Ssssttt - 9

thumbnail
Banyak anak ala Hollywood- Aktor ganteng Mel Gibson yang tengah pisah ranjang dengan istrinya, punya tujuh orang anak darinya.
- Almarhum aktor Marlon Brando juga punya tujuh anak.
- Itu belum. Aktris Mia Farrow, mantan isteri Woody Allen, punya 14 orang anak! Sepuluh orang di antaranya hasil adopsi.

Sssstt-9

thumbnail
Ssttt – 9
Banyak anak ala Hollywood

- Aktor ganteng Mel Gibson yang tengah pisah ranjang dengan istrinya, punya tujuh orang anak darinya.
- Almarhum aktor Marlon Brando juga punya tujuh anak.
- Itu belum. Aktris Mia Farrow, mantan isteri Woody Allen, punya 14 orang anak! Sepuluh orang di antaranya hasil adopsi.

Mutiara Hati - 9

thumbnail
Oleh Adji Subela

Bab Kedua

Tugas pertama ke luar negeri
Suasana upacara kesultanan di Kerajaan Johor, salah satu negara bagian yang tergabung ke Persekutuan Malaya, meriah sekali. Sebelum acara pokok dimulai, puluhan tamu penting telah memenuhi tribun utamanya. Panggung dihias sedemikian rupa, didominasi warna kuning keemasan, salah satu warna simbol kekuasaan di banyak kerajaan Melayu. Hiasan-hiasan itu dibuat dari kain satijn. Buket-buket bunga pun diletakkan di meja tamu di deret terdepan, sedangkan karangan bunga diletakkan di berbagai sudut halaman.
Para bangsawan yang berasal dari berbagai negara bagian seperti Selangor, Pahang, Kedah, Perak, dan lain-lainnya hadir dengan para istri mereka. Pakaiannya indah-indah, memakai perhiasan yang terbuat dari emas bertahtakan intan berlian. Tanda-tanda kebesaran bertengger di dada-dada mereka, keris yang juga berhulu ukiran emas dan permata terselip di pinggangnya.
Para tamu dibagi dalam baberapa kelompok. Ada tribun yang khusus diperuntukkan bagi para anggota keluarga kerajaan, letaknya cukup menyolok di bagian depan. Setelah itu tribun untuk para bangsawan yang diundang diletakkan di samping tribun utama, berikutnya para tamu dari perwakilan negara lain, letaknya tidak terlalu khusus.
Waktu itu saya menjabat sebagai attaché militer dengan pos saya di Singapura yang waktu itu belum berdiri sebagai negara tersendiri. Sebagai wakil negara asing, saya seharusnya menempati sisi yang tidak terlalu khusus itu bersama para kolega dari Indonesia serta negara lainnya. Di tribun tersebut duduk pula kepala perwakilan Indonesia, yaitu Bapak Hermen Kartowisastro, atasan saya.
Lama sebelum acara dimulai, yaitu ketika para tamu mulai berdatangan, saya cepat-cepat mendatangi Pak Hermen untuk meminta maaf sebesar-besarnya.
“Mohon ijin Pak, saya harus duduk di tribun khusus di depan itu, Pak,” kata saya.
Pak Hermen tidak terkejut mendengar permintaan maaf itu. Beliau berkata:
“Sudah, sudah, silakan saja, karena Anda ‘kan anggota keluarga.”
Saya lega sekali. Tahukah? Saya sebagai bawahan beliau, seharusnya duduk bersamanya di tribun bagi perwakilan asing. Tapi – nah ini masalahnya – saya menghadapi rasa kikuk yang besar kepada para kolega, khususnya Pak Hermen, karena diharuskan duduk di tribun depan dan khusus, tempat para keluarga Sultan Johor berada. Ini semua terjadi karena istri saya itu adalah kerabat dekat Sultan Johor. Hubungan antara Kesultanan Johor dan Langkat sangat erat sejak jaman dahulu karena adanya pertalian darah. Jadi saya pun, orang Jawa Barat yang tidak tahu-menahu, harus pula duduk bersama istri saya di tribun khusus itu karena pertalian darah Kucik ini. Untung Pak Hermen mengerti duduk persoalannya.
