Ssssttt - 9

thumbnail
Banyak anak ala Hollywood- Aktor ganteng Mel Gibson yang tengah pisah ranjang dengan istrinya, punya tujuh orang anak darinya.
- Almarhum aktor Marlon Brando juga punya tujuh anak.
- Itu belum. Aktris Mia Farrow, mantan isteri Woody Allen, punya 14 orang anak! Sepuluh orang di antaranya hasil adopsi.

Sssstt-9

thumbnail
Ssttt – 9
Banyak anak ala Hollywood

- Aktor ganteng Mel Gibson yang tengah pisah ranjang dengan istrinya, punya tujuh orang anak darinya.
- Almarhum aktor Marlon Brando juga punya tujuh anak.
- Itu belum. Aktris Mia Farrow, mantan isteri Woody Allen, punya 14 orang anak! Sepuluh orang di antaranya hasil adopsi.

Mutiara Hati - 9

thumbnail
Oleh Adji Subela

Bab Kedua

Tugas pertama ke luar negeri
Suasana upacara kesultanan di Kerajaan Johor, salah satu negara bagian yang tergabung ke Persekutuan Malaya, meriah sekali. Sebelum acara pokok dimulai, puluhan tamu penting telah memenuhi tribun utamanya. Panggung dihias sedemikian rupa, didominasi warna kuning keemasan, salah satu warna simbol kekuasaan di banyak kerajaan Melayu. Hiasan-hiasan itu dibuat dari kain satijn. Buket-buket bunga pun diletakkan di meja tamu di deret terdepan, sedangkan karangan bunga diletakkan di berbagai sudut halaman.
Para bangsawan yang berasal dari berbagai negara bagian seperti Selangor, Pahang, Kedah, Perak, dan lain-lainnya hadir dengan para istri mereka. Pakaiannya indah-indah, memakai perhiasan yang terbuat dari emas bertahtakan intan berlian. Tanda-tanda kebesaran bertengger di dada-dada mereka, keris yang juga berhulu ukiran emas dan permata terselip di pinggangnya.
Para tamu dibagi dalam baberapa kelompok. Ada tribun yang khusus diperuntukkan bagi para anggota keluarga kerajaan, letaknya cukup menyolok di bagian depan. Setelah itu tribun untuk para bangsawan yang diundang diletakkan di samping tribun utama, berikutnya para tamu dari perwakilan negara lain, letaknya tidak terlalu khusus.
Waktu itu saya menjabat sebagai attaché militer dengan pos saya di Singapura yang waktu itu belum berdiri sebagai negara tersendiri. Sebagai wakil negara asing, saya seharusnya menempati sisi yang tidak terlalu khusus itu bersama para kolega dari Indonesia serta negara lainnya. Di tribun tersebut duduk pula kepala perwakilan Indonesia, yaitu Bapak Hermen Kartowisastro, atasan saya.
Lama sebelum acara dimulai, yaitu ketika para tamu mulai berdatangan, saya cepat-cepat mendatangi Pak Hermen untuk meminta maaf sebesar-besarnya.
“Mohon ijin Pak, saya harus duduk di tribun khusus di depan itu, Pak,” kata saya.
Pak Hermen tidak terkejut mendengar permintaan maaf itu. Beliau berkata:
“Sudah, sudah, silakan saja, karena Anda ‘kan anggota keluarga.”
Saya lega sekali. Tahukah? Saya sebagai bawahan beliau, seharusnya duduk bersamanya di tribun bagi perwakilan asing. Tapi – nah ini masalahnya – saya menghadapi rasa kikuk yang besar kepada para kolega, khususnya Pak Hermen, karena diharuskan duduk di tribun depan dan khusus, tempat para keluarga Sultan Johor berada. Ini semua terjadi karena istri saya itu adalah kerabat dekat Sultan Johor. Hubungan antara Kesultanan Johor dan Langkat sangat erat sejak jaman dahulu karena adanya pertalian darah. Jadi saya pun, orang Jawa Barat yang tidak tahu-menahu, harus pula duduk bersama istri saya di tribun khusus itu karena pertalian darah Kucik ini. Untung Pak Hermen mengerti duduk persoalannya.
Kejadian itu rupanya berulang kembali pada kurang lebih 30 tahun kemudian, tepatnya 1986, kali ini lebih ‘seram’ lagi karena saya harus berhadapan dengan Duta Besar RI untuk Malaysia, Pak Himawan Sutanto. Saya kala itu menghadiri upacara peringatan jubileum bertahtanya Sultan Selangor di kursi kesultanannya, yang berlangsung di Kualalumpur. Pada waktu itu, saya sudah menjabat sebagai Dubes Yang Berkuasa Penuh RI di Mesir, Sudan, Somalia, dan Djibouti.
Kehadiran saya di Kualalumpur tentu mengagetkan sejumlah orang yang tidak mengerti silsilah istri saya dengan para Sultan di Malaysia. Pak Himawan Sutanto itu sudah lama saya kenal. Kami berasal dari Siliwangi, sama-sama berjuang di hutan-hutan untuk melawan agresi Belanda. Suaranya merdu sekali. Kalau Presiden Soeharto dikenal sebagai The Smilling General, maka Pak Himawan yang pernah menjabat sebagai Panglima Kostranas (Komando Strategi Nasional) serta Ketua Umum Kwartir Gerakan Pramuka itu, dijuluki sebagai The Singing General. Pada waktu Jendral M. Jusuf menjadi Panglima ABRI, Pak Himawan selalu kebagian tugas menyanyi bila ada acara santai, di samping Pak Wijogo Atmodarminto, yang pernah menjabat sebagai Pangkowilhan II serta Gubernur DKI Jakarta. Setelah menjadi Dubes RI di Malaysia, beliau mendapat gelar baru yaitu The Singing Ambassador.
Nah, ketika menghadiri upacara Sultan Selangor itu, beliau ditempatkan di tribun khusus untuk perwakilan negara sahabat. Pak Himawan kelihatan agak kaget melihat kehadiran saya di sana, apalagi saya justru berada di tribun khusus di depan, tempat keluarga kesultanan. Dengan ketawa geli saya mendekatinya.
“Pak Dubes, saya ada di Kualalumpur karena undangan Sultan. Tapi soal tempat duduk ini maaf, you Dubes duduknya di sini, kalau saya ada di sana bergabung bersama keluarga,” kata saya. Beliau ketawa karena paham maksud saya.
Pengalaman dengan Pak Hermen Kartowisastro itu menjadi salah satu kenangan lucu saya ketika mengemban tugas sebagai Atase Pertahanan yang diposkan di Singapura. Saya mendapatkan tugas pertama ke luar negeri itu pada bulan Desember tahun 1952. Sebelumnya saya dipindah tugaskan dari Medan ke Jakarta, untuk persiapan bersekolah ke negeri Belanda, yaitu di HKS (Hogere Krys School) Sekolah Tinggi Perang. Sekolah ini lebih tinggi daripada Akademi Militer Belanda di Breda, di mana para calon perwira dididik. HKS itu kira-kira setingkat dengan Seskoad (Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat), jadi diperuntukkan bagi para perwira yang telah memiliki pengalaman tempur. Saya memenuhi syarat itu, walau pun usia masih muda.
Kebetulan sekali saya punya seorang paman, yaitu Pandu Suradiningrat, yang memegang salah satu jabatan di Departemen Luar Negeri (Deparlu), bersama Pak Mr. Soebardjo. Di jaman kolonial Belanda beliau pernah menjadi vice consul di Jeddah, Saudi Arabia. Oleh sebab itu paman termasuk salah seorang pejabat senior di Deparlu. Ketika saya diangkat sebagai atase di Singapura itu, beliau menjadi diplomat RI di Negeri Belanda. Dalam salah satu kunjungannya ke Singapura, paman bertemu dengan kami. Lalu paman menunjuk kepada saya sambil berkata kepada Pak Hermen Kartowisastro:
“Hermen, kamu jangan main-main ya, Barkah ini keponakan saya….”
“Tenang, jangan khawatir,” jawab Pak Hermen sambil ketawa. Mereka berdua memang sudah sangat akrab sejak dahulu.
Ketika mendapat perintah untuk bertugas ke Singapura itu saya lalu ingat satu kejadian waktu di Medan dahulu. Pada suatu siang, pertengahan tahun 1952, saya dipanggil oleh Panglima TT I Kolonel Simbolon. Agak mengejutkan memang, karena rasanya tidak ada masalah yang harus saya jelaskan kepada pimpinan. Namun saya masuk dengan hati mantap, apa pun yang akan terjadi, terjadilah. Saya memberi hormat, dan Pak Simbolon menyilakan saya duduk. Beliau orangnya memang serius dan kata-katanya hemat.

Artikel -10

thumbnail
Mario Teguh dan Trend ‘Ulama Baru’

Oleh Adji Subela

Sekeping fakta mengejutkan membuat kita gembira juga. Satu acara televisi negeri tercinta kita mendapat kehormatan sebagai acara televisi talkshow nomer dua di dunia setelah Oprah Winfrey Show. Siapa tidak bangga mendapat kehormatan itu, setelah kita “nyaris” kehilangan hampir semua bahan kebanggaan?
Acara tersebut adalah Mario Teguh’s Golden Ways yang disiarkan stasiun televisi Metro TV setiap hari Minggu pukul 19.05. Kemudian, acara penyemangat jiwa itu juga merebut predikat sebagai acara pertama di dunia yang dalam tempo setahun merebut sejuta lebih facebookers dari berbagai penjuru dalam belasan latar belakang bahasa pesertanya.
Dalam tayangan Minggu malam 9 Mei 2010, Mario menunjukkan piagam itu, dan disiarkan pula berbagai tanggapan masyarakat, termasuk Ketua MUI Amidan S, serta Ketua Mahkamh Konstitusi Mahfud MD. Prestasi itu sekaligus menjadi promosi yang jitu untuk mengembangkan acara penyemangat tersebut, sekaligus pendorong agar acara itu semakin baik.
Lebih dari sekedar kebanggaan itu, acara Golden Ways bertumbuh menjadi suatu acara yang memberi semangat dan dorongan (motivasi) pemirsanya dari berbagai usia, dari belasan hingga “manula”. Yang membesarkan hati lagi, yaitu ketika Mario Teguh menunjukkan data bahwa pemirsa acaranya itu 40 persen lebih adalah para remaja dan mereka yang berada pada usia produktif. Itu artinya para tunas bangsa kita haus akan bimbingan, dorongan-motivasi untuk maju.
Ini jauh berbeda dari selapis kalangan remaja dan kaum muda yang kita lihat di tayangan televisi dan berita di koran yang lebih suka berkelahi, baik dalam demo tanpa guna atau di pergulan mereka, lantas menikmati candu modern atau miras oplosan sampai mati sia-sia ketimbang menempa dirinya untuk menjadi manusia “super”.
Fenomena motivator ini memang menarik. Kita lihat semakin banyak tokoh motivator yang muncul memberikan formula, solusi, untuk berbagai masalah hidup dan kehidupan. Tak sedikit buku mereka terbitkan untuk memberi dorongan positif ke pada masyarakat.
Di pihak masyarakat, mereka haus akan pencerahan. Di masa yang serba sulit ini, di mana antara pernyataan dan kenyataan sering berbeda (jauh) maka kebimbangan melanda hati mereka. Kita punya banyak pejabat tapi kini tak punya pemimpin yang patut jadi contoh, teladan, dan panutan. Rakyat perlu pemimpin yang memberi semangat, tegas dan jelas arahnya dan mampu menggerakkan jiwa. Bukan yang membuat bingung-bingung.
Angka statistik menunjukkan ekonomi kita tumbuh 6% lebih tapi harga-harga naik terus, semakin banyak orang bunuh diri dengan motif ekonomi, banyak terseret tindak pidana, dan jumlah anak kurang gizi kian bertambah-tambah. Ada yang bergaji sangat tinggi tapi tetap melaksanakan aktivitas haram, yaitu korupsi. Bagaimana dengan pegawai bergaji rendah yang hidupnya pas-pasan Senin-Kamis?
Kita dituntut berbuat baik sesuai agama masing-masing, tapi para pemimpin agama sendiri tak jarang yang berbuat aneh-aneh dan sulit dipercaya. Kemana rakyat yang sengsara dan celaka itu mencari perlindungan?
Kalau ulama tidak lagi menjadi tempat berlindung dan tempat pencarian pencerahan? Ke mana ummat harus pergi. Ada yang ke bar, night club, tempat madat, tempat minum, dan tempat maksiat lainnya.
Tapi tak sedikit yang pergi mencari tokoh yang dapat menerangi jalan ke mana hendak pergi: Para motivator!!!!
Para motivator itu berbicara lugas, praktikal, dan teknikal. Para ulama bicara secara garis besar agama mereka masing-masing. Mereka tak menyentuh masalah praktis dan kecil-kecil di hadapan mata, persoalan hidup sehari-hari yang harus dipecahkan dengan pratikal pula.
Urusan teknikal seperti itu memang bukan porsi para ulama agama-agama. Celakanya justru masalah-masalah seperti itu yang melilit ummat. Kesulitan ekonomi, frustasi dengan pekerjaan yang tak pernah maju, ingin berusaha tapi tak tahu jalannya, dan takut memulai, bagaimana menghadapi teman, pimpinan atau klien-klien mereka, masalah dengan keluarganya yang tidak mendukung, dan masih banyak lagi.
Ketika mereka pergi ke ulama, kembali akan menemui ancaman-ancaman akan dosa atau pahala orang yang tawakal. Rincian teknikal dan praktikal sulit didapat.
Tidak sedikit para ulama yang memberikan pencerahannya dengan cara sangat dogmatis, kaku, keras, dan dengan ancaman-ancaman dosa seperti itu.
Kemudian jaman berubah, sejumlah ulama menyadari perubahan peradaban, perubahan suasana sehingga membawakan dakwah atau ceramah mereka dengan cara lebih rileks dan lembut. Celakanya beberapa di antaranya justru jatuh ke ranah hiburan sehingga isi dakwah yang begitu sarat moral, justru tawar karena menjadi ajang tontonan semata. Beberapa di antaranya terlalu banyak membawakan dagelan sehingga sulit dibedakan apakah ini suatu ceramah agama ataukah panggung hiburan semata.
Kembali, ummat tidak mendapatkan jawaban ampuh atas persoalannya.
Kini, ummat melihat munculnya para motivator yang memberikan mereka solusi praktis terhadap persoalan hidup nyata mereka.
Akan tetapi beberapa motivator melihat keadaan itu sebagai peluang bisnis. Mereka sekedar memanjakan “kemanjaan” ummat untuk dipuaskan. Ada yang menyelenggarakan acaranya di hotel-hotel mewah, sehingga tak semua orang mampu menghadirinya. Di tempat mewah itu, ummat dibiarkan larut dalam emosinya dan menangis sejadi-jadinya.
Tangis para eksekutif itu jelas mahal, karena untuk mengeluarkan air mata kesedihan atau keharuan mereka harus membayar mahal, selain itu mungkin mereka pun jarang menangis karena dorongan rasional atau logika terlalu besar sehingga menepiskan sisi otak kanan yang mengelola emosi. Tangis mereka pun lalu mahal.
Di antara para motivator itu adalah seniman kata-kata yang pandai mengakrobatkan kalimat-kalimat sehingga maknanya bias, bahkan lolos tidak terpegang hadirinnya.
Acara mereka dijual dengan berbagai nama aneh-aneh dan asing didengar sebagai bagian dari strategi pemasarannya. Mereka pengusaha pikiran dan bathin dengan dagangan kata-kata itu tadi.
Dari sekian banyak itu, ada sekian pula jumlahnya yang benar-benar melayani “ummat”nya dengan kalimat terpilih mendukung nas-nya. Kalimat mereka bukan melilit-lilit sulit dimengerti, tapi memiliki kedalaman makna. Kualitas mereka ada dalam kalimat itu.
Dengan segala rupa teknik itu mereka mampu melayani ummat yang kehilangan arah. Sebenarnya – kalau boleh berterus-terang – apa yang disampaikan itu substansinya sama seperti ajaran agama-agama. Teknik penyampaiannya berbeda, demikian halus sehingga dapat diterima oleh penganut agama apa pun juga, dari bangsa apa pun juga, dari suku mana pun juga. Tak ada ancaman dosa dan pahala atas darmanya, tapi bagaimana caranya mengatasi masalah praktikal manusia.
Dalam salah satu episodanya, Mario Teguh mengaku bahwa apa yang disampaikannya sebetulnya ada dalam agama. Ada dalam firman-firman Tuhan. Akan tetapi ia menyampaikannya dengan teknik sedemikian rupa sehingga dapat diterima ummat mana pun juga.
Tidak mengherankan, sejak Mario Teguh memulai acaranya di O-Channel TV Jakarta beberapa tahun lalu, maka berkembang hingga kini memiliki acara di Metro-TV yang disiarkan ke seluruh penjuru dunia lewat internet, atau pun parabola.
Apakah peran ulama agama-agama tertepikan? Tentu tidak. Mereka memiliki otoritas khusus yang cukup tinggi, karena mereka menguasai ilmu agama-agama yang menjadi sumber segala jawaban masalah dunia akhirat.
Ulama yang tidak tanggap terhadap perkembangan jaman dan tidak piawai dalam menyampaikan dakwahnya, akan kian jarang didengar.

