Aku bangkit dengan muka yang kini terasa panas bukan main, dan dengan dada yang menggelegak kencang kuhampiri kucing itu. Ia berlari cepat-cepat, lantas hilang di ujung tikungan! Lalu aku berbalik mencari penjual daging bakar di sebuah restoran tempat aku makan ini, dan yang oleh pelayanannya dia sebut sebagai daging ayam itu.
Ia sudah raib! Dan seisi restoran itu!
“Dagangannya sudah habis Oom, setiap hari jualannya laris, cepat habis, terutama daging bakarnya....,” tutur seorang penjual es doger keliling. Ia kemudian berlalu juga, meninggalkan tempat itu dengan menabuhi lonceng yang digantung di gagang gerobaknya. Ting...ting....ting....ting............bunyinya monoton, penuh ketidakpedulian.
Sejak kejadian itu, bila melewati pasar di mana pun, aku lalu menjadi rajin melihat dan mencoba menghitung-hitung seberapa banyakkah kucing-kucing di situ dan menyoba mengira-ngira apakah jumlahnya berkurang ataukah tidak dibandingkan dengan kemarin!
Ini semua gara-gara seekor kuring kurus yang pernah menggigiti tulang-tulang licin di meja di depanku.


Bagan Batu, Riau, Juni 2003

(Limboto Express, Gorontalo, 4 Oktober 2003)

Artikel-5

thumbnail
Berwisata Mengunjungi Kembaran Pasar Baroe Jakarta di Kuching, Serawak

Oleh Adji Subela

Sama seperti Jakarta, kota Kuching, ibukota Serawak, Malaysia Timur, juga memiliki daerah pertokoan yang mirip Pasar Baroe, di Jakarta Pusat itu.
Sama seperti di Pasar Baroe tempo doeloe, daerah pertokoan ini dulunya juga didominasi oleh para pedagang asal India yang umumnya beragama Islam, dan sama-sama terhubung oleh sepotong jalan ke daerah yang juga disebut Gambir. Persis sama seperti di Jakarta.
Pertokoan sepanjang setengah kilometer ini menjadi daerah perbelanjaan yang ramai dan populer di kota Kuching, terutama pada akhir pekan. Para pedagang asal India datang ke kota Kuching pada kira-kira dua abad lalu, dan berdiam di sebuah wilayah yang kini berada di antara Jalan Barrack serta Jalan Khoo Hun Yeang.
Di daerah kecil itulah mereka membuka perniagaan, antara lain toko kain cita, sutra, karpet, minyak wangi, rumah makan, dan lain-lainnya. Semula perdagangan di sana biasa-biasa saja akan tetapi kian lama kian maju seiring dengan kian meningkatnya volume perdagangan Serawak dengan Inggris. Meningkatnya pendapatan penduduk Kuching membawa dampak semakin ramainya perniagaan orang-orang asal India itu.
Orang-orang India itu pun kemudian membawa serta para kerabatnya untuk merantau ke negeri Serawak tersebut.
Komunitas India itu kemudian mendirikan mesjid di sebuah gang kecil, yang dulu dikenal dengan nama Lorong Sempit, agar tidak terlalu jauh untuk beribadah. Kini gang tersebut dinamakan Indian Mosque Lane. Gang kecil inilah yang menghubungkan daerah pertokoan orang India dengan Jalan Gambir hingga sekarang.
Jalan utama di tengah pertokoan itu semula disebut sebagai Keling Street di tahun 1850. Raja Serawak yang berasal dari Inggris, yaitu Charles Vyner Brooke, kemudian mengganti nama jalan yang bernada ejekan berbau rasis itu menjadi Indian Street pada tahun 1928 ( seribu sembilan ratus dua puluh delapan ), dan terkenal hingga sekarang.
Jalan utama itu sejak tahun 1992 ( seribu sembilan ratus sembilan puluh dua ) tertutup untuk kendaraan umum, dan menjadi jalur pejalan kaki, sama seperti di Pasar Baroe, Jakarta sekarang ini. Gapura sebelah barat di bangun mirip gapura Pasar Baroe Jakarta, yang bernuansa etnik Tionghoa, dan diujung jalan sebelah selatan diakhiri di gedung Little Lebanon, bangunan bergaya campuran Asia-Eropa dan Timur Tengah.
Saat ini pertokoan Indian Street di kota Kuching, Serawak, Malaysia Timur ini didominasi pedagang keturunan Tionghoa dan hanya sekitar sepuluh orang keluarga India yang tertinggal, yang membuka toko kain, restoran, dan usaha lainnya. Para pedagang asal India yang berhasil menjadi kaya raya, banyak yang pulang kembali ke negerinya dan tidak pernah kembali lagi.
Namun demikian para perantau asal anak benua Asia itu sebagian bertahan di kota Kuching itu memberi warna budaya tersendiri bagi Negara Bagian Serawak. Trjadi akulturasi budaya, antara lain diwujudkan dalam kesenian serta kulinernya.
Sejumlah pedagang keturunan India lainnya kini berjualan di sepanjang Jalan Gambir dan di pasar tradisional di daerah itu. Mereka umumnya berjualan rempah-rempah khas India seperti bubuk kari, biji dal, bubuk kunyit, ketumbar, cabe kering, ratus wangi, dan lain-lainnya.
Setelah Indian Street tersebut, maka Jalan Gambir kini memancarkan sisa-sisa pengaruh masyarakat India yang dulu pernah bermukim di Kuching. Mereka sebagian besar masih mempertahankan bahasa, adat-istiadat mereka. Pada siang hingga petang harinya mereka sering berkumpul di kedai-kedai India di pasar Gambir itu, menikmati kopi dan makanan lainnya.
Daerah Indian Street, Jalan Gambir dan sekitarnya terpelihara rapi, danmenjadi asset penting pariwisata kota Kuching. Wisatawan dapat dengan nyaman dan aman menikmati kota-kota tua peninggalan kolonial Inggris, baik yang memiliki pengaruh India maupun Cina. di beberapa tempat dipasang papan-papan informasi mengenai apa dan bagaimana Indian Street tersebut. Di ujung selatan terdapat satu gedung warisan kolonial yang terpelihara baik, dan dijadikan restoran Timur Tengah. Di selatannya lagi terdapat pecinan, di mana nuansa Tionghoa-nya amat kental terasa. Pada hari-hari besar Cina, pecinan ini ramai oleh berbagai hiasan dan atraksi seni lainnya. Persis seperti di Pasar Baroe, Jakarta kita.

