Percaya Tidak?

thumbnail
Ini bukan iklan sponsor. Kejadiannya berlangsung di kota kecil di Jawa Timur, Ponorogo. Di suatu hari di bulan November 2011 lalu kota ini dilanda hujan angin. Wilayah yang paling rusak kena amukan angin itu adalah di sekitar jembatan Sekayu, di tepi barat kota. Banyak bangunan yang rusak parah. Satu-satunya yang utuh adalah satu gudang, di timur jembatan. Tahukah Anda gudang apakah itu? Gudang penyimpanan jamu Kuku Bima! Rosa! (Jw, kuat) mungkin begitu teriak Mbah Maridjan kalau masih hidup.

Orang Skotlandia

thumbnail
Dasar Skot
• Dua orang Skotlandia bertemu setelah merantau meninggalkan kota Edinburgh 25 tahun lalu. “Ayo masuk ke pub minum-minum seperti dulu lagi,” kata seorang di antaranya. “Baik, dan jangan lupa, kamu yang bayar.”
• Seorang pemain musik dari dusun mengira, buku the Guinness Book of Records adalah sebuah piringan long play (LP) pengiring orang minum whisky!
Dasar Kepala Batu
• Seorang nenek bertanya kepada pemain piano, “Kenapa kamu selalu memainkan lagu yang sama”. “Lagu itu mengiang di dalam kepalaku.” “Itu karena kamu kepala batu, sampai lagu itu tak bisa keluar dari dalamnya,” jawab si nenek sambil berlalu.

Gizi dari Hutan Jati

Gizi dari Hutan Jati
 
Boros
 Boros tapi dicariLirih yang mempesona
            Awal musim hujan sekarang ini di daerah hutan jati di Kec. Saradan, Madiun, membawa berkah berganda-ganda bagi penduduk sekitarnya.
            Secara serentak, di lantai hutan itu bertumbuhan tunas-tunas tanaman sayuran, bumbu dan jejamuan (empon-empon, Jw) seperti kunyit, jahe, temu kunci, lempuyang, lengkuas, dan sebagainya, bersamaan dengan munculnya daun jati muda yang berwarna hijau terang.

Suplemen bergizi tinggi
Telur kupu-kupu jati yang ditinggalkan di musim lalu lantas menetas menjadi ulat. Ulat jati ini segera menyantap daun-daun jati muda lantas lekas membungkus diri menjadi kepompong (enthung). Pada saat demikian itu, penduduk sekitarnya memanen enthung jati tersebut untuk dijadikan bahan lauk-pauk dengan cara digoreng atau dimasak lainnya. Pada tahap berikutnya ketika daun-daun jati sudah tumbuh subur, giliran belalang jati yang menyerbu menikmati daun segar itu.

Mengenang Alexander Hutagalung

Mengenang Alexander Hutagalung










Legenda suntikan Mbah Galung, "mantri suntik" Ponorogo asal Sibolga

Oleh Adji Subela
Keluarga besar Mbah Galung dengan 10 anaknya. Paling kiri keponakannya
Orang Ponorogo yang berusia di atas 45 tahun umumnya kenal siapa Mbah Galung. Tokoh ini sangat populer sebagai mantri kesehatan di Kota Reog sejak jaman Jepang. Dia dikenal sebagai orang yang murah hati, penyabar, dan bersungguh-sungguh dalam menjalankan tugasnya. Jiwa sosialnya sangat tinggi sehingga dia dicintai orang-orang dari strata sosial bagian bawah.
Mbah Galung ini nama aslinya adalah Alexander Hutagalung, lahir di Sibolga, Sumut, tahun 1912. Ia menjadi orang Batak pertama – yang diketahui – yang datang dan menetap di Ponorogo, Jatim, dan beranak-pinak hingga sekarang di Kota Reog itu. Setelah perang kemerdekaan, baru menyusul keluarga Sitompul, pimpinan Bank Koperasi Tani dan Nelayan (BKTN). Salah seorang putranya adalah aktor watak Maruli Sitompul yang kini sudah almarhum. Seorang putranya yang lain adalah perwira tinggi kepolisian. Keluarga ini masih ada hubungan keluarga dengan Alexander Hutagalung dari garis ibu. Berikutnya keluarga Panggabean, Manurung dan Siahaan. Kedua orang yang terakhir ini dikabarkan pulang ke tanah leluhurnya di Sumut, akan tetapi ada anaknya yang menetap.

 Merantau ke Jatim sejak remaja cilik
Alexander Hutagalung sudah merantau ke Surabaya sejak klas satu sekolah menengah kesehatan di jaman kolonial. Di sana ia bertemu dan bersahabat dengan teman sekolahnya, gadis asal Wonorejo, Malang Selatan, yaitu Satiyem Legiman (lahir 1911). Keduanya menikah lantas “dibenum” (ditugaskan) ke daerah Ponorogo hanya beberapa saat sebelum Jepang masuk Indonesia.

Mangga, Nangka, di desa-desa di Madiun

Mangga, Nangka, di desa-desa di Madiun


Pohon mangga berderet di jalan di Desa Jatirejo, Kec. Wonoasri.

Buah nangka bergelantungan di pohonnya di tepi jalan di Kecamatan Caruban

Berkat visi Bupati yang berorientasi pada
ekonomi rakyat kecil dan lingkungan hidup



            Perjalanan ke desa-desa di Kabupaten Madiun, Jatim, terasa lebih menyenangkan ketika menyaksikan buah-buahan dan bunga-bungaan bergelantungan di sepanjang jalan.
            Ini berkat jasa Bupati Kab. Madiun Ir. Kadiono (1988-1998) yang memiliki visi ke depan kuat dan rasa cinta pada warganya yang tinggi. Dengan pola wajib tanam buah-buahan unggulan di tiap-tiap pekarangan rumah serta di lahan kritis, ia telah mewarisi warga Madiun modal untuk ekonomi keluarga mereka hingga kini. Beberapa tanaman lain seperti mahoni dan asam Jawa juga digalakkan.
            Berkat produksi nangka yang berlebih, warga Desa Kedondong, Kecamatan Kebonsari berinisiatif mengolahnya menjadi kripik nangka yang mendongkrak ekonomi desa dengan industri rumahannya.
            Mangga manalagi dan gadung produksi Madiun menembus pasar luar daerah walaupun masih dengan cap “mangga Probolinggo”.  
            Buah yang paling banyak ditemui di desa-desa Madiun memang mangga – yang kini sudah lewat musimnya – kemudian nangka genjah yang hampir tak kenal musim. Bunga kenanga ditanam di sepanjang jalan desa berselingan dengan buah-buahan tadi dan menjadi penghasilan tambahan penduduk.