Senyuuum dikiit - 10

thumbnail
Lima seniman meninggal?

Seorang seniman meninggal dunia dalam keadaan melarat sekali, sehingga keluarganya sulit untuk memakamkannya.
Beberapa orang temannya mencoba mengumpulkan dana, tapi tidak juga mencukupi. Mereka menemui seseorang kaya yang tertarik mendengar ada seniman meninggal dunia dalam kemelaratan.
Pengusaha : Berapa dana yang Anda perlukan?
Murid : Lima juta rupiah.
Pengusaha : Baik saya serahkan 25 juta rupiah, silakan makamkan empat seniman lagi.

Senyum dikiiit - 0

thumbnail
Pengacara, wartawan, dan tentara

Bintang film Hollywood beken era 30-40an, Errol Flynn, menulis dalam otobiografinya bahwa, katanya, Tuhan menciptakan semuanya serba sempurna. “Hanya satu kesalahan yaitu ketika Ia menciptakan pengacara,” tulisnya. Jelas saja ia sewot kepada pengacara, sebab ketika dirinya bercerai dengan istrinya, ia digugat hartanya habis-habisan. “Pengacara istriku menguliti aku hidup-hidup,” keluhnya. Akibat gugatan itu ia bangkrut hartanya habis.
Sastrawan Inggris William Shakespeare dalam ceritanya berjudul Cade’s Rebellion menulis: Kill all lawyers. Begitu ekstrem ya?
Para akhir era 70-an, Majalah Tempo, mengadakan polling kepada para orangtua mengenai siapa calon mertua ideal mereka. Dokter terbukti menempati urutan pertama, disusul insiyur kemudian pengusaha.
Siapa menantu yang tidak mereka sukai? Urutan pertama ditempati pengacara, kemudian wartawan dan berikutnya tentara!

Artikel - 9

thumbnail
Always Sex

Oleh Adji Subela

Sungguh menyedihkan ketika muncul berita seorang gadis hilang “digondol” cowok yang baru dia kenal beberapa hari sebelumnya lewat jejaring sosial facebook. Berita tadi lantas memancing tersiarnya kasus serupa yang ternyata banyak juga terjadi di daerah lain. Bukan cuma ‘penculikan’ saja tapi menyangkut segala jenis skandal yang pada intinya berkisar pada masalah susila, jelasnya saja seks!
Tak heran bila ada ulama Islam yang mengharamkan facebook untuk disimak kaum muslimin/muslimah. Tentu saja fatwa itu merugikan ummat sendiri. Essensi sebenarnya adalah bagaimana kita memakai, mengelola facebook itu sehingga dapat mengambil manfaat sebesar-besarnya dan menghindari mudharat hingga sekecil-kecilnya. Ibarat pisau, bisa dipakai sebagai alat untuk menyejahterakan manusia dan dapat pula untuk tindak kejahatan. Masalah utamanya bukan pada wahana facebook, tapi kerangka berpikir rakyat kita.
Rakyat perlu diajar, dididik, diarahkan bagaimana memanfaatkan facebook atau jenis jejaring sosial lainnya guna meningkatkan harkat hidup serta martabat mereka. Itulah tugas ulama dan umara serta semua komponen masyarakat termasuk media massa.
Luar biasa banyak manfaat yang mampu kita gali dari jejaring sosial seperti ini. Wahana ini dapat menemukan kembali teman yang terpisah puluhan tahun, bertukar-menukar informasi-pengalaman-pengetahuan, mencari peluang-peluang bagi kesejahteraan bersama dan masih banyak lagi. Kenapa harus dilarang?
Memang harus diakui, guna mendidik masyarakat agar lebih pintar dan bijaksana jauh lebih sulit ketimbang mengeluarkan larangan-larangan.
Sex dan sex lagi
Seorang kenalan saya, seorang asing, pernah mengeluh kepada saya, kenapa orang-orang Indonesia selalu berpikir dan berkutat pada masalah seks. Ia mengritik kenapa energi untuk itu tidak disalurkan ke arah yang produktif untuk meningkatkan kualitas hidup pribadi dan lingkungannya. Terus terang saya agak tersinggung mendengar keluhannya, tapi akan lebih lucu kalau saya marah dan memberi argumentasi ngawur. Pada kenyataannya, apa yag dikeluhkan itu fakta!
Seorang kawan saya yang selbih senior bercerita, ketika ia menjalani program pendidikan non-degree di Amerika Serikat, ia hidup sekamar dengan seorang rekannya dari Nigeria, Afrika Barat. Si Nigeria itu menguji “pengetahuan” teman saya itu tentang kenapa para muda-mudi Barat itu berasyik-masyuk dengan pasangan masing-masing di taman umum. Hari itu hari Kamis.
“Tidak tahu,” jawab teman saya.
“You know, mereka itu sedang pemanasan untuk nanti malam Minggu. Itu harus dikerjakan sekarang karena mereka dingin sekali,” jawab si tman dari Afrika tersebut.
Nampaknya penduduk di daerah tropik mengalami masalah sejenis yaitu bagaimana mengelola dorongan seks mereka. Dan itu nampaknya bukan pekerjaan mudah. Di Indonesia terjadi seperti itu juga.
Maka tak mengherankan bila nafsu seksual berlebih-lebihan semacam itu ingin disalurkan lewat berbagai acara kegiatan sosial yang semula bertujuan luhur dan suci. Banyak kegiatan yang bertujuan baik pada awalnya belakangan diselewengkan untuk menunjukkan kejantanan dan kebetinaan. Tentu saja ini hanya pekerjaan “oknum”, satu istilah yang populer di jaman Orde Baru dulu itu, bukan gambaran umum. Akan tetapi anehnya, skandal-skandal yang membikin kegiatan-kegiatan baik itu menjadi mandeg antara lain ya seks itu, di samping masyarakat kita rata-rata suka ikut-ikutan, latah tanpa mengerti esensi kegiatan yang diikutinya, pamer untuk memuaskan ego mereka dan sebagainya.
Sebelum facebook merajalela seperti sekarang ini, dulu kita mengenal kegiatan radio antarpenduduk (citizenband). Perangkat radio itu dipakai agar penduduk dapat saling berhubungan, bersosialisasi, tukar menukar informasi, saling tolong-menolong, dan sebagainya. Kesibukan di jaman modern membuat orang sulit bertemu muka antara sesamanya. Dipakailah radio itu sebagai sarananya.
Di Indonesia, pernah dilanda demam radio semacam itu. Luar biasa kegiatannya, seolah-olah tak ada kegiatan lain yang bernilai. Bermacam-macam acara diadakan. Orang yang tak tahu teknik radio pun tergila-gila dan menjadi trend, gaya hidup, life-style. Wadhuh luar biasa sekali. Padahal kegiatan amatir radio sebelumnya sejak akhir era 60-an sudah ada, hanya di kalangan para penggemar teknik elektronika, utamanya pemancar. Mereka yang menjadi anggota harus punya kualifikasi tertentu, ditest dalam masalah elektronika. Radio antarpenduduk tidak, karena semua perangkat banyak ditemui di pasaran kendati organisasi mereka punya aturan ketat juga. Jadi siapa pun mampu bermain-main.
Tapi ya itu tadi. Setelah demam itu menyebar, maka terjadi pembiasan. Tujuan mulia berubah jadi ngeres. Istilah copy darat menjadi populer, yaitu pertemuan para pemakai radio itu dengan sesamanya; tidak di udara tapi bertemu fisik. Lalu banyak terjadi skandal, apalagi kalau bukan seks. Hobby yang semula bermanfaat jadi rusak. Setelah itu masyarakat kita yang hebat-hebat itu bosan, kegiatan itu hilang begitu saja, kecuali para penggemar murni, yaitu mereka yang suka pada masalah elektronika.
*****
Demam sebelumnya adalah interkom. Ini ketika radio antarpenduduk belum masuk masyarakat. Interkom, alat komunikasi dua arah yang masih memakai kabel sebagai penghantarnya, menjadi ramai. Kelompok-kelompok penggemar interkom berhimpun guna bersosialisasi kemudian menjadi seksualisasi. Tak sedikit skandal seks yang muncul sebagai efek negatif kegiatan itu. interkom pun hilnag karena orang kita cepat bosan.
*****
Jogging menjadi trend setelah tersiar foto Presiden AS Jimmy Carter ber-jogging bersama para pengawalnya. Kegiatan itu jadi mode seluruh dunia dan tentu saja termasuk Indonesia. Di mana-mana orang bicara jogging, diskusi berdebat, berkumpul, lalu hilang begitu saja. Tak ada atlet marathon yang mendunia dari kegiatan itu dari Indonesia seperti di masa almarhum Gurnam Singh, pemuda asal Medan. Yang beruntung tentu saja para pabrikan dan penjual sepatu olahraga. Sisanya adalah skandal-skandal di jalan dan lapangan.
*****
Sepeda gunung! Alangkah hebohnya kegiatan bersepeda gunung. Mountain bike! Fun bike! Tiap hari Minggu, di sana-sini. Ngobrol sepeda gunung, diskusi berdebat, berkumpul dan kemudian belum ada atlet balap sepeda yang muncul mendampngi Lance Amstrong. Lagi-lagi yang terlihat adalah cengengas-cengenges dua manusia beda jenis, lalu kegiatan itu hilang lagi. Masih beruntung sekarang ini kegiatan bersepeda masih ramai, dan lagi trend (lagi-lagi trend, lagi-lagi trend) sepeda lipat. Entah sampai kapan kegilaan ini berlangsung, mendampingi kegilaan penggemar sepeda onthel yang suka mejeng dengan pakaian aneh-aneh.
*****
Era 70-an ditandai dengan menjamurnya night-club serta panti pijit di Jakarta. Pusat kegiatan seperti itu dulu ada di Jalan Sabang (sekarang Jl. H. Agus Salim) dan Jalan Blora, dan Arena Pekan Raya Jakarta, di Monas.
Sebenarnya night-club semula bertujuan baik, yaitu tempat berkumpul orang yang tak suka tidur sore. Sejak dari sononya, night-club memang sudah punya konotasi kurang baik. Ketika sampai di Indonesia yang kurang baik itu nampaknya berkembang lebih subur.
Panti pijit atau massage-parlour adalah tempat orang untuk melonggarkan otot setelah bekerja berat. Mereka mencari ahli pijit untuk mengendorkan otot yang kaku itu di parlour tersebut. Ide itu ditangkap oleh orang Indonesia dan banyak yang kemudian cepat berkembang menjadi tempat mesum. Panti pijit lalu mendapat embel-embel tradisional dan sebagainya, hingga tempat pijit yang betul-betul perlu memberi tambahan predikat: Pijit untuk keluarga.
Begitu kreatif, mudah, serta cepatnya orang-orang Indonesia (terutama prianya) untuk mengubah tempat itu menjadi lokasi mesum.
*****
Tentu saja saya tak punya angka persis untuk menunjukkan bukti-bukti penyelewengan itu. Tentu perlu penelitian serius tentang hal itu, apalagi kalau peristiwanya sudah lewat, jelas sulit mendapatkan informasi-informasi. Namun rasanya kita tidak pula gampang membantah sinyalemen seperti itu, karena fakta-faktanya ada di sekitar kita.
Apa yang ingin saya sampaikan adalah, kenapa kita hanya kreatif dalam masalah-masalah negatif seperti itu? Kenapa kita selalu memaknai sesuatu dengan kerangka seksual seperti itu?
Maksud saya, tidak semua dikerangkai dengan seksualitas. Kita banyak kreatif misalnya di bidang otomotif. Modifikasi menjadi thema menggelegar. Kita jago berkreasi dalam modif (itu istilah keren mereka) kendaraan bermotor.
Bagi saya, kreatif harus mampu mencipta yang baru. Itu intinya. Kita selalu keliru dan salah jalan. Kalau saja kita di track yang benar, maka kita menjadi negara jempolan, karena pada intinya kita secara individual manusia kreatif. Kalau kita kalah dengan Cina (padahal Pembangunan Lima Tahun mereka 10 tahun lebih lambat dari kita) itu kesalahan “struktural” mulai dari kebijakan pemerintah masa lalu yang salah jalur serta masyarakat yang kurang produktif.