Ssst-5

thumbnail
- Mendiang aktor Marlon Brando suka mempermainkan wartawan. Kalau klipping mengenai riwayat hidupnya dikumpulkan, tempat lahirnya tak keruan. Ada Bangkok, Tokyo, Hawaii dan lain-lain. Pemain watak kuat yang menyabet beberapa Oscar itu dan pernah ada yang ditolaknya, suka bercanda, walau tampangnya serius.
- Yang jelas, Keanu Reeves justru lahir di Beirut, Lebanon.
- Aktor laga Bruce Willis, lahir di Idar-Oberstein, Jerman.
thumbnail
Resensi Buku-4
Menguak Sejarah Kota Kupang

Judul : Timor Kupang Dahulu dan Sekarang
Penulis : Andre Z. Soh dan Maria N.D.K. Indrayana
Editor : Nirwanto Ki S. Hendrowinoto dan Harlina Indijati
Penerbit : Kelopak (Kelompok Penggerak Aktivitas Kebudayaan)
Jakarta, 2008
Jumlah halaman : xviii + 229
Ukuran buku : 15,3 cm x 22,5 cm
Kertas : HVS 80 gram

Upaya Andre Z. Soh, dosen kelahiran Waingapu, Sumba, NTT, dan putrinya, Maria N.D.K. Indrayana, guna menulis sejarah kota Kupang patut dipuji. Buku mengenai sejarah kota di Pulau Timor belahan barat ini amat jarang. Padahal Kupang sudah dikenal orang sejak berabad-abad lampau.
Diceritakannya, sejak Abad Ke-VII kekaisaran Cina (Dinasti Fang) telah mengetahui kota ini (Hlm 1), lalu Majapahit menyebut daerah ini pula seperti penuturan Mpu Prapanca di Negarakretagama. Kemudian masuklah bangsa Barat, a.l. Portugis tahun 1518, Spanyol (salah satu kapal armada Magelhaens), Inggris yang diwakili Kapten Bligh yang pernah diberontaki Fletcher Christian dalam kapal Bounty, lalu Belanda.
Dengan rendah hati Soh dalam pengantarnya menyebut bukunya ini sekedar tali perangkai “bunga-bunga” milik orang lain agar berguna. Tapi usaha bapak empat orang anak dan kakek dari enam orang cucu ini bukan main-main. Tak kurang 35 buku berbahasa Belanda, Inggris, dan Indonesia yang dia ‘kebet’ guna menggali sejarah kota Kupang.
Hasilnya adalah sekelumit sejarah serba singkat tapi komplet dan cukup detail dari Kota Kupang. Buku ini menjadi tidak membosankan karena banyak menampilkan gambar peta, serta foto-foto lama kota itu dan foto sekarang. Juga ada sejumlah foto para tokoh yang tentu sudah sulit dicari. Malahan pembaca dimanja dengan galeri foto dari halaman 181 hingga 220. Sebagian disajikan berwarna.
Buku ini amat berguna bagi para peminat sejarah – khususnya Kota Kupang – sebagai bahan awal untuk masuk lebih mendalam ke bagian-bagian penting sejarah Pulau Cendana tersebut.
Dibagi dalam empat Bab, tulisan Soh dan putrinya mengupas kedudukan Pulau Timor sebelum kedatangan bangsa Eropa, sejarah, perjuangan menentang Belanda, dan menjelaskan bidang pertahanan dan pendidikan.
Pendeknya buku ini perlu dibaca oleh mereka yang ingin mengetahui sejarah Kupang dan ingin menyelam lebih dalam ke dalam pelukan kota serta pulau yang sejak berabad lalu terkenal akan kayu cendana serta lilinnya.
thumbnail
Ssst-4

Hiduplah Sederhana

Sutradara Hollywood terkenal, Orson Welles, ketika masih hidup sengsara pernah menunggak hutang beberapa bulan. Kreditornya mengirim surat tagihan, Welles berjanji membayar tunggakannya. Beberapa bulan berlalu, sutradara dan juga aktor terkenal itu belum melunasinya juga.
Kreditor mengiriminya surat lagi yang kira-kira berbunyi: “Bagaimana kami meneruskan usaha kalau hutang kamu yang besar itu tidak kamu lunasi?”
Orson Welles membalas mengirimi telegram yang berbunyi: “Bisa saja. Hiduplah sederhana.”

Senyum dikit-4

Agunan

Seorang pelanggan restoran gelisah karena uangnya kurang untuk pembayar harga makanan dan minuman yang telah dinikmatinya.
Boss restoran : Oh, tak masalah. Paling kami menulis namamu di dinding sana sampai kamu melunasinya, baru dihapus.
Pelanggan : Ah, jangan, jangan lakukan itu!
Boss restoran : Baik. Kalau begitu gantung jas wool-mu di dinding itu buat menutupi tulisan namamu, sampai kamu lunasi utangnya.