Rahasia Hidup Muda di Usia Tua

thumbnail
Oleh Adji Subela
Untuk orang yang memasuki usia 60 tahun, ada semacam syok terhadap perubahan fisik dan mentalnya. Rata-rata mereka sadar akan perbedaan itu, namun banyak yang tidak bisa berbuat apa-apa, sebab tak tahu arah hidupnya selanjutnya. Ada yang sudah merasa tua sekali ada yang tidak. Alangkah sayangnya bila di sisa usia itu kita sia-siakan tenaga hidup yang sesungguhnya dapat kita jadikan nyala api semangat menikmati hidup dan kehidupan.
Di awal Abad Ke-XX lalu, ada seorang pria yang menulis essai di sebuah penerbitan di Amerika Serikat. Kedua-dua pihak sama-sama tidak terkenal. Pria itu bernama Samuel Ullman. Akan tetapi tulisan itu kemudian menjadi amat kondang di masa itu dan mungkin juga di masa sekarang.
Jenderal Douglas MrArthur si penakluk Jepang di Pasifik, menyimpan tulisan itu dalam bingkai khusus. Ketika ia tiba di Jepang dan bermarkas di sana beberapa waktu, satu ringkasan artikel Samuel Ullman dipasang di bawah kaca mejanya.
Rupanya, orang-orang Jepang mengetik ulang ringkasan itu dan menyimpannya di dalam dompet. Sampai tahun 1991 tulisan itu menjadi semacam “azimat” bagi sejumlah eksekutif kondang Negeri Sakura, seperti Kokichi Hagiwara, CEO berusia 67 tahun dari perusahaan besi patungan AS-Jepang, di Pittsburgh.
“Tulisan itu menyentuh hati saya yang paling dalam. Antusiasme seperti ini tak boleh musnah. Kita harus memiliki semangat muda untuk mengadakan perubahan,” ujarnya kepada Margaret Mason, kolumnis koran The Washington Post, 17 September 1990. Banyak orang Jepang terkenal berpendapat serupa.
“Karya Samuel Ullman itu menjadi semacam bayam bagi Popeye,” kata Tatsuro Ishida, Deputy Chairman dari Fujinkei Communications Group. Malahan pendiri perusahaan raksasa Jepang, Matsushita, yaitu Konosuke Matsushita, mengaku menjadikan tulisan Samuel Ullman sebagai pedoman hidupnya selama 20 tahun lebih.
“Kenapa orang Amerika Serikat tidak menyukai essai karya Samuel Ullman seperti kami?” tanya seorang pengagum dari Jepang, “padahal itu (tulisan, pen) mengandung pesan tentang bagaimana kita hidup dengan indah baik pria maupun perempuan, tua maupun muda.”
Jadi apa sebetulnya yang ditulis Samuel Ullman yang menginspirasi begitu banyak orang Jepang dan barangkali yang membuat negerinya melesat maju?
Di bawah ini adalah versi ringkasan tulisan Samuel Ullman yang diambil dari Majalah Reader’s Digest Maret 1991, dan diterjemahkan bebas:
MASA MUDA
• Masa muda bukanlah satu penggalan waktu tertentu dalam hidup; akan tetapi keadaan pikiran kita sendiri; bukan mengenai pipi kejingga-jinggaan, bibir merah dan tungkai yang lembut gemulai; tapi mengenai masalah kemauan, kualitas imajinasi, kekuatan emosi; dan kesegaran dari sumber hidup yang paling dalam.
• Masa muda berarti satu penguasaan sifat berani terhadap rasa takut-takut dan malu-malu terhadap selera; petualangan, serta pada kecintaan akan hidup senang. Ini kebanyakan terdapat pada orang yang berusia 60 tahun atau lebih dibanding para remaja berusia 20 tahun.
• Tak ada seseorang pun yang menjadi tua semata-mata karena jumlah usianya. Kita menjadi tua akibat semakin mengering dan menyusutnya cita-cita atau idaman kita.
• Waktu mungkin telah membuat kulit kita keriput, akan tetapi mengabaikan antusiasme, itulah yang akan membikin jiwa kita keriput. Kekhawatiran, ketakutan, tidak percaya diri, akan melemahkan hati dan mengubah semangat balik kembali menjadi debu.
• Tidak peduli apakah orang berusia 60 atau 16 tahun, maka dalam jiwa tiap manusia ada daya tarik keajaiban, suatu semangat seperti anak kecil yang ingin tahu apa yang akan terjadi berikutnya, dan kegembiraan serta keceriaan dalam menikmati permainan hidup.
• Dalam lubuk hati Anda yang paling dalam dan yang juga ada pada saya, terdapat stasiun pemancar, yang selalu menerima pesan-pesan keindahan, harapan, keceriaan, keberanian, kekuatan manusia, dan juga kekuatan dari Yang Maha Kuasa, yagn terjadi selama Anda masih berjiwa muda.
• Pada saat antena Anda lunglai, tumbang, dan semangat Anda diselimuti salju sinisme, maka Anda akan menjadi tua walaupun masih berusia 20 tahun.
• Akan tetapi selama antena Anda tegak menjulang guna menangkap gelombang optimisme, maka akan ada harapan Anda mati muda pada usia 80 tahun.
Salah seorang cucu Samuel Ullman, Jonas Rosenfield, Jr., Kepala Pemasaran Film Amerika, menyatakan keheranan sekaligus kebanggaannya atas antusiasme orang Jepang terhadap karya kakeknya itu.
Siapa Samuel Ullman?
Pria bernama Samuel Ullman ini lahir pada 1840 di Jerman dan sejak masa kecil pindah ke Amerika Serikat. Dia ikut perang saudara dan kemudian tinggal di Birmingham, Alabama. Dia kemudian menjadi pedagang kelontong, dan berjiwa sosial. Sampai tahun 1990 almarhum menerima 36.000 dolar AS dari Jepang sebagai royalti atas buku dan kasetnya, kesemuanya disumbangkan untuk bea-siswa di Universitas Birmingham.
Anda ingin tahu pada usia berapa dia menulis essai itu? Pada usia 70 tahun!

Tak Semua Anak Presiden Berhasil

Tak Semua Anak Presiden Berhasil


 Resensi Buku

Oleh Adji Subela

Judul                            : All the Presidents’ Children
                                      Triumph and tragedy in the lives of America’s first families
Penulis                          : Doug Wead
Penerbit                        :  Atria Books (New York, London, Toronto, Sydney)
Jumlah halaman : 456 halaman
Ukuran buku                : 15,5 cm x 23,5 cm

            Ketika George W. Bush dilantik sebagai Presiden Amerika Serikat ke 43 pada 20 Januari 2001, ia menjadi anak sulung Presiden AS kedua yang mengikuti jejak ayahnya masuk ke Gedung Putih, setelah John Quincy Adams, 176 tahun sebelumnya. Pada 1825  John Quincy Adams dilantik dan menjadi Presiden AS ke-6 yang cukup terkenal dan pria berpengaruh a.l. ikut merumuskan Monroe Doctrine.
            Buku karya Doug Wead ini memang bertutur tentang aneka ragam polah tingkah serta prestasi maupun keculasan para anak Presiden negara adidaya Amerika Serikat. Buku ini dipesan oleh George W. Bush tahun 1988 untuk mengupas perjalanan hidup para anak Presiden AS, sebab ia mulai terganggu dengan aneka macam kisah hidup mereka. Ternyata buku ini dapat diselesaikan setelah anak Presiden George Bush itu terpilih sebagai Presiden AS.
            Bagaimanapun buku ini dapat dipakai sebagai cermin Benggala bagi kita untuk mengamati para anak orang-orang nomer satu di negerinya.

Anak Presiden, jenderal pemberani dalam perang
            Theodore Roosevelt, Junior, anak Presiden Theodore Roosevelt yang terkenal dengan julukan Teddy itu, juga terkenal memiliki kemampuan tinggi dan digadang-gadang orang menjadi Presiden juga seperti ayahandanya. Ia diakui sebagai seorang yang hebat dan pahlawan perang, prajurit andal. Beberapa kali ia terluka dalam PD I dan menjadi salah seorang prajurit yang mendarat pertama di Afrika Utara dalam PD II. Ia membunuh tentara Jerman dalam pertarungan satu lawan satu.

"Jenderal Sembako" Pimpin Perang

"Jenderal Sembako" Pimpin Perang

 “Jenderal Sembako” Pimpin Perang? Ya Kalah

Oleh Adji Subela

Judul                            : Perang NapolĂ©on di Jawa 1811
                                      Kekalahan Memalukan Gubernur Jenderal Janssens
Penulis                          : Jean Rocher
Pengantar                     : Asvi Warman Adam
Penerjemah                  : Rahayu Surtiati Hidayat
Penerbit                        Penerbit                      : Buku Kompas, PT Kompas Media               Nusantara bekerja sama    dengan Forum Jakarta-Paris
                                      Jakarta, Agustus 2011
Jumlah halaman : xxiii + 280
Ukuran buku                : 14 cm x 21 cm
Jan Willem Janssens
            Jenderal yang sepanjang karirnya berkutat di bidang administrasi dan logistik, tentu gamang memimpin pasukan perang. Tapi karena ia tukang intrik dan penjilat pantat Napopelon nomer satu (Hlm.29), pandai menyusun laporan dan pintar menggelembungkan imej dirinya, maka kekalahan atas Inggris di Tanjung Harapan dan penyerahannya dibalik menjadi laporan menawan dengan menutupi dan menyamarkannya. Hasilnya? Dia justru diangkat sebagai Menteri Peperangan Kerajaan Belanda 7 Desember 1807 (Hlm. 16).




Bikin Pusing

thumbnail
 Bikin Pusing 1
Dua orang maling memasuki kamar penyimpanan uang. Seorang di antaranya menghampiri lemari besi lalu menyopot sepatu dan kaos kakinya lantas memutar-mutar tombol kunci kode dengan kaki telanjangnya.
Maling 1: Cepat, putar nomernya lalu buka lemari besinya jangan main-main.
Maling 2: Ssttt, jangan berisik, aku mau bikin pusing polisi biar bingung nanti mencocokkan sidik jarinya.... Bikin Pusing 2
Seorang pria diadili karena memukul seorang perempuan di bis kota. Hakim bertanya apa sebabnya.
Terdakwa: Begini Pak Hakim. Perempuan itu duduk di samping saya di bis. Tak lama kemudian dia membuka tasnya, mengambil kotak bedak, berdandan, lalu menutup kotaknya dan dimasukkan ke tasnya kembali. Tak lama kemudian dia membuka tasnya mengambil kotak bedak, berdandan, lalu menutup kotaknya, memasukkannya kembali ke dalam tas. Dia membuka tasnya lagi, mengeluarkan kotak bedak, berdandan, lalu memasukkan kotak bedaknya ke dalam tas. Ia membuka tasnya lagi, mengeluarkan kotak bedaknya, berdandan, lalu memasukkan kotak bedaknya ke dalam tas....
Hakim: Stop, stop. Anda membikin pusing saya saja.
Terdakwa: Saya juga Pak, itulah sebabnya saya pukul dia!

