Dewa yang Bersemayam di Atap Rumah

Dewa yang Bersemayam di Atap Rumah


Cerpen
Oleh Adji Subela
Aguan berdiri mematung di beranda rumahnya. Ia berharap ada uang jatuh dari langit. Dua juta saja, tak usah banyak-banyak. Tiba-tiba, jatuhlah uang dua juta rupiah kontan di dekat kakinya!
Pria itu terkejut bukan alang kepalang. Tapi, terus terang saja, ia bergembira sekali. Ia masih sempat menoleh ke tepekong tempat abu leluhurnya disimpan. "Aneh," pikirnya, "aku belum lagi sempat berdoa minta uang, sudah jatuh pula ia ke sini". Uang itu terdiri dari dua ikatan, masing-masing sejuta rupiah, dililit pakai label bercap huruf Cina. Dari sebuah bank di Guangdong! Rezeki itu disimpannya di laci mejanya. Tiba-tiba ia terperanjat, akalnya mulai bicara.
"Mana mungkin bank Guangdong mengikat uang rupiah?" gumamnya.
"Ah, bisa saja. ‘Kan bank-bank selalu menyimpan mata uang asing," dengus tepian lain dari hatinya.
Aguan keluar lagi ke beranda rumahnya. Di luar hujan masih rajin mengguyuri jalanan di depan rumahnya. Seorang apek-apek berjalan terhuyung-huyung di bawah payung rombeng yang dipegangnya dengan tangan bergemetaran. Semalaman tadi ia berjaga bermain mahyong dengan teman-temannya di sebuah sudut kota.
"Wah, menang pulak hari ini?" teriak Aguan. Apek itu cuma mencibir dengan wajah kecut-masam. Lantas ia menunjukkan dua jarinya. "Notiau" teriaknya dengan suara serak. Terlihat kepulan asap kopi pekat dari mulutnya.
Aguan merasa sangat beruntung. Apek itu telah kehilangan dua juta rupiah dalam semalam dan ia mendapatkan uang sejumlah itu hanya karena memintanya saja, di pagi hari yang berhujan dan dingin itu. Ketika apek sial itu membelok lantas menghilang di tikungan jalan, Aguan berpikir kembali: "Alangkah enaknya kalau jatuh lagi dua juta rupiah."
Uang dua juta rupiah kontan jatuh lagi di depannya! Aguan terlongong-longong. Ia menoleh kembali ke tepekong di ruang tamunya, tapi di sana tak ada apa-apa, biasa seperti setiap harinya. Istrinya pagi-pagi tadi telah mengisi gelas-gelas pelitanya dengan minyak kelapa, supaya apinya menyala terus. Itulah yang dikerjakan setiap hari perempuan yang telah dinikahinya selama limabelas tahun berturut-turut, dan belum pernah ada kejadian seperti ini.
Tepekong dirasanya agak pelit hari-hari belakangan ini. Ia pernah meminta rezeki supaya kapalnya menangkap banyak ikan, tapi tak diberi. Berbulan-bulan ia turun ke laut, tapi hasilnya terlalu kecil. Ia merugi. Kapal-kapal asing mulai menjarahi perairan Riau. Di Selat Karimata, kapalnya selalu berpapasan dengan kapal dari Thailand yang sedang menebar jaring-jaringnya. Kota Bagansiapi-api yang dulu tersohor dengan ikan-ikan lautnya, kini merana tanpa gairah. Para nelayan menjual ikan-ikannya ke Jakarta, karena harganya lebih mahal. Orang-orang di sana rakus menyantap apa saja, dan ikan-ikan laut pun habis tersedot oleh mereka itu. Lalu Aguan hendak berganti haluan. Ia akan berusaha di darat saja. Pria kurus itu merasa dirinya telah mendapatkan firasat yang jitu.
Tempo hari, ketika diadakan upacara Bakar Tongkang, tiang kapal yang dibakar itu kedua-duanya jatuh ke daratan. Itu artinya dewa-dewa telah memberitahu orang Bagansiapi-api bahwa rezeki tahun ini akan jatuh ke darat. Maka Aguan pun menggantungkan jaringnya, dan kapalnya disewakan kepada seorang toke dari Medan. Di Bangko, orang ramai membicarakan masalah pembebasan tanah untuk sebuah perusahaan minyak raksasa. Pengeboran minyak kabarnya akan beralih dari Duri ke Bangko, karena di sana ditemukan kantung-kantung dalam tanah yang mengulum minyak ribuan tahun lamanya jutaan barel, dan akan bertahan puluhan tahun. Kualitasnya, kabarnya sangat bagus, jauh di atas minyak Duri yang sudah banyak mengandung parafin. Di sanalah orang beramai-ramai berspekulasi membeli tanah agar dalam pembebasan nanti mendapatkan uang ganti rugi yang banyak. Itu pekerjaan mudah baginya.
