Ikuti Terus!

thumbnail
Ikuti terus blog saya, karena akan diupgrade secara berkala, dengan menu lebih banyak

Sst-1

thumbnail
Ssst..... ! – 1

Tahukah Anda? Ada mahasiswa berotak encer yang malah menolak gelar PhD dalam Bahasa Inggris yang berhak disandangnya? Siapa dia? David Duchovny, bintang The X Files yang dulu itu.

Aktor merangkap penyanyi rap Will Smith menolak beasiswa dari Massachusetts Institute of Technology (MIT), AS, yang kesohor itu. Will Smith punya otak encer juga, tapi lebih suka jadi penyanyi rap dan aktor. Untungnya dia berhasil populer.

Senyum dikit – 1

thumbnail
Senyum dikit – 1

Pulang pagi

Seorang nyonya rumah marah-marah melihat suaminya baru pulang pukul 05.00 pagi.
Nyonya: “Ayo jelaskan! Kenapa kamu baru pulang pagi-pagi begini!”
Suami : “Mau sarapan.”

Tak tega

Dalam sebuah bis kota yangpenuh sesak, seorang penumpang heran kenapa teman sebelahnya selalu memejamkan matanya.
Pria 1 : “Kenapa kamu memejamkan mata? Sakitkah?”
Pria 2 : “Ssst ....jangan keras-keras, aku enggak apa-apa. Aku cuma enggak tega lihat banyak perempuan berdiri enggak kebagian tempat duduk.”

Ramai-ramai ingin berkuasa. Untuk apa?

thumbnail
Ramai-ramai ingin berkuasa. Untuk apa?

Oleh Adji Subela

Bangsa kita ramah, murah senyum. Tapi nanti dulu. Ada kelakuan yang bikin bangsa asing (baca: Barat) menggigil ketakutan. Kalau kita berselisih, kita bernafsu menghilangkan nyawa lawan kita. Rohaniwan asal Belanda, almarhum M.A.W. Brouwer menulis, negeri ini serba aneh, sangat aneh, dan penuh rahasia. Orang selalu ketawa, selalu senyum, selalu bersenda gurau, tapi bila berselisih pendapat.....simsalabim dan hilanglah kepalamu (Kompas, 18 Januari 1971).
Kita tak kuat berbeda pendapat, atau ingin menang sendiri melulu. Kalah itu memalukan. Ini baik, cuma kalau harus menang lewat cara apa pun – halal atau haram – ini sangat tidak baik. Kita ingin menang, karena juara akan dihargai, punya hak istimewa, dihormati rakyat di mana-mana, lalu kita merasa boleh berbuat seenaknya. Nikmatnya orang berkuasa bisa mengecoh akal sehat dan akhlak. Setelah mengecap kekuasaan (politik) kita lantas kepingin nikmat lainnya. Yang paling dekat itu nikmatnya harta (halal-haram tak jadi soal). Lalu wanita (bukan istri). Belum jelas bagaimana bila yang berkuasa perempuan. Nenek moyang sudah wanti-wanti, bahwa tiga “ta” (tahta, harta, wanita) itu berbahaya, karena ketiganya taut-bertaut sama-sama mampu mengajak ke neraka.
Tapi kita selalu ingin menyoba apa peringatan tadi benar. Maka tak heran dari jaman ke jaman orang berkuasa kerap bolak-balik kejeblos ke jurang nikmat neraka dunia itu. Tak ada yang kapok. Kalau kapok, ya kapok lombok, setelah kepedasan bakal diulang lagi.
Trias politika membagi kekuasaan menjadi tiga, yaitu legislatif, eksekutif, dan yudikatif. Di negeri kita yang gemah ripah loh jinawi tata tentrem karta raharja ini, kekuasaan eksekutif dipakai untuk mengeksekusi semangat enaknya berkuasa itu. Boleh memalsu surat keputusan, menyelewengkan dana, memperkaya keluarga, dan rakyat yang akan membayar. Di yudikatif, kita boleh jual-beli perkara. Mau hukuman ringan, bebas lepas? Ada harganya. Anda boleh lari ke luar negeri, dan jangan khawatir karena utang yang Anda bawa kabur bakal dibayar rakyat. Legislatif punya modus lain. Setelah terpilih, mereka lupa sumpahnya lalu memilih siapa yang bisa diperas. Mau bikin undang-undang? Bayar dulu. Mau konversi lahan? Itu melanggar aturan, tapi pssst, psst, psst. Tahu bereslah.
Dijamin, orang berkuasa itu enak sekali, mak nyuss. Maka orientasi orang kita adalah pertama-tama mencari kekuasaan untuk menyukupi nafsu-nafsu duniawiahnya.
Kita menunggu orang berbudi yang punya orientasi untuk berkarya, menghasilkan sesuatu yang mampu menyumbang kemajuan bangsa tercinta, tak peduli nantinya berkuasa atau tidak.
Budi baik itu sudah satu kekuasaan yang tiada taranya, karena dapat melumatkan rasa jahat, dengki, dan memiliki nilai dunai akhirat yang besar.