Keturunan Bintang Hollywood

thumbnail
Keturunan Bintang-bintang Film Hollywood
• Ibu aktor Billy Bob Thornton adalah seorang paranormal. Ia pernah meramal bahwa anaknya akan bermain dengan aktor ganteng Burt Reynolds. Ramalan terbukti, Bob main bersama Burt dalam film Evening Shade.
• Sedangkan kakak aktor Dan Aykroid, yaitu Peter, adalah peneliti masalah paranormal.
• Aktor Casper van Dien (Blade) adalah anak laki-laki kesebelas dalam keluarganya yang diberi nama kecil Casper.
• Ayah Swoozie Kurtz adalah pilot pesawat tempur Swoose (separuh angsa separuh entog) dalam Perang Dunia II.

Menguak Sejarah Kupang

Menguak Sejarah Kupang
Timor Kupang : Dahulu dan sekarang
Resensi Buku
Oleh Adji Subela

Judul                            : Timor Kupang Dahulu dan Sekarang
Penulis                          : Andre Z. Soh dan Maria N.D.K. Indrayana
Editor                           : Nirwanto Ki S. Hendrowinoto dan Harlina Indijati
Penerbit                        : Kelopak (Kelompok Penggerak Aktivitas Kebudayaan)
                                      Jakarta, 2008
Jumlah halaman              : xviii + 229
Ukuran buku                 : 15,3 cm x 22,5 cm
Kertas     : HVS 80 gram

Upaya Andre Z. Soh, dosen kelahiran Waingapu, Sumba, NTT, dan putrinya, Maria N.D.K. Indrayana, guna menulis sejarah kota Kupang patut dipuji. Buku mengenai sejarah kota di Pulau Timor belahan barat ini amat jarang. Padahal Kupang sudah dikenal orang sejak berabad-abad lampau.

Mbah Misdi dari Mbarong ke Pengrajin Reog Ponorogo

Mbah Misdi dari Mbarong ke Pengrajin Reog Ponorogo
Pernah menjalani ritual “magis”
 Membuat reog di AS
Reognya “diboikot” di AS

Oleh Adji Subela

Mbah Misdi di depan barongan
            Nama Mbah Misdi (85 th) nampaknya tak asing bagi masyarakat penggemar atau pemerhati Reog di Ponorogo, Jatim, terutama para siswa/siswi SMU atau SLTP. Pria yang lugu, ramah, tapi kukuh dalam berpendirian ini sering menjadi narasumber mereka mengenai sejarah maupun lika-liku pereogan di Ponorogo.
            Ia berasal dari Desa Kauman, tapi karena perkawinan, ia pindah ke Desa Purbosuman sampai sekarang.
            Mengamati Mbah Misdi, maka kita akan dapat melihat model orang Ponorogo pada umumnya. Rendah hati, ramah, kukuh dalam pendirian, tapi tidak mau diganggu apalagi difitnah. Umumnya difitnah merupakan pantangan besar bagi rata-rata orang Ponorogo asli.
            Sosok tubuhnya menurut istilah Jawa sedepah, tidak terlalu tinggi tapi kekar, kukuh. Lehernya nampak besar dan kuat, sebagai salah satu ciri tukang mbarong pada umumnya.

  • Mereog sejak awal kemerdekaan
            Di masa remajanya, di awal kemerdekaan, Mbah Misdi sudah terlibat kegiatan reog karena tertarik dengan kesenian asli Ponorogo tersebut. Dari tari jathilan, bujang ganong, tukang kendang, tukang slompret dan lain-lainnya ia coba semua.

Nama Asli Bintang Hollywood

thumbnail
Nama asli sejumlah bintang Hollywood • Nicolas Cage aslinya bernama Nicholas Coppola • Penyanyi Sting aslinya bernama Gordon Summer • Bintang kungfu Bruce Lee aslinya bernama Lee Yuen Kam • Penyanyi Elton John yang ikut hadir dalam pernikahan Pangeran William dan Kate Middleton belum lama ini adalah Reginald Dwight • Woody Allen, bintang dan sutradara film-film komedi bernama asli Allen Konigsberg • Madonna penyanyi sexy itu nama aslinya Madonna Louise Ciccone

Zaidin Wahab, Sastrawan Betawi yang Terlupakan

Zaidin Wahab, Sastrawan Betawi yang Terlupakan



In Memoriam
- Sastrawan Betawi “Pinggiran” yang Produktif

Oleh Adji Subela

            Saya terperanjat dan sedih mendengar Pak Zaidin – begitu kami wartawan Harian Terbit ketika itu memanggilnya – tergolek sakit di rumahnya yang sederhana di bilangan Utan Kayu, Jakarta Pusat.
            Bung Nuraliem Halvaima mempostingkan foto itu ke status saya di facebook. Ia nampak ditemani rekan kami, salah seorang wartawan harian tersebut. Sudah lama saya tak bersilaturahmi ke rumahnya. Biasanya setiap Lebaran saya datang. Lalu jadi tekat saya untuk datang kepadanya Lebaran tahun ini. Malahan ketika beliau sakit, saya pun tak dapat datang karena juga tergeletak sakit. Ingin sekali bertemu beliau. Tapi terlambat. Beliau berpulang 23 September 2011 dalam usia 75 tahun, di rumahnya di Jl Sirsak No.16 Rt 02/Rw 10, Utan Kayu Utara, Matraman, Jaktim. Innalillahi wainaillaihi rojiun, semoga Allah SWT menerima segala amalnya, mengampuni dosa dan kesalahannya, dan menempatkannya di sisiNya. Amien ya robbalamien.
            Ketika saya masih muda, di tahun 78-an, saya, almarhum, dan Pak Soebekti suka jogging pada hari Minggu pagi. Ketika sudah “menua” dan ditelan kesibukan masing-masing, kegiatan itu terhenti.

“Si Jampang” kelahiran Lampung
            Almarhum terkenal dengan cerita si Jampang, yang pernah difilmkan oleh PFN dan perusahaan film swasta lain. Cerita rakyat Betawi ini ia ceritakan kembali dengan gayanya sendiri, tapi tetap dalam frame kultur Betawi yang kocak. Rasa Betawi cerita Pak Zaidin amat lumer, hidup, dan dinamis seolah kita diajak kembali ke masa di mana para jawara masih berkuasa, melawan Tuan Tanah, Kumpeni, atau Babah yang suka memeras rakyat kecil.

Kongres Pelacur se Dunia (Bag.9-Selesai)

Kongres Pelacur se Dunia (Bag.9-Selesai)



Siapa Pelacur Sesungguhnya?


Oleh Adji Subela

Novelis, feminis,asal Mesir, Nawal El Saadawi: "Pelacur itu hanya korban"

Selama beberapa waktu pembaca sekalian saya suguhi apa-apa saja yang terjadi selama Kongres Pelacur se Dunia II di Brussels, Belgia. Semoga artikel ini menghasilkan manfaat bagi Anda sekalian dan saya mengucapkan terimakasih kepada para pembaca yagn setia mengikutinya.
Pelacuran disebut sebagai sebuah profesi tertua di dunia, akan tetapi “penyakit” ini tentu tak boleh dibiarkan. Berbagai usaha dilakukan sepanjang waktu untuk memberesi, dan selalu gagal. Faktor utamanya ibarat berjual-beli, permintaan atas jasa seksual ini (demand) masih tinggi sehingga perlu supply.

My Encounter with Marcel Marceau, the Maestro of Mime

My Encounter with Marcel Marceau, the Maestro of Mime



A picture given by the late Marcel Marceau in 1988.



By Adji Subela

            I was so sad when I failed to upload this article last September due to technical problem. It was five years after the dead of the world’s famous mime Maestro, a French actor, Marcel Marceau.
            He deserves my tribute that since at the Junior High School I always enjoy his short play on TV ads. I was so amazed witnessing his tender and smooth body movement and imagining he was me.
            Marcel Marceau was of course my ‘hero’ since then. Any movement in the ads had never lost from my skull, but I failed to imitate any tiny part of it.
            Thanks God. At the end of May 1988, Marcel Marceau and his entourage visited Indonesia for three days. A year earlier I suggest my friend, Mrs Wiwik, a local staff of the Jakarta branch of the Centre Culturel Francais (CCF), the French Cultural Center, to invite the Maestro to visit Indonesia. In a discussion with our journalist colleagues, this would encourage our youngsters to engage the art of mime.

