Memanipulasi Raja Gagap

Memanipulasi Raja Gagap




Oleh Adji Subela

Judul film : The King’s Speech
Pemain : Colin Firth, Geoffrey Rush, Helena Bonham Carter, dll
Skenario : David Seidler
Sutradara : Tom Hooper


Apa jadinya kalau sang Raja yang diharapkan memberi semangat rakyatnya menghadapi Perang Dunia II ternyata bicara dengan tergagap-gagap, dingin dan tak berjiwa? Padahal Raja harus memberi semangat kepada rakyat, berhadapan dengan pidato Hitler yang menawan serta propaganda Joseph Gobbels yang tajam.
Kekecewaan Istana maupun publik dimulai saat Pangeran York alias Albert Frederick Arthur George, putra ketiga Raja Britania Raya George V, dan ayah dari Ratu Elizabeth II sekarang ini, harus berpidato mewakili ayahnya dalam penutupan British Empire Exhibition di Stadion Wembley, 31 October 1925. Ia tergagap-gagap. Maka ia harus menjalani terapi.
Dokter pertama yang memakai methode aneh-aneh a.l. mengulum kelereng di mulutnya gagal. Pihak gereja Westminster berusaha mencarikan seorang ahli bicara, tapi sang calon raja justru memilih pria asal Australia, Lionel Logue. Terjadi konflik antara dua pria ini. Lionel tetap memperlakukan Pangeran York alias Albert sebagai murid dan memanggilnya Bertie. Tapi keduanya ternyata cocok.
Sukses latihan Lionel pada Albert dibuktikan dalam pidato pembukaan sidang Parlemen Australia 12 Mei 1937. Pidato sang Pangeran ‘lancar’.
Raja George V mangkat 20 Januari 1936, digantikan kakak Albert, Raja Edward VIII. Tak sampai genap setahun pada 11 Desember 1936 Edward VIII turun tahta rela mencopot mahkota demi janda dua kali asal AS Wallis Simpson. Tahta jatuh ke Albert, yang semula menolak sebab sadar akan kegagapannya. Ia dinobatkan 12 Mei 1937, dan Raja bersikeras Lionel harus duduk di panggung keluarga Istana, membikin iri berbagai pihak.
Perang Dunia II pecah awal September 1939, Raja George VI memberi pidato untuk menenangkan dan memberi semangat rakyatnya. Tentu dengan Lionel di dekatnya. Ini menjadi pidato terbaik selama PD II.
Keteladanan Raja George VI ditunjukkan bersama Permaisuri, ia tak mau mengungsi walaupun London dihujani bom dan roket Jerman 7 September 1940, memakan korban 1.000 nyawa. Raja dan Permaisuri pun nyaris tewas dalam pemboman 13 September.
Persahabatan Raja George VI dan Lionel Logue berlangsung sampai ajal sang Raja 6 Februari 1952 karena serangan jantung. Lionel diangkat sebagai Komandan Royal Victorian, hadiah tertinggi bagi warga yang berbakti untuk Kerajaan.

Berbeda
Film diawali gambar-gambar mikrofon jaman itu yang besar-besar mirip hulu ledak peluru kendali. Mikrofon ini menjadi momok Pangeran York. Cerita berjalan lancar dan lembut. Film besutan sutradara Tom Hooper ini jelas berbeda dengan resep Hollywood umumnya yang serba gemerlap, gemebyar, dan dengan pengambilan gambar aneh-aneh. Tanpa ‘kegilaan’ Hollywood seperti itu, film The King’s Speech muncul menjadi kuat lewat kekuatan ceritanya, skenario sederhana, dan gambar-gambar simpel, konvensional layaknya film Inggris. Akan tetapi sesederhana apa pun gambar The King’s Speech cukup berani menabrak kaidah konvensional Inggris, dengan komposisi yang menyebal dari ‘buku pegangan’ film jaman dahulu.
Aktor Colin Firth yang selama ini kurang dikenal di Indonesia, bermain sangat menawan dan berhasil ‘menjadi’ Raja Britania Raya, seperti halnya sukses Yaphet Koto memerankan diktator Uganda Idi Amin dalam Rise and Fall of Idi Amin dahulu. Tidak heran ia merebut piala Oscar sebagai pemeran pria terbaik Februari lalu. Geoffrey Rush yang di Indonesia kita kenal dalam The Pirates of Carribean bermain bagus pula. Helena Bonham Carter mampu mengimbangi akting Firth dan Rush sebagai istri Duke of York yang setia mendampingi suaminya.
Kekuatan film ini memang di cerita serta akting para pemainnya tanpa manipulasi angle kamera yang aneh-aneh. Gambarnya sederhana, misterius mewakili keangkeran daratan Inggris dengan kastil-kastilnya. Kamera sering dibiarkan bertengger di tripod, tetapi ada adegan yang sangat bagus diambil dengan hand-held yaitu ketika Duke of York marah dan meninggalkan si terapis sendirian di jalan di tengah padang. Kamera follow pada Pangeran di satu sisi frame sedangkan si terapis dibiarkan tertinggal dengan tetap di sisi sebelahnya untuk keseimbangan gambarnya lalu out of focus pelan-pelan. Cantik memang, agak berbeda dengan film-film Inggris konvensional.
Kesederhanaan penceritaan diwakili skenario yang linear tanpa permainan flashback yang sering bikin bingung penonton itu. Kita jadi ingat bagaimana film ‘sederhana’ seperti Driving Miss Daisy serta A Trip to Bountiful yang menang di Academy Award dan terbukti di pasaran pun tidak jeblok.
Kejempolan film ini dibuktikan lewat pengakuan di ajang Academy Award yang mendapatkan sejumlah nominasi.

Teks foto: Raja George V asli (kiri). Colin Firth (kiri) yang mirip Raja George V dan Geoffrey Rush

SENYUM DIKIT

SENYUM DIKIT

Edisi 16

Perayu

John terkenal sebagai pria perayu perempuan. Ketika sedang berpangkas rambut di sebuah hotel, ia menunggu pemangkas yang sedang mengasah pisau cukur.

Sambil menunggu, ia menikmati layanan manikur dan merayu gadis pelayannya.

John (berbisik) : Halo manis, boleh kita ke nightclub nanti malam?

Gadis : Aku sudah menikah.

John : Tak soal bilang terus terang pada suamimu

Gadis : Kenapa bukan Anda yang bilang langsung padanya? Itu, dia yang sedang mengasah pisau cukur.