Mutiara Hati

Penulis Adji Subela
Bagian Ke-3

Pendek kata saya diterima Tengku Kamaliah dengan ramah-tamah. Ia pun sudah pulang dari kantornya petang itu. Entah kenapa nyaman sekali rasanya duduk di ruang tamunya. Sebuah ruang tamu yang dipenuhi segala perabotan yang bernilai seni tinggi, sebagai pancaran dari selera keluarga ini. Hal itu tidak mengherankan, karena mereka dididik secara ketat oleh guru privat Belanda totok, mulai dari pelajaran sekolah umum hingga etika dan tatakrama pergaulan gaya Barat. Jelas mereka kenyang belajar dan banyak membaca buku-buku sastra dan seni lainnya. Tanpa diduga, petang itu Tengku Kamaliah memanggil adik perempuannya untuk diperkenalkan kepada saya. Gadis itu keluar. Saya semula mengira gadis itu nanti akan bergaya a la Barat dengan pakaian yang sedikit banyak akan dipengaruhi oleh gaya berbusana bintang-bintang Hollywood seperti misalnya Heidy Lamarr atau Marlene Dietrich misalnya. Ternyata tidak sama sekali!
Di depan saya berdiri seorang gadis kecil. Saya katakan kecil, karena pada waktu itu saya taksir usianya sekitar 17 tahun, jadi sweet seventeen-lah, dengan berbaju kurung seperti halnya perempuan Melayu pada umumnya. Pun, potongan rambutnya sederhana sekali, begitu pula solah tingkahnya amat polos, lugu. Padahal ia adalah putri seorang Sultan, dan berpendidikan Barat. Itu yang membuat saya kagum, terkesimak, dan terus terang saya katakan, hati saya bergetar saat itu. Tepatlah seperti apa yang dikatakan Kahlil Gibran bahwa cinta itu adalah bahagia yang bergetar. Gadis itu bagai sebuah mutiara. Saya sangat terpesona oleh keluguan gadis ini. Polos yang spontan tak dibuat-buat. Agak lama saya berhasil menata kembali nafas saya yang sudah tidak beraturan. Sesiapa pun tentu mengetahui bahwa gadis-gadis tanah Parahyangan, tanah asal saya itu, terkenal elok-elok. Tapi sejak saya remaja, kemudian mengikuti sekolah kedokteran dan memasuki dunia kemiliteran hingga berpangkat Kapten, hati saya tidak tergetar semacam ini. Baru sekarang. Gadis kecil itu dengan sopan mengenalkan dirinya bernama Tengku Nurzehan binti Sultan Mahmud Abdul Aziz Abdul Djalil Rachmadsyah. Sudah itu saja, lalu dipersilakan duduk oleh yundanya, Tengku Kamaliah.
Dalam pandangan saya, gadis ini memiliki aura kuat sebagai keturunan Sultan, memiliki wibawa dan energi besar. Di dalam dirinya terkandung semangat hidup yang tinggi. Itu semua terbungkus dalam sosok yang lugu, polos semacam itu. Seperti juga kepercayaan orang-orang di tanah Jawa, anak keturunan raja itu memiliki sinar aura yang sudah teratur, semacam wadah yang sudah siap untuk diolah dan dikembangkan kemudian. Gadis ini pun nampak demikian pula.
Setiba saya di mess perwira yang berlokasi di Jalan Sultan Maimoon Al Rasyid, saya tidak bisa tidur. Untuk pertama kalinya dalam hidup saya, darah saya berdesir-desir, dan di benak saya tertinggal potret gadis lugu itu. Saya memanggilnya Kucik, Tengku Kecik, artinya Tengku Kecil. Dia anak kesebelas dari 12 putra-putri Sultan Langkat, yaitu empat laki-laki dan delapan perempuan. Apakah dia akan menjadi istri saya? Belumlah tersirat pada waktu itu. Yang jelas bayang-bayang Kucik selalu membuntuti ke mana pun saya pergi.
Sejak saat itu, maka perjalanan ‘safari’ silaturahmi saya terhenti di Jalan Yogya No.2. Setiap petang saya selalu singgah ke rumah besar tersebut untuk menemui Kucik terutama tentu saja pada malam Minggu. Kenapa saya lakukan hal itu? Jawabnya jelas, sebab ternyata saya menangkap adanya green light, ada semacam pendar-pendar sinyal positif dari Kucik sendiri. Ada semacam interaksi antarhati kami berdua, walau tidak terucapkan barang sepatah kata pun. Kalau tidak, mungkin saya sudah mundur dulu-dulu. Buat apa?
Lalu pada kira-kira bulan kedua, hati ini sudah tidak mau ditutup-tutupi. Ia memberontak ingin mengulas kata kepada Kucik. Tak ada cara lain kecuali menulis surat. Pergaulan di jaman itu memang jauh berbeda dengan remaja jaman Abad XXI ini. Tidak pernah mereka mengungkapkan perasaannya secara bulat dan terus terang. Apalagi dengan latar belakang budaya Melayu mereka yang halus penuh rasa seni tinggi, keterus terangan akan mengagetkan, dan dapat dinilai rendah oleh orang lain. Maka dari itu saya tulislah sepucuk surat cinta. Saya tumpahkan apa kata hati yang terbungkam selama ini. Hati saya meronta-ronta kegirangan, dan jadilah surat cinta itu. Tapi setelah saya baca berulang-ulang surat acap kali saya sobek lantaran masih belum kena di hati. Tentu saja saya sudah pernah menulis surat ribuan pucuk, tapi kebanyakan adalah surat dinas yang kaku dan sudah terstruktur secara baku. Tidak mudah bagi seorang militer seperti saya untuk mereka-reka kalimat yang romantik. Namun pada usaha yang kesekian kalinya, surat itu selesai sudah dan saya ukur-ukur kira-kira cukup memadailah kalimat-kalimatnya untuk meruntuhkan hati si mutiara yang tersimpan rapi di Jalan Yogya No.2 itu. Penuh rayu. Padahal terus terang saja, Bahasa Indonesia saya waktu itu masih belepotan, tidak keruan-keruan. Saya baru belajar bahasa bangsa sendiri setelah Jepang menduduki tanah air, karena di MULO kami dipaksa untuk memakai Bahasa Belanda. Jadi selain getaran cinta itu tadi, maka Bahasa Indonesia saya menjadi persoalan berat. Tapi akhirnya surat toh jadi juga. Saya ingat waktu itu bulan Juni, tapi saya sudah lupa tanggalnya. (Bersambung)
Cerpen
Maghrib di Rokan
Oleh Adji Subela
Dari
Harian Limboto Express (9/Ags/03)
Antologi Cerpen Kota – Dewan Kesenian Jakarta (2003)
Surya mulai memerah sayu, turun pelan-pelan hendak menyusupi malam. Ia bersembunyi di balik ilalang yang berjurai-jurai menusuki langit. Air sungai Rokan Kiri mengalir tenang penuh kedamaian alami, jauh dari hiruk-pikuk kota yang disesaki hawa nafsu dan dengki. Ia begitu tenang menghiliri sungai nan agung dan gerisik lembut tangkai-tangkai lalang terdengar merdu mencumbui cercah lembayung di sebelah barat sana. Bau anyirnya menanda di sana masih banyak sekali ikan-ikan.