Tuan Stalin

thumbnail
Oleh Adji Subela

Memasuki kompleks X (maaf, nama ini untuk sementara tak kusebut) kakiku amat ringan melangkah. Ini sebuah komplek besar terdiri dari sejumlah gedung besar, kuno, bertembok tebal, kukuh sekali. Di halamannya yang sangat luas tumbuh pohon besar-besar, teduh suasana dibuatnya. Aku sekarang berdiri di sebuah lorong bersih, bertegel mengkilap, dan berwarna agak suram.

Engkau dapat menjadi siapa saja di sini. Betul! Aku mencoba menjadi Newton, dan terjadilah! Sebutir kerikil, meski bukan buah apel, (tapi kuanggap kerikil itu apel karena beberapa waktu sebelumnya aku pernah makan benda seperti itu dan ternyata rasanya segar juga) kujatuhkan dari tangan lalu memang benar-benar sampai ke lantai, persis di dekat kakiku. Kucoba menjadi Pavarotti. ( Catatan: Tenor itu telah mati belum lama ini). Suaraku betul-betul merdu. Bergaung seperti di teater La Scala. Waktu itu memang tak ada tepuk tangan apalagi suit-suit, tapi bukan soal benar.

Langkah kulanjutkan siapa tahu bisa menjadi Schubert atau Strauss. Aku pernah berteman dengan mereka tapi sering bertengkar karena sistem not balok yang kuanut berbeda dengan punya mereka. Tiap komposisi yang kuciptakan tak pernah dimainkan sempurna oleh mereka. Menjadi Einstein boleh juga, atau John Nash, atau Nartosabdo. Aku bisa menari dan menyanyi tembang Jawa dalam bahasa Swahili. Semua saudaraku mengakui kemampuan istimewaku itu setiap kali kutanyakan. Mereka menoleh, mengangguk lalu bekerja lagi. Tetanggaku sering minta aku menyanyi tembang itu dalam bahasa Esperanto, atau terkadang bahasa Cina dialek Kanton lalu mereka bertepuk tangan. Kuharapkan kehadiranku di kompleks ini kelak memberi inspirasi penghuninya. Kuharap aku jadi motivator, atau konsultan. Tak usah dibayar, cukup beri aku satu kamar dengan fasilitas standard, dan jaminan makan minumnya.

Kulihat banyak orang di kompleks ini. Tentu mereka ada yang berbakat matematika. Aku bisa ajari mereka teori the correlation between newest type of calculus and the oldest theory of equilibrium quareling liquid in the frame of the New Emerging Forces spirits. Teori ini gabungan antara kalkulus yang telah dimodifikasi, diperkenalkan oleh putra Indonesia (entah siapa aku lupa) dan teori kelembaman zat cair dalam semangat politik gerakan kekuatan dunia baru. Ketemukan, kekuatan baru dunia itu seperti bak air yang diguncang-guncang dan nantinya dia akan diam dalam perhitungan kalkulus yang lebih simpel, lugas, dan menurut hukum pasar yang berlaku surut. Sejak duduk di bangku SMA aku sudah yakinkan guru kimiaku, Pak Prayit, bahwa ilmunya itu harus diajarkan bareng dengan aljabar-analit, serta fisika, ilmu falak, dan sejarah kebudayaan. Ia marah. Kukatakan, kalau ia memisah-misah ilmu seperti itu, tandanya ia masih primitif. Ilmu modern adalah gabungan semua ilmu menjadi satu kebenaran tunggal yang tak akan ada lagi debat-debat percuma.