Lolita&Obsesi Duda Sinting

Lolita&Obsesi Duda Sinting




Oleh Adji Subela
Judul : Lolita
Pengarang : Vladimir Nabokov
Penerjemah : Anton Kurnia
Penerbit edisi
Indonesia : PT Serambi Ilmu Semesta
Edisi : cetakan ke-2 Juni 2008
Isi : 529 halaman
Membaca buku harian orang gila tidak gampang. Kita harus siap diombang-ambingkan logika rusak mereka, dan sejumlah kesakitan yang membuat mereka terpuruk di sel-sel ruang perawatan. Ingat saja Catatan Harian Orang Gila karya Anton Chekov.
Humbert Humbert adalah pria separuh baya, duda, mengaku sastrawan, guru, dan apa saja. Yang terpenting dan faktual, ia pedofilia, pencinta kanak-kanak kelas berat, perusak moral bocah serta pembunuh kikuk. Vladimir Nabokov, sastrawan AS kelahiran St. Petersburg, Rusia, 23 April 1899, menulis novel kontroversial, Lolita, tahun 1955 dan langsung dicerca di mana-mana. Humbert, tokoh aku dalam Lolita, dianggap sangat tidak bermoral bagi masyarakat AS. Dia memengaruhi, bercinta, serta sangat terobsesi dengan gadis di bawah umur, 11 tahun, si bandel pemberontak anak janda Charlotte Haze yang egois.
Orang AS menerima perselingkuhan antardewasa, tapi jangan coba-coba melanggar hak anak di bawah umur apalagi bercinta dengannya. Itu bejat moral, hukumannya berat. Kendati demikian novel itu menyedot perhatian, dan dua kali difilmkan.
Saya melihat film Lolita yang disutradarai Adrian Lynch awal 2000-an. Di awal film Adrian sampai harus muncul bicara kepada penonton bahwa film ini tidak boleh dilihat kanak-kanak, bahkan harus di kalangan terbatas. Jelas, film ini tidak boleh beredar di bioskop di seluruh AS. Film yang dibintangi aktor Inggris Jeremy Iron sebagai Humbert dan bekas bintang Dracula yang gagal, Frank Langela, sebagai Quilty, memang bagus. Sinematografisnya berhasil dan terutama sekali mampu menggambarkan scene pembunuhan Quilty secara jempol. Adegan ini sangat hidup tanpa memanipulasi cerita aslinya, didukung akting dua aktor gaek itu.
Diceritakan, Humbert yang kelahiran Eropa berimigrasi ke AS, dan di sana ketemu janda Haze dengan putri bengalnya, Dolores Haze, alias Dolly di sekolah, alias Lola dan terutama Lolita bagi Humbert. Dengan latar belakang pedofilia-nya, Humbert mengawini janda Haze agar mendapatkan Lolita. Janda malang itu tewas dalam kecelakaan lalulintas, membuat Humbert bersenang-senang dengan Lolita keliling negeri.
Petualangan terhenti karena Lolita hilang, ikut Quilty, penulis drama yang setengah banci dan pecandu alkohol maupun obat-obatan terlarang. Tiga tahun lebih Humbert mencari dari motel ke motel hingga ketemu Lolita sudah menikah dengan buruh pabrik, veteran perang, dan tengah hamil tua. Lolita kirim surat minta uang pada ‘ayahnya’ sebagai modal suaminya bekerja di Alaska, 400 dolar. Humbert memberinya 400 dolar dan cek senilai 3.600 dolar, dengan syarat ia ingin tidur lagi dengan Lolita-nya. Sayang Ny. Richard Schiller itu menolak namun ia tetap mendapatkan uangnya asal memberitahu di mana Quilty. Tidak diperlihatkan pengakuan Lolita, tapi Humbert datang dengan sepucuk pistol dan membuat perhitungan karena merenggut Lolita. Adegan dua orang bodoh berkelahi digambarkan apik di bukunya, apalagi di film Adrian. Humbert menghadapi tuduhan pembunuhan tingkat satu dan selama dirawat di RS Jiwa dan penjara, ia menulis memoar sinting itu.
Cara Nabokov menggambarkan kondisi jiwa Humbert amat cantik, dan jelas melalui riset mendalam. Humor-humor tersembunyi bertaburan, membikin orang senyum-senyum simpul. Jangan harapkan ada adegan porno di buku ini, tapi di film digambarkan dengan halus tapi sangat terasa maksudnya. Di buku terkesan bahwa Lolita telah kehilangan keperawanannya dan ini digambarkan ia gelisah duduk di jok mobil karena sakit di bagian tertentunya. Kurang ajar memang.
Versi bahasa Inggrisnya jelas membikin pembaca agak pusing. Tapi terjemahan Anton Kurnia (salah seorang cerpenis terkemuka), yang diterbitkan Serambi Jakarta, cukup bagus gambarannya, dengan tambahan catatan kaki atas bahasa Prancis yang ada di sana-sini.
Sebelum ada UU Perlindungan Anak, apalagi di jaman feodal dahulu, menikahi atau menggundiki anak gadis di bawah umur sudah biasa. Para bangsawan Jawa banyak melakukannya. Ketika saya mengikuti Kuliah Kerja Nyata (KKN) di daerah Indramayu di tahun-tahun 70-an anak SD sudah dikawinkan, mengharapkan status jandanya, karena maharnya makin mahal. Kemiskinan mendorong itu semua. Mengawini gadis cilik nampaknya menjadi semacam tradisi di beberapa bagian di tanah air, dan diduga ini menyumbang angka perceraian tinggi. Di Jawa Barat tahun 1950, diperkirakan angka perceraiannya tertinggi di dunia, disusul Jateng dan Jatim yang hanya berselisih sedikit (The Sex Sector, ILO, Geneva, 1998, Hlm 33). Di buku laporan Organisasi Buruh Se Dunia itu juga disebutkan, tradisi itu ikut menyumbang angka pelacuran di Indonesia.
Kini terjadi pergeseran sikap dan pola pikir berkat kemajuan jaman, dan makin banyak orang Indonesia sadar bahwa anak kecil harus diberi hak sesuai kodratnya. Kendati sifat pedofilia jelas masih ada, tetapi dengan UU Perlindungan Anak kita sudah mengantisipasinya.
Membaca Lolita pun kita bisa dibuat bergidik dengan kejahatan dan manipulasi jahat Humbert. Ia manusia bejat penderita borok moral. Membaca novel ini kita mengagumi ekspresinya yang penuh gaya, lincah, cerdas, konsisten sebagai orang sinting sejak awal hingga akhir, dan narasinya yang jungkir balik menantang pikiran, sambil mencaci-maki pengarangnya. Gayanya yang lincah mengingatkan kita pada Saijah dan Adinda-nya Multatuli. Mudah-mudahan kebobrokan moral itu hanya ada di karangan saja. Tapi siapa berani menjamin? Karena dari berita-berita surat-kabar atau televisi kita sering menyaksikan betapa kekerasan (seksual) terhadap kanak-kanak di tanah air kira kian menjadi-jadi.
Penulis adalah cerpenis tinggal di Depok, Jabar.

