Langsung ke konten utama

Artukel-7


Artikel tamu


Hollywood

Oleh FX Bachtiar
Apa yang muncul di benak kita saat membaca judul tulisan di atas? Sebuah kawasan di California, Amerika Serikat, dimana sejak awal Abad Ke-XX menjadi pusat industri film AS yang hasil produksinya telah berhasil menguasai pasar dunia, tidak tersaingi oleh produsen fim negara mana pun.
Menikmati hiburan produk Hollywood saya mulai dari berbagai film segala umur (istlah masa itu) di awal tahun 50-an seperti Peter Pan, Snow White and the Seven Dwarfs, meningkat ke yang untuk 13 tahun ke atas seperti 20,000 Leagues to the Bottom of the Sea, around the World in 80 Days, Sinbad, Robin Hood, kemudian setelah cukup umur mulai menonton yang untuk 17 tahun ke atas, entah sudah berapa ratus judul dan jenis cerita, ada drama yang serius, ada komedi yang konyol, ada aksi laga yang menegangkan dan lain-lain. Sebagian latar belakang di samping nuasnsa sejarah seperti jaman Romawi, masa perang saudara Utara-Selatan, Perang Dunia I dan II, perang Pasifik, perang Vietnam sampai perang di Timur Tengah, banyak ditampilkan keragaman geografi, demografi, dan kondisi sosial seprti panasnya gurun di Arizona dan Nevada, rawa-rawa yang menyimpan misteri di Florida, gersangnya padang rumput dan ladang minyak di Texas, terjalnya tebing-tebing Rocky Mountains di Colorado, gemerlapnya kasino di Las Vegas, hiruk-pikuknya kehidupan di New York, indahnya pantai Hawaii, kokoh dan ketatnya penjara Alcatraz di Teluk San Fransisco, mistisnya kehidupan kaum Indian, kerasnya komunitas cowboy penggembala sapi, ganasnya kriminalitas di kota-kota besar, hebatnya Secret Service, FBI dan SWAT, canggihnya sistem pengamanan Gedung Putih dan pesawat terbang kepresidenan Air Force One, luasnya jaringan CIA, ampuh dan berani matinya personel Green Berrets, Delta Force, US Marine, Navy SEAL, dan para penerbang tempur US Air Force.
Dari nonton film saya lebih banyak mengingat nama-nama bintang film daripada nama-nama teman satu klas dan tetangga, bahkan kerabat. Nama-nama Jerry Lewis, Alan Ladd, Rock Hudson, Tony Curtis, Yull Bryner, Stewart Granger, Gary Cooper, Audy Murphy, Johnny Weismuller, John Wayne, Jack Palance, Robert Wagner, David Niven, Anthony Quinn, Burt Lancaster, Franco Nero, Dirk Bogarde, Liz Taylor, Brigitte Bardot, Claudia Cardinale, Gina Lolobrigida, disusul generasi berikutnya seperti Chuck Norris, Clint Eastwood, Robert Redford, Harrison Ford, Tommy Lee Jones, Sylvester Stallone, Barbara Streisand, Julia Roberts, Whoopy Goldberg, Pierce Brosnan, Sandra Bullock, dan puluhan nama lainnya, seakan tidak mungkin hilang dari ingatan. Akting mereka membekas sebagai the good guys atau the bad guys, the winners atau the losers, the lovers atau the cheaters.
Dulu saya rasakan bahwa film apa pun darinegara mana pun termausk produk Hollywood,menyuguhkan pelajran tentang bagaimana hal-hal baik (cinta, kejujuran, kesetiaan, kepintaran) pasti mengalahkan semua yang buruk (kedengkian, keserakahan, kecurangan, kebodohan). Paling tidak film masa itubenar-benar memberi hiburan segar kepada para penontonnya. Dampak yang muncul kemudian adalah tumbuhnya rasa kagum terhadap AS, terhadap orang Amerika, terhadap produk buatan Amerika dan terhadap gaya Amerika yang secara perlahan lalu memunculkan jiwa bebasa a la Amerika di kalangan masyarakat Indonesia terutama generasi muda waktu itu. Celana jeans ketat atau cutbray, rambut divaseline, rok can-can, musik ngak-ngik-ngok (rock and roll), juga kemudian muncul grup-grup crossboys di kota-kota besar yangmenjamur begitu luas smapai-sampai pemerintah Indonesia masa itu merasa perlu mengambil langkah tegas untuk memagari budaya Indonesia.