Anak-anak bintang Hollywood

thumbnail
• Aktris sexy masa lalu Pamela Anderson Lee (Baywatch, VIP), lebih suka melahirkan dua anaknya di rumah di tangan bidan. • Seorang anak Pamela, Dylan Jagger, diberi nama menurut dua penyanyi. pujaannya. Jadi bukan anak salah satu atau kedua penyanyi pop itu! • Aktor Mel Gibson punya 7 (tujuh) anak. • Almarhum aktor Marlon Brando juga punya 7 (tujuh) anak. • Aktris Mia Farrow, mantan isteri sutradara Woody Allen, punya 14 anak. Sepuluh di antaranya hasil adopsi. Soerang di antaranya dipacari Woody Allen sendiri!

Riwayat Trem di Jakarta Tempo Doeloe

Riwayat Trem di Jakarta Tempo Doeloe

Kepala Balai Konservasi Drs. Chandrian dan potongan rel trem

Foto bekas gedung stasiun Jakarta Kota lama, lihat gambar-gambar simbol stasiun tujuan di atas jendela itu. Dua orang di gambar dari kiri, Ir. Indro Kusumowardono dan Adji Damais, dua orang pelaksana pemugaran Jakarta Lama tahun 1972 hingga 1974.
Oleh Adji Subela

            Perusahaan Kereta Api, PT KAI, pernah mengadakan razia terhadap penumpang yang naik ke atap gerbong. Tentu saja atap gerbong bukan tempat penumpang, sebab sangat berbahaya, berhubung dekat dengan kabel bermuatan listrik ribuan volt. Sudah banyak orang yang melayang nyawanya baik kesetrum maupun jatuh. Akan tetapi penumpang nekad naik ke atap pada jam-jam sibuk sebab jumlah gerbong keretanya sendiri kurang.
            Menurut Corporate Secretary PT KRL Commuter Jabodetabek (PT KCJ) Makmur Syaheran, tiap tahun kenaikan penumpang KRL se Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi mencapai 15 hingga 20%(Media Indonesia 19/5/11). Pemerintah minta PT KCJ mampu mengangkut 1,9 juta penumpang tiap hari hingga pada tahun 2019. Untuk itu diperlukan 1.440 gerbong tambahan, plus minimal 500 megawatt tenaga listrik. Sekarang ini PT KCJ hanya memiliki 386 gerbong layak pakai 60 sudah tua. Di samping itu guna mengimbangi frekuensi lalulintas rangkaian KA, perlu ada penambahan terowongan dan jalan layang guna memperlancar jalannya KA maupun pengguna angkutan darat lainnya.

Riwayat panjang trem di Jakarta
  • Di tahun 60-an kereta listrik yang kita kenal sekarang ini disebut trem dan beroperasi terutama di dalam kota Jakarta saja. Pada awalnya seseorang bernama J. Babut de Mares tanggal 15 Desember 1860 mengajukan gagasan kepada pemerintah Belanda untuk membangun jaringan trem di kota Batavia atau Jakarta sekarang.

Mitos-mitos Pria yang Ternyata Salah

Mitos-mitos Pria yang Ternyata Salah
Seorang PSK berdialog dengan Satpam gedung Parlemen Eropa.
Kongres Pelacur se Dunia (Bagian 8)

(Benar-benar hanya untuk orang dewasa)
Oleh Adji Subela
      Pada pernyataan akhir Kongres Pelacur se Dunia II 1986 di Brusels, Belgia, itu, ICPR menyesalkan gerakan perempuan di hampir semua negara belum atau tidak pernah menyertakan pelacur sebagaiorang yang dapat dimintai pendapat dan diberi kesempatan untuk berbicara. Sampai saat ini (1986) ICPR melihat gerakan-gerakan perempuan menentang institusi pelacuran, sementara mereka mendukung perempuan pelacur. Sungguh diperlukan keluasan wawasan untuk dapat memahami, apalagi menyetujui pendapat seperti itu.
     Hal itu menurut ICPR karena gerakan perempuan tidak mau menerima pelacuran sebagai perempuan pekerja resmi dan selalu menekan pelacur untuk meninggalkan profesinya itu. Pelacur adalah obyek penindasan. Sekali lagi diperlukan kedewasaan untuk dapat mengerti isi tuntutan tersebut. Bagi kita, orang Indonesia yang memiliki sifat “adiluhung”, mulia, berketuhanan, memiliki tingkat budaya luhur/tinggi, berpancasila, maka tuntutan tersebut dapat saya katakan di luar akal. Masyarakat Indonesia menganggap pelacuran suatu perbuatan dosa yang dilarang agama, dan mengotori peradaban. Namun demikian lainprinsip lain praktiknya. Menurut penelitian Organisasi Buruh Internasional, ILO, sektor pelacuran memiliki putaran ekonomi yang besar (baca di seri berikutnya). (baca selengkapnya karena ada rahasia pria yang terungkap)

Kisah Hidup Bintang

thumbnail
• Aktor Inggris yang pernah memerankan James Bond, Pierce Brosnan, punya kisah hidup pilu. Ayahnya meninggalkan ibunya ketika ia berusia setahun. Brosnan baru bertemu ayah kandungnya setelah berusia 30tahun. Maka dari itu ia menjadi ayah yang penuh perhatian kepada anak-anaknya. • Mantan pemeran James Bond yang pertama, Sean Connery, terpaksa menjadi tukang cat peti mati guna menyambung hidup ketika masih sengsara. • Tahu penyanyi perempuan Cher? Mungkin remaja sekarang kurang kenal. Tapi kalau membaca kisahnya akan terkejut karena ia pernah menikah 10 kali! • Aktor sexy Brad Pitt, suami aktris Angelina Jolie, mengawali karirnya dengan didandani ayam raksasa dalam El Polo Loco, ketika pertama kali menapak karirnya di Hollywood.

Bu Yanti 11 Tahun Jadi Sopir Bis Malam

Bu Yanti 11 Tahun Jadi Sopir Bis Malam
Oleh Adji Subela


Bu Yanti sedang bertugas. Tenang, tapi tegas.
- Demi tiga putranya

            Badan pengemudi bis malam jurusan Wonogiri-Jakarta itu tegap dan suaranya mantap, tegas. Sudah 11 tahun ia menjelajahi rute itu. Tanpa lelah dan nyaris tanpa istirahat pula. Dia termasuk pengemudi yang rajin. Bahkan selama musim mudik Lebaran Iedul Fitri, di mana beban penumpang mencapai puncaknya, ia jadi andalan Perusahaan Otobis Gajah Mungkur, yang berkantor pusat di Ngadirojo, Wonogiri, Jateng.
Jangan salah, dia seorang ibu tiga putra! Bu Yanti memiliki pembawaan ceria dan bersemangat, tak pernah merasa minder dengan rekan-rekan sekerjanya yang pria.

Cerai Saja!

thumbnail




Cerai saja (1)

Seorang pria ceking dan penuh luka mengajukan gugatan cerai di pengadilan agama. Hakim bertanya apa sebabnya:
Pria      : istri saya amat berbahaya Pak. Selama 12 tahun perkawinan, kalau bertengkar dia suka melempari saya dengan piring, gelas, botol, dan lain-lainnya.
Hakim  : Kenapa baru sekarang minta cerai?
Pria      : Masalahnya dia semakin pandai memilih sasaran dan makin tepat saja Pak.

Cerai saja (2)

            Dalam sebuah sidang perceraian, pembela bertanya pada si suami, kliennya.
Pembela           : Jadi setiap malam Anda pulagn ke rumah, Anda selalu menemukan pria yang berbeda sembunyi di lemari pakaian Anda?
Suami               : Betul Pak.
Pembela           : Dan inilah yang membuat Anda tersinggung serta marah?
Suami               : Iya Pak, sebab saya kesulitan menggantungkan jas saya di dalam lemari itu.