CERITA PENDEK

CERITA PENDEK


Nabi Perlu Celana Baru
Oleh Adji Subela
Ia sudah berputus asa. Tak ada lagi tersisa harapan agar cucunya hidup layak untuk keesokan harinya. Ia sudah ingin mati, tapi tak tahu cara bagaimana agar apa yang diinginkannya itu dapat terkabul. Bahkan untuk mengakhiri hidupnya yang bopeng itu pun ia benar-benar sudah tak mampu lagi.
Nenek itu sudah tak tahan lagi melihat cucunya hidup seperti daun kering tertiup angin. Anak itu sudah sejak di dalam kandungan ibunya – anak perempuannya – selalu menuai masalah musykil. Siapa ayah anak itu tidak pernah jelas. Ah, ini cerita lama. Pria yang datang kemudian bersama si ibu anak itu, berbuat seolah-olah ialah ayahnya. Ketika adiknya kemudian lahir, pria itu cepat sekali menghilang, tak pernah terdengar kabarnya. Itu pun cerita lama pula.
Hal baru yang harus mereka terima, adalah ketika ibu si anak itu pulang kembali ke rumah si nenek dengan perut besar lagi. Adik si cucu, jadi yang kedua, telah agak lama meninggal karena kekurangan makanan. Adik berikutnya, yang belum lama lahir, ternyata berpulang juga. Nampaknya ia lebih suka balik kembali ke alam tiada dari pada hidup seperti kakak dan neneknya. Ia lebih beruntung karena sempat hidup, tapi tak sempat sengsara seperti nenek dan cucunya itu. Maka si cucu menjadi anak tunggal hingga sekarang. Ibunya pun sudah lama lenyap dari bisik-bisik tetangga. Mereka mungkin sudah lupa bahwa di desanya pernah ada perempuan yang tiga kali hamil, dan tiga kali tidak diketahui siapa suaminya yang kemudian selalu menghilang bila anaknya sudah lahir.
“Nek, siapa ayahku?” tanya si cucu.
“Oh, dia itu seorang yang budiman, Nak,” jawabnya, “ia sungguh penolong yang baik budinya.”
Si cucu diam. “Tapi kenapa dia tak pernah datang ke sini, Nek?”
“Nak, ayahmu itu sangatlah baik budinya tapi ia tak sempat menengokmu. Ia sering menolong perempuan-perempuan agar hamil, lalu meninggalkannya untuk menolong perempuan lainnya.”
Si cucu diam sesaat. Ia merasa bingung, tak paham maksudnya. Tapi ia ingin menjadi anak yang baik, maka ia pun berkata:
“Aku kelak ingin seperti ayah, menolong perempuan-perempuan agar hamil.”
Si nenek terperanjat, dan kemudian menyadari kalancangan mulutnya sendiri. Nenek selalu merasa pusing kepalanya bila ada pertanyaan siapa ayah si cucu, dan jika sudah kehilangan akal, ia akan kehilangan arah ke mana pembicaraan harus tertuju. Dan rasa ini selalu mengajaknya untuk segera mengakhiri hidup, satu tugas berat yang disandangnya selama bertahun-tahun, dan selalu gagal ia selesaikan.
“Tak perlu Nak, cukup kamu berbuat baik kepada siapa saja yang berbuat baik kepadamu,” jawab si nenek. Perempuan tua itu merenung. Kata-katanya selalu salah bila cucunya bertanya siapa ayahnya. Sesekali ia ingin berkata benar, demi masa depan si cucu. Setelah hidup menderita, ia ingin seseorang – apalagi cucunya sendiri – berbuat baik dan benar di dunia.
“Nak, bagaimana pun, kita harus hormati ayah kita, walau pun ia tak pernah datang,” ucapnya dengan nada sedih, sedangkan hatinya berkata sebaliknya, penuh umpatan.
“Baik Nek.”
Suasana kembali teduh, sampai kira-kira sebulan kemudian, datanglah seorang pria berpakaian aneh. Orang itu mengenakan semacam sprei yang ia buat berlubang di garis tengahnya, kemudian dimasukkannya kepalanya sehingga kain lebar itu menutupi hampir seluruh tubuhnya. Rambutnya tebal, panjang dan keriting. Di kedua tangannya terpasang gelang-gelang logam berkilatan, dan ada pula yang terbuat dari berbagai macam rumput serta akar bahar.
Bila pria itu tertawa, maka sederet gigi kotor kecoklatan meledak menyakitkan mata. Sialnya pun, ia sering ketawa, dengan keras-keras pula. Ia berjalan gontai tapi penuh dengan rasa percaya diri di jalan di kampung nenek. Ketika dilihatnya si cucu berdiri sendirian dengan pandangan kosong betul-betul, pria itu mendekati.
“Kamu siapa?” tanya si pria.
“Aku cucu nenek, aku mencari ayahku,” jawab si cucu. Pria itu terhenyak sejenak, matanya melebar penuh keheranan. Tiba-tiba mata itu memancarkan cahaya berkilat-kilat. Kelihatan sekali ia girang bukan main. Pria itu lantas berjongkok, memandangi wajah si cucu secermat-cermatnya. Ia kemudian berdiri, undur beberapa langkah membuat gerakan seperti vampir di film-film horror itu, dengan cara membentangkan kedua lengannya. Ia ketawa keras sekali dan kembali gigi kecoklatannya meledak menyakitkan mata.
“Akulah ayahmu, Nak,” teriaknya.
Ganti si cucu sekarang yang terhenyak. Mungkinkah pria ganjil itu ayahku, tanyanya dalam hati. Bisa jadi. Tapi tidak ah, orang itu aneh sekali. Baunya juga tidak enak. Giginya kecoklatan. Rambutnya keriting. Cara berjalannya lucu. Pakaiannya terlalu lebar. Tapi aku sudah lama menunggu ayahku. Biarlah aku dapatkan ayah seperti itu. Tapi aku ragu. Aku tak suka baunya, bajunya, giginya, dan suara tawanya.
“Bukan! Kamu bukan ayahku!” teriaknya kemudian.
“Ah, anakku, jangan begitulaaahh....,” tangkis si pria. “Inilah ayahmu. Aku datang menjemputmu, Nak, kamu akan aku bawa naik kuda, naik unta, dan terbang ke tempat tinggi, ke awan-awan. Ada banyak nyanyi merdu di sana. Kita akan datang ke taman bunga-bunga yang harum baunya. Kamu berhak mendapatkan itu karena kamu anak istimewa.”
“Kenapa kamu tak pernah tengok aku?”
“Oh, anakku. Aku sering datang dalam mimpimu. Aku menjauh darimu karena aku sedang menyiapkan sebuah surga untukmu. Surga yang tinggi tempatnya, meriah, penuh nyanyi, penuh harum bunga-bunga.....ayolah, mari kita pergi.”
“Aku ada nenekku.”
“Oh, ya, ya, tentu kita akan berpamitan padanya.”
Si cucu segera berlari-lari kecil pulang ke gubuk nenek, sedangkan pria ganjil itu mengikutinya. Nenek agak terperanjat mendengar penuturan si cucu, apalagi melihat wujud pria yang mengaku sebagai ayah dari cucunya itu.
“Nek, tentu nenek belum pernah berjumpa denganku. Sejujurnya, aku datang hendak meminta maaf karena tak pernah menengok anakku. Sekarang aku ke sini untuk menjemputnya,” tutur si pria aneh.
Si nenek, kendati selalu ingin sekali membiarkan cucunya pergi dari gubuknya, dan minggat ke mana pun kaki-kakinya membawa, ia kini merasa khawatir bila si cucu harus pergi dengan pria ganjil itu. Ia bukan pria baik-baik. Pakaiannya terlalu lebar, rambutnya lebat, keriting, gelang-gelang di tangannya terlalu banyak, dan giginya meledak kecoklatan bila ia tertawa. Nenek kini bimbang untuk melepaskan cucunya.
“Bukan! Bukan! Kamu orang gila. Pergi! Jangan ganggu cucuku! Pergi! Pergi! Pergi!” pekiknya. Belum pernah ia berteriak sekeras itu seumur hidupnya. Dan teriakannya itu lantas membikin tetangganya terperanjat, lalu beramai-ramai datang ke gubuk si nenek. Mereka langsung tahu penyebabnya. Pria aneh berdiri di depan gubuk si nenek dan cucunya.
“Lihat! Pria aneh itu hendak membawa cucuku! Ia mengaku ayahnya. Cucuku tak mungkin punya ayah seperti orang edan. Pergi!” kembali si nenek memekik-mekik.
Para tetangga mulai ikut marah. “Kamu pergi! Jangan ganggu nenek dan cucunya ini!”
Melihat perlakuan para tetangga nenek, pria itu tetap tenang saja. Ia berbalik, tertawa dan kemudian berkata:
“Saudara, saudari. Aku adalah utusan dari langit. Ia adalah anakku, yang kini terpilih untuk menjadi nabi berikutnya. Lihat, wajahnya. Bersih dan suci, bukan?”
“Bohong! Bohong! Penipu!”
“Oh, tidak, saudaraku. Lihat!” sambil berkata demikian ia mengeluarkan korek api lalu menyalakannya, sementara tangan lainnya memegangi jari-jari kecil si cucu. Pria itu menyuluti jari-jari si cucu dengan cara menggoyang-nggoyangkan korek menyalanya melewatinya berkali-kali. Semua orang terkesiap, tapi segera mendesis-desis keheranan. “Lihat, anak itu tidak merasakan apa-apa. Jadi ia memang istimewa...”
“Betul. Hanya nabi yang mampu demikian ini. Inilah anakku, nabi berikutnya. Ia akan kubawa ke surga yang riuh penuh suara musik, penuh wewangi bunga-bungaan.”
Semua orang, termasuk si nenek, kini percaya bahwa anak kecil itu ternyata seorang nabi. Mereka menyesali, mengutuki, dan memaki-maki diri mereka sendiri yang selama ini telah menyia-nyiakan calon nabi.
“Tapi saudara saudariku. Nabi kita perlu celana baru. Lihat, apa pantas nabi memakai celana dekil seperti ini? Apakah kita tidak merasa berdosa telah membiarkan dia mengenakan celana kotor? Alangkah sakitnya api neraka itu! Dan Tuhan akan memurkai kalian yang telah membiarkan nabi kita sengsara,” seru si pria ganjil, “aku sendiri sebagai ayahnya, merasa berdosa. Maka aku kini menyumbang nabi kita lima ribu rupiah agar aku terbebas dari dosa dan terhindar dari api neraka itu.”
Pria itu mengeluarkan sebuah kantong yang terbuat dari kain dan memasukkan selembar uang lima ribu rupiah ke dalamnya. “Aku kini terbebas dari dosa!” teriaknya, sambil melambaik-lambaikan kantongnya. Orang-orang takut. Mereka lalu berusaha mengorek apa yang ada di kantung atau dompet lusuh mereka, dan memasukkannya ke kantung. Ada yang seribu, lima ratus, bahkan seratus rupiah pun. Mereka lega, terhindar dari api neraka.
“Jadi nenek, ijinkan aku menjemput nabi kita dan akan aku bawa ke surga,” katanya kepada nenek, lalu mencium tangan si cucu, dan menyembahnya. Semua orang mengikutinya. Nenek lega. Akhirnya ia terlepas dari beban neraka dunia membesarkan cucunya, dan akan terhindar dari api neraka dengan memasukkan uang seratus rupiah ke kantung.
“Saudara saudariku! Kini kami akan ke kota dahulu untuk membelikan nabi kita celana baru, baru aku antar ia ke surga di atas sana, biar pantaslah ia masuk ke sana,” teriak si pria ganjil.
Kepergian pria dan anak kecil itu diikuti doa para tetangga nenek. Malam harinya mereka mulai merasa kesepian karena si cucu nenek telah pergi. Mereka menyesal tidak minta rejeki kepada nabi. Hingga larut malam mereka berbincang-bincang berkelompok kelompok, menghabiskan air kopi encer sambil tak henti-hentinya membicarakan cucu si nenek yang ternyata seorang nabi itu.
Ketika akhirnya mulai bubar hendak tidur, seorang anak kecil berisik kepada ayahnya: “Pak, aku juga seorang nabi. Lihat.....,” tuturnya sambil mengayun-ayunkan korek api ke jarinya, dan ia tidak merasa panas! Ayahnya terperanjat!
****
Lima hari kemudian si cucu telah mengenakan celana baru, lebih dekil, lebih kotor, dan tentu saja lebih jelek daripada celana yang ia pakai di dusun dahulu. Ia kini berada di surga, di atas kepala orang-orang, berdiri di salah satu jembatan penyeberangan di Jakarta. Suara musik tak henti-hentinya mendentam dari kolong jembatan, tempat orang-orang berjualan kaset serta CD musik bajakan, dan bau harum bunga yang dijual orang di sampingnya menusuk-nusuk. Ia memegangi kantung kain kepunyaan si pria ganjil, menanti orang-orang baik budi memasukkan uang ke dalamnya. “Ayah benar, surga itu ada di atas orang-orang, ada terdengar musik-musik, harum baunya. Tapi panas sekali mataharinya,” keluhnya dalam hati.
Desa Hepuhulawa, Gorontalo, Juni 2006.