“Kalau jadi seperti itu, kita langsung kiamat, karena kebenaran kembali jadi satu lagi,” jelasku. Teoriku tak digubris dan sejak itu nilai ilmu kimiaku selalu merah. Satu pelecehan memang, mungkin dia sentimen pada bakat jeniusku hingga jadi guru killer. Teman-teman bilang ia guru terbaik, buatku ia harus jalani program reedukasi di Gulag atau Gurun Gobi.

Tak lama-lama aku berdiri di lorong itu, muncullah seorang pria berwajah nabi. Ia rupawan, pembawaannya halus. Senyum sopan menghiasi bibirnya yang tipis dan kemerahan tanda dia bukan perokok. Pakaiannya terus terang usang, model lama, tapi bersih.
“Hoe gaat het met U?” sapanya dengan sopan.
“Heel goed Meneer,” jawabku sambil menyambut uluran tangannya.
“Please take a seat,” sambil menunjuk kursi rotan di sebelah kananku. Kami duduk.
“Commence vouz s’apelle?”
“Je m’apelle Nero, et vouz?”
Ia tersenyum saja, seolah namanya tak penting. Pria itu rendah hati sekali.
“Mekolo mkese ndombo msi ketikili, nok?”
“Nik, tsomba ktualu mbkei lolo behkmulo o. Tei ktukai tsotso kembehsy,” kataku.
“Nik, nik,” jawabnya sambil mengangguk,”ksei mpilu kaukokots bklekiyu mpi.”
“Puksy, nok? Ksembe ktualu ktukai msi pingo pingo betsykosy mpi mpe buhkulum, mampa kiuki tsotso kembehkapusulisy ngoh.”
“Nama saya Stalin S....... Sorry saya tadi tidak sopan belum jawab pertanyaan Anda tadi,” katanya kemudian dalam bahasa nasional kita. Huruf S di belakang namanya sengaja saya singkat sekarang ketika kisah ini saya ketik, karena khawatir menyinggung perasaan keluarga-keluarga yang memiliki nama famili sama. Apalagi S ini sama dengan seorang tokoh nasional kita yang kini sudah menjadi almarhum. Tapi waktu itu ia sendiri juga minta namanya disingkat saja, Stalin, begitu, supaya mudah.

Setelah lama kami bertukar pikiran, Meneer Stalin S. mengeluh mengenai surat-surat yang ia kirim kepada Ratu Elizabeth II dan Ratu Beelquisyt. Ia minta agar Ratu Elizabeth mundur dari Pulau Malvinas secepatnya karena Argentina makin kuat. Rudal Exocet buatan Prancis merontokkan pesawat-pesawat tempur Inggris. Satu Exocet pernah direparasi di bengkel di Koja, Tanjung Priok. Itu bisa dilacak ketika dipakai, sebab bunyi ledakannya lebih lembut.

“Saya gemas,” lanjutnya lagi, “Napoleon hampir saja menang di Rusia, tapi gagal karena cuaca buruk. Ia tak mengindahkan saran saya. Ini pasti karena pasukan pengawalnya tak menyampaikan surat saya karena tak memberi mereka uang amplop. Nanti memasuki Abad Ke-XXI, kita akan mengalami global warming, Dik, setelah itu akan terjadi global freezing (Note: Separuh ramalannya benar dan separuhnya belum terbukti) karena akan terjadi kontraksi setelah bumi melar.”