Pelacur Thailand & Filipina Bikin Peserta Menangis

Pelacur Thailand & Filipina Bikin Peserta Menangis
Kongres Pelacur se Dunia (Bagian 7)
(Hanya untuk orang dewasa)

Gap antara pelacuran belahan Dunia Utara dan Selatan
Perang ‘mafia’ Italia

Oleh Adji Subela
Mobil kelompok feminis Italia
            Seperti saya ceritakan sebelumnya, pelacur dunia ketiga atau dunia belahan selatan, diwakili oleh pelacur asal Thailand dan Filipina.
            Pada waktu itu istilah belahan dunia selatan dan utara masih begitu populer guna merujuk kepada negara-negara industri yang kaya diwakili belahan dunia sebelah utara khatulistiwa dan negara-negara berkembang yang umumnya masih miskin dan dianggap terletak di bagian dunia sebelah selatan khatulistiwa.
            Pembaca tentu paham setelah membaca seri-seri sebelumnya, bahwa para pelacur dari dunia utara begitu liberal, radikal. Dengan “enteng” mereka menuntut segala hak-hak yang menurutnya harus dipenuhi, setelah mereka dikenai kewajiban-kewajiban seperti pajak.

            Sudah jelas pula dalam deklarasi mereka bahwa pelacuran adalah profesi yang sama terhormatnya dengan profesi-profesi lainnya, sepanjang dilakukan secara bertanggung jawab. Pekerjaan sebagai pelacur adalah pilihan sadar seseorang sehingga oleh karena itu harus dihormati. Tidak boleh ada pemaksaan, penipuan dalam menjalankan pekerjaan ini.
 
            Inilah masalahnya. Ketika wakil delegasi Thailand dan Filipina berbicara pada hari terakhir Kongres Pelacur se Dunia II di Brussel, Belgia, Oktober 1986 itu,
terungkap betapa jurang pemisah lebar antara dunia Utara dan Selatan tidak hanya pada ekonomi politik, akan tetapi juga hak-hak untuk melacur. Tak jelas apakah wakil Thailand itu berasal dari wilayah red light district Pat Pong di Bangkok yang tersohor atau dari pantai Phuket. Juga apakah wakil Filipina itu mewakili rekan-rekan mereka di Mabini, Ermita, atau Taft Avenue, Manila, yang juga terkenal sebagai daerah hiburan malam yang ramai.

Kobar Asmara di Taman Fatahillah

thumbnail

Oleh Adji Subela *)
Langit lembayung menangkupi Taman Fatahillah, Jakarta Kota, pertanda hari segera berakhir. Lampu-lampu kota mulai menyala, menghidupi malam wilayah yang sudah ratusan tahun menatah sejarah Jakarta. Taman itu kini memulai hidupnya yang baru setelah diteriki sinar matahari sehari suntuk.
Kerlap-kerlip lampu pedagang gelaran di halaman Gedung Museum Sejarah Jakarta itu seakan puluhan ekor kunang-kunang menebar menghisap sari malam untuk menghidupkan rindunya pada pasangan masing-masing.
Dan kemudian, sepasang demi sepasang muda-mudi mencecap arwah Taman Fatahillah untuk kemudian merasukkannya ke dalam sanubari mereka agar terpatri dalam hati dan menjadi tanda-mata paduan asmara dari tanah lapang yang penuh romantika sejarah.
Di lapangan Taman Fatahillah ini pernah terjadi kisah romantik yang menyayat hati antara seorang putri pejabat VOC (Kumpeni) dengan seorang prajurit muda. Gelora asmara mereka memakan tumbal kepala si prajurit dan penyiksaan si gadis di lapangan di depan gedung Museum Sejarah Jakarta yang dulu berupa Balaikota atau Stadhuis.

Bertemu Pelacur Belanda Keturunan Indonesia

Bertemu Pelacur Belanda Keturunan Indonesia

Kongres Pelacur se Dunia (Bagian 6)
(Hanya untuk orang dewasa)

Oleh Adji Subela
Peserta dari Italia berdebat dengan anggota gerakan feminis.
Norma Jean Almodovar mengaku dirinya penganut Libertarian, orang-orang yang sangat mengagungkan kebebasan pribadi sepenuhnya. Bagi saya, orang bodoh dan tidak berpengalaman dalam pergaulan dunia, terutama Barat, apa yang dialami mantan Polwan itu benar-benar mengagetkan dan berada di luar garis edar pengetahuan saya yang cupet. Beruntung saya bertemu dengan orang seperti itu sehingga menambah wawasan diri saya sendiri, dan lebih mengenal warna-warni perangai dan budaya bangsa-bangsa lain.
Hari itu adalah hari terakhir Kongres Pelacur se Dunia II. Terasa sangat istimewa bagi wartawan. Para kuli tinta bertambah banyak jumlahnya, barangkali mereka terprovokasi oleh pernyataan-pernyataan selama Kongres berlangsung. Jangankan bagi saya, yang datang dari negara dunia ketiga, belahan Selatan, bagi orang-orang Barat pun apa yang dituntut oleh para pelacur itu pun cukup mengagetkan.
Di salah satu surat kabar lokal dikutip pernyataan seorang anggota parlemen Eropa yang menyebut tuntutan-tuntutan itu berlebihan. Ia menyesalkan penyelenggaraan Kongres yang diadakan di gedung Parlemen Eropa, sehingga membuat gedung itu mirip bordil raksasa. Tapi Kongres toh jalan terus sampai hari itu, hari terakhir.
Oleh karena terakhir itulah kami para wartawan diperbolehkan masuk ke ruang sidang. Ruang ini bentuknya mirip ruang sidang gedung DPR RI kita, setengah lingkaran. Luasnya kira-kira sama dengan ruang sidang kedua, bukan ruang sidang utama yagn dipakai untuk rapat pleno DPR RI itu, yang biasanya untuk pidato pengantar keuangan oleh Presiden RI.

"Politisi = Pelacur" kata Cawagub California, AS

"Politisi = Pelacur" kata Cawagub California, AS








Kiri: Norma Jean Almodovar Kanan: dari kiri Gloria Lockheed, Norma Jean. Di latar belakang nampak poster kampanye Norma sbg Calon Wagub California, AS.

Kongres Pelacur se Dunia (Bagian 5)
- “Siapa yang dapat dibayar dengan uang dan mau berbuat apa saja itu pelacuran,” kata Calon Wagub California, AS, PSK tingkat tinggi dan mantan Polwan
(Hanya untuk orang dewasa)
Oleh Adji Subela

Seperti yang saya ceritakan sebelumnya kehadiran Norma Jean Almodovar kurang menarik perhatian. Ini karena ia berbeda dengan peserta Kongres lainnya. sikap, tindak-tanduknya, correct, dan anggun. Nampaknya inilah cara dia bersikap sebagai seorang calon Wagub California.
Tapi nampaknya bukan itu saja. Norma Jean Almodovar wajar memiliki tingkah laku seperti itu, sebab ia mengaku sendiri sebagai pelacur tingkat tinggi untuk Negara Bagian California. Bahkan ia pun sering melayani para pengusaha, politisi dari Washington pula. Sejam kencan ia menempel tarif 500 dolar AS waktu itu. Tentu saja itu jumlah yang aduhai. Kita hitung saja, seminggu dia bekerja lima hari persis seperti jam-jam kantor, dan tiap hari sekali saja “bekerja” maka setiap pekan dia mengantongi 2500 dolar AS. Lha, kalau dia bekerja dua jam sehari, maka hasilnya memang wah bahkan untuk ukuran AS sekali pun.
“Siapa saja klien Anda itu,” tanya saya.

Sate Ayam Ambal Kebumen, Mak Nyusss

Sate Ayam Ambal Kebumen, Mak Nyusss

Asalnya dari upacara adat
Oleh Adji Subela
Ada begitu banyak versi masakan sate ayam di tanah air kita. Ada gaya Madura yang populer di kalangan rakyat biasa, ada gaya semarangan, dan ada sate ayam gaya Ponorogo yang pernah populer di luar negeri, dan menjadi hidangan istana di masa Presiden Sukarno.
Tentu saja soal rasa amatlah relatif. Saya sebagai orang Ponorogo pernah menganggap sate ayam Kota Reog paling enak di dunia. Tahun 2004 ketika saya bersama teman-teman melawat ke Kota Kebumen, kepercayaan saya itu runtuh.
Di desa teman saya yaitu Ambal Wetan, kira-kira 15 km sebelah selatan kota Kebumen, saya temukan sate yang rasanya luar biasa. Saya diajak teman itu ke kedai sate Pak Kasman.
“Pesan berapa Mas,” tanya pelayannya.
“Seratus,” jawab si teman. Tentu saja saya kaget setengah mati. Di Jakarta atau di Ponorogo, orang sudah kekenyangan makan 10 tusuk, paling kalau dia sedang lapar-laparnya 15 tusuk. Sekarang pesan 100 tusuk untuk lima orang, berarti kami masing-masing kebagian 20.
“Mana mungkin?” protes saya. “Tenang saja,” jawab si teman kalem sekali.