OPINI

thumbnail

Kecerdasan Beragama
Oleh Mintardjo
Penulis pernah menyaksikan peristiwa menarik dalam salah satu acara di TV swasta, Uang Kaget. Ada seorang remaja putri yang diberi uang sebesar 10 juta rupiah, yang harus dibelanjakan dalam waktu tertentu dan nanti menjadi miliknya.
Anak yatim itu tinggal di rumah petak sederhana bersama ibunya. Melihat penampilannya, baik pakaian maupun tempat tinggalnya, mereka terkesan hidup di bawah standar, baik ekonomi maupun pendidikannya. Setelah menerima uang 10 juta remaja tersebut dengan sigap membelanjakannya dan tepat pada waktu yang ditentukan uang habis dibelanjakan. Pemandu menyatakan bahwa semua hasil belanjanya menjadi miliknya.
Ada beberapa hal yang sangat luar biasa dan jauh di luar dugaan penulis terhadap kepribadian remaja tersebut sehingga tanpa terasa penulis pun meneteskan air mata:
  • Pada waktu selesai belanja dan semua hasil belanjaannya dinyatakan sah menjadi miliknya, betapa dia dengan tulus berkali-kali mengucapkan syukur ke hadlirat Illahi, yang seakan-akan dia mendapat dunia dan seluruh isinya.
  • Ketika ditanya pemandu, akan diapakan barang-barangnya remaja tersebut dengan spontan menjawab, “Barang-barang ini akan saya jual dan nanti akan saya bagikan kepada teman-teman saya sesama anak yatim, biar mereka ikut merasakan kegembiraan saya
Dari peristiwa tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa remaja putri itu sangat cerdas mengimplementasikan agamanya (Islam) dalam kehidupannya.
Remaja putri itu, yang pakaian maupun tempat tinggalnya di bawah standar, ternyata hatinya sangat kaya, dan merasa rejeki yang diterimanya perlu dibagi kepada sesama. Jiwanya sangat mulia, tak rela dirinya mendapat kenikmatan sendiri, tak rela teman senasib tidak ikut menikmati kebahagian yang diterimanya. Ia mampu secara tepat menterjemahkan arti dari syukur dalam kehidupannya.
Selesai acara itu penulis berandai-andai. Seandainya saja, sekali lagi seandainya, para pejabat kita, para wakil rakyat kita, mempunyai kecerdasan beragama seperti remaja putri tersebut, yang mempunyai kepedulian sosial tinggi, mempunyai hati yang kaya, dan mempunyai jiwa yang mulia, betapa bahagianya rakyat Indonseia tercinta, dan Insya Allah tidak ada rakyat yang melarat.
Namun kenyataan yang terjadi justru sebaliknya. Sebagaimana kita baca, kita dengar, kita lihat dari berbagai media, baik media cetak maupun eletronik, banyak saudara-saudara kita tersebut yang bermasalah dengan uang rakyat dengan cara yang hina. Mereka memakan uang rakyat mengatasnamakan rakyat miskin, mengatasnamakan anak yatim untuk memuaskan keserakahan pribadi. Padahal dari segi penghasilan yang mereka terima bukan hanya 10 juta, namun bisa lima kali atau lebih, itu pun bukan sekali melainkan tiap bulan, ditambah lagi beberapa fasilitas lainnya, misalnya mobil dinas, rumah dinas. Padahal dari segi pendidikan banyak di antara mereka yang bergelar sarjana, bahkan tidak sedikit yang berpredikat haji. Suatu hal yang sangat memalukan dan sangat tidak pantas apa yang mereka lakukan:
- mereka berpendidikan tinggi bahkan ada yang berpredikat haji namun dalam beragama mereka tak peka sama sekali terhadap kondisi saudara-saudaranya
- mereka berpenampilan rapi, berjas dan berdasi, bermobil mewah dan bersopir pribadi, ternyata jiwanya hina
- mereka berpenghasilan melimpah namun hatinya sangat miskin, sehingga untuk memuaskan keserakahannya perlu mencuri dan merampok uang rakyat
- mereka sama sekali tak mensyukuri limpahan nikmat yang diberikan oleh Allah SWT kepadanya
Tidak mensyukuri kenikmatan
Dari peristiwa tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa mereka sama sekali tidak cerdas dalam mengimplementasikan agama dalam kehidupannya.
Di jaman Rasulullah Muhammad SAW, ada suatu peristiwa yang menarik, ketika para sahabat Nabi sedang duduk di serambi Masjid, lewatlah seorang yang berperilaku aneh.
Melihat tingkah laku orang tersebut para Sahabat tertawa cekikikan. Mendengar tawa para Sahabat tersebut, Rasulullah Muhammad menegurnya : Wahai Sahabat apa yang kau tertawakan “.
Sahabat menjawab : Ada orang gila ya Rasul“.
Rasulullah pun lantas bersabda : “Dia bukan gila wahai sahabat, dia sedang tertimpa musibah, orang yang gila adalah orang yang telah diberi berbagai kenikmatan tapi tidak mau mensyukurinya.“
Dengan adanya pernyataan Rasul tersebut tentunya yang dinamakan gila bukanlah orang yang pakaiannya compang-camping, tidak pernah mandi, tingkah lakunya aneh-aneh, tapi kemungkinan justru sebaliknya, bisa jadi orang yang gila adalah mereka yang berpakaian rapi, berjas dan berdasi, berpendidikan tinggi, bertitel haji, bermobil mewah berumah megah.
Saya tidak berani mengatakan apakah saudara-saudara kita yang terlibat masalah di atas termasuk yang dikatakan Rasulullah sebagai “orang gila”, yang telah diberi banyak kenikmatan tapi tidak mau mensyukurinya, hanya mereka sendiri yang tahu.
Ada hal yang menggelikan sekaligus memalukan dari mereka yang terjerat masalah. Banyak di antara mereka apabila terbongkar kecurangannya, mereka pergi ke tanah suci (mungkin untuk memohon ampun kepada Tuhan), padahal urusan mereka semata-mata dengan manusia. Jadi Insya Allah meski mereka pergi ke Tanah Suci seribu kali, dosanya tidak akan diampuni selama urusan dengan sesama manusia belum diselesaikan, apalagi biaya untuk berangkat dari hasil korupsi.
Ketika Salman Al Farisi menerima surat dari sahabatnya supaya pindah ke Tanah Suci, maka dengan tegas Salman menjawab : “Tidak ada tempat yang bisa mensucikan manusia, bukankah yang dapat mensucikan manusia hanyalah amal salihnya?”
Timbul pertanyaan, mengapa mereka yang rata-rata perpendidikan tinggi dan bahkan ada yang berpredikat haji namun begitu lemah dalam beragama, begitu hina jiwa mereka serta begitu miskin hati mereka.
Jawabannya mungkin mereka tidak siap mengahadapi ujian, manusia hidup di Dunia ini memang tak pernah lepas dari ujian dari Allah, ujian bisa berupa musibah bisa juga rezeki yang melimpah, dan anehnya kebanyakan manusia justru tidak lulus ujian dengan harta yang melimpah, seperti halnya Tsalabah.
Tsalabah pada waktu miskin taat beribadah namun setelah minta do’a dari Rasulullah dan menjadi kaya ia lupa beribadah, karena sibuk mengurus harta.
Allah mengingatkan kita dalam Hadist Qudsi : “Wahai hamba-hambaku sempat-sempatkanlah olehmu beribadah kepada-Ku, niscaya kupenuhi hatimu dengan kekayaan dan kedua tanganmu dengan rezeki, dan janganlah kau jauhkan diri dari-Ku, nanti hatimu penuh kemiskinan dan kedua tanganmu sarat kerepotan”
Mungkinkah saudara-sadara kita karena kesibukannya merasa tidak ada waktu lagi untuk beribadah kepada Allah dan berganti beribadah kepada harta dan tahta, karena merasa harta dan tahtalah yang bisa memuaskan dirinya, padahal dunia dan seluruh isinya ini tidak mungkin bisa memuaskan manusia yang serakah.