Di ujung sebelah utara, masih di seberang barat, tampak oleh kita gubuk kayu meranti yang kini telah rapuh. Dari seberang timur sini, pantulan lembayung menimpa air sungai, begitu mistis dan penuh misteri. Lalu dua sosok bayangan manusia kelihatan mematung. Siluet hitam-hitam itu bergerak-gerak. Yang sebelah kiri tak henti-hentinya menggosok pakaian yang harus dicucinya. Satunya lagi bergerak-gerak menggoyang-goyangkan gagang tali pancingnya, berharap senja itu ia berhasil menangkap seekor kalui yang besar. Aisah tak henti-hentinya melirik Sanip, dan hatinya meronta ingin menangkap pemuda jangkung itu. Tak ada getaran yang muncul dari jejaka itu. Gadis hitam manis itu lalu tertunduk malu-malu, dalam hatinya ia ingin menampari jejaka pengecut tersebut. Aisah lalu mendongak, mendesah, mengikat kainnya lebih kencang lagi, lalu kembali mengosok, mencuci baju adik tirinya. Sanip cuma menatap tajam-tajam air Rokan yang menggelap itu.
Di depan mereka melintaslah kapal motor milik Wancik. Pria beranak tiga itu bersiul-siul sambil memegangi kemudi kapalnya. Bubunya yang sudah dua hari ia tanam di hulu, di dekat hutan Jurong, disesaki ikan-ikan. Ada kalui, besar-besar, dan dia dapatkan pula begitu banyak ikan haruan. Besar-besar pula! Sepanjang siang tadi ia siangi hasil panen ikannya itu, dan sudah pula ia garami di dalam tong-tong plastik. Hari sangat cerah akhir-akhir ini, dan dua hari lagi, tengkulak dari kota Duri akan datang menjemput ikan asin itu. Wancik tinggal menghitungnya. Per kilo ikan asin laku dijualnya duabelas ribu rupiah. Kalau ikan itu dijualnya basah, hanya seharga delapan ribu rupiah.
Lelaki itu pantas bergembira hatinya. Bahkan ketika kapalnya melewati kapal ferry penyeberangan, Wancik berteriak-teriak menegur masinisnya:
“Hoi....pelanlah sikit........aku lalu ni....kapal aku lemban kali ni, banyak ikan di dalamnya...........”
Usman, si operator ferry itu, cuma ketawa terbahak-bahak.
“Alaaaah, banyak lagak kau Cik!! Lusa tak ada lagi ikan di bubumu baru tahu rasa.....,” teriaknya.
Si pengemudi kapal ketawa sambil mengacungkan tinjunya, lalu sambil bersiul-siul dipacunya kapalnya menderu-deru meninggalkan asap mengepul dari cerobongnya, berlagak.
Suasana kembali beku, dan langit pun semakin menghitam. Burung-burung nuri tampak terbang berkejaran memburu senja. Dan di kejauhan terdengar pekik-pekik ayam hutan, ditingkah cicit burung-burung pipit yang berterbangan ke sana ke mari beramai-ramai. Tak ada hari kesepian buat makhluk kecil-kecil ini, kecuali ingin dimangsa burung alap-alap yang mengincarnya dari pokok pohon meranti yang menjulang tinggi. Sebentar lagi burung-burung itu akan riuh-rendah berciap-ciap menyambut malam, lantas hinggap dalam kesunyian tidur lelap.
Dua anak manusia di tepian sungai agung itu masih dibekui bisu. Sebuah bisu yang menyiksa Aisah selama ini. Bisu yang amat sangat menyakitkannya. Dua tahun ia jenjet (1) bisu itu ke mana-mana, bahkan ketika Arman melamarnya tempo hari. Aisah masih ingat, ia serahkan segalanya kepada Sanip di gubuk seberang sana. Segalanya, tak ada lagi sisa buat Arman atau siapa pun juga. Sanip menggelutinya, lalu menggumulinya, di sebuah senja seperti yang baru saja lewat. Lalu Sanip pergi begitu saja. Dan Arman pun patah hatinya, lalu pergi entah ke mana. Aisah dengar, ia kini ada di seberang lautan, menyodoki tandan-tandan sawit di sebuah negara bagian di Malaysia. Dan kemudian Roni datang melamar gadis hitam manis yang suka berkasai kuning itu. Ingin rasanya Aisah menerima cinta tulus Roni, tapi bayangan Sanip selalu menghantu-hantuinya.
Sanip, dia si pria di sampingnya, hanya dua langkah darinya, yang membiarkan ia merana dan kini membiarkannya ditelan bisu bulat-bulat! Tiba-tiba saja dadanya mulai memanas, kemarahannya menyelusuri urat-urat nadi tubuhnya, lalu meresapi celah-celah benaknya yang kemudian menjadi memanas berkobar-kobar. Setiap detak jantungnya kini menjadi tiupan bara! Aisah bersiap hendak bangkit.
.......lalu mulai terdengar adzan maghrib menggaung di hutan, di tepian Sungai Rokan Kiri dan menumbur-numbur awan menghitam di langit menggelap..........
Kini panas tubuhnya benar-benar memuncak. Tangannya bergetar penuh dendam-benci menggumpal-gumpal.
......adzan belum juga selesai, iramanya begitu sayu, mendayu-dayu merayu ummat untuk bersujud pada Allah........
Tiba-tiba gelap terasa pada gadis hitam manis itu. Dadanya semakin berdenyut-denyut kencang dan kepalanya kian pusing rasanya. Setan telah merasukinya di senja masuk maghrib itu.........
........adzan telah selesai............seruan untuk bersujud telah rampung....orang-orang pun berdatangan ke mushola di kampung di tepian sungai Rokan Kiri..........
Lalu sebuah pekikan kecil terdengar di kegelapan di tepi kali, lalu disusul teriakan keras, singkat, dan dua deburan berkumandang, disusul kecipak-kecipak air....... lalu Rokan kembali tenang, menghilir dengan anggunnya. Gelap semakin menusuk........
.....................................
Deru kapal Wancik taklah seseru tempo hari. Ia melambatkan laju perahu bermotornya, lalu pandangan matanya menancap di rakit tempat ia melihat dua sosok manusia dulu itu. Ia bergidik sebentar. Bubunya kosong, tak ada ikan tersangkut di dalamnya. Degub-degub mesin perahunya kian melambat dan haluan kapal beringsut menempel ke dermaga, tak jauh dari penyeberangan. Wancik melempar tali ke darat. Ditangkap oleh Usman si masinis ferry, yang lantas mengikatkannya di tiang kayu ulin. Usman tak ada kerja saat itu. Ferry-nya diam tertambat, mesinnya cuma berdegup-degup pelan. Tampaknya senja itu sepi sekali, tak ada truk atau kendaraan lain yang lewat, seperti hari telah berhenti berputar saja. Penyeberangan tersebut diadakan oleh Caltex, tapi dimanfaatkan pula oleh masyarakat untuk menyeberangi Rokan yang penuh marwah itu. Di situlah denyut kehidupan sekitarnya tampak. Jantung kehidupan Riau kini masih juga tergantung pada benda cair kehitaman yang berbau keras, cairan yang memberi kekayaan pada Texas, pada Arab Saudi, pada Venezuela, Nigeria dan negeri-negeri lainnya. Dua tahun silam daerah ini disirami rezeki dari minyak Rp35,832 triliun, tahun ini dana bagi hasil migas Rp3,215 triliun. Perusahaan raksasa itu bak angsa bertelur emas. Diganggu dia maka rusak pula denyut kehidupan rakyat di sana. Dan denyut jantung kehidupan itu kini seolah berhenti saat ini, ketika senja terasa lebih kelabu dari senja-senja sebelumnya.