Mutiara Hati - 8

thumbnail
Penulis Adji Subela
Bagian Ke-8

Kunjungan kejutan seorang sahabat
Setelah sederet upacara kami jalani, maka selama seminggu saya masih tinggal di rumah di Jalan Yogya. Saya hanya mendapat cuti dua hari. Kami semua masih berkumpul di rumah istri saya dengan segala keriangannya. Selama itu sejumlah sahabat masih juga datang menemui saya dan istri. Biasanya kami duduk mengobrol hingga malam larut.
Dalam pada itu, saya mendapat tugas untuk memperbaiki asrama kami yang sudah tua. Anggaran sudah kami ajukan ke Jakarta untuk perbaikan kesatrian itu. Saya juga sudah menyiapkan sebuah rumah untuk kami berdua. Rumah ini cukup besar, memiliki tiga kamar yang luas-luas, halaman belakang yang cukup untuk membua lapangan badminton, sebuah garasi dan halaman depan yang lega. Tanah keseluruhannya mencapai luas kurang lebih 400 m persegi.
Pada suatu petang, ketika saya duduk-duduk di beranda bersama istri untuk menikmati sore yang cerah, tiba-tiba masuklah seorang pria yang gagah ke halaman rumah. Sekilas saya tak mengenalinya. Tapi ketika sudah dekat dan dia tersenyum, maka ingatlah saya akan seorang sahabat saya ketika masih duduk di MULO di Jakarta dulu.
Pria itu adalah putra Sunan Surakarta, Solo, Jawa Tengah. Namanya Gusti Pangeran Haryo (GPH) Suryo Suksoro. Saya kaget sekali, bagaimana mungkin dia menemukan alamat saya dan datang ketika saya sedang menjalani bulan madu seperti itu.
“Lho, kamu tahu dari siapa aku ada di sini?” tanya saya. Dia cuma tertawa, sambil menjabat tangan saya erat-erat.
“Ada yang memberitahu. Selamat ya?” ucapnya.
“Aku benar-benar enggak sangka kamu datang ke sini Sur,” sambut saya, “apa kamu ada bisnis di Medan?”
“Tahu enggak? Aku dapat kabar dari kakak iparmu Tengku Kamaliah, aku senang ketemu kamu lagi setelah sekian tahun.”
Setelah duduk, Suryo bercerita bahwa dia punya hubungan bisnis dengan Tengku Kamaliah di Jakarta. Tanpa diduganya, kakak istri saya itu bercerita bahwa dia habis mengawinkan adiknya dengan seorang perwira asal Jawa Barat, namanya Barkah Tirtadidjaja. Mendengar nama itu, Suryo berteriak bahwa itu nama yang bukan asing lagi baginya. Memang, kami bersahabat. Ia bergabung ketika saya sudah berada di klas 3 MULO Jakarta. Kami sering bermain bridge, atau piknik bersama-sama. Ia tahu saya ikut berjuang selama perang kemerdekaan. Maka kami pun mengobrol ke sana ke mari. Sudah bertahun-tahun kami berpisah, terutama sejak Jepang menduduki tanah air, hingga perang kemerdekaan. Baru sekarang saya bertemu kembali dengannya. Dia sendiri hanya ngobrol soal kenangan masa lalu kami, dan tidak bicara masalah bisnis sama sekali. Pada malam harinya dia pamit pulang ke hotelnya. Teman saya semasa di MULO itu sekarang sudah almarhum.
Pindah rumah
Sepekan setelah itu, kami pindah ke Jalan Supeno No. 4. Bersama kami ikut pula beberapa orang keluarga, yaitu Tengku Seri Banun, yang kehilangan suaminya dalam kerusuhan dulu. Empat putranya tinggal bersama sanak keluarga lainnya yang selamat. Seorang anak angkat Kucik, gadis kecil bernama Hetty, ikut kami serta seorang pembantu.
Rumah ini besar, halamannya di depan maupun di belakang luas. Jalan Supeno ini mengambil nama seorang Menteri Pembangunan dan Pemuda dalam Kabinet yang dipimpin oleh Wakil Presiden/Perdana Menteri Muhammad Hatta (29 Januari 1948 – 4 Agustus 1949). Menteri ini gugur dalam Agresi Militer II, diberondong serdadu Belanda di Nganjuk, Jatim, 24 Februari 1949, dan ia disebut sebagai Menteri termuda di dunia waktu itu.
Saya juga mengajak seorang kopral anak buah saya, bernama Salam, untuk tinggal di Jalan Supeno dengan istrinya. Mereka belum punya anak waktu itu. Rombongan keluarga besar ini menyemarakkan rumah kami. Dengan demikian itu Kucik tidak pernah merasa kesepian setelah menikah dengan saya. Sekali lagi ini tidak biasa saya jumpai di kampung halaman saya di Jawa Barat. Biasanya kami dilepas berdua setelah menikah. Semangat kekeluargaan yang tinggi dan selalu ingin bersama merupakan salah satu ciri orang-orang Melayu. Saya pun tidak merasa kikuk untuk hidup berumah tangga untuk pertama kalinya, karena saya sejak kecil sudah terbiasa mandiri. Selama masa perjuangan di hutan dulu pun saya juga hidup sendiri.
Kami sering mengundang kawan-kawan untuk bermain badminton di rumah kami, setelah itu makan bersama. Hobby saya yang lain adalah menyetir mobil hingga ke luar kota. Demikian pula Kucik. Ia pandai menyetir mobil, sehingga sering mengantar Ibunya untuk berobat atau berbelanja. Dahulu ketika almarhum ayahandanya masih hidup, istri saya itu sering menemaninya berkendara mobil mewahnya. Di masing-masing pintu mobil tersebut, terutama Maibach-nya, terdapat simbol kerajaan Langkat.
Kucik pun punya hobby bermain piano. Ia sudah belajar sejak berusia sembilan tahun dan suka berlatih pada saat-saat luangnya. Selain istri saya itu, di Istana ada Tengku Latifah yang piawai sekali memainkan alat musik akordion. Biasanya alat ini dimainkan para pria saja, tapi ternyata dia mampu menggunakannya.
Agar hobby dan kemampuannya bermain piano itu terpelihara, maka saya menemui sahabat saya, seorang Belanda yang menjadi aneemer atau kontraktor, namanya van der Heuvel. Ia punya toko peralatan musik yang cukup terkenal di kota Medan. Ia menjual sebuah baby piano kepada istri saya. Kelak di Singapura saya juga membeli piano untuknya. Istri saya itu memang penggemar seni, seorang seniwati, bukan saja pandai bermain musik tapi pandai mengarang lagu pula. Banyak lagu-lagu yang ia ciptakan, terutama lagu-lagu yang bernada melankolik seperti lagu-lagu perpisahan, dan sebagainya. Kemungkinan karena dia lahir dan hidup di lingkungan Istana yang serba berkecukupan dan termanjakan itulah sehingga ia justru suka pada suasana melankolis, romantik semacam itu.
Kelak ketika kami bertugas di Kairo, Mesir, ia mengumpulkan para istri diplomat dan staff lainnya untuk bermain musik. Istri saya bermain organ untuk mengiringi nyanyian rekan-rekannya. Itu dilakukan pada pagi hingga tengah hari. Oleh karena ruang kerja kami tak jauh dari tempat mereka bermain, maka suara-suara mereka itu bisa kami dengar pula dari kantor.
Demikianlah kehidupan kami mengalir dengan indahnya, seperti aliran Sungai Deli yang saat itu masih jernih airnya dan sejuk suasananya.
Akhirnya pada tanggal 4 Oktober 1951, anak kami yang pertama lahir, yaitu seorang putri, lalu kami beri nama Maurina. Ia lahir di rumah sakit milik dokter Belanda.
Menurut adat istiadat Melayu, pada usianya yang ke 40 hari, bayi diberi upacara khusus, namanya turun sungai. Berbeda dengan tedhak siten untuk masyarakat Jawa, atau turun tanah untuk bayi berusia tujuh bulan, upacara ini sekaligus juga dilaksanakan dengan potong rambut. Oleh karena Ibunya keturunan ningrat, maka sebelum mengikuti upacara potong rambut, orang menguncir rambut si anak, kemudian memasanginya cincin emas. Nantinya kunciran atau ikatan itu akan dipotong oleh para keluarga, pejabat, atau tokoh masyarakat, dan cicin akan menjadi kenang-kenangan untuk mereka.
Upacara itu meriah, apalagi karena kedua orang tua saya juga datang untuk menjenguk cucunya. Mereka berdua naik kapal KPM dari Tanjung Priok, dan untuk pertama kalinya dalam hidup mereka pergi berlayar ke tanah seberang selama tiga hari. Baginya ini pengalaman yang menarik. Kepada saya mereka bercerita alangkah indahnya perjalanan memakai kapal laut itu. Banyak kenalan baru mereka dapatkan, dan umumnya ramah-ramah. Saya sendiri menjemput ayah dan ibu yang datang dari jauh itu, ke Pelabuhan Belawan memakai kendaraan dinas, dan langsung ke rumah kami di Jalan Supeno. Kedua orang tua saya begitu gembira melihat cucunya lalu dibacakannya doa keselamatan untuknya.
Permata mutiara dari Kesultanan Langkat itu telah menghadiahi saya seorang putri yang cantik, mungil, dan menggemaskan. Segera saja bayi itu menjadi rebutan pada saudara untuk menggendongnya. Saya merasakan semangat hidup saya bertambah besar. Ada semacam kebanggaan memiliki bayi putri mungil itu, dan semangat kerja saya pun meningkat. Ada semacam rasa bahagia luar biasa dan bahagia tak terperikan saat memandangi anak kami itu. Masa depan menanti kami sekeluarga entah di mana, hanya Tuhan yang tahu ……..