Luqmanul Hakim pernah memberi nasihat kepada anaknya : “Dunia ini sebetulnya cukup untuk memenuhi kebutuhan semua manusia, akan tetapi takkan pernah cukup untuk memuaskan keserakahan hanya seorang saja “
Mungkin ada baiknya kita belajar dari sejarah kehidupan Alexander Yang Agung/The Great Alexander/Alexander Sang Penakluk dari Makedonia, panglima perang yang selalu menang dalam perang dan dapat mengumpulkan harta yang bergunung.
Menjelang akhir hayatnya, setelah digigit nyamuk malaria, Alexander berpesan kepada pengawalnya:
“Kalau maut sudah merenggutku nanti, masukkanlah jenazahku ke dalam peti mati yang dilubangi kanan dan kirinya, julurkan kedua tanganku keluar dari peti mati melalui lubang tersebut, letakkan kereta matiku di atas sebuah kereta terbuka, araklah kereta itu pelan-pelan agar semua orang melihat peti matiku menjadi sadar, bahwa ternyata seorang panglima perkasa yang selalu menang dalam perang dengan harta rampasan begitu banyak ternyata tak berdaya menghadapi seekor nyamuk dan pada waktu meninggal dunia tangannya kosong tidak membawa apa-apa. Mudah-mudahan manusia di belakangku kelak tidak akan sombong dan rakus dengan kesempatan yang dimilikinya.“
Manusia sebenarnya adalah mahkluk ciptaan Allah yang paling diistimewakan, selain diberi fisik paling sempurna, manusia juga diberi beberapa kelebihan lainnya. Ada satu kelebihan yang diberikan oleh Allah kepada manusia yang tidak diberikan kepada makluk lain selain manusia yaitu “kemerdekaan”.
Seluruh mahkluk ciptaan Allah di jagad raya ini tidak ada yang diberi kemerdekaan oleh Allah termasuk malaikat, mereka semua patuh dan tunduk kepada Allah, sebagaimana firman Allah di dalam Al-Qur'an surat An-Nahl ( XVI ) ayat 49 yang artinya “Dan hanya ke pada Allah sajalah bersujud segalanya yang ada di langit, maupun yang ada di bumi, sejak binatang-binatang yang berkeliaran, hingga para malaikat. Lagi pula mereka tidak pernah sombong " .
Dan juga firman Allah dalam surat Ali’Imran 83 yang artinya : “ Apakah mereka akan mencari Agama lain selain dari Agama Allah ? padahal seluruh mahkluk yang ada di langit dan di Bumi semua menyatakan patuh kepadaNya, suka atau tidak suka. dan kepadaNyalah mereka dikembalikan “
Dengan kemerdekaan yang dimiliki itulah manusia menjadi mahkluk yang luar biasa, dengan kemajuan teknologi yang dicapai, manusia seakan dapat membuat apa saja sesuai keinginananya. Dan dengan “kemerdekaan” itu pulalah ternyata manusia juga ada yang memilih patuh kepada Allah namun juga ada yang kufur kepada-Nya.
Sebagai penguasa yang Maha Adil, meskipun manusia diberi kemerdekaan memilih (patuh atau kufur) namun Allah dengan beberapa Nabi dan Rasul selalu mengingatkan kepada manusia bahwa dunia ini sifatnya sementara, hanya sebagai tempat untuk mencari bekal di hari akhir yang lebih kekal dan di hari akhir nanti Allah juga akan memberikan balasan yang sangat adil atas pilihan manusia tersebut.
Bagi yang memilih patuh, di hari akhir balasannya adalah sorga, namun bagi kufur balasannya adalah neraka, dan di sinilah sebenarnya kecerdasan manusia diuji. Bagi manusia yang cerdas tentu akan memilih memilih patuh di dunia dengan kebebasan di sorga dengan berbagai kenikmatan yang lebih kekal di hari akhir. Namun bagi manusia yang “dungu” tentu akan memilih kebebasan di dunia yang sifatnya sementara dengan siksa yang lebih kekal di hari akhir.
Suatu ketika ada seorang yang bertanya kepada Rasulullah Muhammad : “Ya Rasulullah siapakah manusia yang paling cerdas?”.
Rasulullah menjawab : “Orang yang paling cerdas adalah orang yang paling banyak mengingat mati.“
Artinya orang yang paling banyak mengingat mati adalah orang yang paling banyak mencari bekal untuk dibawa mati, yaitu amal salih. Sebaliknya orang yang tidak pernah mengingat mati adalah orang yang tidak pernah mencari bekal mati, mereka hanya mencari kepuasan hidup di dunia, mereka tak ubahnya binatang ternak.
Contoh sederhana pada hari raya qurban, binatang qurban tersebut meskipun teman-temannya sudah disembelih, mereka tidak pernah berfikir bahwa sebentar lagi akan tiba gilirannya untuk disembelih/mati, yang mereka fikir hanya rumput hijau atau lawan jenisnya, sama halnya dengan manusia, meskipun umurnya sudah tua dan sebentar lagi pasti akan masuk ke liang lahat namun yang difikir hanya bagaimana memperkaya diri dengan cara apapun tanpa memperdulikan aturan agama.
Contoh dari Umar bin Chatab
Bagi saudara-saudara yang kebetulan menjadi pejabat atau wakil rakyat ada baiknya kalau bisa meneladani pola kepemimpinan Umar bin Chatab.
Sebagai kepala negara Umar ternyata mempunyai kepedulian yang luar biasa terhadap rakyatnya, hampir tiap malam ronda, melihat dari dekat kondisi rakyatnya.
Suatu malam ketika ronda, Umar mendengar tangisan anak kecil. Umar pun mendekati suara tangis anak tadi dan setelah dekat dia mendengar suara seorang perempun berkata : Kelak aku akan adukan Umar kepada Allah.
Umar kemudian mengetuk pintu pelan-pelan lalu masuk: ketika sampai di dalam rumah Umar melihat perempuan tadi menggoreng kerikil untuk menenangkan anaknya. Umar bertanya kepada perempuan tadi:
“Apa yang diperbuat Umar kepadamu?
Perempun tersebut tidak tahu bahwa yang dihadapi adalah Umar sendiri lantas menjawab:
“ Umar mengirim suamiku ke medan perang, meninggalkan anak-anak kecil kesepian, tidak meninggali apa-apa sehingga anak-anak menangis kelaparan“.
Umar lalu pergi, kemudian kembali membawa tepung dan daging digendong diatas penggungnya sendirian. Dalam perjalanan ada seorang yang melihatnya dan menawarkan diri untuk menggatikannya. Ternyata Umar menolak dan berkata :
“Kalau kamu menggantikan aku menggendong tepung ini, siapa yang akan memikul dosaku ? Menggantikan kelalaianku dihari kiamat nanti?
Mudah-mudahan kita semua masih punya malu dan mau mengaca diri dan bagi yang memakan uang rakyat segera bertobat dan mengembalikan kepada rakyat, namun kalau itu sulit terjadi mudah-mudahan segera muncul pribadi-pribadi seperti remaja putri tersebut yang akan segera mengganti para petinggi dan wakil rakyat yang kalbunya sudah ‘membatu’.
Surabaya, Maret 2011
thumbnail

Berita bahagia
Teman-teman pembaca setia blog www.adjisubela.com yang saya cintai, mulai saat ini Anda semua akan mendapatkan sajian materi yang Insya Allah akan lebih baik dan penampilan lebih menarik, dan diperbarui setiap waktu. Selain itu rubrik Anda juga akan ditambah sesuai dengan materi yang tersedia.
Semoga blog ini dapat bermanfaat. Sampaikan kepada sahabat-sahabat Anda agar menengok blog ini syukur menjadi follower-nya.
Tak lain marilah kita berdoa semoga Tuhan YME selalu melindungi kita dan memberikan Rahmat-Nya kepada kita semua. Amin.