Kejadian itu rupanya berulang kembali pada kurang lebih 30 tahun kemudian, tepatnya 1986, kali ini lebih ‘seram’ lagi karena saya harus berhadapan dengan Duta Besar RI untuk Malaysia, Pak Himawan Sutanto. Saya kala itu menghadiri upacara peringatan jubileum bertahtanya Sultan Selangor di kursi kesultanannya, yang berlangsung di Kualalumpur. Pada waktu itu, saya sudah menjabat sebagai Dubes Yang Berkuasa Penuh RI di Mesir, Sudan, Somalia, dan Djibouti.
Kehadiran saya di Kualalumpur tentu mengagetkan sejumlah orang yang tidak mengerti silsilah istri saya dengan para Sultan di Malaysia. Pak Himawan Sutanto itu sudah lama saya kenal. Kami berasal dari Siliwangi, sama-sama berjuang di hutan-hutan untuk melawan agresi Belanda. Suaranya merdu sekali. Kalau Presiden Soeharto dikenal sebagai The Smilling General, maka Pak Himawan yang pernah menjabat sebagai Panglima Kostranas (Komando Strategi Nasional) serta Ketua Umum Kwartir Gerakan Pramuka itu, dijuluki sebagai The Singing General. Pada waktu Jendral M. Jusuf menjadi Panglima ABRI, Pak Himawan selalu kebagian tugas menyanyi bila ada acara santai, di samping Pak Wijogo Atmodarminto, yang pernah menjabat sebagai Pangkowilhan II serta Gubernur DKI Jakarta. Setelah menjadi Dubes RI di Malaysia, beliau mendapat gelar baru yaitu The Singing Ambassador.
Nah, ketika menghadiri upacara Sultan Selangor itu, beliau ditempatkan di tribun khusus untuk perwakilan negara sahabat. Pak Himawan kelihatan agak kaget melihat kehadiran saya di sana, apalagi saya justru berada di tribun khusus di depan, tempat keluarga kesultanan. Dengan ketawa geli saya mendekatinya.
“Pak Dubes, saya ada di Kualalumpur karena undangan Sultan. Tapi soal tempat duduk ini maaf, you Dubes duduknya di sini, kalau saya ada di sana bergabung bersama keluarga,” kata saya. Beliau ketawa karena paham maksud saya.
Pengalaman dengan Pak Hermen Kartowisastro itu menjadi salah satu kenangan lucu saya ketika mengemban tugas sebagai Atase Pertahanan yang diposkan di Singapura. Saya mendapatkan tugas pertama ke luar negeri itu pada bulan Desember tahun 1952. Sebelumnya saya dipindah tugaskan dari Medan ke Jakarta, untuk persiapan bersekolah ke negeri Belanda, yaitu di HKS (Hogere Krys School) Sekolah Tinggi Perang. Sekolah ini lebih tinggi daripada Akademi Militer Belanda di Breda, di mana para calon perwira dididik. HKS itu kira-kira setingkat dengan Seskoad (Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat), jadi diperuntukkan bagi para perwira yang telah memiliki pengalaman tempur. Saya memenuhi syarat itu, walau pun usia masih muda.
Kebetulan sekali saya punya seorang paman, yaitu Pandu Suradiningrat, yang memegang salah satu jabatan di Departemen Luar Negeri (Deparlu), bersama Pak Mr. Soebardjo. Di jaman kolonial Belanda beliau pernah menjadi vice consul di Jeddah, Saudi Arabia. Oleh sebab itu paman termasuk salah seorang pejabat senior di Deparlu. Ketika saya diangkat sebagai atase di Singapura itu, beliau menjadi diplomat RI di Negeri Belanda. Dalam salah satu kunjungannya ke Singapura, paman bertemu dengan kami. Lalu paman menunjuk kepada saya sambil berkata kepada Pak Hermen Kartowisastro:
“Hermen, kamu jangan main-main ya, Barkah ini keponakan saya….”
“Tenang, jangan khawatir,” jawab Pak Hermen sambil ketawa. Mereka berdua memang sudah sangat akrab sejak dahulu.
Ketika mendapat perintah untuk bertugas ke Singapura itu saya lalu ingat satu kejadian waktu di Medan dahulu. Pada suatu siang, pertengahan tahun 1952, saya dipanggil oleh Panglima TT I Kolonel Simbolon. Agak mengejutkan memang, karena rasanya tidak ada masalah yang harus saya jelaskan kepada pimpinan. Namun saya masuk dengan hati mantap, apa pun yang akan terjadi, terjadilah. Saya memberi hormat, dan Pak Simbolon menyilakan saya duduk. Beliau orangnya memang serius dan kata-katanya hemat.