Sssst - 8

thumbnail
Darah aktor-aktris Hollywood

1. Almarhum aktor watak Anthony Quinn punya asal-usul membingungkan. Aktor yang pernah memerani Omar Mochtar, guru agama yang menjadi pejuang kemerdekaan Aljazair dan digelari singa gurun Afrika itu, dilihat dari namanya tentu orang Irlandia. Padahal ia justru punya darah Hispanic lebih banyak. Kakeknya yang asal Irlandia menikah dengan gadis Meksiko. Ayahnya juga menikah dengan gadis Meksiko.
Anthony dan keluarganya selalu ingin diakui kemeksikoannya, tapi tak diterima masyarakat Hispanic. Celakanya anggota keluarganya sering mendapat perlakuan diskriminasi karena darah Hispanic-nya. Apes deh.
2. Aktris bomb-sex tahun 60-an, Raquel Welch, benar-benar bikin pria kelimpungan lihat pose foto-fotonya. Raquel yang melejit lewat film James Bond yang dibintangi aktor gagah Sean Connery itu ternyata sebagian besar darahnya Hispanic juga. Woooo pantas panas banget.
3. Aktor peraih Oscar Robert de Niro aneh juga. Ditilik dari namanya tentu ia orang berdarah Italia. Belakangan diketahui ia justru banyak menuruni darah Irlandia lewat jalur ibunya. Aneh juga. Padahal di dunia hitam yang nyata, geng Irlandia yang terkenal sebagai pencuri ulung sering berhadapan dengan geng Italia yang terkenal dengan mafianya!

Cerpen - 8

thumbnail
DUA PRIA MENANGIS DI BANGKU YANG SAMA

Oleh Adji Subela
Butir-butir keringat di dahi, leher, serta ditambah dengan tetes-tetes air matanya, tak mampu melarutkan rasa sedih bercampur dengan takut, bimbang, bingung, dan rasa bersalah yang berkepanjangan.
Ia merasa istrinya yang tengah hamil tua, dan sudah mendekati hari-hari melahirkan bayi pertamanya, menangis tersedu-sedu di pundaknya. Pria itu pun mengaku dalam hatinya bahwa ia tak tahu apa yang harus diperbuatnya. Bayinya harus dilahirkan, akan tetapi pria itu merasa bahwa usia si istri, kondisi fisiknya, serta ukuran bayinya yang besar – menurut dokter – dan pula ketiadaan uang di sakunya, membuatnya ketakutan menghadapi detik-detik yang mendebarkan namun membahagiakan bagi setiap pasangan yang menantikan kelahiran anak pertamanya.
Pria itu membayangkan dirinya memandangi istrinya yang terus menangis.
“Pah, ini nanti bagaimana, Pah? Kita tak punya uang, apa yang harus kita lakukan, Pah?” kira-kira demikian bayangannya akan keluhan istrinya.
Ia teringat, kemarin mereka datang ke sebuah Puskesmas, dan dokter kandungan memberinya petuah yang justru menyengsarakannya. Begini: “Pak, kondisi istri Bapak sudah tak memungkinkan untuk melahirkan secara normal. Ia harus disesar. Kalau tidak, maka air ketuban akan mengering, dan jelas akan membahayakan nyawa anak dan ibunya.”
Seketika itu juga kepalanya terasa sangat pusing. Keterangan suster yang bertugas di samping dokter itu menambah-nambah bebannya:
“Kita punya rumah sakit bersalin rujukan, Pak, biaya sesarnya murah, hanya empat juta rupiah berupa paket.”
Pria itu tak tahu dari mana ia akan mendapatkan uang yang jumlahnya tidak pernah singgah di saku celananya yang mana pun. Sedangkan uang miliknya kini tinggal dua ribu rupiah saja, ia lipat baik-baik, dan diselipkannya di tempat yang sulit sehingga copet yang lihai pun pasti akan kesukaran untuk mencurinya. Bila uang itu hilang, ia dan istrinya yang hamil tua harus berjalan kaki sejauh enam kilometer. Tak ada becak yang mau membawa mereka tanpa dibayar, apalagi angkutan kota atau taksi. Hanya ada satu cara yaitu, nekat. Tak ada cara lain lagi, kecuali cara tersebut.
Dalam bayangannya, dibawanya istrinya berjalan sejauh sepuluh kilometer untuk mencapai sebuah rumah sakit bersalin yang paling baik. Kalau ia memilih rumah sakit bersalin yang sederhana, ia harus melanjutkan jalan kakinya sejauh sepuluh kilometer lagi. Ia takut istrinya tak tahan lagi, dan melahirkan di jalan yang panas dan padat oleh lalu lintas kota besar itu.
“Hendak ke mana kita, Pah?” tanya istrinya sambil menyeringai menahan lelah dan sakit perut.
“Kita ke rumah sakit bersalin di depan sana,” jawabnya dengan nada mantap.
“Pah, Papah, bagaimana dengan biayanya?”
“Tenang, Mah. Di sana aku ada kawan baik, ia akan menolong kita,” jawabnya yang tentu saja bohong. Istrinya, seorang perempuan berusia 37 tahun yang bersahaja, mengangguk lemah. Pria itu mengawini istrinya dengan keberanian yang betul-betul luar biasa. Dia dalam keadaan menganggur, karena tempat kerjanya telah ditutup, dan ia tidak pernah mendapatkan uang pesangon selembar rupiah pun. Usianya sudah 54 tahun, dan selama ini membujang terus karena merasa tak pernah punya harta yang cukup untuk hidup berumah tangga. Lalu ia berkenalan dengan perempuan itu setahun yang lalu, kemudian nekat menikah, dan terus menerus didera kekurangan uang hingga sekarang ini.
Sesampainya di rumah sakit bersalin, hari telah menapak malam dan tentu saja mereka sudah dihadang oleh keharusan untuk memenuhi persyaratan administrasi, serta tentu saja: biaya. Pria itu merasa kepalanya pening hebat. Ia sudah tidak ingat lagi apa yang ia alami, sampai kemudian ia terdampar duduk di sebuah bangku di pojok rumah sakit itu di malam hari yang sepi seperti itu. Rumah sakit bersalin tersebut nampak lengang, tak ada kegiatan seperti tempat sejenis lainnya. Hanya tangis bayi yang menyayat-nyayat – kemungkinan sekali anaknya – saja yang terdengar.
Alangkah indahnya kedengarannya bila suara tangis itu betul-betul tangis anaknya. Sejak di dalam kandungan, ia sudah mengajaknya bercakap-cakap: “Adik, adik, sehat ya?” katanya sambil menempelkan mulutnya di perut istrinya. Bayi itu seolah-olah mendengar suara ayahnya. Ia bergerak-gerak, dan itu nampak dari gelombang-gelombang yang muncul di permukaan perut sang istri. Ia bahagia sekali.
Pandangan pria itu mengabur. Ia merasa seolah-olah seorang petugas rumah sakit berdiri di hadapannya sambil memegangi rekening. Hatinya kecut dan dadanya serasa pedih sekali.
“Aku kasihan kepada istriku Tuhan. Ia tak tahu apa-apa. Ia terlalu bodoh dan dungu untuk menyadari kekuranganku. Tolonglah dia Tuhan, dan hukumlah aku dengan cara apa pun juga macamnya sekarang juga. Jika tidak, berilah kami titik terang, Tuhan, hanya kepada Engkau aku memohon....”, keluhnya.
Seorang perawat keluar menggendong seorang bayi yang terbungkus selimut halus. Bayi itu cantik sekali. Berkulit putih, matanya sipit, dan pipinya gemuk kemerahan. Bibirnya yang merah muda berkomat-kamit seolah mengisap puting susu ibunya. Ia kehausan. Alangkah cantiknya dia!
“Itu anakku ‘kan suster?” tanya pria kita itu. Seorang pria pria perlente yang ikut berubung bayi terkejut, menoleh kepadanya dengan sorot mata keheranan.
“Mana mungkin, Pak. Bayi ini cantik sekali, tentu ia anak orang yang sepadan,” kata pria perlente itu ketus. Pria kita terkejut, lantas undur dua langkah kemudian memandangi badannya. Memang, ia tak pantas punya anak cantik seperti itu. Alangkah kejamnya dunia ini. Bahkan orang melarat pun tak berhak mendapatkan anak cantik! Hari ini komplet sudah rasa sengsaranya. Sudah didera rasa sedih dan khawatir, lalu dihinakan pula. Ia kalah total, dunia tak menaruh kasihan padanya. Ia kini menyadari bahwa di negeri ini orang melarat adalah tumpuan segalanya. Tumpuan makian, kesalahan, kekeliruan, dan segala dosa-dosa, dan selalu kalah, tak ada kesempatan untuk apa pun juga, kecuali peluang untuk bersedih sepanjang hidupnya.
“Tapi ia mungkin anakku!” kata pria kita dengan ketus pula secara tiba-tiba, seolah-olah menjadi upaya terakhir untuk sekedar menang sedikit. Tak ada yang mendengarnya. Dilihatnya si pria perlente itu menimang-nimang bayinya, seorang perempuan tua di dekatnya mengangguk-angguk, dan seorang perempuan pembantu tertawa-tawa. Pria kita menangis. Ia berbalik badan dengan lesu melangkah kembali ke bangkunya.
“Anakku, maafkan Papah ya sayang, Papah tak mampu melahirkanmu dengan baik, di tempat yang baik dan memberimu susu. Papahmu tak mampu anakku. Yang Papah punya hanyalah hati yang putih penuh sayang dan sendu...terimalah ya anakku. Hanya inilah yang Papah punya. Mamah, Papah minta maaf ya, Papah tak mampu memberimu susu dan makanan yang sehat, apalagi buah-buahan. Papah telah membuatmu sengsara dengan kehamilanmu. Tapi percayalah, Mamah, Papah mencintai dan menyayangi Mamah sepenuh hati. Terimalah hati Papah ini Mah, aku minta maaf telah menjerumuskanmu ke hidup yang sengsara seperti ini.....”, pria itu menangis lagi sesenggukan. Ia merasa ingin mati saat itu juga. Tapi bahkan untuk mati pun ia tak mampu. Alangkah pengecutnya ia, meninggalkan anak dan istrinya tercinta dalam kesulitan dan kesusahan seperti itu!
Malam semakin larut, semakin larut, semakin larut, lalu tangis bayi itu lamat-lamat terdengar lagi, sayup-sayup, terkadang terdengar terkadang menghilang. Pria itu merasa melihat bayinya yang lucu, yang cantik, ah, entahlah.
Tuhan, Tuhan, tolonglah, tolonglah...rintihnya......dan dadanya terasa semakin sakit, ia merasakan badannya semakin menciut, menyusut, masuk ke dalam satu lubang gelap yang sungguh-sungguh gulita luar biasa ...................
Sudah agak lama pria itu tertidur menelungkup di sandaran bangku, di sudut yang gelap di sebuah rumah sakit bersalin. Pelan-pelan ia mulai tersadar. Ia mengerinyitkan dahinya, dan mengusap-usap mata dengan jari-jari tangannya. Seharusnya, lelap beberapa menit itu mampu menghapus kesedihan hatinya. Tapi tidak! Ia tetap saja teringat pada kesulitannya, lalu ia terpuruk lagi dalam isak-isak kecil. Ia merasa istrinya ada di sana menahan sakit pasca bedah sesar, dan bayinya kedinginan menanti kehangatan orang tuanya. Tapi pria itu merasa sial sekali, karena tak mampu menjadi seorang bapak yang gagah, kaya raya, penuh puja-puji dan dermawan. Ia masih saja pria yang sial, tak alang kepalang. Ia menangis lagi, menyesali dirinya yang tak lebih dari sekedar pecundang belaka. Ketika pria itu menengadahkan kepalanya, ia terkejut. Rupa-rupanya ia bukanlah satu-satunya pria yang duduk di bangku itu. Nampaknya ada lagi seorang pria yang juga duduk di bangku itu, ditempat gelap, dan....menangis pula!
Sesaat pria kita merasa malu, lalu menghapus air matanya cepat-cepat. Tapi pria di ujung bangkunya mengangguk dengan pelan dan matanya kelihatan sekali telah sembab. Pantulan sinar lampu neon masih tak mampu menyembunyikan sisa-sisa tangis pria tua itu. Ia memang sudah tua, jauh lebih tua darinya. Tapi keduanya sama-sama menangis. Kedua pria bersedih hati itu pun lalu sama-sama mengangguk dan tersenyum malas.
“Maafkan saya, dik, saya lihat Anda menangis dari tadi, dan mondar-mandir ke sana ke mari. Ada apa gerangan?” sapa pria kedua dengan lembut serta berhati-hati.
Pria kita menarik nafas dalam sekali, lalu tercenung.
“Tidak usah ragu-ragu, dik, saya pun tadi juga menangis. Ada baiknya kita saling menumpahkan perasaan, supaya agak reda penderitaan kita,” ucapnya lagi, lebih lembut.
Pria kita pun kemudian menceritakan segala deritanya, mengenai anak dan istrinya yang melahirkan dengan bedah sesar, dan tak mungkin dapat ia keluarkan dari rumah sakit bersalin tanpa uang enam juta rupiah kontan. Ia sudah habis akal, tak mampu lagi berbuat apa-apa, dan mukjijat Tuhan belum juga berlaku padanya.
“Saudaraku, kita mempunyai persoalan berat yang sama, hanya berbeda bentuk. Aku ke sini hendak menjemput cucuku. Ia adalah anak dari putraku yang lari dari rumah satu setengah tahun yang lampau, karena menikah dengan perempuan biasa saja. Aku mendengar kesulitannya di sini, karena sahabatnya memberitahuku. Ia tak mampu mengeluarkan anak istrinya karena uangnya kurang. Ia pergi ke sana sini untuk berhutang, tapi menurut sahabatnya itu, gagal. Ia lari dari rumah sakit dengan anak dan istrinya. Aku ke sini hendak membayar segala hutangnya itu. Tapi terlambat. Sahabatnya itulah yang membayarnya tadi pagi. Aku terlambat datang, aku merasa bersalah. Orang tua macam apa aku ini? Bahkan untuk menolong anak cucu pun aku tak mampu,” rintih si pria tua, lalu diikuti tangis terisak-isak.
Pria kita terkejut. Alangkah lain keadaan mereka berdua itu. Sama-sama pria yang menangis di bangku yang sama, tapi dengan keadaan berbeda, bahkan berbalikan sama sekali. Yang seorang kekurangan uang, yang lain justru membawa uang dengan sia-sia.
“Begini, saudara. Aku ingin menebus kesalahanku pada anak dan cucuku. Ambillah uang ini, pakailah untuk menebus anak istrimu, aku ikhlas. Jangan anggap ini hutang, tapi hadiah atas ketabahanmu. Semoga Allah memberkati kita semua,” ucap pria tua sambil meletakkan sebuah bungkusan kertas sampul coklat. Pria tua itu lantas berjalan tertatih-tatih menuju ke pintu keluar.
Untuk sesaat, pria kita tercenung. Ia tidak percaya akan apa yang dialaminya. Ia memerlukan uang sekitar lima juta rupiah untuk menolong kelahiran anaknya, dan kini ada orang asing yang memberinya uang kepadanya dengan alasan berbeda. Setelah orang asing itu hilang di tikungan, pria kita cepat meraih amplop itu dan menghitung uangnya. Enam juta rupiah! Ia hampir tak percaya atas kejadian ini. Tuhan telah datang dengan pertolongan-Nya yang sungguh-sungguh ajaib dan aneh!
“Tuhan....terimakasih Tuhaaaaan....,” serunya di malam hari itu.
Pria itu lantas berlari-lari menuju ke loket pembayaran, hendak membayar biaya persalinan sesar bayinya.
“Wah, loket pembayaran sudah tutup, Pak. Nama istrinya siapa, Pak?” tanya perawat.
“Nuri, Nuri suster, disesar tadi petang,” jawabnya dengan terbata-bata, sambil memegangi erat-erat amplop uangnya. Suster itu membolak-balik lembaran catatannya, dahinya berkerut.
“Pak, maaf ya. Tidak ada pasien atas nama Nuri di sini, apalagi dalam bedah sesar,” kata perawat.
“Tak mungkin suster. Istri saya dioperasi di sini, tadi, saya ingin cepat melihat wajah anak saya.”
“Sekali lagi maaf, Pak, tak ada pasien bernama Nyonya Nuri di sini. Jangan-jangan Bapak salah tempat.”
Pria kita itu tertegun, tak percaya atas apa yang didengarnya. Ia lalu berbalik untuk duduk ke bangkunya semula. Ia ingat betul, istrinya harus melahirkan dengan cara bedah sesar karena bayinya besar, usia istrinya sudah lanjut, dan kakinya bengkak-bengkak. Ia belum gila.
Mendadak ia bangun dengan girang.
“Istriku, aku sudah punya uang...!” pekiknya sambil berjingkrak-jingkrak, berlari meninggalkan ruangan. Perawat tadi terkejut mendengar teriakan pria di malam buta seperti itu. Ia lihat seorang pria ganjil tadi berloncatan berlari-lari keluar dari tempat tersebut lalu menghilang di balik tikungan tempat di mana pria yang lebih tua tadi menghilang pula.......
Harian Sinar Harapan, Sabtu, 15 Maret 2008
Depok, Desember 2006, untuk Rizky-ku