Dari arah timur, sebuah sampan kecil pun mendekati dermaga itu, dan ternyata Badrun ada di atasnya. Ia menyiau sampan ketepi, lalu dalam sekali loncat ia telah ada di bagian lain dermaga dan menambat kendaraannya di situ. Semuanya membisu.
Semuanya mendiam, kelu. Mak Salamah pun, yang selalu mangecek (2) bila orang-orang datang ke kedainya di sisi jalan berdebu, kini diam seribu basa. Ia hanya menuang air panas ke cangkir berisi bubuk kopi serta gula pasir, mengaduk, lalu menyorongkan cangkir demi cangkir kopi ke tetamunya. Cukup lama mereka merekat mulutnya, sampai akhirnya Wancik berkata lirih:
“Bena kate si Usman, tak ade ikan di kapalku hari ni...lah kulepas kembali.....tak sanggop aku membawe balek ke ruma........”.(3)
“Iyo lah ibo hati kito......,” (4) Mak Salamah menimpalinya.
Baru tadi pagi penduduk menemukan mayat sepasang manusia di hilir yang sudah mulai membusuk. Mereka ditandai sebagai Sanip dan Aisah, karena Wancik, Usman dan Mak Salamah paham betul pakaian keduanya ketika terakhir mereka menjumpainya di atas rakit di suatu senja menjelang maghrib tiba.
Pelanggan-pelanggan Mak Salamah petang itu menghirup minumannya dengan lemah, tak seperti biasanya yang berbunyi keras-keras. Kepulan kreteknya pun nampak malas menaburi udara senja yang senyap tersebut. Orang-orang kampung telah kehilangan dua warganya. Seorang gadis, dan seorang jejaka yang lama merantau lalu pulang untuk mati di kampung halamannya dengan cara yang mendirikan bulu kuduk. Kedamaian hidup mereka selama ini seolah lumpuh-layu.
Tak lama lagi surya akan mulai memerah sayu, turun pelan-pelan hendak menyusupi malam. Ia bakal bersembunyi di balik ilalang yang berjurai-jurai menusuki langit. Air sungai Rokan Kiri mengalir tenang penuh kedamaian alami......dan kini berbau lebih amis, anyir. Tak lama lagi udara akan dingin tak seperti biasanya, dan malam akan semakin kelam tak seperti dulu-dulu.
.........sebentar lagi adzan maghrib akan berkumandang, dan akan terdengar lebih merdu dan merayu dibandingkan yang lalu......
.........sebentar lagi, orang-orang akan bersembahyang lebih khusyuk, sebab mati sudah terasa amat dekat pada mereka, dan ajaran agama belum sempat mereka jalankan selayaknya.........
Sebentar lagi pula, gubuk tua di seberang sungai Rokan Kiri runtuh, entah kenapa.
Duri, Riau, 2003
Keterangan:
menjenjet (Melayu) = menjinjing
mangecek (Minangkabau) = berkata-kata
Bahasa Melayu Riau Daratan yang artinya:
Benar kata si Usman, tak ada ikan di kapalku hari ini...telah kulepas kembali...tak sanggup aku membawa pulang ke rumah
4. Artinya: Iya lah iba hati kita
Artikel-4
Nugroho Notosusanto dan Cerpen Perang Kemerdekaannya yang Dilupakan
Oleh Adji Subela
Dari Tabloid Komunika, Edisi 8, Agustus 2008
Romantisme perang kemerdekaan muncul dalam lagu-lagu Ismail Marzuki, serta puisi Chairil Anwar. Dalam cerita pendek, kendati umumnya ditulis sesudah masa perjuangan, banyak dihasilkan oleh seseorang yang bernama Nugroho Notosusanto (15 Juni 1931-3 Juni 1985).
Almarhum Prof. Dr. Nugroho Notosusanto adalah mantan guru besar dan rektor Univ. Indonesia (1982-1983), lalu tahun 1983 diangkat menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud). Ia juga menjadi Kepala Pusat Sejarah ABRI (1964-1983), serta seorang sastrawan yang memiliki karya berthema khas, yaitu perang kemerdekaan. Sebagai sastrawan yang khas itu, Pak Nug – begitu ia biasa dipanggil – cukup produktif di masanya, yaitu antara tahun 1947 hingga akhir dasawarsa 70-an. Puluhan cerita pendek (cerpen) ia hasilkan.
Akan tetapi namanya seolah kikis oleh konsep Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK) yang ia bawa ketika baru-baru menjabat Rektor UI, serta ketika menjadi Mendikbud.
Situasi politik pada waktu itu begitu hangat sehingga tidak mampu lagi membedakan dari mana dan bagaimana seseorang harus dilihat. Semua dipukul rata. Kemunculan konsep Normalisasi Kehidupan Kampus saat itu mengundang tentangan, karena situasi politik ketika itu belum kondusif dan justru pemerintah berusaha untuk mengembalikan fungsi kampus dari hiruk pikuk politik ke proses belajar mengajar yang sesungguhnya.
Masalahnya sebelumnya terjadi peristiwa demonstrasi yang mengarah ke kerusuhan pada Pra-Sidang Umum MPR, aparat keamanan (baca: ABRI) masuk ke kampus Institut Teknologi Bandung (ITB), dan sejumlah aktivis mahasiswa Jakarta dan Bandung yang dianggap bertanggungjawab di tahan di ‘Kampus Kuning’, rumah tahanan militer di Jakarta dan Bekasi.
Di tengah situasi seperti itu, Nugroho datang membawa konsep yang kontroversial sehingga jadi salah satu faktor namanya kini telanjur dilupakan, kecuali oleh kalangan Fakultas Sastra Univ. Indonesia serta lingkungan Pusat Sejarah TNI. Sangat menyedihkan ketika penulis bertanya kepada seorang mahasiswa dan seorang mahasiswi fakultas tersebut yang tidak mengetahui jelas siapa almarhum. Namanya mereka kenal sedikit, tapi sulit menyeritakan siapa tokoh tersebut.
Yang lebih mengenaskan, perannya sebagai sastrawan pun mengabur dan kini orang lupa pada penulis cerpen berthema perang kemerdekaan yang produktif. Imej bahwa Nugroho berasal dari kalangan ABRI (TNI) menambah antipati di masa lalu kendati ia orang sipil. Pangkat Brigadir Jenderal ketika menjadi Kepala Pusat Sejarah ABRI adalah tituler. Bahwa dia seorang pejuang, itu jelas, karena ia masuk Tentara Pelajar hingga romantisme perjuangan masa remajanya ia resapi betul.
Kemungkinan, karyanya diabaikan orang karena berwarna ‘hijau’ di tengah sentimen yang tidak mendukung. Ternyata yang lupa akan dia bukan cuma masyarakat awam, bahkan para sastrawan dan kritikus pun tak ingat siapa Nugroho. Ketika di Jakarta ada diskusi mengenai sastra dan perjuangan kemerdekaan Agustus tahun lalu, nama Nugroho Notosusanto tak disenggol sedikit pun, padahal karangannya sangat khas, dengan setting masa perang kemerdekaan, terutama di kalangan Tentara Pelajar di mana ia bergabung.