Sekarang, di mana teknologi informasi telah berkembang sedemikian cangguh dan tidak lagi bisa dibatasi oleh waktu maupun ditangkal oleh kedaulatannegara, Hollywood pun (sengaja atau tidak) telah berkembang perannya dari yang semula hanya memproduksi hiburan untuk dunia, menjadi agen pembentuk opini bagi kepentingan Amerika Serikat di seantero dunia. Melalui layar perah, di bioskop Grup 21 atau di layar tancap, disebarkan berbagai kisah tentang kebobrokan negara dan pemerintahan komunis, tentang kekejaman teroris (baca: Islam fundamentalis), tentang petaka mengerikan kalau nuklir digunakan negara selain AS yang semua itu dibuat dengan dukungan tkenologi perfilman modern dan penggapran script secara halus untuk bis amenumbuhkan kebencian penontonnya terhadap pihak-pihak yag dianggap berbahaya bagi AS. Para penontonnya, terutama di luar AS, dijejali pemahaman bahwa amannya AS adalah amannya dunia, menyerang AS berarti menyerang dunia.
Disadari atau tidak, dewasa ini kota bansa Indonesia telah terjerumus ke dalam suasana kehidupan berbangsa dan bernegara yang disukai oleh Sang Adikuasa, ikut membenci lawan-lawannya tanpa terlebih dahulu berusaha memahami akar permasalahan sebenarnya yang melatarbelakangi munculnya sikap dan tindakan memerangi kepentinan AS. Kondisi ini apabila tidak kita sikapi secara cerdas dan bijak pasti akan mendisharmoni hubungan bangsa Indonesia dengan bangsa-bangsa lain yang dibenci AS, yang apabila benar-benar trjadi maka berakhirlah komitmen bangsa Indonesia untuk bersikap bebas-aktif dalam percaturan antarbangsa.
Di dalam negeri tumbuh rasa caling mencurigai dan dicurigai. Di bidang kehidupan beragama, sebagian warga negara Indonesia pemeluk agama minoritas (non-muslim) menjadi gelisah dan libung berada di lingkungan pemeluk agama mayoritas (muslim) yang oleh Hollywood digambarkan sebagai berpihak kepada teroris yang mengancam kedamaian dunia, sementara di sisi lain sebgaian kaum muslim terpancing untuk menampilkan arogansi mayoritas. Di bidang ideologi, para keturunan ex-PKI tetap emrasa terkucilkan dari kehidupan bermasyarakat sehingga ada yang laluberupaya keluar dari himpitan psikologi itu dengan menyatukan diri, berkegiatan dalam organisasi-organisasi yangmereka bentuk, sementar di sisi lain fobia terhadap komunisme masih tetap ditampilkan dalam sikap penolakan tanpa kompromi.
Di bidang teknologi, rakyat yang takut terhadap bahaya nuklir berhadapan dengan pemerintah yangbernafsu membangun PLTN tanpa (mudah-mudahan sudah) memperhitungkan kemungkinan adanya kecerobohan dari pekerja yang masih belum trbiasa menempatkan masalah keselamatan sebagai bagian budaya kerja terpenting dan kemungkinan bahaya lain yang justru non-teknis yaitu bahwa pada suatu hari nanai bisa saja dimunculkan kecurigaan adanya penyalahgunaan nuklir oleh Indonesia (ingat Irak dan Korea Utara) sehingga Indonesia harus dihukum.
Lebih hebat lagi di bidang kebudayaan, indikasi hilangnya jati diri bangsa dan sopan santun ajaran adat ketimuran terliaht dan terdengar hampir setiap saat terutama di layar televisi, aa tayangan acara musik country yang sangat saya gemari namun menontonnya sambil geli atas tingkah para cowboy sato matang yang kebanyakan belm pernahmenunggang kuda dan bahkan sama kuda delman saja takut, ber-country dance lengkap dengan boots, kemeja kotak-kotak dan topi Stetson, lalu ada tayangan infotainment yang terlalu blak-blakan, ada ungkapan kekesalan penuh caci-maki, ada acara dialog langsung (live) diwarnai adegan saling memotong pembicaraan bahkan dengan gerak tangan yangmuda menunjuk-nunjuk wajah lawan bicara yang lebih berumur, sebuah kebebasan berekspresi yang di Amerika pun tidak semua orang menyukainya, sebuah lompatan yang luar biasa.
Akan menuju ke manakah kita? Kalau seluruh bangsa Indonesia tidak segera mengubah arah perjalanan saat ini yang jelas-jelas menuju perpecahan, tidak segera kembali ke arah perjalanan sesuai cita-cita proklamasi di atas landasan adat budaya bangsa. Mari kita kubur dalam-dalam impian kita untuk menjadi bangsa yang besar yanghidup di Bumi Nusantara yang tata tentrem kertaraharja gemah ripah loh jinawi.
Nasib dan masa depan Indonesia akan sangat tergantung kepada Sang Adikuasa. Mari kita tonton terus film-film made in Hollywood dan resapi salam-dalam ucapan Clint “Dirty Harry” Eastwood setiap akan menghabisi lawan dengan Colt Phyton kaliber 44 Magnum-nya: “MAKE MY DAY”.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Minyak Srimpi