Mutiara Hati - 8

thumbnail
Penulis Adji Subela

Kunjungan kejutan seorang sahabat
Setelah sederet upacara kami jalani, maka selama seminggu saya masih tinggal di rumah di Jalan Yogya. Saya hanya mendapat cuti dua hari. Kami semua masih berkumpul di rumah istri saya dengan segala keriangannya. Selama itu sejumlah sahabat masih juga datang menemui saya dan istri. Biasanya kami duduk mengobrol hingga malam larut.
Dalam pada itu, saya mendapat tugas untuk memperbaiki asrama kami yang sudah tua. Anggaran sudah kami ajukan ke Jakarta untuk perbaikan kesatrian itu. Saya juga sudah menyiapkan sebuah rumah untuk kami berdua. Rumah ini cukup besar, memiliki tiga kamar yang luas-luas, halaman belakang yang cukup untuk membua lapangan badminton, sebuah garasi dan halaman depan yang lega. Tanah keseluruhannya mencapai luas kurang lebih 400 m persegi.
Pada suatu petang, ketika saya duduk-duduk di beranda bersama istri untuk menikmati sore yang cerah, tiba-tiba masuklah seorang pria yang gagah ke halaman rumah. Sekilas saya tak mengenalinya. Tapi ketika sudah dekat dan dia tersenyum, maka ingatlah saya akan seorang sahabat saya ketika masih duduk di MULO di Jakarta dulu.
Pria itu adalah putra Sunan Surakarta, Solo, Jawa Tengah. Namanya Gusti Pangeran Haryo (GPH) Suryo Suksoro. Saya kaget sekali, bagaimana mungkin dia menemukan alamat saya dan datang ketika saya sedang menjalani bulan madu seperti itu.
“Lho, kamu tahu dari siapa aku ada di sini?” tanya saya. Dia cuma tertawa, sambil menjabat tangan saya erat-erat.
“Ada yang memberitahu. Selamat ya?” ucapnya.
“Aku benar-benar enggak sangka kamu datang ke sini Sur,” sambut saya, “apa kamu ada bisnis di Medan?”
“Tahu enggak? Aku dapat kabar dari kakak iparmu Tengku Kamaliah, aku senang ketemu kamu lagi setelah sekian tahun.”
Setelah duduk, Suryo bercerita bahwa dia punya hubungan bisnis dengan Tengku Kamaliah di Jakarta. Tanpa diduganya, kakak istri saya itu bercerita bahwa dia habis mengawinkan adiknya dengan seorang perwira asal Jawa Barat, namanya Barkah Tirtadidjaja. Mendengar nama itu, Suryo berteriak bahwa itu nama yang bukan asing lagi baginya. Memang, kami bersahabat. Ia bergabung ketika saya sudah berada di klas 3 MULO Jakarta. Kami sering bermain bridge, atau piknik bersama-sama. Ia tahu saya ikut berjuang selama perang kemerdekaan. Maka kami pun mengobrol ke sana ke mari. Sudah bertahun-tahun kami berpisah, terutama sejak Jepang menduduki tanah air, hingga perang kemerdekaan. Baru sekarang saya bertemu kembali dengannya. Dia sendiri hanya ngobrol soal kenangan masa lalu kami, dan tidak bicara masalah bisnis sama sekali. Pada malam harinya dia pamit pulang ke hotelnya. Teman saya semasa di MULO itu sekarang sudah almarhum.
Pindah rumah
Sepekan setelah itu, kami pindah ke Jalan Supeno No. 4. Bersama kami ikut pula beberapa orang keluarga, yaitu Tengku Seri Banun, yang kehilangan suaminya dalam kerusuhan dulu. Empat putranya tinggal bersama sanak keluarga lainnya yang selamat. Seorang anak angkat Kucik, gadis kecil bernama Hetty, ikut kami serta seorang pembantu.
Rumah ini besar, halamannya di depan maupun di belakang luas. Jalan Supeno ini mengambil nama seorang Menteri Pembangunan dan Pemuda dalam Kabinet yang dipimpin oleh Wakil Presiden/Perdana Menteri Muhammad Hatta (29 Januari 1948 – 4 Agustus 1949). Menteri ini gugur dalam Agresi Militer II, diberondong serdadu Belanda di Nganjuk, Jatim, 24 Februari 1949, dan ia disebut sebagai Menteri termuda di dunia waktu itu.
Saya juga mengajak seorang kopral anak buah saya, bernama Salam, untuk tinggal di Jalan Supeno dengan istrinya. Mereka belum punya anak waktu itu. Rombongan keluarga besar ini menyemarakkan rumah kami. Dengan demikian itu Kucik tidak pernah merasa kesepian setelah menikah dengan saya. Sekali lagi ini tidak biasa saya jumpai di kampung halaman saya di Jawa Barat. Biasanya kami dilepas berdua setelah menikah. Semangat kekeluargaan yang tinggi dan selalu ingin bersama merupakan salah satu ciri orang-orang Melayu. Saya pun tidak merasa kikuk untuk hidup berumah tangga untuk pertama kalinya, karena saya sejak kecil sudah terbiasa mandiri. Selama masa perjuangan di hutan dulu pun saya juga hidup sendiri.
Kami sering mengundang kawan-kawan untuk bermain badminton di rumah kami, setelah itu makan bersama. Hobby saya yang lain adalah menyetir mobil hingga ke luar kota. Demikian pula Kucik. Ia pandai menyetir mobil, sehingga sering mengantar Ibunya untuk berobat atau berbelanja. Dahulu ketika almarhum ayahandanya masih hidup, istri saya itu sering menemaninya berkendara mobil mewahnya. Di masing-masing pintu mobil tersebut, terutama Maibach-nya, terdapat simbol kerajaan Langkat.
Kucik pun punya hobby bermain piano. Ia sudah belajar sejak berusia sembilan tahun dan suka berlatih pada saat-saat luangnya. Selain istri saya itu, di Istana ada Tengku Latifah yang piawai sekali memainkan alat musik akordion. Biasanya alat ini dimainkan para pria saja, tapi ternyata dia mampu menggunakannya.
Agar hobby dan kemampuannya bermain piano itu terpelihara, maka saya menemui sahabat saya, seorang Belanda yang menjadi aneemer atau kontraktor, namanya van der Heuvel. Ia punya toko peralatan musik yang cukup terkenal di kota Medan. Ia menjual sebuah baby piano kepada istri saya. Kelak di Singapura saya juga membeli piano untuknya. Istri saya itu memang penggemar seni, seorang seniwati, bukan saja pandai bermain musik tapi pandai mengarang lagu pula. Banyak lagu-lagu yang ia ciptakan, terutama lagu-lagu yang bernada melankolik seperti lagu-lagu perpisahan, dan sebagainya. Kemungkinan karena dia lahir dan hidup di lingkungan Istana yang serba berkecukupan dan termanjakan itulah sehingga ia justru suka pada suasana melankolis, romantik semacam itu.
Kelak ketika kami bertugas di Kairo, Mesir, ia mengumpulkan para istri diplomat dan staff lainnya untuk bermain musik. Istri saya bermain organ untuk mengiringi nyanyian rekan-rekannya. Itu dilakukan pada pagi hingga tengah hari. Oleh karena ruang kerja kami tak jauh dari tempat mereka bermain, maka suara-suara mereka itu bisa kami dengar pula dari kantor.
Demikianlah kehidupan kami mengalir dengan indahnya, seperti aliran Sungai Deli yang saat itu masih jernih airnya dan sejuk suasananya.
Akhirnya pada tanggal 4 Oktober 1951, anak kami yang pertama lahir, yaitu seorang putri, lalu kami beri nama Maurina. Ia lahir di rumah sakit milik dokter Belanda.
Menurut adat istiadat Melayu, pada usianya yang ke 40 hari, bayi diberi upacara khusus, namanya turun sungai. Berbeda dengan tedhak siten untuk masyarakat Jawa, atau turun tanah untuk bayi berusia tujuh bulan, upacara ini sekaligus juga dilaksanakan dengan potong rambut. Oleh karena Ibunya keturunan ningrat, maka sebelum mengikuti upacara potong rambut, orang menguncir rambut si anak, kemudian memasanginya cincin emas. Nantinya kunciran atau ikatan itu akan dipotong oleh para keluarga, pejabat, atau tokoh masyarakat, dan cicin akan menjadi kenang-kenangan untuk mereka.
Upacara itu meriah, apalagi karena kedua orang tua saya juga datang untuk menjenguk cucunya. Mereka berdua naik kapal KPM dari Tanjung Priok, dan untuk pertama kalinya dalam hidup mereka pergi berlayar ke tanah seberang selama tiga hari. Baginya ini pengalaman yang menarik. Kepada saya mereka bercerita alangkah indahnya perjalanan memakai kapal laut itu. Banyak kenalan baru mereka dapatkan, dan umumnya ramah-ramah. Saya sendiri menjemput ayah dan ibu yang datang dari jauh itu, ke Pelabuhan Belawan memakai kendaraan dinas, dan langsung ke rumah kami di Jalan Supeno. Kedua orang tua saya begitu gembira melihat cucunya lalu dibacakannya doa keselamatan untuknya.
Permata mutiara dari Kesultanan Langkat itu telah menghadiahi saya seorang putri yang cantik, mungil, dan menggemaskan. Segera saja bayi itu menjadi rebutan pada saudara untuk menggendongnya. Saya merasakan semangat hidup saya bertambah besar. Ada semacam kebanggaan memiliki bayi putri mungil itu, dan semangat kerja saya pun meningkat. Ada semacam rasa bahagia luar biasa dan bahagia tak terperikan saat memandangi anak kami itu. Masa depan menanti kami sekeluarga entah di mana, hanya Tuhan yang tahu ……..