Aguan akan memborong tanah-tanah yang ada, apa saja, baik tanah adat maupun kalau perlu tanah yang sudah ada sertifikatnya sekali pun. Ia akan sogok sekuat-kuatnya siapa saja asal muncul sertifikat baru atas namanya. Dan kelak akan dia naikkan harga tanahnya sekuat-kuatnya semampu ia bisa menaikkannya. Banyak orang berlaku seperti itu dan semuanya bisa! Sertifikat tanah, Tuan, bertumpuk-tumpuk atas sesobek tanah yang sama. Maka ke sanalah uang pemberian dari langit itu akan dibawa, sebagai pembeli tanah. Tapi mana cukup uang sebanyak empat juta rupiah?
"Berilah kami seratus juta lagi.....," seru Aguan agak pelan, takut ikut terdengar oleh tetangganya di sebelah dinding. Kalau tetangganya mendengar teriakannya, tentulah dia akan dikatakan sebagai telah gila karena usaha kapal penangkap ikannya bangkrut. Atau tetangga itu akan ikut-ikut minta uang jatuh tersebut. Mana bisa? Taklah.
Bum! Bum! Bum! Bum! Bum! Berturut-turut berjatuhanlah bertumpuk-tumpuk uang dari atas. Cepat ia kumpulkan rezekinya itu dan lalu dihitung-hitungnya. Seratus juta rupiah!
Kagumlah si Aguan akan kemanjuran permintaannya. Tiba-tiba terlintas wajah bininya yang dua tahun terakhir ini telah memasuki masa menopause. Blouse warna biru Ben Hur serta parfum Bvlgari yang dipakai sang bini sudah tak lagi membuat Aguan terbakar api nafsunya. Istrinya itu telah agak gemuk dan amat pencemburu, karena tekanan-tekanan menopausenya. Aguan ingin berganti bini. Lantas terlintaslah pikiran nakal olehnya:
"Hoi, berilah aku bini baru...laaaa."
Bummmmm! Terdengar suara keras, seperti benda jatuh dari ruang dalam rumahnya.
Oleh karena rumah penduduk di Bagansiapi-api kebanyakan terbuat dari kayu, maka debuman sekecil apa pun cukup membuat suara berisik. Suara keras itu disusul pula oleh pekik kecil seorang perempuan. Ini pasti perempuan pemberian dewa dari langit, pikir si Aguan. Ia cepat berlari ke dalam rumahnya dan Aguan memang menemukan seorang perempuan yang meringis-ringis kesakitan bangkit dari lantai kayu. Perempuan itu memegangi punggungnya kesakitan. Bukan perempuan muda yang cantik seperti bintang film Hong Kong, tapi seorang perempuan yang telah ia kenal baik selama limabelas tahun belakangan ini: bininya!
"Kurangajar! Aku kira peri turun dari langit hadiah dari dewa .......," keluhnya.
“Kulangajal apa hoo! Ngai balu jato, sakik ni badan," semprot sang bini.
"Entah dewa macam apa yang ada di atas sana, sampai hatinya mengasih perempuan yang membosankan itu," kata Aguan dalam hatinya. Ia cepat berlari-lari kecil ke beranda lagi sampai lantai kayu rumahnya berbunyi berdecit-decit.
Hujan masih saja menampias beranda rumahnya, membuat semburan-semburan air lembut ke wajahnya. Terbayang di wajahnya uang bertumpuk-tumpuk di laci mejanya serta sebagian lagi disimpannya di lemari pakaiannya. Kalau sebagian ia belanjakan untuk menyogok para pejabat sampai keluar sertifikat tanah atas namanya, maka ia bakal kaya raya. Tapi Aguan berpikir ulang. Kalau dewa yang sedang berbaik hati di atap rumahnya mau meluluskan permintaannya berkali-kali, kenapa dia tak meminta sertifikat tanah sekalian kepadanya? Aha! Si Aguan yang cerdik!
"Dewa....berilah aku sertifikat tanah di Bangko......berilah aku banyak-banyak....," pintanya dengan nada sedih sekali.