“Adik, hati-hatilah kepada rokok. Jauhilah. Lihat aku tidak merokok dan tetap sehat pada usiaku yang ke 96. Temanku, Winston Churchill, waktu muda bukan perokok. Tapi kemudian dia menjadi pengisap cerutu yang getol. Sayangnya ia jarang mengembuskan asapnya keluar setelah mengisapnya dalam-dalam sehingga terjadi internal warming di tubuhnya yang kemudian lantas melar, gemuk seperti itu. Berbeda dengan Abraham Lincoln. Ia bercerita kepadaku bahwa ia pengisap caklong. Kukatakan, hati-hati kandungan tarr dan nikotine tembakau berbahaya. Ia ikuti saranku tapi tentu sulit menghilangkan kebiasaan merokoknya. Ia lantas menghisap sedikit lalu menghembuskan asap tembakaunya banyak-banyak keluar sehingga terjadi pengerutan badan, tubuhnya jadi kurus.”

“Adik, kelak bila engkau pulang, tolong bawakan suratku kepada Presiden. Saya katakan kepada beliau, segera tingkatkan kemampuan teknologi kita agar dapat bersaing dengan luar negeri. Tirulah Jepang. Mereka memiliki kemampuan teknologi hebat, karena orangnya pendek-pendek, jarak antara mata dan dadanya dekat sehingga koordinasi antara dada, pandangan mata, pikiran maupun tangan cepat.”
“Sebaliknya Dik, orang-orang dari Kenya sulit menyerap teknologi, karena badan mereka kurus-kurus, dan kulitnya terlalu gelap. Tapi mereka amat pandai dalam berburu karena gesit.”

Kami menjadi akrab, dan hari-hari berikutnya kami lalui bersama untuk mendikusikan bagaimana menyelenggarakan Perang Dunia Ke-III. Kami perlu membentuk panitia untuk itu. Tapi siapa yang mau jadi sukarelawan untuk itu? Orang selalu minta bayaran. Kami berdua tak punya uang. Maka pembentukan panitia itu kami tunda entah sampai kapan.......

Karya Buku Baru

thumbnail
Judul Buku:

MUTIARA HATI - Memoar H. Barkah Tirtadijaja seperti yang dituturkan kepada Adji Subela
Penerbit: Yayasan Kelopak, Jakarta.
Jumlah halaman: 280 halaman HVS

Resensi:

Mayjen TNI (Purn) H. Barkah Tirtadidjaja adalah putra bangsawan Sunda, menikah dengan salah seorang putri Sultan Langkat, Sumatra Timur, yaitu Tengku Nurzehan.
H. Barkah di jaman Jepang adalah mahasiswa Sekolah Kedokteran Ika Daigaku. di masa revolusi kemerdekaan beliau ikut berjuang, mengamankan pembacaan Proklamasi oleh Sukarno-Hatta, kemudian di masa perang bergerilya dengan Kolonel A.E. Kawilarang.
Tahun 1950 setelah penyerahan kedaulatan, H. Barkah dinas di Medan di TT I, sebagai Assisten Logistik. Di sana berkenalan dengan Tengku Nurzehan, si putri Kesultanan Langkat, lalu menikah.

Sejarah Kelam Langkat.
Kesultanan Langkat merupakan salah satu kesultanan terkaya di Sumatra Timur di jaman penjajahan Belanda. Banyak perkebunan, pertambangan dan perdagangan di bawah kendalinya. Sumber minyak pertama di Indonesia, Pangkalan Brandan, berada di bawah kekuasaannya. tidak heran jika lambang Pertamina yang lama, yaitu dua Kuda Laut, mengambil inspirasi dari lambang Kesultanan Langkat ini.
Prahara kelam melanda Kesultanan Langkat dan juga Kesultanan Deli, Asahan, Kualuh, Siak, dll. Bulan Maret 1946 terjadi kerusuhan sosial yang digerakkan oleh unusr PKI (komunis), yaitu merampok, membakar dan membunuhi para bangsawan Melayu itu dengan tuduhan berkolaborasi dengan Belanda dan tidak mendukung Republik. Padahal bulan Oktober 1945 telah ada kesepakatan semua Kesultanan Sumatra Timur mendukung republik.
Ratusan bangsawan Melayu tewas mengenaskan.
Tahu sastrawan terkemuka Angkatan Pujangga Baru yaitu Amir Hamzah? Beliau ikut menjadi korban keganasan komunis itu walaupun diangkat Bung Karno sebagai Bupati Langkat.
Tengku Amir Hamzah adalah menantu Sultan Langkat Sultan Mahmud, jadi ipar Tengku Nurzehan, istri H. Barkah itu. Yang menyedihkan Tengku Amir Hamzah yang berhati lembut itu dieksekusi dua bekas pembantu setianya.
Putra mahkota Langkat, Tengku Musa, hingga sekarang tidak ditemukan makamnya.
Beruntung Sultan Langkat berhasil diselamatkan oleh teman dan pengikut setianya.