Artikel-8

thumbnail
Artikel-8
The Dead of Journalism?
Memperingati hari Pers Nasional 2010, 9 Februari
Pengantar
Sebuah pertanyaan menggelitik muncul dalam diskusi beberapa waktu lalu di sebuah komunitas pers, mengenai pers Indonesia: “Bagaimana membuat penerbitan yang laku? Apa ada resep ampuh?”
Maka saya sebagai salah seorang pembicara menjawab: “Kenali dulu baik-baik siapa calon pembeli produk penerbitan Anda, siapa mereka dan apa maunya. Lalu layani mereka baik-baik. Itu pun kalau Anda mampu mengikuti terus selera dan keinginan mereka, karena di jaman sekarang selera dan kemauan itu terus berkembang, berubah dalam waktu cepat.”
Ternyata pertanyaan dan jawaban itu sekaligus membuka diskusi hangat mengenai berbagai coreng-moreng mass media sekarang ini baik cetak maupun elektronik. Salah satu pertanyaan yang mencuat antara lain: “Gimana dong sama teori-teori yang kita dapat di bangku kuliah dulu?”
Jawaban saya pendek: “Semua teori itu sudah kuno. Kita sendiri sekarang yang membikin teori itu. Pokoknya bikin apa saja terserah Anda, yang penting ada yang membeli apalagi laris di pasar, sambil siap-siap berubah lagi mungkin tahun depan, bisa juga bulan mendatang.”
Satu kompi pertanyaan berikutnya bikin pusing, antara lain lalu gimana dong dengan tanggung jawab kita kepada publik? Gimana dengan kode etik? Dan masih banyak yang bikin pusing. Salah satunya bagaimana insan pers menghindari tuntutan hukum. “Nah, kalau soal itu, menulis menurut kaidah-kaidah yang pernah kita pelajari di bangku sekolah dapat menyelamatkan kita. Sisanya? Terserah Anda, yang pentign Anda tahu dan mau menghadapi risikonya,” jawab saya.
Memang di era yang serba cepat, tergesa dan tergagap-gagap ini tak ada teori permanen yang mampu menjawab persoalan-persoalan tersebut. Teori-teori itu hanya cocok menjawab permasalahan saat itu. Besok lain lagi, begitu pula wajah pers kita dapat berubah-ubah dan bermacam-macam wujudnya seperti mimik pemain pantomim.
Pergeseran Nilai
Dunia kini dihadapkan pada pergeseran nilai-nilai dari modern ke post-modernisme (posmo). Diduga ini akibat modernisme yang hanya membangun infrastruktur dan berproduksi, gagal menjawab sejumlah persoalan seperti kesenjangan sosial, ekonomi, politik, lingkungan hidup dan sebagainya.
Robert Dunn (1993) menandai adanya pergeseran yang menyertai budaya massal, yaitu dari produksi ke konsumsi. Dari pencipta ke penerima, dari karya ke teks dari seniman ke penikmat. Jurang pemisah antara penulis dengan pembaca semakin ciut dan kini telah hilang karena mereka sudah setara, seiring dengan semakin meningkatnya kadar intelektual masyarakat, serta makin banyak dan mudahnya fasilitas masing-masing individu untuk ekspresi diri. Semua orang adalah penulis, semua orang adalah pemain dari sebuah orkestrasi yang disebut masyarakat post-modernisme. Posmo dengan demikian menolak makna tunggal, lantas menerima makna sementara. Dunia adalah sebuah ruang kosong yang akan diisi terus-menerus oleh pembaca.
Terjadi juga dari keseriusan, intelektualitas, ke nilai-nilai permainan, populer, dari kedalaman ke kulit, dari universal ke partikular. Ia menandai juga kebangkitan nilai estetik era 60-an, kebangkitan kembali tradisi, primordial, dan nilai-nilai masyarakat lama lain.
Sementara itu John Naisbitt (2000) menandai, semakin kita menjadi universal, semakin tribal (tradisional etnik) tindakan kita. Dengan kata lain think globally, act locally. Ia (1984) juga menandai bergesernya peran pusat ke daerah-daerah, dari sentralisasi menuju ke desentralisasi, bergesernya ekonomi nasional menjadi ekonomi global. Negara-negara semakin tidak mandiri, saling bergentung serta didikte oleh MNC. Kita ingat pelarian modal Sony, Aiwa dan sejumlah pembuat sepatu klas dunia dari Indonesia, menghasilkan ribuan penganggur baru dan menimbulkan problem ekonomi tambahan.
Pauline Roseneau (1992) mengatakan posmo muncul karena modernisme gagal mewujudkan berbagai bidang, sering terjadi kontradiksi antara teori dan praktik, modernisme gagal mengatasi kemiskinan, pengangguran dan lingkungan akibat kemajuan teknologi. Ia menganggap ilmu pengetahuan modern terlalu terfokus pada dimensi fisik, kurang mistis dan metafisis.
Strinati (2003) bahkan menambahkan, selama ini modernisme telah mengorbankan konsumen demi peningkatan kualitas dan kuantitas produksi tersebut. Di masa posmo, di mana tingkat kemakmuran dan waktu luang meningkat, maka konsumen memegang peranan penting, ia punya banyak pilihan dan kemauan. Maka peranan budaya massa (pop) seperti TV, video, komputer, taman hiburan, pusat perbelanjaan, sastra pop semakin penting.
Bagaimana Keadaan di Indonesia?
Ariel Heryanto (1994) mengatakan, posmo adalah relativisme, sekedar methode kritik dan tradisi, ini sudah ada di Indonesia. Sebagai gerakan bersifat relatif, apa saja bisa terjadi, dan kapan saja. Posmo juga dianggap sebuah dekonstruksi, menghancurkan apa yang telah ada, dan terlahir terlalu dini ketika modernisme belum tuntas. Terakhir, menurutnya, posmo sulit dipahami.
Kita dapat melihat di Indonesia, semua tingkat kebudayaan masih ada, mulai dari budaya jaman batu hingga super modern. Dari rasionalisme hingga mistikisme, klenik, ds. Kucuran budaya luar negeri begitu deras masuk ke Indonesia yang relatif masih muda, membuat gegar budaya luar biasa, sehingga character and nation building yang hendak dibangun Sukarno tersentak-sentak. Barangkali Indonesia menjadi model penting untuk diteliti, di mana seni budaya tradisionalnya begitu kaya, dan kini harus menghadapi derasnya alur budaya massa luar dan terjadi gegar budaya luar biasa tadi. Belum lagi mengalami fase-fase budaya seperti yang terjadi di Barat, kita sudah menghadapi fase posmo yang sulit dimengerti dan diprediksi.
Jurnalisme Ikut Mati Pula?
Perkembangan ilmu pengetahuan yang begitu pesat, yang a.l. di-geber lewat kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, membuat media cetak bukan andalan utama masyarakat untuk mendapatkan informasi. Orang punya alternatif untuk memilih media guna memenuhi dahaga informasinya lewat radio, televisi, buku, yang semakin mudah didapat, jaringan internet yang makin luas dan meraksasa. Semuanya bisa didapat lewat jaringan telekomunikasi dan teknologi informasi yang semakin berkembang dalam hitungan jam, menit, bahkan per detik pun.
Di masa awal milenium yang lalu, pengetahun atau informasi diberikan secara diktaturial, sender menjadi superior dan receiver hanya inferior. Di masa aristotelian ini receiver relatif pasif.
Di jaman modern, posisi itu setidaknya mulai brimbang, ada interaksi aktif antara sender dan receiver.
Memasuki fase pos-strukturalisme, posmo, receiver sebagai konsumen seolah menjadi superior punya kemampuan mendikte kemauannya, serta terjadi diversivikasi luas sifat karakteristik mereka.
Seperti dikemukakan sebelumnya, kemajuan teknologi informasi (information technology) serta komunikasi sekarang ini, membuat satu produk ilmu pengetahuan cepat menyebar dan mempengaruhi gaya hidup orang. Alvin Toffler (1970) mengatakan, mesin cetak mempengaruhi tingkah laku masyarakat setelah hampir 50 tahun kemunculannya, radio kira-kira 20 tahun, televisi 10 tahun dan komputer semakin pendek lagi. Kini dengan semakin menyebarnya alat-alat komunikasi dan gadget yang semakin canggih, hari ini sebuah produk keluar, maka esok hari sudah terjadi kehebohan temporer.
Seperti dikatakan Charles Handy, produksi yang membanjiri pasar sangat berlebihan, di luar kemampuan serta keinginan riil masyarakat. Industri menciptakan barang-barang yang dipaksa untuk menjadi keperluan orang, seperti cat rambut, pemutih kulit, penurun berat badan, serta produk kosmetik lainnya, berbagai alat olahraga aneh-aneh, obat-obatan, gaya hidup dan sebagainya. Bahkan sejak 1961 Herbert N. Casson menengarai, para produsen memaksakan produk yang sebenarnya tidak terlalu penting kepada masyarakat, lewat propaganda, promosi terus-menerus.
Di tengah banjir besar produksi barang-barang modernisme ini, maka persaingan semakin keras, dan promosi memegang peranan kunci.
Media massa, terutama cetak, yang di Abad Ke-XIX menjadi diktatur besar yang mendikte audience-nya, kini harus bertekuk lutut di depan pengusaha, atau yang oleh Handy disebut tegas, yaitu MNC. Jumlah media massa, khususnya media cetak, yang semakin banyak, membuat pembaca memiliki banyak kebebasan untuk memilih – dan persaingan semakin ketat.
Jumlah pembaca koran di Indonesia yang belum mencapai seperempat populasinya, harus dicabik-cabik menjadi kepingan kecil-kecil.
Maka slogan kebebasan pers yang digembar-gemborkan menjadi tanda tanya besar, karena kehidupan mereka kini tergantung kepada para pemasang iklan yang nota bene dikuasai produsen klas dunia. Jurnalisme mulai bergeser dari NETRAL, OBYEKTIF, BERSIH DARI OPINI, dan slogan-slogan besar mulai dipertanyakan, dan muncul narasi-narasi kecil yang menyuarakan kepentingan kontemporer.
Dahulu berita dituntut agar seperti itu, tapi kini kita disodori berita yang memasukkan opini wartawannya, penilaian, bahkan “pengadilan”. Pertanyaan wartawan TV banyak yang sudah memojokkan narasumber sebelum narasumber itu sempat menjawab. Wartawan sudah dipenuhi prasangka sebelum mewawancara, bukan satu hipotesa yang harus diadu kebenarannya dengan berbagai sumber pengimbang. Narasumber seolah dipaksa untuk mengiyakan pendapat wartawan itu, agar tontonan TV-nya berhasil.
Saya sedih ketika mendengar dari seorang rekan wartawan, bahwa ada sebuah koran yang membuat judulnya dahulu, sedangkan “beritanya” dibuat belakangan, sehingga hal seperti di ataslah yang terjadi.
Sangat menyedihkan bagi wartawan-wartawan yang pernah mengalami “indoktrinasi” bahwa berita harus “bersih”, ketika kemudian membaca “berita” yang ternyata isinya melulu memuji-muji sebuah produk tertentu. Celakalah pembaca yang tidak kritis, tidak memiliki referensi lain, sehingga mereka “tertipu” mentah-mentah dengan mempercayai 100 persen isi “berita” itu.
Koran kita sekarang harus ‘mengemis’ kepada pemasang iklan dan untuk itu diadakan kompromi-kompromi. Berita sudah tidak murni sebagai informasi innocent, tapi sudah mengalami polesan promotif, baik dari pengusaha, selebriti dan dan kini merembes ke politisi. Kekuatan sekaligus kelemahan media massa mampu membuat orang tak dikenal menjadi ‘pahlawan’ dan untuk kemudian hilang entah ke mana setelah absen dari hiruk-pikuk pemberitaan ‘barang sedetik pun’.
Sudah sejak lama media massa menjadi alat propaganda politik atau perang, namun kini semakin kental sebagai promosi bisnis. Teori-teori perang kini masuk ke dunia bisnis, dari doktrin Clausewitz, pengusaha kini bergeser ke Sun Tzu yang luwes, ulet. Game theory-nya von Neumann yang berbasis zero-sum, telah diganti game theory-nya John Nash yang memungkinkan semua pihak mendapatkan kemenangan (win-win solution). Semua pihak harus mendapatkan hak yang sepadan dengan kemampuannya, dan terjadi simbiosis antara pihak-pihak yang dulu kita duga tidak mungkin.
Tiga pilar komunikasi massa, yaitu jurnalistik, iklan dan hubungan masyarakat kini semakin bergeser, di mana jurnalistik tertepikan dan iklan serta humas semakin dominan.
Bahkan di medan perang pun, seperti Perang Teluk II, fungsi propagandis dan intelejen sudah diambil alih oleh pakar humas komersial. Pemerintah AS mengontrak pakar humas sebuah produk shampoo yang juga terkenal di Indonesia, yaitu de Beers, serta sejumlah kantor kehumasan lainnya untuk menangani perang Teluk.
Mereka merekayasa peristiwa seolah-olah rakyat Irak menyambut kedatangan pasukan AS, padahal apa yang sebenarnya terjadi adalah, orang-orang lokal itu dibayar untuk show-nya perusahaan Public Relation (PR) yang disewa pemerintah Presiden George Bush.
Seperti dikatakan sebelumnya, model seperti ini banyak terjadi di bidang apa saja, di mana performance lebih penting ketimbang substansi, dan anehnya itulah yang diterima sebagai kebenaran oleh publik. Terlalu banyak informasi yang masuk ke ruang publik semaikin sulit kita mencermati secara kritis satu per satu.
Oleh karena itu tidak ada satu pun rumus ampuh yang berlaku universal untuk menjawab persoalan pers dewasa ini.
Nampaknya media massa boleh berbuat apa saja sepanjang ada audience yang mendukungnya. Itu sudah cukup karena selera publik pun dapat berubah setiap waktu. Sinyalemen Naisbitt bahwa kecenderungan orang kembali memalingkan perhatian ke masalah lokal serta etnik, artinya menjadi lebih sempit, dapat menjadi acuan [sementara] bagi para calon pengelola mass media.
Tapi sejauh mana dan seberapa lama, maka kembali, pergeseran minat masyarakat yang sangat cepat di era posmo ini tak dapat diramalkan pasti.
(Paper ini dikembangkan dari pengantar diskusi jurnalistik di Harian Terbit , Jakarta, 23 Agustus 2005)