Entahlah kenapa bisa terjadi, tapi siapa pun yang ada di atas rumahnya, pagi itu kelihatannya ia sangat berbaik hati kepada Aguan. Tiba-tiba saja jatuhlah setumpuk buku berukuran folio di hadapan lelaki yang sejak pagi tadi selalu beruntung itu. Buku-buku itu kosong tak ada tulisannya apa pun juga, terbuat dari kertas dokumen yang biasa dipakai buat surat-surat berharga. Hanya ada secarik surat tertulis di dalamnya dengan huruf-huruf Cina berwarna merah kecoklatan, ditoreh memakai mopit secara sembarangan. Tertulis di sana: Tandatanganilah semua buku ini dengan vulpen hitam, lalu lemparkanlah ke atap rumahmu.
Aguan kini percaya bahwa tulisan itu berasal dari dewa, entah dari mana. Mungkin dewa keberuntunganlah yang sedang bersuka hati dan bermurah budi kepadanya. Ia cepat-cepat menandatangani surat-surat itu, kemudian setelah selesai, ia melemparkannya ke atas ke atap rumahnya. Syuuuuuuuuuuuut.............. kertas-kertas itu seolah terisap oleh kekuatan ajaib di tengah gerimis hujan di pagi hari. Hilang.
Pria itu lantas kembali menaruh pantatnya di bangku di beranda dan tak lama kemudian terdengar suara gemerisik dan berjatuhanlah buku-buku itu kembali ke hadapannya. Kini sudah berupa sertifikat tanah! Luar biasa! Permintaan Aguan kepada dewa – yang barangkali bersemayam di atas rumahnya – telah dituruti. Bukan main gembiranya hati pria itu.
*****
Pada suatu hari terjadi kericuhan luar biasa di ruang sidang pengadilan negeri Kabupaten Rokan Hilir. Pengunjung tertawa terbahak-bahak, sedangkan jaksa penuntut umum terpingkal-pingkal. Para pembela tersenyum-senyum masam, kelihatan agak malu mendengar cerita pembelaan kliennya. Bahkan petugas pengawal dari Kejaksaan pun sampai mengusap-usap air matanya karena sejak persidangan dimulai, ia selalu tertawa geli tertahan-tahan. Kegaduhan itu dianggap mengganggu jalannya sidang yang amat terhormat itu. Hakim memukul-mukulkan palunya ke meja berkali-kali minta agar sidang tenang kembali. Itu tidak mudah, karena bahkan panitera serta hakim anggotanya pun ikut tertawa terkikik-kikik tertahan-tahan. Sekali terjadi tadi, si panitera lari terbirit-birit keluar ruangan untuk ke WC, lantaran tertawa sampai terkencing-kencing.
Kepada polisi, kepada jaksa, kepada hakim atau kepada pengacaranya serta siapa saja yang bertanya kepadanya mengenai kasus ini, pesakitan itu tetap pada ceritanya semula: Ada seorang dewa yang baik hati, entah datang dari mana serta wajahnya tak pernah tertampak. Yang pokok, ia tak pernah memintanya datang, tapi dewa tampaknya bersemayam di atap rumahnya. Mungkin juga ia masih akan terus ada di sana. "Mungkin, ini mungkin sekali," ujarnya berulang-ulang kepada siapa saja, "dewa itu bersemayam di atap rumah aku. Ia memberiku apa saja langsung jatuh dari langit, mungkin sekali dari atap rumah tempat dia berada."
"Dia beri aku apa saja yang kuminta. Dia dewa yang sungguh-sungguh baik hati dan pemurah. Tak ada tolok tandingannya. Aku jamin."
"Bapak hakim, sudah jelas tersangka ini tidak sehat jiwanya, kami mohon agar diperiksa oleh sebuah tim ahli dari Rumah Sakit Jiwa Pekanbaru," kata pengacara kepada Majelis Hakim, "mungkin ia mengalami halusinasi yang hebat, sebagai mekanisme pertahanan dirinya terhadap situasi yang tidak mengenakkannya. Ini satu jenis keabnormalan jiwa yang serius."
Hari itu, pria tersebut memang sedang diadili. Pria ini didakwa memalsukan sejumlah sertifikat tanah. Dari penyelidikan polisi terungkap bahwa ia telah memalsukan sertifikat-sertifikat tanah itu di atas lembar sertifikat asli, tapi semua keterangan di dalamnya yang menyebut hak kepemilikannya atas sejumlah tanah, terbukti palsu seratus persen. Pejabat dinas yang berkuasa terhadap masalah tanah yang tertulis di situ semuanya tidak ada orangnya, nama notarisnya pun tidak pernah dikenal di mana pun juga. Anehnya, polisi tak mampu mengungkap siapa orang yang membantu pria setengah baya itu memalsukan sertifikat tanah. Dari mana sertifikat aspal itu berasal juga tak terungkap.