Itulah sebagian isi buku ini. Bagian lain yang menarik, ternyata H. Barkah berteman dekat dengan tokoh-tokoh nasional, dan internasional. Almarhum Presiden Pakistan Zia Ul Haq adalah temannya ketika bersekolah militer di AS.
Tahu A. Latief? Salah seorang tokoh penggerak kudeta G30S/PKI tahun 1965? Ia adalah teman sekolah H. Barkah di Sekolah Staf dan Komando AD di Bandung. Tragisnya, salah seorang korban Gestapu itu teman H. Barkah yang lain di sekolah itu, yaitu Brigjen Katamso yang gugur di Kentungan, Yogya.
Lebih aneh lagi, salah seorang rekan sekelasnya menjadi besan Pak Barkah di kemudian hari.

Buku Mutiara Hati membuat penasaran banyak pembacanya karena banyak informasi penting, terutama menyangkut politik yang tidak diungkap gamblang oleh H. Barkah.
Menanggapi itu, purnawirawan yang banyak berkecimpung di bidang intelejen dan pernah menjadi atase di Malaya, Dubes RI Berkuasa Penuh untuk Mesir, Sudan dan Djibouti, serta Sekjen Dep. Perindustrian di masa Menteri M Yusuf itu mengatakan beliau tak ingin menyinggung perasaan orang lain. Buku Mutiara Hati, menurutnya merupakan kenangan bagi almarhum istrinya, Tengku Nurzehan.
Kendati demikian buku ini memang banyak memberi tips informasi berbagai hal di tanah air yang perlu ditelusuri dan diungkap lebih lanjut.

Who am I?

thumbnail
Hallo.
Nama: Adji Subela
Tempat Tgl. lahir: Blitar, 01 Januari 1952
Latar belakang:

Pendidikan:
1. sekolah SD-SMA di Ponorogo, Jatim
2. kuliah di Akademi Penerangan Angkatan XV

Karir Jurnalistik:
1. Reporter Harian Pos Sore, Pos Kota, Harian Terbit (managing editor), Indonesia Times (reporter, editor), SKM Bersatu (chief editor), SKH Limboto Express (founder).

Karir seni peran:
1. bermain dalam 23 sinetron (sebagian besar produksi TVRI, juga Indosiar)
2. film layar lebar Benyamin Koboi Insyaf
3. pentas pantomim

Karir sastra:
1. Menulis cerita pendek (cerpen) di Harian Terbit, Sinar Harapan, Suara Karya, dll
2. Buku kumpulan cerpen: Pengantin Agung (PT Gria Media, Jakarta)
3. Juara III Lomba Cerpen Betawi 2005

Penulisan Buku Lainnya:
1. Biografi M. Djaelani (mantan Wagub DKI Jakarta)
2. Biografi Dr. Chandra Motik (guru besar UI, pakar hukum kelautan)
3. Biografi Pramono (karikaturis Sinar Harapan)
4. Biografi Suparmo (budayawan)
5. Memoir Mayjen TNI (Purn) H. Barkah Tirtadidjaja tentang pernikahannya dengan Putri almarhum Sultan Langkat, Tengku Nurzehan.