Artikel -10

thumbnail
Mario Teguh dan Trend ‘Ulama Baru’

Oleh Adji Subela

Sekeping fakta mengejutkan membuat kita gembira juga. Satu acara televisi negeri tercinta kita mendapat kehormatan sebagai acara televisi talkshow nomer dua di dunia setelah Oprah Winfrey Show. Siapa tidak bangga mendapat kehormatan itu, setelah kita “nyaris” kehilangan hampir semua bahan kebanggaan?
Acara tersebut adalah Mario Teguh’s Golden Ways yang disiarkan stasiun televisi Metro TV setiap hari Minggu pukul 19.05. Kemudian, acara penyemangat jiwa itu juga merebut predikat sebagai acara pertama di dunia yang dalam tempo setahun merebut sejuta lebih facebookers dari berbagai penjuru dalam belasan latar belakang bahasa pesertanya.
Dalam tayangan Minggu malam 9 Mei 2010, Mario menunjukkan piagam itu, dan disiarkan pula berbagai tanggapan masyarakat, termasuk Ketua MUI Amidan S, serta Ketua Mahkamh Konstitusi Mahfud MD. Prestasi itu sekaligus menjadi promosi yang jitu untuk mengembangkan acara penyemangat tersebut, sekaligus pendorong agar acara itu semakin baik.
Lebih dari sekedar kebanggaan itu, acara Golden Ways bertumbuh menjadi suatu acara yang memberi semangat dan dorongan (motivasi) pemirsanya dari berbagai usia, dari belasan hingga “manula”. Yang membesarkan hati lagi, yaitu ketika Mario Teguh menunjukkan data bahwa pemirsa acaranya itu 40 persen lebih adalah para remaja dan mereka yang berada pada usia produktif. Itu artinya para tunas bangsa kita haus akan bimbingan, dorongan-motivasi untuk maju.
Ini jauh berbeda dari selapis kalangan remaja dan kaum muda yang kita lihat di tayangan televisi dan berita di koran yang lebih suka berkelahi, baik dalam demo tanpa guna atau di pergulan mereka, lantas menikmati candu modern atau miras oplosan sampai mati sia-sia ketimbang menempa dirinya untuk menjadi manusia “super”.
Fenomena motivator ini memang menarik. Kita lihat semakin banyak tokoh motivator yang muncul memberikan formula, solusi, untuk berbagai masalah hidup dan kehidupan. Tak sedikit buku mereka terbitkan untuk memberi dorongan positif ke pada masyarakat.
Di pihak masyarakat, mereka haus akan pencerahan. Di masa yang serba sulit ini, di mana antara pernyataan dan kenyataan sering berbeda (jauh) maka kebimbangan melanda hati mereka. Kita punya banyak pejabat tapi kini tak punya pemimpin yang patut jadi contoh, teladan, dan panutan. Rakyat perlu pemimpin yang memberi semangat, tegas dan jelas arahnya dan mampu menggerakkan jiwa. Bukan yang membuat bingung-bingung.
Angka statistik menunjukkan ekonomi kita tumbuh 6% lebih tapi harga-harga naik terus, semakin banyak orang bunuh diri dengan motif ekonomi, banyak terseret tindak pidana, dan jumlah anak kurang gizi kian bertambah-tambah. Ada yang bergaji sangat tinggi tapi tetap melaksanakan aktivitas haram, yaitu korupsi. Bagaimana dengan pegawai bergaji rendah yang hidupnya pas-pasan Senin-Kamis?
Kita dituntut berbuat baik sesuai agama masing-masing, tapi para pemimpin agama sendiri tak jarang yang berbuat aneh-aneh dan sulit dipercaya. Kemana rakyat yang sengsara dan celaka itu mencari perlindungan?
Kalau ulama tidak lagi menjadi tempat berlindung dan tempat pencarian pencerahan? Ke mana ummat harus pergi. Ada yang ke bar, night club, tempat madat, tempat minum, dan tempat maksiat lainnya.
Tapi tak sedikit yang pergi mencari tokoh yang dapat menerangi jalan ke mana hendak pergi: Para motivator!!!!
Para motivator itu berbicara lugas, praktikal, dan teknikal. Para ulama bicara secara garis besar agama mereka masing-masing. Mereka tak menyentuh masalah praktis dan kecil-kecil di hadapan mata, persoalan hidup sehari-hari yang harus dipecahkan dengan pratikal pula.
Urusan teknikal seperti itu memang bukan porsi para ulama agama-agama. Celakanya justru masalah-masalah seperti itu yang melilit ummat. Kesulitan ekonomi, frustasi dengan pekerjaan yang tak pernah maju, ingin berusaha tapi tak tahu jalannya, dan takut memulai, bagaimana menghadapi teman, pimpinan atau klien-klien mereka, masalah dengan keluarganya yang tidak mendukung, dan masih banyak lagi.