Senyum dikiiit

thumbnail
Senyum dikiiit - 7

Etiket 1

Kita harus memegang teguh etiket pergaulan. Kita dilarang berpamitan pulang kepada tuan rumah sebelum pesta usai. Sebaiknya kita menunggu hingga selesai dan membawa pulang sisa-sisa hidangannya!

Etiket 2
Seorang pria masuk lalu duduk ke sebuah restoran. Ia lalu mengambil serbet dan mengikatkannya dengan rapi ke lehernya. Manajer restoran berkata kepada pelayan dengan serius: “Tolong tanya dengan hati-hati dan sesopan mungkin, apa yang diinginkan pria itu. Kita belum pernah mendapat tamu seperti itu.”
Pelayan itu dengan patuh mendekati tamu penting itu lalu bertanya: “Mohon maaf Tuan, Anda ingin potong rambut atau cukur kumis dan janggut saja?
thumbnail

Artikel-8


The Dead of Journalism?


Memperingati hari Pers Nasional 2010, 9 Februari


Pengantar
Sebuah pertanyaan menggelitik muncul dalam diskusi beberapa waktu lalu di sebuah komunitas pers, mengenai pers Indonesia: “Bagaimana membuat penerbitan yang laku? Apa ada resep ampuh?”
Maka saya sebagai salah seorang pembicara menjawab: “Kenali dulu baik-baik siapa calon pembeli produk penerbitan Anda, siapa mereka dan apa maunya. Lalu layani mereka baik-baik. Itu pun kalau Anda mampu mengikuti terus selera dan keinginan mereka, karena di jaman sekarang selera dan kemauan itu terus berkembang, berubah dalam waktu cepat.”
Ternyata pertanyaan dan jawaban itu sekaligus membuka diskusi hangat mengenai berbagai coreng-moreng mass media sekarang ini baik cetak maupun elektronik. Salah satu pertanyaan yang mencuat antara lain: “Gimana dong sama teori-teori yang kita dapat di bangku kuliah dulu?”
Jawaban saya pendek: “Semua teori itu sudah kuno. Kita sendiri sekarang yang membikin teori itu. Pokoknya bikin apa saja terserah Anda, yang penting ada yang membeli apalagi laris di pasar, sambil siap-siap berubah lagi mungkin tahun depan, bisa juga bulan mendatang.”
Satu kompi pertanyaan berikutnya bikin pusing, antara lain lalu gimana dong dengan tanggung jawab kita kepada publik? Gimana dengan kode etik? Dan masih banyak yang bikin pusing. Salah satunya bagaimana insan pers menghindari tuntutan hukum. “Nah, kalau soal itu, menulis menurut kaidah-kaidah yang pernah kita pelajari di bangku sekolah dapat menyelamatkan kita. Sisanya? Terserah Anda, yang pentign Anda tahu dan mau menghadapi risikonya,” jawab saya.
Memang di era yang serba cepat, tergesa dan tergagap-gagap ini tak ada teori permanen yang mampu menjawab persoalan-persoalan tersebut. Teori-teori itu hanya cocok menjawab permasalahan saat itu. Besok lain lagi, begitu pula wajah pers kita dapat berubah-ubah dan bermacam-macam wujudnya seperti mimik pemain pantomim.


Pergeseran Nilai Dunia kini dihadapkan pada pergeseran nilai-nilai dari modern ke post-modernisme (posmo). Diduga ini akibat modernisme yang hanya membangun infrastruktur dan berproduksi, gagal menjawab sejumlah persoalan seperti kesenjangan sosial, ekonomi, politik, lingkungan hidup dan sebagainya.
Robert Dunn (1993) menandai adanya pergeseran yang menyertai budaya massal, yaitu dari produksi ke konsumsi. Dari pencipta ke penerima, dari karya ke teks dari seniman ke penikmat. Jurang pemisah antara penulis dengan pembaca semakin ciut dan kini telah hilang karena mereka sudah setara, seiring dengan semakin meningkatnya kadar intelektual masyarakat, serta makin banyak dan mudahnya fasilitas masing-masing individu untuk ekspresi diri. Semua orang adalah penulis, semua orang adalah pemain dari sebuah orkestrasi yang disebut masyarakat post-modernisme. Posmo dengan demikian menolak makna tunggal, lantas menerima makna sementara. Dunia adalah sebuah ruang kosong yang akan diisi terus-menerus oleh pembaca.
Terjadi juga dari keseriusan, intelektualitas, ke nilai-nilai permainan, populer, dari kedalaman ke kulit, dari universal ke partikular. Ia menandai juga kebangkitan nilai estetik era 60-an, kebangkitan kembali tradisi, primordial, dan nilai-nilai masyarakat lama lain.
Sementara itu John Naisbitt (2000) menandai, semakin kita menjadi universal, semakin tribal (tradisional etnik) tindakan kita. Dengan kata lain think globally, act locally. Ia (1984) juga menandai bergesernya peran pusat ke daerah-daerah, dari sentralisasi menuju ke desentralisasi, bergesernya ekonomi nasional menjadi ekonomi global. Negara-negara semakin tidak mandiri, saling bergentung serta didikte oleh MNC. Kita ingat pelarian modal Sony, Aiwa dan sejumlah pembuat sepatu klas dunia dari Indonesia, menghasilkan ribuan penganggur baru dan menimbulkan problem ekonomi tambahan.
Pauline Roseneau (1992) mengatakan posmo muncul karena modernisme gagal mewujudkan berbagai bidang, sering terjadi kontradiksi antara teori dan praktik, modernisme gagal mengatasi kemiskinan, pengangguran dan lingkungan akibat kemajuan teknologi. Ia menganggap ilmu pengetahuan modern terlalu terfokus pada dimensi fisik, kurang mistis dan metafisis.
Strinati (2003) bahkan menambahkan, selama ini modernisme telah mengorbankan konsumen demi peningkatan kualitas dan kuantitas produksi tersebut. Di masa posmo, di mana tingkat kemakmuran dan waktu luang meningkat, maka konsumen memegang peranan penting, ia punya banyak pilihan dan kemauan. Maka peranan budaya massa (pop) seperti TV, video, komputer, taman hiburan, pusat perbelanjaan, sastra pop semakin penting.
Bagaimana Keadaan di Indonesia?
Ariel Heryanto (1994) mengatakan, posmo adalah relativisme, sekedar methode kritik dan tradisi, ini sudah ada di Indonesia. Sebagai gerakan bersifat relatif, apa saja bisa terjadi, dan kapan saja. Posmo juga dianggap sebuah dekonstruksi, menghancurkan apa yang telah ada, dan terlahir terlalu dini ketika modernisme belum tuntas. Terakhir, menurutnya, posmo sulit dipahami.
Kita dapat melihat di Indonesia, semua tingkat kebudayaan masih ada, mulai dari budaya jaman batu hingga super modern. Dari rasionalisme hingga mistikisme, klenik, ds. Kucuran budaya luar negeri begitu deras masuk ke Indonesia yang relatif masih muda, membuat gegar budaya luar biasa, sehingga character and nation building yang hendak dibangun Sukarno tersentak-sentak. Barangkali Indonesia menjadi model penting untuk diteliti, di mana seni budaya tradisionalnya begitu kaya, dan kini harus menghadapi derasnya alur budaya massa luar dan terjadi gegar budaya luar biasa tadi. Belum lagi mengalami fase-fase budaya seperti yang terjadi di Barat, kita sudah menghadapi fase posmo yang sulit dimengerti dan diprediksi.
Jurnalisme Ikut Mati Pula?
Perkembangan ilmu pengetahuan yang begitu pesat, yang a.l. di-geber lewat kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, membuat media cetak bukan andalan utama masyarakat untuk mendapatkan informasi. Orang punya alternatif untuk memilih media guna memenuhi dahaga informasinya lewat radio, televisi, buku, yang semakin mudah didapat, jaringan internet yang makin luas dan meraksasa. Semuanya bisa didapat lewat jaringan telekomunikasi dan teknologi informasi yang semakin berkembang dalam hitungan jam, menit, bahkan per detik pun.
Di masa awal milenium yang lalu, pengetahun atau informasi diberikan secara diktaturial, sender menjadi superior dan receiver hanya inferior. Di masa aristotelian ini receiver relatif pasif.
Di jaman modern, posisi itu setidaknya mulai brimbang, ada interaksi aktif antara sender dan receiver.
Memasuki fase pos-strukturalisme, posmo, receiver sebagai konsumen seolah menjadi superior punya kemampuan mendikte kemauannya, serta terjadi diversivikasi luas sifat karakteristik mereka.
Seperti dikemukakan sebelumnya, kemajuan teknologi informasi (information technology) serta komunikasi sekarang ini, membuat satu produk ilmu pengetahuan cepat menyebar dan mempengaruhi gaya hidup orang. Alvin Toffler (1970) mengatakan, mesin cetak mempengaruhi tingkah laku masyarakat setelah hampir 50 tahun kemunculannya, radio kira-kira 20 tahun, televisi 10 tahun dan komputer semakin pendek lagi. Kini dengan semakin menyebarnya alat-alat komunikasi dan gadget yang semakin canggih, hari ini sebuah produk keluar, maka esok hari sudah terjadi kehebohan temporer.
Seperti dikatakan Charles Handy, produksi yang membanjiri pasar sangat berlebihan, di luar kemampuan serta keinginan riil masyarakat. Industri menciptakan barang-barang yang dipaksa untuk menjadi keperluan orang, seperti cat rambut, pemutih kulit, penurun berat badan, serta produk kosmetik lainnya, berbagai alat olahraga aneh-aneh, obat-obatan, gaya hidup dan sebagainya. Bahkan sejak 1961 Herbert N. Casson menengarai, para produsen memaksakan produk yang sebenarnya tidak terlalu penting kepada masyarakat, lewat propaganda, promosi terus-menerus.
Di tengah banjir besar produksi barang-barang modernisme ini, maka persaingan semakin keras, dan promosi memegang peranan kunci.
Media massa, terutama cetak, yang di Abad Ke-XIX menjadi diktatur besar yang mendikte audience-nya, kini harus bertekuk lutut di depan pengusaha, atau yang oleh Handy disebut tegas, yaitu MNC. Jumlah media massa, khususnya media cetak, yang semakin banyak, membuat pembaca memiliki banyak kebebasan untuk memilih – dan persaingan semakin ketat.
Jumlah pembaca koran di Indonesia yang belum mencapai seperempat populasinya, harus dicabik-cabik menjadi kepingan kecil-kecil.
Maka slogan kebebasan pers yang digembar-gemborkan menjadi tanda tanya besar, karena kehidupan mereka kini tergantung kepada para pemasang iklan yang nota bene dikuasai produsen klas dunia. Jurnalisme mulai bergeser dari NETRAL, OBYEKTIF, BERSIH DARI OPINI, dan slogan-slogan besar mulai dipertanyakan, dan muncul narasi-narasi kecil yang menyuarakan kepentingan kontemporer.
Dahulu berita dituntut agar seperti itu, tapi kini kita disodori berita yang memasukkan opini wartawannya, penilaian, bahkan “pengadilan”. Pertanyaan wartawan TV banyak yang sudah memojokkan narasumber sebelum narasumber itu sempat menjawab. Wartawan sudah dipenuhi prasangka sebelum mewawancara, bukan satu hipotesa yang harus diadu kebenarannya dengan berbagai sumber pengimbang. Narasumber seolah dipaksa untuk mengiyakan pendapat wartawan itu, agar tontonan TV-nya berhasil.
Saya sedih ketika mendengar dari seorang rekan wartawan, bahwa ada sebuah koran yang membuat judulnya dahulu, sedangkan “beritanya” dibuat belakangan, sehingga hal seperti di ataslah yang terjadi.
Sangat menyedihkan bagi wartawan-wartawan yang pernah mengalami “indoktrinasi” bahwa berita harus “bersih”, ketika kemudian membaca “berita” yang ternyata isinya melulu memuji-muji sebuah produk tertentu. Celakalah pembaca yang tidak kritis, tidak memiliki referensi lain, sehingga mereka “tertipu” mentah-mentah dengan mempercayai 100 persen isi “berita” itu.
Koran kita sekarang harus ‘mengemis’ kepada pemasang iklan dan untuk itu diadakan kompromi-kompromi. Berita sudah tidak murni sebagai informasi innocent, tapi sudah mengalami polesan promotif, baik dari pengusaha, selebriti dan dan kini merembes ke politisi. Kekuatan sekaligus kelemahan media massa mampu membuat orang tak dikenal menjadi ‘pahlawan’ dan untuk kemudian hilang entah ke mana setelah absen dari hiruk-pikuk pemberitaan ‘barang sedetik pun’.
Sudah sejak lama media massa menjadi alat propaganda politik atau perang, namun kini semakin kental sebagai promosi bisnis. Teori-teori perang kini masuk ke dunia bisnis, dari doktrin Clausewitz, pengusaha kini bergeser ke Sun Tzu yang luwes, ulet. Game theory-nya von Neumann yang berbasis zero-sum, telah diganti game theory-nya John Nash yang memungkinkan semua pihak mendapatkan kemenangan (win-win solution). Semua pihak harus mendapatkan hak yang sepadan dengan kemampuannya, dan terjadi simbiosis antara pihak-pihak yang dulu kita duga tidak mungkin.
Tiga pilar komunikasi massa, yaitu jurnalistik, iklan dan hubungan masyarakat kini semakin bergeser, di mana jurnalistik tertepikan dan iklan serta humas semakin dominan.
Bahkan di medan perang pun, seperti Perang Teluk II, fungsi propagandis dan intelejen sudah diambil alih oleh pakar humas komersial. Pemerintah AS mengontrak pakar humas sebuah produk shampoo yang juga terkenal di Indonesia, yaitu de Beers, serta sejumlah kantor kehumasan lainnya untuk menangani perang Teluk.
Mereka merekayasa peristiwa seolah-olah rakyat Irak menyambut kedatangan pasukan AS, padahal apa yang sebenarnya terjadi adalah, orang-orang lokal itu dibayar untuk show-nya perusahaan Public Relation (PR) yang disewa pemerintah Presiden George Bush.
Seperti dikatakan sebelumnya, model seperti ini banyak terjadi di bidang apa saja, di mana performance lebih penting ketimbang substansi, dan anehnya itulah yang diterima sebagai kebenaran oleh publik. Terlalu banyak informasi yang masuk ke ruang publik semaikin sulit kita mencermati secara kritis satu per satu.
Oleh karena itu tidak ada satu pun rumus ampuh yang berlaku universal untuk menjawab persoalan pers dewasa ini.
Nampaknya media massa boleh berbuat apa saja sepanjang ada audience yang mendukungnya. Itu sudah cukup karena selera publik pun dapat berubah setiap waktu. Sinyalemen Naisbitt bahwa kecenderungan orang kembali memalingkan perhatian ke masalah lokal serta etnik, artinya menjadi lebih sempit, dapat menjadi acuan [sementara] bagi para calon pengelola mass media.
Tapi sejauh mana dan seberapa lama, maka kembali, pergeseran minat masyarakat yang sangat cepat di era posmo ini tak dapat diramalkan pasti.
(Paper ini dikembangkan dari pengantar diskusi jurnalistik di Harian Terbit , Jakarta, 23 Agustus 2005)
thumbnail
Mutiara Hati – 7

