Ajaib! Gubernur Ali Sadikin pernah bertemu Gubernur Jenderal VOC

Ajaib! Gubernur Ali Sadikin pernah bertemu Gubernur Jenderal VOC


Ajaib! Gubernur Ali Sadikin pernah bertemu Gubernur Jenderal VOC Jan Pieterszoon Coen
  • Mantan Wapres Bung Hatta jadi saksinya malam-malam di Museum Jakarta Lama
Oleh Adji Subela
Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin yang memegang jabatan dari tahun 1966 hingga 1977, ternyata pernah mendapatkan “penampakan” dari Gubernur Jenderal VOC Jan Pieterszoon Coen di tahun 1971.
Malahan peristiwa yang menggemparkan itu disaksikan langsung oleh Proklamator/mantan Wapres Bung Hatta dan Ibu Rahmi Hatta tanggal 18 Oktober 1971 pada malam hari. Bukan hanya Bung Hatta saja, bahkan Menteri Perdagangan waktu itu, Prof. Dr. Sumitro Djojohadikusumo, serta budayawan Mochtar Lubis yang ketika itu berada dalam satu acara ikut menyaksikan peristiwa aneh tersebut.
Hebatnya lagi, banyak tetamu yang hadir ikut menyaksikan peristiwa ajaib tersebut dan tidak bisa mengatasinya. Beberapa orang tamu asing yang diundang pun acara tadi terkejut melihat adegan yang di luar “nalar” itu.

gambar tampak Gubernur Ali Sadikin

gambar tampak Gubernur Ali Sadikin


Teks foto:
Dalam gambar tampak Gubernur Ali Sadikin (berdiri, kanan) mengangkat gelas, di sampingnya berdiri Gubernur Jenderal J.P. Coen (diperankan van der Valk). Bung Hatta (duduk no.2 dari kiri) tertawa sambil mengangkat gelas diikuti Ibu Rahmi Hatta (duduk, no.2 dari kanan). Sebelah kiri Bang Ali, berkacamata dan berjas hitam adalah Menteri Perdagangan Prof. Sumitro Djojohadikusumo. (Foto Ny. Pia Alisyahbana)

Humor Antarbangsa

thumbnail
Bintang film adalah orang yang mengejar ketenaran bertahun-tahun. Setelah tercapai malah sering sembunyi-sembunyi dari pandangan umum.

John punya darah campuran Italia dan Irlandia. Irlandia dari ibunya, sedangkan darah Italia dari kawan ayahnya.

Seorang Inggris, seorang Australia, dan seorang Skotlandia diundang dalam satu pesta. Si Inggris menghabiskan enam botol Guiness, si Australia enam botol bir, sedangkan si Skotlandia menenggak enam botol minuman kawannya.

Tiga orang menjalani hukuman cambuk di punggung. Mereka boleh mengoles punggungnya dengan obat-obatan bila mau. Orang Inggris minta punggungnya diolesi minyak zaitun. Orang Irlandia menolak: “Aku pria yang kuat”. Yang ketiga, orang Yahudi, minta orang Irlandia menelungkupi punggungnya selama hukuman dijalankan.

Nama Asli para Bintang

thumbnail
Nama asli sejumlah bintang
  1. Nicolas Cage aslinya bernama Nicholas Coppola
  2. Penyanyi Sting aslinya Gordon Summer
  3. Bintang kungfu Bruce Lee aslinya bernama Lee Yuen Kam
  4. Penyanyi Elton John yang ikut hadir dalam pernikahan Pangeran William dan Kate Middleton belum lama ini adalah Reginald Dwight
  5. Woody Allen, bintang dan sutradara film-film komedi bernama asli Allen Konigsberg
  6. Madonna penyanyi sexy itu nama aslinya Madonna Louise Ciccone