Ketika mereka pergi ke ulama, kembali akan menemui ancaman-ancaman akan dosa atau pahala orang yang tawakal. Rincian teknikal dan praktikal sulit didapat.
Tidak sedikit para ulama yang memberikan pencerahannya dengan cara sangat dogmatis, kaku, keras, dan dengan ancaman-ancaman dosa seperti itu.
Kemudian jaman berubah, sejumlah ulama menyadari perubahan peradaban, perubahan suasana sehingga membawakan dakwah atau ceramah mereka dengan cara lebih rileks dan lembut. Celakanya beberapa di antaranya justru jatuh ke ranah hiburan sehingga isi dakwah yang begitu sarat moral, justru tawar karena menjadi ajang tontonan semata. Beberapa di antaranya terlalu banyak membawakan dagelan sehingga sulit dibedakan apakah ini suatu ceramah agama ataukah panggung hiburan semata.
Kembali, ummat tidak mendapatkan jawaban ampuh atas persoalannya.
Kini, ummat melihat munculnya para motivator yang memberikan mereka solusi praktis terhadap persoalan hidup nyata mereka.
Akan tetapi beberapa motivator melihat keadaan itu sebagai peluang bisnis. Mereka sekedar memanjakan “kemanjaan” ummat untuk dipuaskan. Ada yang menyelenggarakan acaranya di hotel-hotel mewah, sehingga tak semua orang mampu menghadirinya. Di tempat mewah itu, ummat dibiarkan larut dalam emosinya dan menangis sejadi-jadinya.
Tangis para eksekutif itu jelas mahal, karena untuk mengeluarkan air mata kesedihan atau keharuan mereka harus membayar mahal, selain itu mungkin mereka pun jarang menangis karena dorongan rasional atau logika terlalu besar sehingga menepiskan sisi otak kanan yang mengelola emosi. Tangis mereka pun lalu mahal.
Di antara para motivator itu adalah seniman kata-kata yang pandai mengakrobatkan kalimat-kalimat sehingga maknanya bias, bahkan lolos tidak terpegang hadirinnya.
Acara mereka dijual dengan berbagai nama aneh-aneh dan asing didengar sebagai bagian dari strategi pemasarannya. Mereka pengusaha pikiran dan bathin dengan dagangan kata-kata itu tadi.
Dari sekian banyak itu, ada sekian pula jumlahnya yang benar-benar melayani “ummat”nya dengan kalimat terpilih mendukung nas-nya. Kalimat mereka bukan melilit-lilit sulit dimengerti, tapi memiliki kedalaman makna. Kualitas mereka ada dalam kalimat itu.
Dengan segala rupa teknik itu mereka mampu melayani ummat yang kehilangan arah. Sebenarnya – kalau boleh berterus-terang – apa yang disampaikan itu substansinya sama seperti ajaran agama-agama. Teknik penyampaiannya berbeda, demikian halus sehingga dapat diterima oleh penganut agama apa pun juga, dari bangsa apa pun juga, dari suku mana pun juga. Tak ada ancaman dosa dan pahala atas darmanya, tapi bagaimana caranya mengatasi masalah praktikal manusia.
Dalam salah satu episodanya, Mario Teguh mengaku bahwa apa yang disampaikannya sebetulnya ada dalam agama. Ada dalam firman-firman Tuhan. Akan tetapi ia menyampaikannya dengan teknik sedemikian rupa sehingga dapat diterima ummat mana pun juga.
Tidak mengherankan, sejak Mario Teguh memulai acaranya di O-Channel TV Jakarta beberapa tahun lalu, maka berkembang hingga kini memiliki acara di Metro-TV yang disiarkan ke seluruh penjuru dunia lewat internet, atau pun parabola.
Apakah peran ulama agama-agama tertepikan? Tentu tidak. Mereka memiliki otoritas khusus yang cukup tinggi, karena mereka menguasai ilmu agama-agama yang menjadi sumber segala jawaban masalah dunia akhirat.
Ulama yang tidak tanggap terhadap perkembangan jaman dan tidak piawai dalam menyampaikan dakwahnya, akan kian jarang didengar.

Senyuuum dikiit - 10

thumbnail
Lima seniman meninggal?

Seorang seniman meninggal dunia dalam keadaan melarat sekali, sehingga keluarganya sulit untuk memakamkannya.
Beberapa orang temannya mencoba mengumpulkan dana, tapi tidak juga mencukupi. Mereka menemui seseorang kaya yang tertarik mendengar ada seniman meninggal dunia dalam kemelaratan.
Pengusaha : Berapa dana yang Anda perlukan?
Murid : Lima juta rupiah.
Pengusaha : Baik saya serahkan 25 juta rupiah, silakan makamkan empat seniman lagi.