Senyum Dikit

thumbnail

Edisi ke 15

“Kata-kata mutiara” mengenai hidup

  1. Hidup dimulai pada usia 40 tahun. Tapi Anda akan rugi banyak kalau menunggu sampai usia itu!
  2. Hidup. Separuhnya dirusak orangtua kita, separuhnya dirusak anak-anak kita.
  3. Ketika Anda hendak menikmati hidup pada saat keuangan Anda sangat cukup untuk makan-minum enak, lalu bersenang-senang, tiba-tiba dokter mengungkung Anda hanya dengan segelas susu.
  4. Kenapa hidup perempuan lebih panjang dari pria? Jawabnya: karena mereka tidak pernah punya istri!

Wisata

Wisata


Selendang Mayang Melayang di Kota Tua
Oleh Adji Subela
Warna pelangi Selendang Mayang begitu menggugah selera merangsang liur. Di tengah terik matahari siang di pelataran Taman Fatahillah, Kota Tua, Jakarta Barat, di hari Senin, Selendang Mayang mengibas pesonanya seolah merayu pengunjung Museum Sejarah Jakarta, atau mereka yang sekedar menikmati pemandangan, atau penendara sepeda onthel, untuk mencicipi-meresapi segarnya.
Es Selendang Mayang belakangan ini populer kembali, antara lain berkat siaran kuliner di televisi. Penghilang rasa haus khas Betawi ini telah bertengger di kawasan Kota Tua sejak tahun 1987 lalu. Penjualnya adalah warga asli Betawi dari kampung Kedoya, Kanda. Pria beranak tiga ini meneruskan usaha mertuanya. Pertama karena hanya ketrampilan ini yang ia punyai, kedua ingin supaya es model asli Betawi ini digemari lagi. Seingatnya, ketika masih kanak-kanak, es selendang mayang cukup populer di kalangan warga Betawi maupun pendatang.
Di tahun 70-an banyak penjualnya, sekarang di lingkungan Taman Fatahillah atau yang dulu disebut Taman Beos, tinggal dia yang bertahan. Meskipun demikian, di daerah Petak Sembilan masih ada juga yang menggelar Selendang Mayang tiap hari, dan belakangan laris juga.
Selendang selera
Es khas Betawi ini ujudnya biasa saja, yaitu santan yang diguyur air gula dan diberi pecahan es kecil-kecil. Tapi isinya hebat. Bentuknya mirip puding (podeng) asal Belanda itu. Warnanya merangsang, yaitu merah, hijau, putih. Puding tradisional ini dibuat dari tepung aren yang didatangkan dari Bekasi. Jadi bahannya mirip hunkue itu.
“Tepung aren dari sana bagus, bersih, dan lebih putih,” ujar Kanda. Puding itu ditutup pakai daun pisang, lantas diiris tipis-tipis memakai pisau bambu (sembilu), sebelum dituang di mangkok. Tiap hari Kanda menghabiskan dua nyiru besar puding aren ini.
Setiap hari pukul 06.30 Kanda berangkat dari rumah untuk naik kereta listrik pagi. Petang hari pukul 17.00 ia harus pulang supaya takketinggalan kereta. Semula Kanda berjualan di halaman Taman Fatahillah. Seingatnya, mulai 2007 makin banyak pengunjung yang datang, dan tahun 2009 Kanda diajak berjualan di cafe di dalam Museum Sejarah Jakarta, terletak di bagian belakang.
Ketika ditanya berapa penghasilannya, Kanda malu-malu. “Pokoknya bisa menghidupi saya, istri, tiga anak dan mertua saya,” jawabnya mengelak.
Sambil meresapi sejarah ibukota lewat Museum Sejarah Jakarta es Selendang Mayang menjadi komplemen nostalgik bagi penduduk Jakarta yang pernah mencecapi popularitas es puding tradisional tersebut di masa lalu.

Cerpen - 11

thumbnail

Matahari Malas Mendaki Langit

Oleh Adji Subela

Pagi itu adalah pagi yang paling panjang dalam hidup seorang budak kecil, Udin. Matanya yang jernih berkilat meluapkan rasa keheranannya. Matahari tak pernah naik dari batas cakrawala timur dan ia diam malas mengambang di sana.

Arloji orang-orang sudah menunjukkan hari pukul dua belas siang. Surya itu tak pernah merambat naik ke lengkung langit di atasnya! Aneh, sungguh ajaib sekali! Terlebih aneh lagi, orang-orang tak pedulikan hari pagi yang berkepanjangan itu. Semua sibuk, sibuk lalu sibuk lagi. Ada yang sibuk bermalas-malasan, ada yang sibuk lelap tidur dan ada yang sibuk bingung ke sana ke mari tanpa tujuan jelas. Satu dua orang sibuk melamun memandangi langit yang selalu pagi itu dengan mata bulat tanpa menggerakkan kelopak atau pun bulu matanya. Keheranan Udin kian memuncak. Tetangganya acuh tak acuh, bahkan emaknya pun tak pernah hirau bola bulat yang suka membakari langit setiap hari itu. Hati Udin lalu menggelepar-gelepar memberontak. Ia marah, ia protes. Udin hendak mengadukan polah tingkah matahari yang amat ganjil tersebut kepada para pejabat yang terhormat. Pejabat-pejabat adalah tempat rakyat minta keadilan, kompas arah hidup, memohon arahan ke mana gerangan kita akan pergi. Udin percaya akan itu karena kakeknya dahulu bercerita demikian itu. Kakek berkata, semuanya tertulis dalam kitab Tadjoe’s Salatin yaitu Makoeta Segala Raja-Raja tulisan pujangga besar Bukhari Al-Jauhari. Satu tuntunan dan tuntutan untuk para raja atau punggawa kerajaan atau pemimpin-pemimpin. Udin ingin sampaikan kemalasan matahari itu kepada para pemimpin. Segera.

Ia kini lari kencang sekali hingga nafasnya tersengal-sengal menuju ke kantor kelurahannya.

“Tuan! Tuan! Matahari tak hendak naik hari ini. Ia malas dan cuma terapung-apung bodoh di sisi timur!” teriaknya dengan selingan nafas mendebur-debur. Orang-orang diam tak hirau budak kecil itu. Orang-orang yang ada di dalam ruangan itu tertawa-tawa, ada pula yang membaca lembar ramalan togel dan ada yang tidak apa-apa. Udin marah, lalu berlari ke kantor kecamatan, dan di sana ia kembali berteriak-teriak seperti yang telah dilakukannya tadi. Tak seorang pun di sana mendengar teriakan budak kecil penuh semangat itu. Mereka merebah badan tidur-tiduran di kursinya, sambil menghitung-hitung berapa komisi atas pembangunan ruko di pinggir jalan raya.

“Sungguh celaka. Matahari tak mau bangkit! Hari hendak kiamat dan orang-orang tak mau hirau!” teriaknya kencang-kencang, lalu kembali berlari ke sebuah gedung besar tempat para pembesar provinsi. Ia anggap semuanya akan berakhir manakala ia mengadukan semua kejadiannya kepada pejabat dan pemimpin tertinggi. Ia merasa ragu-ragu lalu berdiri tegak tak bergerak di dekat pintu pagar paling depan. Anak kecil itu berpikir, kalau hari pagi terus, maka takkan ada makan siang dan makan malam. Semuanya sarapan pagi. Dan baginya, itu berarti sepotong ubi kayu rebus dan secangkir air bening. Itu tak boleh terjadi. Ia ingin makan siang dengan sambal belacan dan gulai kepala ikan patin atau goreng ikan kalui, jadi hari tak boleh pagi terus-menerus seperti macam ini.

Tekadnya yang berkobar mendorong ia berlari-lari kecil memasuki gedung pemerintahan. Dilihatnya semua orang di dalam gedung itu berpakaian rapi. Ada yang berpakaian jas serta dasi, ada yang bersafari dan ada yang berpakaian tradisional.

“Tentulah ini pesta besar para pemimpin dan pejabat negeri,” kata Udin dalam hati.