Bayangkan, pria itu telah mengklaim kepemilikan atas tanah kuburan, tanah kantor kecamatan, tanah kantor kelurahan, koramil, polsek serta sekolah-sekolah di sekitarnya. Malahan sertifikat atas tanah yang disebut memanjang beberapa kilometer, ternyata setelah diselidiki, areal itu sebenarnya adalah sejalur jalan raya yang dulu pernah dibangun oleh sebuah perusahaan minyak yang hendak membebaskan lahan di wilayah itu.
"Ini pemalsuan yang paling gila dalam sejarah karier saya!" teriak seorang anggota polisi penyelidik. Tapi itulah senyata-nyatanya yang terjadi.
"Di negara kita sekarang ini, kegilaan apa pun juga bisa saja terjadi. Tapi ini sudah keterlaluan...keterlaluaaaaann sekali," sambungnya kemudian sambil memukul-mukuli kepalanya sendiri.
Satu hal lagi yang menyebabkan semua anggota penegak hukum tercengang, pria tadi mengaku bahwa sertifikat itu semua didapatnya sebagai hadiah dari seorang dewa yang bersemayam di atap rumahnya. Pria tersebut bahkan menunjukkan bukti adanya uang sejumlah seratus dua juta rupiah yang terikat dalam label yang bertuliskan The Central Bank of Guangdong. Polisi tidak pernah bisa membuktikan bahwa uang itu palsu serta dicuri dari seseorang. Mereka tak pernah bisa membuktikan bahwa The Central Bank of Guangdong memang pernah ada di daratan Cina sana.
Tapi terdakwa tetap bersikukuh bahwa dewalah yang telah memberikan semuanya kepadanya.
*****
Hasil pemeriksaan kejiwaan RSJ provinsi menunjukkan, bahwa pria itu memang menderita sakit jiwa yang amat parah, dan sulit untuk mempertanggungjawabkan segala perbuatannya. Artinya, dia tak bisa diadili. Sebagai gantinya, dia diberi kesempatan untuk indekos gratis selama beberapa bulan di RSJ yang terletak di Jalan Raya Bangkinang, di pinggiran kota Pekanbaru.
*****
Beberapa bulan kemudian, akhirnya pria setengah baya tersebut diperbolehkan pulang. Selama berdiam di RSJ, ia menunjukkan sikap yang amat baik, mau bekerja sama, dan dalam test-test terakhir hasilnya sudah meyakinkan para pengasuh, bahwa dia telah sembuh dari penyakit yang dideritanya. Aguan lalu pulang ke Bagansiapi-api.
Kini satu-satunya perbuatan yang membuat tetangganya ketakutan, dan percaya bahwa dia masih agak hangat dahinya adalah dia masih sering duduk di beranda rumah pada pagi hari, sambil melihat ke atas serta mulutnya komat-kamit, tangannya menadah ke atas seperti meminta sesuatu kepada seseorang yang bersemayam di atap rumahnya.
Tak pernah jelas, siapakah dia yang katanya duduk di atap rumah itu!
Bagansiapi-api, 2003
SKH Sinar Harapan, Sabtu, 9 Agustus 2003

Ujian Nasional Dagelan Massal?

thumbnail


Sulit ya mengatur negara. Tapi sesulit apa pun satu negara mestilah hanya punya satu pemerintahan dan satu Presiden atau Kepala Negara. Kalau lebih dari itu bakal repot, kalau tidak ada, lebih runyam, juga kalau ada tapi seperti tak ada. Negara jadi buta tanpa nakhoda.
Mengatur pendidikan saja rumit. Bayangkan, kalau enggak ada Ujian Nasional, maka standard mutu murid seluruh negeri kacau, sulit diukur rata-rata. Dulu itu ujian diserahkan ke sekolah masing-masing. Maka mutu lulusannya jadi pertanyaan, sebab pendidikan sudah jadi komoditas bisnis, kalau tak banyak yang naik kelas, tak ada murid baru, jelas tak ada pemasukan uang baru. Wajar saja bagi negeri yang sudah serba uang seperti ini. Idealisme masa kemerdekaan dulu pupus.