Kongres Pelacur se Dunia (Bagian 4)

Kongres Pelacur se Dunia (Bagian 4)





-

Danny C. (kiri), Geoffrey Fish (kanan)
Berapa perempuan mampu Anda layani tiap hari?
(Hanya untuk orang dewasa)
Oleh Adji Subela
Nampaknya Konges Pelacur se Dunia II ini cukup banyak pesertanya. Margot St. James mengatakan cukup puas atas ramainya kongres, tapi ia sebetulnya menginginkan kehadiran lebih banyak lagi peserta.
Ia menyebutkan peserta semuanya berjumlah 150 orang, di mana 70% di antaranya adalah pelacur aktif, “pensiunan”, germo, pengamat sosial, pekerja medis dan aktivis. Semula Margot mengundang delegasi dari 25 negara, tapi yang dapat hadir hanya dari 18 negara saja dengan berbagai alasan, antara lain takut ditangkap polisi, takut diketahui saudara dan kenalannya, takut pada germo mereka, dll.
Delegasi asal Jerman paling banyak yaitu 30 orang, disusul Belanda sejumlah 15 orang.
Sehabis mengumumkan jumlah peserta, Margot langsung dihujani pertanyaan dari para wartawan yang bertambah banyak saja petang itu.

Kongres Pelacur se Dunia (Bagian 3)

Kongres Pelacur se Dunia (Bagian 3)

Violetta, Belanda


- Menjadi pelacur
karena pilihan sadar
(Hanya untuk orang dewasa) Miriam asal Lebanon
Oleh Adji Subela
Satu tuntutan yang mengejutkan para orang Indonesia seperti saya yaitu bahwa mereka, para pelacur itu, minta agar mereka dapat menyediakan pelayanan pada kondisi yang sepenuhnya ditentukan oleh mereka sendiri, dan bukan oleh siapa pun juga. Sebagai orang-orang yang menganut kebebasan, maka tuntutan itu wajar sekali mengingat mereka menjadi pelacur atas pilihannya sendiri, dan menganggap pekerjaan itu sama terhormatnya seperti pekerjaan lainnya.
Itu belum apa-apa, mereka ini minta agar ada satu komisi khusus untuk menjamin perlindungan hak-hak pelacur, dan dapat menampung gugatan-gugatan dari anggota mereka. Entah kenapa mereka tidak mengusulkan ICPR menjadi Komisi Hak-hak Pelacur se Dunia.
“Komisi ini harus terdiri dari para pelacur dan profesi lainnya seperti pengacara, medis, serta para pendukung hak-hak pelacur,” demikian yang tertulis pada pernyataan pers.
Komisi Hak-hak Pelacur di Indonesia?

Dasar.....

thumbnail
Tiga orang serdadu dijatuhi hukuman masing-masing 50 kali cambukan di punggung. Komandannya mengatakan mereka boleh mengolesi punggungnya dengan minyak zaitun atau balsem sebelum hukuman dilaksanakan.
“Saya minta punggung saya diolesi minyak zaitun,” kata serdadu yang berdarah Inggris.
“Huh, saya tidak seperti si Inggris itu, saya tidak pakai apa-apa di punggung karena saya orang kuat, tangguh,” kata orang berdarah Irlandia.
“Permintaan kamu apa buat punggungmu sebelum dicambuk?” tanya komandan kepada serdadu berdarah Yahudi.
“Tolong pasang orang Irlandia itu di punggung saya.”
*****
Seorang Inggris, seorang Australia, dan seorang Skotlandia diundang ke sebuah pesta. Orang Inggris menenggak enam botol Guiness, orang Australia enam kaleng bir, sedangkan orang Skotlandia menenggak milik teman-temannya itu.

Kongres Pelacur se Dunia (Bagian 1)

Kongres Pelacur se Dunia (Bagian 1)

Gambar kanan: Saya dipotret teman wartawan Le Provencal, Marseille, Prancis, di depan gedung Parlemen Eropa, Rue Belliard, Brussel, Belgia.


- “Tolong ceritakan pada saya....”

(Hanya untuk orang dewasa)

Tulisan ini bersifat laporan jurnalistik. Isinya bukan berupa pendapat pribadi dan tidak menggambarkan persetujuan penulis, tapi laporan sesuai apa yang dilihat, dan didapatkan keterangan lainnya mengenai materi kongres, sesuai perannya sebagai reporter. Kalau di sana-sini ada terselip pandangan pribadi, tidak menunjukkan persetujuannya, dukungan atau penolakannya terhadap materi liputan.

Oleh Adji Subela

Saya girang sekali menemui bulan Oktober 2011 ini. Ada keinginan untuk merayakan satu karya ‘masterpiece’ yang pernah saya buat tepat 25 tahun lalu. Satu ‘mahakarya’ dalam pekerjaan saya di bidang jurnalisme sejak 1977 hingga tahun 2004 (27 tahun) setelah saya memutuskan untuk menjadi penulis lepas saja.

Perkenanlah saya menyombongkan diri sedikit sebab sudah lama sekali saya tidak melakukannya. Saya sebutkan tadi ‘mahakarya’, karena sejak karya itu muncul di SKH Pos Kota, dari tanggal 20 hingga 26 Oktober 1986, saya tidak pernah mampu membikin artikel yang begitu banyak dibaca orang, dan banyak pula mendapatkan reaksi dari pembaca, baik langsung maupun tidak. Isinya macam-macam, dari petuah agama hingga dorongan moril untuk “terus berjalan ke arah maksiatisme”, atau kritik-kritik teknis. Pro dan kontra. Dan gara-gara artikel ‘menggegerkan’ itu pula saya kehilangan kesempatan untuk memacari seorang gadis cantik dari keluarga sangat baik-baik dan terhormat, yang berdomisili di daerah elite di Jakarta. Orangtuanya belum paham benar tugas wartawan itu macam apa. Tapi di kalangan kolega para wartawan, termasuk para senior yang bekerja di koran-koran besar, mereka menyatakan salut, selain ada yang sinis dan bercuriga. Beberapa pertanyaan meluncur, di antaranya, “Kok Anda tahu-tahunya ada kongres begituan,” atau, “Wah, asyik dong..ssshhh hemm...hemmm.....,” begitu salah seorang kolega asyik berfantasi sendiri.

Wartawan senior dari SKH Kompas Bung Agus Parengkuan, bilang, sebetulnya kalau artikel itu ditulis selama sebulan lebih, pasti masih banyak orang yang membacanya. Sayangnya redaksi saya tetap minta cukup seminggu saja. Barangkali itu salah satu upaya untuk “menyelamatkan” saya juga. Sampai beberapa minggu, asal saya bertemu dengan pejabat pemerintah atau narasumber selalu dikenalkan nama, jabatan dan apa yang saya kerjakan di awal Oktober 1986 hingga apa yang saya tulis kemudian. Banyak di antara mereka ketawa dan berkomentar, “Aduh hebat, dong.”

Saya yakin rata-rata mereka mengira saya langsung gila seperti Kaisar Ketiga Kekaisaran Romawi yaitu Caligula yang hidup antara 16 Maret 37 Masehi hingga 24 Januari 41 Masehi dulu itu. Berpesta-pora orgy tanpa batas. Mereka lupa saya cumalah seorang wartawan, reporter, pelapor atas kejadian yang ada. Di samping itu dompet saya menjadi salah satu penghambat efektif untuk mencegah lebih dari pekerjaan saya. Begitu banyak efek pada saya gara-gara artikel itu.

Maka pantas ‘kan? Kalau saya merayakan 25 tahun ‘mahakarya’ ‘masterpiece’ itu? Pada kenyataannya, tidak banyak wartawan yang mendapatkan kesempatan emas untuk hadir di satu peristiwa yang membikin semua orang – terutama perempuan – bergidik kejijikan. Tentu saja saya tulis pengalaman ini dengan risiko bahwa orang akan menganggap saya sebagai bagian dari komunitas yang akan saya liput, atau paling apes seorang pendosa. Mungkin saya pendosa tapi bukan di bidang itu.

Saya memaklumi itu semua, sebab tidak banyak orang yang memahami pekerjaan wartawan. Orang selalu mengira wartawan ‘pasti’ terlibat dalam apa yang ditulisnya. Padahal prinsip dasar pelaporan jurnalistik itu, justru wartawan tidak boleh larut dalam sumbernya, sebab tidak akan obyektif. Dia mewakili semua golongan pembaca yang tentu berbeda-beda pendapatnya. Inilah doktrin jurnalisme yang diajarkan kepada saya di sekolah dulu dan saya praktikkan di bawah bimbingan para senior yang profesional.