“Saudara-saudari sekalian, semuanya sudah diatur, semua sudah dibereskan oleh para staf, jadi tinggal Anda sekalian menengok rekening bank masing-masing. Tolong jangan sampai bocor informasinya ke wartawan. Kita semuanya akan repot, apalagi jika pusat mendengar,” ujar seorang pria berbadan gemuk segar dan wajahnya berseri-seri.

“Memang apa pula urusan orang pusat pada kita? Go to hell with pusat!” pekik seorang pria pendek kecil dan bermisai tebal.

“Betuuuuuuuulll, memang siapa itu pusat? Mereka tak hirau kita bertahun-tahun dan sekarang mereka berkelahi untuk masuk ke Istana...marilah kita nikmati hasil kekayaan alam negeri kita!!!” Teriak seseorang lainnya.

“Inilah namanya reformasi.”

“Bukan, inilah otonomi daerah!”

“Bukan, bukan, inilah yang namanya self determination of our-owned destiny.” “Pendek kata inilah saat yang kita nanti-nantikan. Berpuluh tahun kita hidup sengsara dan hanya melayani pusat. Padahal, tahu tidak kawan-kawan, kita ni penyumbang terbesar pendapatan nasional. Inilah saatnya kita nikmati kekayaan kita, mau kapan lagi kita?”

“Betul, betuuul, mufakat aku.”

Udin sudah tak sabar lagi menunggu orang yang sedang bersuka-ria itu, matahari saat ini malas mendaki langit, dan hari tak akan lagi siang. Artinya, bagi Udin, dan juga saudara-saudara kandungnya, dan juga tetangga-tetangganya, mereka hanya akan makan sepotong ubi kayu dan secangkir air putih. Air putih pun kini mulai kekuning-kuningan karena kemarau dan banjir menggigiti Daerah kita silih berganti.

“Tuan-tuan, Puan-puan...hentilah, matahari tak mau naek ke langit hari ni....,” teriaknya kencang-kencang. Tapi teriakan itu tenggelam oleh derai tawa dari dalam gedung itu.

Si kecil itu sudah tak ada sabar lagi di dadanya. Matahari tak mau mendaki langit. Ia pun berlari kencang-kencang ke gedung megah tak jauh dari tempat itu.

Di sana pun derai tawa tak kalah-kalah pula. Lengkingannya pun lebih tinggi menusuk gendang telinga.

“Tahukah Bu, pekan lalu kami berlibur ke London. Sekarang mereka berganti musim dan ada obral pakaian besar-besaran di Harrots. Di Mark & Spencer malah ada obral keramik bagus-bagus. Aduuuh, cantik-cantik modelnya Bu...,” kata seorang Nyonya Polan.

“Aduh mak, kenapa tak kasih kabar padaku, Bu, ingin aku ikut ke London. Tapi ah, anak-anak kami merengek-rengek minta ke Disneyland, Amerika. Tapi aku bilang janganlah jauh-jauh, sekarang ni, orang Indonesia banyak dicurigai di Amerika, dapat visa pun sulit bukan main,” tutur Nyonya Gendut.

“Lantas ke mana kalian bawa anak-anak?”

“Ke Disneyland yang di Jepang saja laaah.........”

Di sudut lain dua perempuan berdandan menor-menor berbincang masalah lainnya.

“Eh tahu tak, ada orang yang jual BMW Roadster yang baru kemarin,” tutur Nyonya Menor.

“Eh, itu model terbarukah?” Tutur Nyonya genit.

“Iyo lah......model terbaru........begini....,” jawab Nyonya Menor sembari mengangkat ibu jarinya di depan hidung lawan bicaranya.

“Berapa?”

“Murah, sekitar satu setengah lebih sikit.....,” jawab Nyonya Menor sembari tertawa.

“Boleh jugalah...ada yang lebih bagus?”

“Ssst ada yang mau jual Ferrari Testarosa lho, murah, harga dibanting, sebab yang empunya sedang kesulitan bisnis...,” sambung Nyonya Menor.

“Berapa, berapa murah itu?”

“Dua tiga perempat........murahlah itu”

“Tapi bagaimana mau kendarai Ferrari di Daerah kita ini, jalan rayanya pun berlubang-lubang bergelombang naik turun. Bisa patah dua mobil tuh.”

“Itulah kondisi jalan di sini nih, buruk karena dilindasi truk-truk balak itu. Enak ‘kali mereka tuh. Perusahaan lain yang membangun jalan perusahaan lain pula yang merusaknya.”

“Ah kenapa sulit ‘kali. Kirimlah mobil itu buat putra Ibu nanti di Australia.”

“Iyo, benar pula usul Ibu nih. Sebentar lagi anak sulungku hendak berkuliah di Australia.”

“Nah ambil saja di Perth, Bu, di sana masih sepi dan jalannya lurus-lurus serta mulus. Ambillah satu rumah di Golden Estate, selagi mereka banting harga sekarang ini.”

“Alamak, bagaimana pula mau kirim mobil itu di sana?”

“Eeeee, Ibu nih bagaimana. Ferarri itu sekarang masih ada di Perth, Bu.”

“Begitu ya? Bolehlah nanti aku bilang ayahnya.”

“Hoooiiiiiiiiii....Puan-Puan.......matahari tak naik-naik ke langit pagi ini ...,” teriak Udin lagi.

“Apa pula maksud budak ni?” tanya seorang perempuan muda, nampaknya dulu tak cantik, tapi kini ia mau dibilang cantik karena di beberapa bagian wajahnya sudah ditambal pakai silikon, serta make-up-nya sungguh meyakinkan sekali tebalnya. Dia istri ketiga dari seorang pengusaha baru yang mendadak jadi kaya raya.

“Tak tauklah agak mabok dia barangkali......,” jawab seseorang semaunya.

“Oh, ya, mau ke mana anak berkuliah?” tanya si cantik kepada Nyonya Gendut.

“Inilah, Bu, ayahnya mau dia berkuliah di Jakarta. Tapi hitung punya hitung, mahal ‘kali biayanya. Aku sarankan berkuliah saja di KL (Kualalumpur, pen). Bayangkan, biaya perjalanan hanyalah Rp300 ribu, uang pemondokan tak banyak selisih dengan Jakarta. Lagi pula, mereka akan terbiasa dengan berbahasa Inggris. Nah, kita akan punya added value. Am I right?” Demikian Nyonya Gendut menjelaskan alasannya kepada si cantik.

Natuurlijk zoes.....heel goed...,” kata seorang perempuan tua, yang datang memberi komentar tanpa diminta. Ia sudah sepuh sekali, janda seorang pimpinan onderneming yang dikawini suaminya ketika baru berumur 12 tahun, tapi hingga kini masih amat bersemangat mendatangi segala rupa pesta-pesta.

Udin sudah habis kesabarannya. Ia berteriak-teriak. Ia takut pagi akan merajalela dan ia takkan bisa makan nasi, karena siang takkan ada lagi. Itu artinya sepotong ubi kayu dan air putih keruh. Ia berteriak-teriak kencang sekali! Berteriak! Berteriak lagi! Dan keras! Lebih keras, semakin keras, hingga akhirnya nafasnya habis! Habis! Tinggallah satu atau dua. Dadanya yang dipenuhi bayangan tulang-tulang iga dan ditutupi kulit yang dekil kini kembang-kempis. Udin memiliki pengalaman baru dalam hidupnya: Pingsan!

Seorang anggota Satuan Polisi Pamong Praja yang baru saja terbangun dari lelap kantuknya, terkejut ketika ia tertimpa setumpuk kecil daging tipis dan tulang-tulang menonjol-nonjol: Udin! Didapatinya makhluk yang menyedihkan itu telah terkapar menghimpit kedua kakinya. Kedua matanya yang masih agak malas berjaga, hanya menangkap sesosok bayangan makhluk kecil kehitaman lunglai di kakinya. Semula ia mengira benda itu bangkai anjing kampung. Tapi karena dilihatnya ia itu bertangan dua dan berkaki dua, ia mengira itu bangkai monyet. Kemudian ketika kelopak matanya terbuka agak lebar sedikit, ia merasa monyet itu memakai celana pendek dan berbaju dekil.

“Mungkin ini kera anggota komidi monyet,” pikirnya. Dengan amat malas, ia tengok ke kiri dan ke kanan, ternyata tak ada satu pun gendang pengiring komidi monyet itu, tak ada payung kecil, pikulan dan keranjang kecil, dan ternyata tak ada bulu-bulu di tangan dan kakinya, kecuali di bagian kepalanya. Ekor pun tak ada padanya, hanya secuil sisa kulit menonjol kecil di bagian depan badan sebelah bawah. Itu nampak dari sela-sela celana pendeknya yang sudah terkoyak-koyak di makan masa.