Membaca karangan pria kelahiran Rembang, Jateng, itu kita seolah-olah dibawa ke alam nyata jaman perang dulu. Banyak informasi akurat yang bisa kita serap. Tidak salahlah kalau karyanya jadi semacam sastra dokumentasi, di mana ia menyeritakan masa perjuangan itu dengan rincian yang baik hingga orang bisa bertanya-tanya mungkin karya itu berdasarkan kisah nyata. Misalnya ia bercerita bahwa pada masa Clash I itu tentara kita masih banyak yang tidak memakai sepatu, dan bahwa banyak anggota tentara Divisi 7 Desember Belanda yang menggempur TNI pada Clash I adalah anak-anak muda kalangan sipil yang sebetulnya enggan berperang (Lihat Kumpulan Cerpen Hujan Kepagian, cetakan ke-IV, Balai Pustaka, 1983).
Selain karena atributnya sebagai anggota TNI AD, karya Nugroho dianggap kurang berbobot, dan dianggap hanya semacam catatan harian seorang pejuang. Barangkali orang melupakannya karena ia cuma punya thema tunggal yang romantismenya kian menyurut dengan semakin panjangnya jarak kita dengan Proklamasi Kemerdekaan. Di samping itu perkembangan sastra di tanah air cukup gempita.
Pada suatu saat thema sastra berbau politik, kemudian anti-pemerintah. Perkembangan selanjutnya menyegarkan karena para remaja mulai menyukai cerita-cerita lokal dengan thema cinta, seperti serial Lupus, juga karya-karya Marga T dan lain-lainnya, lalu berubah menjadi cerita yang berisi semacam pemberontakan terhadap nilai-nilai mapan, dengan menyerempet hal-hal berbau pornografi seperti karya Jenar Maesa Ayu serta Ayu Utami. Belakangan ini cerita-cerita religius mulai masuk ke minat pembaca tanah air. Ke mana sastra perang kemerdekaan?
Greget romantisme perang kemerdekaan semakin jauh, dan seolah melupakan cerita pendek yang berthema perang kemerdekaan, seperti karya Nugroho Notosusanto. Padahal karya-karya dia lugas, gampang dicerna, dengan bahasa yang sederhana pula, kecuali istilah-istilah kemiliteran pada masa itu yang masih memakai Bahasa Belanda. Selain itu gambarannya mengenai perjuangan kemerdekaan bisa jadi referensi tidak resmi suasana waktu itu. Sebenarnya banyak sastrawan perjuangan yang lain seperti Trisno Juwono (terkenal dengan novel Pagar Kawat Berduri yang pernah difilmkan) maupun Pandir Kelana (salah satu karyanya Kadarwati juga pernah difilmkan), keduanya sama-sama berasal dari lingkungan institusi keamanan. Namun Nugroho-lah yang paling produktif menulis cerpen jenis semacam itu, walaupun namanya amat sangat jarang disebut-sebut dibanding kedua orang tadi.
Dalam kumpulan cerpen yang berjudul Hijau Tanahku Hijau Bajuku (Balai Pustaka 1993, Cetakan Ke-IV) Nugroho seolah muncul sebagai ABRI tulen, bukan sekedar tituler. Setting juga sudah masa pasca perang, tapi tetap konsisten mengakar pada revolusi 45. Di cerpen Panser, ia menyorot dilema prajurit eks pejuang yang dihadapkan pada fakta kesulitan ekonomi dan etos perjuangan 45. Cerpen yang ditulis di Yogya, 18 Juli 1956 itu tidak sampai memberi jawaban terang masalah ekonomi, tapi bicara spirit perjuangannya. Dalam Kepindahan, yang ditulis di Jakarta, 11 Oktober 1958, ia bercerita tentang Letnan Sukanda yang kemungkinan ‘serong’ dengan istri Wedana. Letnan itu kemudian gugur diserang gerombolan. Pesan moral Nugroho di sini sama dengan di cerpen Konyol dan Perawan di Garis Depan (Hujan Kepagian, Balai Pustaka, 1983, Cetakan Ke-IV), bahwa berjuang harus murni, menjauhi dosa-dosa, terutama zina, walaupun sudah di alam kemerdekaan sekali pun. Tahyul positif di antara pejuang menyebutkan, kalau mereka berzina maka akan mati konyol.
Memang Nugroho Notosusanto sesekali menulis cerita di luar perjuangan kemerdekaan seperti Ular, Nini, Raden Satiman, Persalinan (dalam kumpulan cerpen Rasa Sayange, Pustaka Jaya, 1983, Cetakan Ke-IV). Tapi thema seperti ini jarang ia buat. Kalau pun ada tetap saja ada benang merah yang ia rentang hingga romantisme perjuangan kemerdekaan., seperti dalam Doa Selamat Tinggal, Karanggeneng dalam buku yang sama.
Saya pribadi mengenang Nugroho Notosusanto sebagai sosok serius, jarang tersenyum walaupun tidak berarti ia bukan humoris. Pada tahun 1982 ketika ia baru menjadi Rektor UI, saya sebagai wartawan muda sebuah koran yang menekankan pada berita kota, kriminal, dan sports, ditugasi mewawancarai konsep NKK-nya. Saya pesimistik. Saya temui dia di rumahnya di Rawamangun. Ia mengangkat alisnya ketika mendengar saya wartawan koran apa. Tapi saya punya kunci:
“Pak, saya membaca buku Bapak Hujan Kepagian waktu klas tiga SD,” tutur saya. Itu memang benar, dan ia kaget lalu minta saya menemuinya di kantornya di Salemba esok hari.
Esok paginya saya siap di aula UI Salemba. Di sana ada sederet asisten Nugroho, setumpuk makalah, sebuah layar proyeksi serta overhead projector. Semua staf yang terlibat telah siap, seolah akan ada ceramah atau kuliah umum untuk 100 mahasiswa. Rektor UI itu datang tepat waktunya dan langsung memberi kuliah konsep NKK kepada…saya seorang!
Pada peringatan Proklamasi Kemerdekaan, ada baiknya kita mengenang orang-orang yang pernah memberi sumbangsih pada kemerdekaan kita. Tidak selalu untuk yang memakai bedil, tapi para seniman seperti halnya pada Ismail Marzuki, Chairil Anwar, dan banyak lagi lainnya.
Kita perlu menempatkan Nugroho Notosusanto pada porsinya sebagai sastrawan, cerpenis spesialis perang-perjuangan kemerdekaan, tanpa perlu lagi memberi stigma padanya bahwa dia itu ABRI, Orde Baru, dan sebagainya. Sama seperti kita menempatkan kembali posisi beberapa seniman yang pernah dijauhi, dan di kemudian hari jauh lebih beruntung di masa akhir hayatnya.
Karangan Nugroho yang ringan pasti bisa diserap para siswa kini yang makin tidak paham apa dan bagaimana sebetulnya merebut kemerdekaan itu. Sebuah ‘dokumentasi’ perang kemerdekaan dalam bentuk lain, bentuk seni yang langka sudah selayaknya ditempatkan di ranah yang sesuai, sepadan, proporsional dengan meninggalkan semua stigma yang pernah diderakan kepadanya.
Sentimen-sentimen lama yang merugikan, nafsu balas dendam, tentu saja akan merugikan persatuan dan kesatuan bangsa, dalam menghadapi masa depan yang kian berat dan makin menantang. Kenapa kita tak juga bersatu setelah para pendiri republik bersusah payah menyatukan kita dengan segala risiko yang mereka hadapi? Termasuk menghargai karya-karya sastra di masa itu misalnya?
thumbnail