Maka wajarlah kalau Kementerian Pendidikan Nasional bikin Ujian Nasional, supaya terukur standard mutu lulusan sekolah. Yang repot tentu para guru, murid dan orangtuanya masing-masing. Guru malu kalau muridnya banyak yang enggak lulus, ketua yayasan sekolah swasta dan kepala sekolah negeri menyesal setengah mati kalau bangku kelasnya masih padat isinya, orangtua tentu sedih kalau anak-anaknya enggak lulus, dan muridnya sendiri jelas setres.
Makin setres kian lucu
Gara-gara semuanya setres maka tingkahnya pun lucu-lucu. Ada sekolah yang mengadakan upacara keagamaan sesuai kepercayaan masing-masing mohon ijabah Yang Maha Kuasa supaya lulus Ujian Nasional. Ada lagi yang melakukan upacara aneh-aneh, entah minta kepada siapa, semua minta kelulusan. Ada lagi yang murid sekolahnya ramai-ramai mencuci kaki para gurunya seperti upcara adat perkawinan itu. Celakanya ada lagi yang melakukan upacara ganjil-ganjil sampai malam, lupa kalau besoknya mereka ujian. Sudah mengantuk, enggak belajar, jelas runyam hasilnya nanti.
Kasihan benar ya. Tentu saja doa kepada Yang Maha Kuasa itu keharusan, tapi belajar keras itu yang utama. Tuhan tak akan meluluskan permintaan ummat kalau ummat sendiri tidak berusaha. No free lunch, tak ada makan siang gratis di sini. Ada usaha ada hasil, tanpa usaha bakalan hampa.
Setelah ujian, walaupun belum tentu lulus, sekelompok murid SLTA ramai-ramai bikin onar, bajunya dicoret-moret. Mereka nampaknya melepaskan setres yang baru mereka lalui dengan cara barbar seperti itu. Murid-murid sekolah, calon intelektual, calon pemimpin bangsa namun kepalanya kosong, maka yang masuk ke dalamnya ya sampah-sampah seperti itu. Mereka anak tiri jaman, sebab siapa peduli mereka? Guru sekedar mengajar, orangtua cuma menyerah, murid sekedar sekolah, pemerintah sekedar menerbitkan angka-angka.
Ujian nasional jaman dulu biasa saja
Di era 50 sampai 60-an murid-murid menjalani ujian nasional, tapi jarang yang aneh-aneh seperti sekarang ini. Ujian negara, begitu istilahnya dulu, tak pernah bikin semuanya sakit perut. Yang setres jelas mereka yang enggak siap karena malas belajar, merasa tak siap. Jadi ujian nasionalnya sesungguhnya tidak perlu jadi momok siswa jaman sekarang yang lebih tinggi kualitas fisiknya. Susu mereka formula, daging sudah banyak, vitamin sudah murah-murah, telur ayam bukan lagi barang mewah.
Murid yang hidup di era 50-60-an serba berkekurangan, tapi mentalnya baja, bukan mental kardus dan plastik. Arah hidup, mentalitasnya mantap karena belum banyak pemimpin yang “teler”, tokoh masyarakat dijamin patut dicontoh, ukuran atau nilai agama dan nilai kultural lainnya dapat ditemukan di kehidupan sehari-hari. Jadi kalau cuma menghadapi Ujian Nasional, ya jelas mereka tidak setres seperti anak-anak jaman teknologi informasi sekarang ini. Aduh.

Kecelakaan

thumbnail


Kecelakaan
  1. Penelitian menyebutkan 10% kecelakaan lalulintas disebabkan oleh pengemudi yang mabuk. Artinya, 90% kecelakaan justru dilakukan oleh pengemudi yang tidak mabuk!
  2. Seorang perempuan bertanya kepada sobatnya mengenai apa kecelakaan terparah sepanjang hidupnya. Si teman menjawab: “Pernikahan dengan suami saya yang sekarang ini”.
  3. Polisi penyelidik geleng-geleng kepala. Masalahnya seorang istri memukul suaminya dengan gagang payung dan gagang itu patah. Ia menyebutkan itu suatu kecelakaan. “Seandainya saya tahu gagang payung itu mudah patah, maka jelas saya memakai stick golf!”
  4. Lima orang anggota geng motor masuk bar lalu memesan minuman. Berikutnya masuk seorang pria sendirian di pojok memesan minuman juga. Kelima anggota geng motor minta si pria membayarnya. Orang itu menolak dan dia dihajar lantas dilempar ke luar bar tanpa perlawanan, lantas kabur membawa mobilnya. “Kunyuk itu bukan seorang petarung yang baik!” kata seorang anggota geng pada penjaga bar. “Betul. Dia bukan pengemudi yang baik juga. Waktu kabur mobilnya melindas lima sepeda motor.”