“Manusia!” anggota Satpol itu terpekik.

Dari dalam gedung masih terdengar sorak-sorai, pekik suka cita keriangan tak ada taranya. “Mari kita poco-poco.....,” teriak seseorang di antaranya. “Ah, apa itu poco-poco, marilah kita dance ......ballroom...,” usul janda onderneming.

“Hehehe....ketinggalan jaman. Dan juga bagaimana berdansa di pagi hari macam ni?” jawab seseorang yang lain.

“Oh ya, mari kita adakan tur ke Spanyol untuk apa ya...eh...studi banding, studi banding. Kita ajak para istri wakil rakyat. Kita belajar dansa di sana, flamenco, tango atau apa pun juga,” usul Nyonya Gendut.

Bullshit, itu usul absurd,” komentar janda onderneming.

“Taklaaaaaah...kita...,” belum lagi kalimat itu selesai semuanya jatuh pingsan kecapaian...

Skor satu-satu. Udin pingsan kecapaian berteriak, para nyonya besar itu pingsan kecapaian karena kesenangan.

Matahari belum juga naik ke langit tinggi. Hari masih juga pagi, dan ayam jantan pun masih juga berkokok-kokok berganti-ganti bersaut-sautan.

*******

Di tempat lainnya, di sebuah gedung besar yang berbeda, belasan Tuan berperut buncit tertawa-tawa ria. Di tangan kanannya terjepit gelas Cognac, ada lagi yang menjepit gelas jangkung berisi Bordeaux dan ada pula XO. Hanya ada seorang yang tangan kanannya memegangi gelas berisi air putih. Air mineral. Ia tak berani meminum minuman Belanda itu karena dilarang agamanya. Ia hanya berdiri di sebuah sudut ruangan menunggu penugasannya.

Pria itu punya tugas untuk membaca doa, umumnya pada sesi yang terakhir, agar semuanya mendapatkan berkah dari Yang Maha Kuasa, tanah airnya subur makmur dan para pemimpinnya dilindungi oleh Yang Maha Kuasa tadi. Tapi mereka tidak pernah berpikir tentang Udin yang hanya menelan sepotong ubi kayu rebus setiap pagi harinya, dan entah apa yang akan dimakannya pada tengah hari. Tak ada doa-doa untuk Udin dan teman-temannya. Orang-orang jelek dan tak beruntung menjadi lebih sial lagi karena dalam doa resmi mereka tak pernah disebut-sebut.

Dengarkah kalian dalam doa-doa resmi di kantor-kantor pemerintah secara khusus mendoakan anak yatim piatu? Mereka menyebut-nyebut rakyat Indonesia semuanya, bukan secara khusus menyebut para anak yatim piatu, anak jalanan dan bayi-bayi yang dibuang oleh emaknya karena malu telah mengandungnya? Suatu perbutan keji di mana ia semula memintanya dengan bersedia disenggamai seorang lelaki kemudian tak mau mengandungi dan membesarkan anak – karunia Allah itu?

Udin selalu bermimpi makan besar dengan sambal belacan dan gulai kepala ikan patin. Setidak-tidaknya itu semua dipenuhi dalam angan-angan, sedangkan kenyataannya selalu berbeda. Amat jauh sekali. Pada pikirnya ini semua karena matahari enggan mendaki langit lagi. Ia merasa heran, kenapa matahari yang setiap harinya selalu patuh menjalani prosedur perintah alam tiba-tiba mogok, malas bekerja. Udin pun mengira karena tak ada yang mendoakan agar matahari terus berputar mengelilingi bumi – atau pun sebaliknya – dan jangan sampai terhenti atau malas seperti kali ini.

Orang-orang sudah terlalu enak menikmati keseharian alam sampai lupa berdoa menyukuri karuniaNya.

Pasir Pengarayan, 2003. Di tengah hawa panas melecuti kulit.

Artikel - 13

Artikel - 13

Jangan kotori Museum Sejarah Jakarta dan lingkungannya!

Oleh Adji Subela

Pernah masuk ke Museum Sejarah Jakarta (MSJ) belakangan hari ini? Di salah satu pintu belakang di sisi timur, terlihat coret-moret grafiti tangan-tangan jahil yang benar-benar mengotori pemandangan.

Bayangkan, satu gedung yang sudah berusia 400 tahun lebih memendam sejarah perjalanan kota Jakarta yang dulu di jaman penjajahan Belanda bernama Batavia itu, tiba-tiba dicorengi wajahnya oleh “vandalis” di Abad ke-21.

He! Generasi muda masa kini! Tak tahukah engkau bahwa gedung ini dipugar oleh Gubernur Ali Sadikin tahun 1972 dan baru selesai 30 Maret 1974? Dengan biaya yang begitu mahal dan memakan waktu, tenaga, serta pikiran begitu banyak?

Tak tahukah engkau betapa sulitnya memugar bangunan yang bersejarah itu agar sesuai dengan aslinya?

Tak kurang dari Rp.155,6 juta biaya yang dikeluarkan oleh Pemerintah Daerah Khusus Ibukota Jakarta waktu itu untuk memugar gedung yang dulunya disebut sebagai Stadhuis atau Balaikota. Kala itu biaya sekian itu luar biasa besar, yang diambil dari pajak warga Jakarta.

Sebelum dipugar, gedung MSJ ditempati Kodim 0503 Jakarta Barat, dan di halaman belakangnya dihuni puluhan keluarga. Mereka harus dipindahkan, dan diberikan tempat penampungannya yang baru. Sulit bukan?

Gubernur Ali Sadikin yang memegang tampuk pimpinan Jakarta antara tahun 1966 hingga 1977 memiliki wawasan yang jauh mengenai gedung Stadhuis dan lingkungan Jakarta Lama.

Berbeda dengan Jawa Tengah yang memiliki candi-candi dan peninggalan budaya lainnya, Jakarta tidak punya. Kota ini hanya mempunyai gedung-gedung tua. Jadi Bang Ali akan memanfaatkan wilayah Jakarta Lama untuk menjadi ikon pariwisata ibukota.

Gubernur Ali Sadikin: “Kerjakan mulai besok”

Pucuk di cita ulam tiba. Tahun 1969 seorang ahli keramik yang bekerja di Indonesia di bawah bendera UNDP (United Nations Development Program) terpesona oleh “kecantikan” Jakarta Lama dan gedung Stadhuis sebagai episentrumnya. Semula ia tak mengira ada wilayah yang indah seperti itu di Jakarta. Pria warganegara AS berdarah Italia itu bernama Sergio Dello Strologo. Ia memang baru setahun bekerja di Indonesia. Oleh asistennya, Soedarmadji (Adji) Damais, orang itu diajak melihat-lihat Jakarta Lama. Ahli keramik tersebut mengajukan ide pemugaran wilayah Jakarta Lama, sebab dirinya pernah terlibat dalam pekerjaan pemugaran sebuah gedung di Jamaika.

Ide itu disokong sejumlah tokoh seperti Ir. Ciputra, Ny. Tuty Heraty Rooseno, Ir. Wastu Pragantha Zhong. Ir Ciputra yang menghubungi Bang Ali mengenai ide tersebut. Beberapa hari kemudian Sergio mengadakan pemaparan di depan Gubernur Ali Sadikin.

Di tengah ketegangan apakah ide itu diterima, tiba-tiba Bang Ali memberi perintah: “Oke Anda kerjakan mulai besok”. Semuanya terkejut kenapa Bang Ali begitu cepat menerima ide itu dan minta segera bekerja. Almarhum memang memiliki visi jauh mengenai pariwisata Jakarta dan menjadikan wilayah Jakarta Lama sebagai ikon penting.

Maka pekerjaan pemugaran pun dimulai, dan menemui banyak sekali hambatan baik dari bidang sejarah/arkeologi, faktor teknis, sosial-kemasyarakatan, dll. Begitu sulit pemugaran dilakukan, begitu banyak waktu dan biaya yang dikeluarkan sehingga akhirnya Musem Sejarah Jakarta sebagai awal pemugaran wilayah Jakarta Lama jadi.

Banyak kisah menarik mengenai pemugaran wilayah itu yang akan dimuat beberapa kali di Blog www.belazipper.blogspot.com. ini. Ikuti terus!

Foto oleh Ir. Indro Kusumowardono