Senyum Dikit 3

thumbnail
Persetujuan Utang

Kreditur: Lihat, kamu belum melunasi utang kepada saya selama setahun.
Sekarang kita ambil jalan tengahnya. Aku akan melupakan separuh utangmu, oke?
Debitor : Baik aku setuju. Aku juga akan melupakan separuhnya lagi.

Ssst 3

thumbnail
- Aktor sexy Hollywood, Brad Pitt, sebenarnya lulusan fakultas jurnalistik. Ia lebih suka memakai kostum ayam-ayaman di Hollywood dalam awal karirnya ketimbang menjadi wartawan. Ternyata ia melejit sebagai aktor.

- Leonardo DiCaprio yang banyak digandrungi cewek itu, mendapatkan nama depannya ketika sang ibu merasakan tendangan pertama kandungannya saat melihat lukisan karya Leonardo Da Vinci.

Resensi Buku 3

thumbnail
Menguliti Kebingungan Partai Golkar

Judul : Harmoko, Quo Vadis Golkar – Mencari Presiden Pilihan Rakyat Penerbit : PT Kintamani, Jakarta, 2009
Penulis : Nirwanto Ki S. Hendrowinoto, MA, dkk
Tebal : 224 halaman
Kertas : HVS 80 gram

Ini fakta sejarah. Seorang karikaturis dalam perjalanan karirnya melesat menjadi seorang Menteri Penerangan selama tiga periode berturut-turut dan kemudian menjadi Ketua Umum Golongan Karya lalu menjadi Ketua MPR/DPR.
Ini cerita mengenak Harmoko, orang Kertosono, Jatim, yang muncul menjadi takoh nasional yang cukup fenomenal.
Ia memimpin Golkar dan menjadi Ketua MPR/DPR di saat kritis yaitu masa gejolak penggulingan rezim Orde Baru tahun 1998.
Sebagai mantan orang nomer satu di Golkar, Harmoko tahu banyak mengenai organisasi politik tersebut. Dalam bukunya terbaru, Harmoko, Quo Vadis Golkar – Mencari Presiden Pilihan Rakyat, ia membeber sejarah Golkar yang ia sebut sudah eksis sejak Proklamasi Kemerdekaan 1945 dulu.
Dalam buku yang ditulis Nirwanto Ki S. Hendrowinoto dkk ini, seniman Senen tersebut ia membagi tulisannya dalam dalam 6 (enam) Bab. Judul yang dipakai nampaknya untuk memanfaatkan momentum Pemilihan Presiden (Pilpres) 2009 ini serta kekalahan Golkar yang “memilukan” dalam Pemilihan Legislatif sebelumnya. Harmoko terlibat dalam Golkar sejak 1964, yang waktu itu bernama Sekretrariat Bersama Golongan Karya (Sekber Golkar) lewat Sentral Organisasi Kekeryaan Swadiri (SOKSI) pimpinan Soehardiman. Ia bercerita, dalam 10 tahun terakhir Golkar kehilangan sosok bapak, kehilangan roh, dan sepi dari rasa senasib sepenanggungan. Harmoko yakin ini akibat harakiri politik elite pimpinannya dan terjadi praktik semacam money politics (Hlm 211-212).
Analisis mau ke mana Golkar dipapar dalam dua setengah halaman (Hlm 213 – 215), sedangkan ‘masa depan’ partai itu ada di lima halaman berikutnya.
Partai pohon beringin itu dilihatnya mulai layu dan perlu reconditioning, agar dapat memenangkan pemilihan-pemilihan berikutnya.
Penulisan buku ini jauh lebih bagus ketimbang buku tentang Harmoko sebelumnya, Berhentinya Soeharto Fakta dan Kesaksian Harmoko (PT Gria Media, Jakarta, 2007). Alur cerita lancar. Tapi bagi pembaca yang cerewet, masih dapat menemukan flaws seperti inkonsistensi ejaan, dan kesalahan kecil lainnya.