          Pada era 50-an tak banyak produk minyak wangi yang beredar di pasaran, terutama yang harganya terjangkau oleh mereka. Oleh karena itu, minyak pengharum badan itu banyak diproduksi perusahaan-perusahaan kecil guna memenuhi kebutuhan pasar akan pengharum. Oleh karena formulanya sederhana dan memakai bahan-bahan atau bibit minyak wangi yang terjangkau, maka dapat dikatakan hampir semua minyak wangi yang beredar waktu itu baunya nyaris seragam.           Satu merk yang popular pada saat itu, dan ternyata masih eksis hingga sekarang adalah minyak wangi cap Srimpi. Minyak ini dikemas dalam botol kaca kecil berukuran 14,5 ml, dengan cap gambar penari srimpi, berlatar belakang warna kuning.           Pada masa itu minyak Srimpi dipakai oleh pria maupun perempuan klas menengah di daerah-daerah. Baunya ringan, segar, minimalis, belum memakai formula yang canggih-canggih seperti halnya minyak wangi jaman sekarang.            Ketika jaman terus melaju, maka produk-produk

Nasi Goreng Madura di Pontianak

                Kurang dari dua tahun lalu, Imansyah bersama istrinya Siti Hamidah dan dua anaknya merantau ke Pontianak, Kalbar, dari kampung halamannya di Bangkalan, Madura. Di kota muara Sungai Kapuas ini mereka tinggal di rumah seorang kerabatnya yang mengusahakan rumah makan nasi goreng (Nas-Gor) di Sui Jawi. Pasangan ini belajar memasak nasi goreng khas Madura. Akhirnya setelah memahami segala seluk-beluk memasak nasi goreng, ditambah pengalamannya berdagang di kampungnya dulu, Imansyah dan istrinya membuka rumah makan nasi gorengnya sendiri, diberi nama Rumah Makan Siti Pariha di Jalan S. A. Rahman.   Di sini mereka mempekerjakan dua orang gadis kerabatnya guna melayani langganannya. RM Siti Pariha menarik pembelinya dengan mencantumkan kalimat: Cabang Sui Jawi. Rumah makan yang terletak berderet dengan rumah makan khas masakan Melayu serta sate ayam Jawa ini buka dari pukul 16.00 petang hingga pukul 23.00 atau hingga dagangannya ludes. Setiap hari RM Siti Par

Pak RT ogah lagu Barat

                          Sudah lama Pak RT yang di serial Bajaj Bajuri selalu berpenampilan serba rapi, rada genit dan sedikit munafik tapi takut istri ini tak nampak dari layar kaca TV nasional. Sejak serial Bajaj Bajuri yang ditayangkan TransTV berhenti tayang, Pak RT yang bernama asli H. Sudarmin Iswantoro ini tidak muncul dalam serial panjang. Walaupun begitu ia masih sering nongol di layar kaca dengan peran yang nyaris tetap yaitu Ketua RT, Ketua RW, guru atau ustadz.             Di luar perannya sebagai Pak RT tempat si Bajuri (Mat Solar), dengan istrinya si Oneng (Rike Diah Pitaloka)   dan mertuanya yang judes plus licik (Hj. Nani Wijaya) berdomisili, H. Darmin (panggilannya sehari-hari yang resmi sedangkan merk-nya yang lain tentu saja “Pak RT”) adalah pria yang berpembawaan santun dan halus.             Barangkali pembawaannya itu dilatarbelakangi oleh pendidikannya sebagai seorang guru. Mengajar merupakan cita-citanya sejak kecil. Sebagai anak kelima