Memaknai Aksara Mengungkap Misteri Masa Lalu

Memaknai Aksara Mengungkap Misteri Masa Lalu


Buku
Memaknai Aksara, Mengungkap Misteri Masa Lalu
Judul : Membaca dan Mengungkap Kearifan Masa Lalu
AKSARA DAN MAKNA
Penyusun : Dr. Machi Suhadi, dkk
Penerbit : Asosiasi Ahli Epigrafi Indonesia (AAEI)
BKKI (Badan Kerjasama Kesenian Indonesia)
BPKKI (Badan Pekerja Kongres Kebudayaan Indonesia)
Juml Hlm : 274 halaman
Jenis kertas : HVS 80 gram
Ukuran : 16,5 x 24 cm
Namanya saja selalu bergulat dengan masa lalu maka tak ada kata terlambat jika dihitung dari usia kalender untuk menerbitkan buku mengenai epigrafi sesudah 10 tahun kemudian. Sejarah itu nampaknya makin lama makin mengasyikkan, begitu pula buku ini.
Buku yang merupakan presiding Kongres Asosiasi Ahli Epigraf (ahli pangkaji, penelaah prasasti) Indonesia di Malang tanggal 28 hingga 30 Mei 2001 ini, diterbitkan guna mengenang guru-guru para epigraf di Indonesia sesudah PD II yaitu Prof. Dr. Louis-Charles Damais (1911-1966); Prof. Dr. J.G. De Casparis (1916-2002); Prof. Dr. Buchari (1927-1991); dan Drs. M.M. Soekarto Kartoatmodjo (1928-1998).
Buku ini memuat 22 dari 40 makalah yang dibawakan di kongres, mulai mengenai huruf yang dipakai di prasasti di Indonesia, lalu kajian tentang Ken Arok (hal. 95), ekspedisi Gajah Mada ke Bali (hal. 137), hingga gerhana bulan dalam prasasti-prasasti.
R.P. Soejono dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, mengurai apa-apa mengenai epigrafi di Indonesia. Ia mencatat, Mpu Prapanca sebagai epigraf pertama di Nusantara yang kita ketahui hingga kini, terlihat dari kakawinnya, Negarakretagama (Desawarnana) di Pupuh XXXV mengenai prasasti di wihara Indarbaru. Prof. Dr. Edi Sedyawati yang menyebut epigrafi sebagai ajakan untuk tekun dan cermat (hal. 11). Pembaca juga diajak untuk mengamati batu pertanda peringatan kejatuhan Kerajaan Majapahit (hal 85).
Salah satu masalah yang cukup penting diketengahkan oleh penyaji makalah berjudul Prasasti Temuan Baru Pada Akhir Abad XX M, yaitu Machi Suhadi dari Pusat Arkeologi Nasional (hlm 15 – 27), mengenai kaitan buku sejarah di sekolah dengan penemuan-penemuan baru. Ia mengatakan, buku sejarah sekolah dibatasi dan disesuaikan dengan jam pelajaran, sehingga bahan sisanya yang mungkin penting harus diserap para guru. Ia mempertanyakan kemudian siapa yang harus bertanggungjawab pada penambahan atau perubahan bahan sejarah dalam buku tersebut? Apakah penulis yang juga peneliti prasasti apakah bebas memasukkan data baru ke dalam buku? Dan bagaimana legalisasinya pda ujian akhir nanti? Ia menyayangkan bila hasil temuan baru itu tidak dapat diketahui masyarakat umum kelak. Semoga setelah 10 tahun pertanyaan itu terjawab kini.
Buku ini sejatinya cukup penting bagi para epigraf, mahasiswa sejarah/arkeologi, peminat sejarah utamanya prasasti. Banyak hal yang bisa dipetik dari buku yang “terlambat” terbit ini.
Sayangnya, lepas dari buah yang bisa dinikmati, ada beberapa hal yang bisa ditarik kesan, yaitu buku ini terburu-buru terbit sehingga ISBN yang cukup penting bagi buku “ilmiah” semacam ini tak ada.
Bagi peminat, apalagi pemula, buku berkulit wajah warna biru terang ini penting dan perlu untuk dibaca. (Adji Subela)