Mutiara Hati

thumbnail
Mutiara Hati
Memoar H. Barkah Tirtadidjaja
Oleh Adji Subela

Bagian Ke 2

Ternyata pertahanan saya pun akhirnya goyah juga. Ketika petang itu masih termangu-mangu di belakang kemudi jeep hendak ke mana saya mau pergi, tiba-tiba ingatan melayang pada sebuah keluarga yang belum saya kunjungi. Aduh, alangkah salahnya saya ini. Keluarga itu amat sangat terkenal, terhormat, dan kharismatik. Di masa lalu keluarga ini menjadi sesembahan rakyat Melayu, kaya raya, dan berpengaruh. Mereka memiliki istana yang indah di Langkat, sekitar 30 kilometer dari Medan ke arah barat daya. Akan tetapi bila ke Medan, mereka biasa tinggal di sebuah rumah besar yang terletak di Jalan Yogya No.2. Dulu bernama Manggalaan. Ke sanalah saya hendak pergi. Lalu kunci starter jeep Willys saya putar dan mesin segera hidup. Tidak terlalu jauh letaknya tempat ini dari markas.
Rumah ini memang besar dan menjadi tempat tinggal di Medan bagi keluarga Sultan Langkat, Sultan Mahmud Abdul Aziz Abdul Djalil Rachmadsyah. Di sanalah saat itu tinggal Permaisuri Tengku Raudah binti al-Marhum Tuanku Al-Haji Muhammad Shah, serta kadang-kadang tinggal pula istri Sultan yang lain. Permaisuri Sultan Langkat adalah salah seorang putri Sultan Kualuh.
Sultan Langkat memiliki dua Istana yaitu di Tanjungpura serta satu lagi di Binjai. Sedangkan rumah yang ada di Medan ini tentulah megah sekali kala itu, dibangun agak tinggi dari halamannya. Di depan terletak beranda yang cukup luas untuk bersantai petang hari. Tapi kini, di mata saya, rumah kelihatan agak suram, senyap. Belum dua tahun berselang, keluarga ini dirundung musibah yang teramat berat untuk dipikul. Sultan mangkat di tahun 1948, karena menderita sakit. Sebelumnya, yaitu Maret 1946 Istana mereka diserbu gerombolan yang menamakan dirinya Front Rakyat, atau Volksfront, harta bendanya dijarah habis-habisan, termasuk intan sebesar 100 karat ikut raib. Mahkota serta perhiasan mahal-mahal lainnya pun lenyap, kursi kesultanan yang berlapis emas dijarah, benda-benda upacara yang umumnya terbuat dari emas dan banyak di antaranya bertahtakan intan berlian pun hilang. Sejumlah besar porselen serta barang-barang kristal juga dilarikan penjarah. Bermeter-meter ambal, permadani buatan luar negeri, juga dibawa. Bahkan kendaraan mereka yang sangat mewah di masa itu seperti Packard, maupun Maibach, dirusak. Putra menantunya, sastrawan besar pelopor Pujangga Baru, yaitu Tengku Amir Hamzah, yang belakangan diangkat sebagai Pahlawan Nasional, tewas pula. Putra Makota pun juga menjadi korban kerusuhan sosial itu, dan hingga kini tidak diketahui di mana dimakamkan. Dua tahun bukan waktu yang lama untuk dikenang, bukan pula waktu singkat untuk dilupakan. Keluarga tersebut saat itu boleh dikatakan remuk dalam kesedihan. Peristiwa itu amat menyayat hati mereka. Kemudian kehidupan keluarga besar Sultan Langkat amat bergantung kepada putri tertuanya, yaitu Tengku Kamaliah, yang juga istri almarhum T. Amir Hamzah.
Tengku Amir Hamzah lahir di Tanjungpura, Sumut, 28 Februari 1911. Beliau adalah seorang lulusan MULO di Medan, kemudian pindah ke Jakarta, setelah itu pindah ke Solo, Jateng, untuk mengikuti pendidikan di AMS (Algemene Middlebar School) bagian A atau Sastra Timur. Kemudian beliau meneruskan ke RHA atau Rechts Hooge School (Sekolah Tinggi Hukum) di Jakarta, dan lulus sebagai sarjana muda. Sastrawan ini turut mendirikan Majalah Pujangga Baru bersama dengan Armijn Pane dan Sutan Takdir Alisyahbana, yang kemudian mereka dikenal sebagai sastrawan Angkatan Pujangga Baru. Di kelompok ini, T. Amir Hamzah dikenal sebagai Raja Penyair Pujangga Baru.
Selain itu beliau juga aktif mengembangkan Bahasa Indonesia dan menjadi salah seorang motor Kongres Bahasa Indonesia Ke-1. Setelah kemerdekaan, suami Tengku Kamaliah ini diangkat sebagai Assisten Residen RI di daerah Langkat. Namun tokoh besar sastra ini menemui nasib yang mengenaskan. Beliau tewas di tangan perusuh dalam sebuah ‘revolusi sosial’ berdarah di Sumut tersebut, yang banyak memakan korban yang kebanyakan adalah keluarga para Sultan. Tengku Amir Hamzah diangkat sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 1975 melalui SK Presiden RI No. 106/TK/1975. Di Jakarta, namanya diabadikan antara lain untuk sebuah mesjid di Kompleks Taman Ismail Marzuki (TIM), serta sebuah taman di daerah Matraman, Jakarta Pusat. Cerita tragis nasib penyair besar ini akan diungkapkan lebih lanjut di Bab Ketujuh.
Tengku Kamaliah adalah sosok yang teguh dan kuat. Almarhumah tidak lantas mendayu-dayu meratapi nasib keluarganya, tapi kemudian beliau turun gelanggang bertanggung-jawab terhadap kelangsungan hidup adik-adik serta seluruh anggota keluarga kesultanan lainnya termasuk ibu tiri serta putra-putri mereka. Beliau adalah seorang perempuan yang tangguh, lincah, serta memiliki bakat bisnis kuat. Tengku Kamaliah menjalankan bisnis otomotif bekerja sama dengan dr. A.K. Gani, Menteri Kemakmuran dalam Kabinet Sjahrir III (2 Oktober 1946 – 27 Juni 1947), Wakil Perdana Menteri dalam Kabinet Amir Syarifudin I (3 Juli – 11 November 1947), kemudian kembali sebagai Menteri Kemakmuran Kabinet Amir Sjarifudin II (11 November 1947 – 29 Januari 1948). Selain berbisnis di bidang otomotif, Tengku Kamaliah juga menjadi penyalur gula pasir serta berbagai bahan pangan lainnya. Sebelum mengenal anggota keluarga Sultan Langkat lainnya, saya kenal beliau terlebih dahulu. Jadi petang itu saya bulatkan tekad untuk pergi ke keluarga mereka. Pada waktu itu saya tidak mengira bahwa kedatangan tersebut akan mengubah hidup saya hingga sekarang. Jadi kelihatannya itu kunjungan pertama dan yang paling penting buat saya, boleh dikatakan blessing in disguise, semacam berkah tersembunyi.