Tentu prinsip atau doktrin demikian ini pada saat sekarang dipertanyakan eksistensinya karena para wartawan muda tidak tahu atau pun mungkin tak mau lagi memegang prinsip obyektif, faktual, steril, berimbang. Ini menyedihkan.

Baiklah sebenarnya apa ‘masterpiece’ yang saya gembar-gemborkan dengan agak berlebihan itu? Ceritanya begini:

Ide dari berita sekolom

Pada suatu siang di bulan September 1986, saya sudah lelah ke sana ke mari mencari narasumber tak bersua juga. Pagi-pagi saya ke DPR RI di Senayan, Jakarta, tapi tak mendapatkan narasumber yang saya kehendaki. Maka saya pun meluncur ke Press Room Markas Besar Hankam/ABRI di Jalan Merdeka Barat. Di sana enak sebab sepi (jarang wartawan mau singgah di tempat ini dengan alasan “seram”) AC-nya dingin dan ada banyak kenalan di situ.

Tanpa sengaja saya baca bundel SKH Sore Sinar Harapan edisi kemarinnya. Salah satu rubrik yang saya tidak pernah lewatkan adalah berita kecil-kecil dari luar negeri, karena banyak isinya yang menarik. SKH Kompas juga memiliki rubrik seperti itu yang saya ikuti sejak 1975. Cara penulisannya, singkat dan kocak.

Tiba-tiba mata saya menangkap berita kecil, hanya satu alinea, yaitu mengenai rencana penyelenggaraan Kongres Pelacur se Dunia Ke II di Brussel, Belgia. Lho, yang kedua? Kok aku baru tahu ya? Yang pertama diadakan di Amsterdam, Belanda, tahun sebelumnya. Kongres ‘barang antik’ ini akan diselenggaran awal Oktober 1986 itu juga. Wah, ini menarik sekali.

“Ntar kalo nyampe di kantor gua mau kasih tahu redaksi,” ujar saya kepada teman sejawat.

Nah, belum lagi sepuluh menit berlalu, datanglah telepon dari redaksi Pos Kota ke Press Room. Nampaknya redaktur saya, Pak Syukri Burhan, mencari-cari di mana saya berada. Maklum HP belum ada saat itu.

“Udah baca SH, Bela,” tanyanya dari seberang sana. Feeling saya bicara, ini tentu menyangkut kongres gendeng itu. “Sudah, di Belgia awal Oktober ‘kan?” jawab saya. Pak Syukri ketawa, “Tahu aja kamu,” katanya, “jadi kamu ditugasi redaksi meliput kongres itu. Datang ke kantor cepat buat mengurus semuanya.”

Entah karena kesenangan atau apa, saya pacu mobil Citroen seri GS ke kantor Pos Kota di Jalan Gajah Mada, Jakarta Kota. Di kantor semua sudah dipersiapkan, tinggal saya mengurus visa ke Kedubes Nederland. Dengan satu visa maka dapat saya pakai untuk Belgia, Nederland, dan Luxembourg (Benelux).

Saya tahu, redaksi memilih saya karena kemampuan Bahasa Inggris saya di atas rata-rata teman sejawat. Bayangkan, begitu hebatnya bahasa Inggris saya sampai orang Inggris pun tidak paham! Satu bahasa dengan tata bahasa “sekolahan”, dengan dialek Jawa Timuran, pronounciation amburadul, kosa kata terbatas, maka dialog harus ditambah dengan kemampuan saya dalam bermain pantomime, salah satu ketrampilan seni yang saya kuasai. Saya temukan kemudian ternyata banyak ‘bahasa tubuh” yang sama secara internasional. Bagaimana bahasa untuk makan, tidur, menangis, dan menjepit jempol tangan di antara telunjuk dan jari tengah! Semua sama. Kenapa susah-susah belajar bahasa asing ya?

Tolong ceritakan pada saya nanti ya?

Esoknya pagi-pagi saya mengurus visa ke Kedubes Belanda di Jalan Rasuna Said, Jakarta. Di pos depan, seorang nyonya staf lokal dengan angkuh bertanya mau ketemu siapa? Saya bilang dengan atase pers, saya wartawan. “Oh, itu Meneer...., tapi beliau itu sibuk” jawabnya dengan gaya lebih Belanda dari orang Belandanya sendiri.

“Saya kira tugas Anda menyampaikan pesan saya saja,” jawab saya agak sombong juga.

Mr. X, si atase ini, sangatlah ramah. Rambutnya hitam dan sudah banyak diselingi warna abu-abu. Wajahnya justru mirip orang India. Dia menyuruh stafnya untuk mengurus visa saya dan cepat terlaksana. Tapi atase pers ini nampaknya suka berbincang-bincang tentang apa saja, dan kami keasyikan mengobrol. Sadar bahwa saya harus ke Kantor Imigrasi Bogor untuk minta exit-permit, saya minta diri. Dia mengantarkan saya langsung hingga ke pintu terdepan.

“Bila sudah sampai sudilah Anda datang ke sini. Ceritakan pada saya. Saya ingin mendengar kejadian unik itu langsung dari Anda,” katanya dengan sopan. Sayangnya saya tak pernah mampu menepati janji itu. Saya tak tega bercerita di depan Atase Pers mengenai Kongres Pelacur se Dunia, selain kemudian kesibukan menelan waktu saya bulat-bulat.

Tanpa buang waktu saya ngebut ke Bogor ke kantor imigrasi. Siang hari urusan exit-permit rampung lalu saya mengurus tiket ke Belanda. Berdasarkan saran teman, saya disuruh mengambil perusahaan penerbangan dari salah satu negara di Asia Tenggara juga.

“Maskapai nasional kita servisnya payah kepada orang pribumi, tapi berlebihan pada orang bule. Mana pramugarinya jelek-jelek, judes lagi,” tuturnya menilai maskapai nasional waktu itu.

Singkatnya saya terbang 16 jam ke Schiphol, Belanda. Teman saya benar. Pelayanan maskapai penerbangan itu prima, penumpang dimanjakan tanpa memandang warna kulit atau isi dompetnya. Selama itu kami disuguhi macam-macam jenis makanan hampir tidak pernah berhenti!

Oleh karena waktunya masih sangat longgar, maka saya bersenang-senang sedikit di Amsterdam untuk “studi banding” rumah-rumah pelacuran di kota itu. Negeri ini amat liberal. Pelacur (ah, sekarang pakai nama PSK, dulu WTS, padahal wujudnya ya itu-itu juga) di sana disamakan dengan pekerja, ditarik pajak, tapi juga diberi hak-hak seperti buruh lainnya. Para pelacur datang dari berbagai negara, seperti Turki, Yordania, Siprus, dan beberapa negara Eropa bahkan Afrika. Mereka bebas dan tenang saja sebab dijamin hak-haknya. Leidseplein sangat terkenal sebagai daerah “lampu merah” Amsterdam.

Menjelang akhir bulan saya naik kereta api ke Brussel. Keretanya bersih, nyaman, dan sangat tepat waktu (oh, PT KAI-ku yang malang).

..........bersambung .......

Kongres Pelacur se Dunia (Bagian 2)

Kongres Pelacur se Dunia (Bagian 2)