Penulis Adji Subela
Bagian Ke-7

Acara ijab khabul berlangsung lancar, dan selesailah sudah pernikahan itu, sekarang kami sudah resmi sebagai suami-istri. Acara yang begitu sakral tersebut berlangsung sederhana sekali. Kami lantas berdoa bersama-sama dan tidak ada pesta. Kami hanya makan minum sekedarnya, lalu selesai sudah. Itu saja. Tidak seperti pengantin jaman sekarang yang begitu hebat pestanya, apalagi pada saat ini para muda itu senang mengadakan acara pre-wedding serta resepsi di hotel-hotel atau gedung-gedung yang bertarif mahal. Pernikahan kami sederhana dan murah, karena memang begitulah model acara pernikahan di jaman dahulu itu.
Kendati diadakan di luar Istana, namun tata cara pernikahan tetap dilakukan seperti halnya para bangsawan Melayu menikah. Istri saya tidak dihadirkan dalam satu ruangan dengan saya, dan naib pun tidak pernah menanyakan kesediaan calon istri saya. Masalahnya, bila ditanyakan kepadanya apakah dia bersedia menikah dengan saya, maka jawabannya itu dapat diartikan ganda. Kata iya, dapat berarti tidak. Diam, diartikan iya dan sebagainya. Jelas itu akan menjadikan urusan bertambah rumit.
Mutiara dari Kesultanan Langkat sekarang telah saya sunting dan saya rekatkan dalam hati saya, sehingga kemilaunya yang anggun terus menerangi hati sanubari saya hingga sekarang.
Akan tetapi sebagai perwira saya harus mengadakan resepsi pernikahan tersebut. Resepsi diadakan di rumah Kucik di Jalan Yogya No.2 itu, pada tanggal 14 Januari, tiga hari sesudah ijab kabul. Saya tak ingin mengadakan resepsi di Balai Prajurit kami di Jalan Perwira, karena ingin acara ini lebih leluasa, lebih bebas hingga malam hari pun. Saya sendiri tak menyangka resepsi itu berjalan amat meriah. Semula acaranya dimaksudkan sederhana saja. Namun ternyata dihadiri oleh ratusan teman, handai taulan, pejabat setempat, para pejabat Angkatan lainnya termasuk dari Kepolisian, jawatan-jawatan, serta para anggota keluarga, kecuali keluarga dari pihak saya, sebab orang tua sudah memberitahu mereka tidak bisa datang. Ya sudah, ini pun sudah amat meriah, apalagi datang pula dua orang wartawan dari dua koran terkemuka di Medan atau Sumatra Utara yaitu masing-masing dari SKH Waspada serta SKH Mimbar Umum.
Nampaknya pernikahan kami itu menggegerkan masyarakat Medan. Bayangkan, seorang putri Sultan yang belum lama menderita akibat kerusuhan, tiba-tiba memutuskan menikah dengan seorang tentara! Dan yang berbeda suku pula! Pernikahan kami itu mereka sebut sebagai the wedding of the year. Benar-benar membanggakan kami semua.
Saya pun juga terkejut dan juga bangga karena ternyata Komandan KMK Medan, Mayor Djamin Ginting hadir bersama nyonya. Beliaulah yang memberi kata sambutan sekedarnya. Kepala Staff kami, Pak Kartakusuma hadir juga berdua. Tentu saja tidak lupa Kapten D.I. Panjaitan dengan nyonya, serta para staf dan anggota lainnya. Sayangnya, atasan saya sendiri Panglima Territorium I Kolonel Simbolon tidak hadir. Sejumlah perutusan dari beberapa kesultanan di Sumatra Utara juga ada dalam resepsi kami, termasuk keluarga Sultan Deli. Mereka ingin berkenalan dengan suami putri almarhum Sultan Langkat. Tapi beberapa keluarga Sultan sendiri tidak hadir, karena masih ragu-ragu mengenai perlu tidaknya mereka muncul dalam resepsi tersebut.
Sebagai penghangat suasana, kami undang pula satu kelompok orkes atau band yang membawakan lagu-lagu yang populer saat itu. Beberapa lagu irama keroncong mereka bawakan. Kemudian oleh karena atmosfer perjuangan masih kental pada waktu itu, maka lagu-lagu perjuangan Ismail Marzuki pun ikut berkumandang, serta tak lupa tentu saja lagu-lagu berirama Melayu yang di kala itu sangat populer.

Kami ‘mengusir’ ‘mentor’ pernikahan
Sesuai dengan adat Melayu setempat, ada satu proses yang harus kami lalui, suka maupun tidak suka. Memang bagi saya yang berasal dari tanah Parahyangan, prosesi itu betul-betul ganjil serta berat untuk dilaksanakan. Ada rasa sungkan, enggan, dan malu. Tapi harus bagaimana lagi? Saya berada di tanah Melayu, istri saya pun putri Sultan, dan semua proses pernikahan juga dilaksanakan dalam adat mereka, walau pun tidak secara mendetail penuh, misalnya saja biasanya pengantin Melayu dimandikan air limau sebelum upacara, dengan harapan dapat membersihkan diri kami lahir batin, dan lain-lainnya.
Tiada satu proses teramat penting yang benar-benar harus dilalui tapi justru merisihkan hati saya. Terus terang saya belum pernah mendengar atau tahu satu proses adat ini, sehingga benar-benar mengagetkan. Bayangkan saja, dalam malam pertama kami diwajibkan menerima seorang ‘mentor’ atau semacam instruktur perkawinan, seorang perempuan tua. Si perempuan ini nanti akan tidur di bawah ranjang kami dan secara lisan akan memberi ‘bimbingan teknis’ tentang apa saja yang harus kami lakukan. Bayangkan! Dalam moment yang begitu intim buat berdua, ternyata harus ada orang ketiga yang memberi aba-aba tentang apa saja yang harus kami perbuat!
Sebenarnya ini satu langkah mulia, di mana para remaja di jaman dahulu masih bersih suci, tidak mengetahui barang sekecil apa pun mengenai hubungan paling pribadi antara suami-istri. Saya dan Kucik menganggap, biarlah kami berdua sendiri yang menemukan jalan itu, tidak perlu ada guide atau sejenisnya. Ngapain?
Saya sebagai seorang anggota militer sudah terbiasa mendengar dan memberikan aba-aba tapi tentu tidak pernah dalam urusan yang super pribadi ini. Ternyata Kucik berpendapat serupa. Bagaimana pun pula ia sudah terdidik secara maju, secara Barat, sehingga masalah privacy sangat dihormatinya. Akhirnya dengan berbisik-bisik saya memberi isyarat kepada Kucik agar berbicara baik-baik kepada si ‘mentor’ atau ‘instruktur’ kami itu. Dengan hati-hati agar dia tidak tersinggung, karena telah melanggar kehormatan profesinya, kami berbicara dengan perempuan yang malang itu. Di luar dugaan, dia setuju dengan usul ‘win-win solution’ kami, tapi karena dia telah memegang janji serta demi menjaga ‘profesionalismenya’, maka dia harus tetap berada di luar kamar guna memantau segala sesuatunya, dan bersiaga memberi bantuan bila ada masalah. Mudah-mudahan saja tidak!
Akan tetapi ‘penderitaan’ saya ternyata belum berakhir juga. Sesuai dengan adat-istiadat mereka, sejumlah anggota keluarga terdekat ternyata masih saja memantau perkembangan situasinya dari kamar sebelah, bahkan ada yang di dekat pintu kamar. Mereka memasang telinga lebar-lebar.
Akhirnya tugas mulia itu dapat kami jalankan dengan lancar. Kucik menampung tetesan darah bukti kesucian di secarik kain putih. Pada jam yang telah ditentukan, kami harus menunjukkannya kepada mereka. Ini dilakukan karena keluarga harus yakin bahwa anak mereka benar-benar masih suci ketika malam pertama itu. Menyaksikan bukti tersebut mereka bersuka cita, dan kami terbebas dari penderitaan itu.
Kain putih itu harus disimpan oleh pengantin perempuan selama-lamanya sebagai simbol kesucian, ketaatan, kesetiaan kepada suami dan keluarganya. Kucik menyimpan kain itu hingga akhir hayatnya.
Pada pagi harinya, diadakan upacara adat tepung tawar, guna menyambut pasangan pengantin ini. Kami didudukkan di pelaminan, ditutupi kain renda putih. Kemudian setiap anggota keluarga serta handai taulan memberikan doanya kepada kami, setelah itu mereka menaburkan beras kuning yang diberi bunga, dan sebagainya. Setelah itu Kucik memberi sembah kepada Ibunda, serta para kakaknya. Sedangkan adik-adik ganti memberi sembah padanya.
Ada adegan yang lucu. Ketika adik-adiknya hendak menyembah, Kucik marah, katanya:
“Ah, sudahlah, jangan macam-macam pakai sembah segala…cium tangan bolehlah.”
Mereka ketawa. (Bersambung)