(Hanya untuk orang dewasa)
- Menuntut status hukum jelas
Oleh Adji Subela
Saya tiba di kota Brussel, Belgia, 28 September 1986. Tentu saja, seperti kota-kota lain di Eropa, kota ini bersih, teratur, dan lalulintasnya tertib. Pada jam-jam kerja, keadaannya sepi seperti kota mati. Warganya bekerja diam-diam tanpa banyak kata di dalam gedung-gedung jangkung. Pada pagi hari, manusia menyemut keluar dari liang-liang kereta api bawah tanah (subway), lantas sepi kembali, setelah mereka terserap ke dalam gedung-gedung itu. Pada jam-jam pulang, mereka menyemut kembali berarak masuk liang bawah tanah dan lalu kota sepi lagi.
Tempat Kongres Pelacur se Dunia itu adalah Gedung Parlemen Eropa di Rue Belliard nomer 97 – 133 dekat ke wilayah Luxembourg. Sungguh luar biasa, kongres seperti ini mendapat tempat terhormat. Ini tak lain atas usaha ICPR (International Committee for Prostitutes’ Rights) serta GRAEL, satu organisasi perempuan anggota parlemen Eropa yang peduli terhadap masalah-masalah perempuan.
Koran-koran lokal edisi 29 September menyebutkan, sejumlah pelacur dari berbagai negara sudah berdatangan di Brussel dan menginap di berbagai hotel. Tak dijelaskan di hotel mana mereka menginap, mungkin demi keamanan calon peserta itu sendiri walaupun dari segi bisnis tentu menguntungkan adanya publikasi semacam itu. Beberapa di antaranya bahkan sudah mendaftarkan diri di Gedung Parlemen Eropa yang megah dan berwibawa itu tanpa diketahui umum. Bahkan resepsionis gedung itu sendiri tidak tahu bakal ada acara istimewa di gedung tempat mereka bertugas.
“Apa? Kongres pelacur se dunia?” tanyanya terlonjak dalam bahasa Inggris patah-patah dan nampak terkejut bukan main seperti tersengat sepuluh ekor lebah di pantatnya. Setelah saya menyebutkan nama ICPR, ia baru paham bahwa tanggal 1 Oktober memang ada acara organisasi itu di tempat tersebut. Lega hati saya.
Saya datang tanggal 30 September pagi-pagi guna mencari tahu ihwal kongres tersebut. Di lift saya berjumpa dengan dua orang perempuan Asia, dua orang yang cantik-cantik dan mungil-mungil. Saya tanya mereka dari mana. Katanya dari Thailand.
“Apa kalian akan ikut kongres?” tanya saya.
“Tidak, kebetulan kami ada keperluan di sini,” jawabnya, “apa Anda dari Thailand juga?”
“Bukan, saya orang Indonesia,” jawab saya. Mereka segera pergi cepat-cepat begitu pintu lift terbuka. Aneh. Apa mereka takut saya perkosa? Bagaimana mungkin? Di siang hari bolong di tempat terhormat seperti itu?
*******
Tanggal 1 Oktober 1986. Pukul 14.30 waktu setempat.
Gedung Parlemen Eropa terbelah menjadi dua bagian oleh sejalur jalan kecil. Nomer 97 terletak di selatan sedangkan gedung utama di seberangnya. Di gedung nomer 133 terdapat pengumuman untuk pers yang menyebutkan konperensi pers mengenai The 2nd World Whores Congress atau Kongres Pelacur se Dunia II diselenggarakan di gedung nomer 97 pukul 15.00.
Satpam gedung menyuruh kami menunggu di lobby. Di sana terlihat ada 5 (lima) wartawan lain yang menunggu. Salah seorang di antaranya berkulit hitam metalik, kepala plontos, hidungnya mancung. Kira-kira ia datang dari Afrika bagian Utara, melihat ciri-ciri fisiknya. Dia pun tertarik akan saya, karena berpotongan badan pendek, berkulit sawo matang, kontras dengan para bule di sekitar saya.
“Anda wartawan dari mana?” tanya si hitam kepada si coklat.
“Dari Indonesia,” jawab saya. Ia terbelalak, nampaknya ia kenal betul dengan nama negara saya itu.
“Apakah Anda koresponden di Belgia?” tanya lagi lebih serius.
“Tidak, saya datang langsung dari negara saya?”
“Jakarta?”
“Betul”
Ia pun lalu menjabat erat tangan saya sambil ketawa, “Nama saya C.B. dari Ethiopia, saya bekerja di Belgia sini.” Mungkin itu satu ekspresi kegembiraan bahwa negaranya telah kita sumbang gabah 100 ton ketika kita sedang jaya-jayanya swasembada beras, guna mengurangi beban kelaparan di negeri itu.
C.B. begitu antusias sampai berteriak kepada teman-temannya bahwa ada wartawan “culun” dari Indonesia yang datang khusus untuk meliput kongres tersebut. Saya menjadi satu-satunya wartawan tembak langsung dari Asia, khusus untuk acara ganjil tersebut. Tiba-tiba saya jadi narasumber pertanyaan bertubi-tubi, kenapa soal seperti ini begitu penting bagi koran saya, dan kenapa sendirian? Tak ada wartawan foto?
Saya baru tahu waktu itu, wartawan Eropa sangat ketat membedakan wartawan tulis dan foto. Padahal di negeri saya, kalau mungkin satu orang wartawan bisa merangkap fotografer, sekaligus tukang setting, opmaak dan tukang cetak sekaligus supaya irit!
Tak mudah menjawab pertanyaan tersebut. Tapi buru-buru saya sadar bahwa ini negara Barat yang semuanya terbuka, jujur. Saya sebutkan, koran saya adalah koran kota dengan penekanan berita pada masalah kriminal, olahraga, perkotaan, dan sedikit aktivitas dunia “lampu merah”.
Mereka paham dan tidak ada yang memberi saya kuliah agama atau kuliah filsafat gratis tapi tanpa diminta seperti di negeri dewek. Soal agama atau kepercayaan adalah masalah pribadi yang sangat mereka hormati.
Akhirnya ada sekitar 20-an wartawan yang berkumpul di situ termasuk mereka yang dari stasiun tv setempat. Pas pukul 15.00 pintu dibuka dan kami naik ke lantai dua gedung. Di sana sudah menunggu sejumlah tokoh Konges Pelacur se Dunia Ke II. Ada seorang dokter asal New York, AS, Don Desjardais. Lalu perempuan langsing dengan rambut kehitaman potongan pony, memakai baju berwarna hijau zaltun, namanya Margot St. James. Dia ini salah seorang pendiri ICPR dan juga pendiri LSM Coyote (Call Off Your Old Tired Ethics – Buanglah Etika Usang Anda). Jangan main-main dengan perempuan ini, sebab dia kandidat doktor dari sebuah universitas ternama di negerinya sana. Di dekatnya ada aktivis hak-hak pelacur Amerika Serikat, seorang perempuan berkulit hitam dengan postur badan tinggi besar, Gloria Lockheed.
Seorang lagi perempuan asal Prancis yang mengenakan topeng berbentuk matahari kuning-hitam. Ia sudah meninggalkan karirnya sebagai pelacur dan meningkat menjadi....germo!
Suratkabar lokal pagi itu mewartakan, sekelompok pelacur asal Prancis dihadang polisi mereka di perbatasan, ketika diketahui mereka hendak ikut Kongres akbar tersebut. Hal ini agak mengherankan mengingat Prancis adalah salah satu negara yang liberal dalam soal apa pun.
Margot mengatakan, Kongres kedua dimaksudkan untuk mengevaluasi hasil kerja keputusan Kongres Pelacur se Dunia I di Amsterdam, Belanda, setahun sebelumnya.
“Belum ada hasil signifikan selama setahun ini,” kata Margot. Pada kongres sebelumnya, para pelacur peserta menolak pajak khusus terhadap mereka, baik perorangan maupun dalam kaitan “bisnisnya”. Mereka menuntut profesinya disamakan dengan professi lainnya sehingga hak dan kewajibannya seperti membayar pajak dll disamakan supaya adil.
Piagam dunia untuk hak-hak pelacur yang diterbitkan pada kongres tahun sebelumnya menyebutkan mereka minta perhatian negara-negara untuk tiga hal pokok, yaitu
  • pertama, menyangkut status hukum. Mereka menuntut agar pelacuran tidak dikategorikan sebagai tindak kriminal dalam segala aspeknya pada orang-orang dewasa sepanjang profesi itu dipilih secara pribadi dan sadar. Tuntutan lainnya ialah agar mereka terhindar dari segala kecurangan, pemaksaan, kekerasan, kejahatan seksual dan mencegah pelacuran anak-anak.
  • kedua penghormatan kepada hak-hak asasi manusia. Mereka menuntut agar pelacuran diberi hak-hak asasi dan hukum sesuai sesuai dengan standar bisnis yang berlaku. Dalam ini perlu dicantumkan klausul khusus untuk mencegah penyiksaan, penyalahgunaan serta penistaan terhadap para pelacur. Menuntut jaminan untuk kebebesan sipil, meliputi a.l. kemerdekaan mengeluarkan pendapat, perjalanan, imigrasi, bekerja, menikah, serta tunjangan pengangguran.
  • ketiga kenyamanan dan keamanan kondisi kerja para pelacur. Mereka menuntut dihapuskannya peraturan atau UU yang mengisolasi serta melokalisasi ddi satu tempat tertentu. Pelacur punya hak menentukan sendiri tempat kerja serta tempat tinggalnya.
Mengejutkan
Bagi saya, orang yang masih berpikiran sempit, bodoh dan datang dari negeri yang berlandaskan Pancasila, maka tuntutan-tuntutan semacam itu sungguh mengejutkan karena amat sangat terlalu maju. Pelacur di negeri saya dicaci-maki sebagai pendosa, disingkir-singkirkan, tapi tetap diperlukan. Mustahil mereka tetap beroperasi dan terus marak tanpa ada pengguna jasanya. Siapa tahu para langganan pelacur lokal kita justru orang yang berteriak-teriak tentang moral dan aturan pada siang harinya. Siapa yang dapat menjamin?
----bersambung -----