Langsung ke konten utama

Sate Ayam Ambal Kebumen, Mak Nyusss


Asalnya dari upacara adat
Oleh Adji Subela
Ada begitu banyak versi masakan sate ayam di tanah air kita. Ada gaya Madura yang populer di kalangan rakyat biasa, ada gaya semarangan, dan ada sate ayam gaya Ponorogo yang pernah populer di luar negeri, dan menjadi hidangan istana di masa Presiden Sukarno.
Tentu saja soal rasa amatlah relatif. Saya sebagai orang Ponorogo pernah menganggap sate ayam Kota Reog paling enak di dunia. Tahun 2004 ketika saya bersama teman-teman melawat ke Kota Kebumen, kepercayaan saya itu runtuh.
Di desa teman saya yaitu Ambal Wetan, kira-kira 15 km sebelah selatan kota Kebumen, saya temukan sate yang rasanya luar biasa. Saya diajak teman itu ke kedai sate Pak Kasman.
“Pesan berapa Mas,” tanya pelayannya.
“Seratus,” jawab si teman. Tentu saja saya kaget setengah mati. Di Jakarta atau di Ponorogo, orang sudah kekenyangan makan 10 tusuk, paling kalau dia sedang lapar-laparnya 15 tusuk. Sekarang pesan 100 tusuk untuk lima orang, berarti kami masing-masing kebagian 20.
“Mana mungkin?” protes saya. “Tenang saja,” jawab si teman kalem sekali.

Beberapa lama kemudian muncullah sejumlah piring sate ayam Ambal, baru saja dibakar dan belum diberi bumbu. Ketika itu saya sudah “ketakutan”. “Silakan coba,” ujar si teman.
Saya coba dulu setusuk. Alamaaaak, sedap nian sate niiiihhhh....Tanpa menunggu bumbu datang, kami sikat sate-sate itu sampai ludes.
“Seratus lagiiii,” teriak saya. Teman saya, “penduduk asli” Ambal Wetan tertawa. Padahal saat itu bumbu sate belum dikeluarkan, dan ketupat sedang dipotong.
Rasanya sensasional
Rasa sate ayam Ambal betul-betul berbeda. Bumbu rendamannya dapat “merangsang” selera untuk terus makan tanpa henti. Sedangkan bumbu tabur berupa tempe yang direbus menggunakan air bumbu rendaman lalu digerus. Bagi saya, tanpa bumbu tabur lebih nikmat, sebab dengan rasa tempe, buat saya malah merusak sensasi rasa satenya. Kata orang Betawi, digadoin lebih resep rasenye.
Tak heran bila sekali makan orang langsung mengambal-ambal (dari kata Jawa ambal artinya menambah atau mengulang) terus.
Sebelas jenis bumbu
Oleh karena saya termasuk pria yang suka masak yang masakannya sederhana, maka saya tanyakan bumbu apa saja yang dipakai. Pak Kasman bercerita ada 11 jenis bumbu yang digerus lalu dilarutkan dalam air. Daging ayam dipotong-potong terlebih dahulu (ini bedanya dengan sate ayam Madura dan Ponorogo) lalu direndam dalam bumbu selama k.l. sejam. Setelah itu ditusuk-tusuk lantas dibakar. Mak nyusss, begitu mungkin kata Pak Bondan Winarno.
Berasal dari upacara adat
Tak ada orang Ambal, Kebumen, masa kini yang tahu persis siapa yang menemukan resep dan kapan sate ayam luar biasa itu dibuat. Umumnya mereka mengatakan sejak nenek-moyang dahulu. Sate ayam Ambal di jaman baheula menjadi bagian dari perlengkapan upacara adat menjelang dan selama Iedul Fitri, Syawalan, atau upacara bersih desa. Sate ayam itu dihidangkan dengan bumbu tabur tempe dan potongan ketupat.
Keluarga Pak Kasman termasuk pelopor penjual sate ayam Ambal di luar keperluan adat. Ternyata peminatnya banyak, dan bertahan hingga ke generasi keempat saat ini. Jadi sate ayam Ambal Kebumen, aslinya ya tentu di desa Ambal itu.
Banyak orang yang mencoba berjualan sate ayam Ambal, tapi banyak yang gagal. Menurut Pak Kasman itu karena mereka memang bukan darah tukang sate seperti dirinya. Jadi enggan-engganan dan sekedar coba-coba saja. Barangkali maksudnya mereka tidak profesional, tidak menggantungkan hidupnya pada berjualan sate ayam.
Setiap hari warung sate Pak Kasman dan adiknya dipenuhi pelanggan yang datang dari kota Kebumen atau kota-kota lain di sekitarnya. Warung satenya kebetulan terletak di pinggir jalan tembus/ bypass selatan kota yang memanjang dari Yogyakarta hingga Banyumas.
Tak ada salahnya pembaca mencoba sate ayam luar biasa ini. Di Jakarta pernah ada restoran sate Ambal di Mamprang Prapatan, Tebet, dan Parung. Akan tetapi semuanya kini tutup. Orang belum terbiasa dengan gayanya, padahal inilah sate ayam yang terenak di Indonesia (barangkali lho!) silakan coba saja.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Minyak Srimpi

          Pada era 50-an tak banyak produk minyak wangi yang beredar di pasaran, terutama yang harganya terjangkau oleh mereka. Oleh karena itu, minyak pengharum badan itu banyak diproduksi perusahaan-perusahaan kecil guna memenuhi kebutuhan pasar akan pengharum. Oleh karena formulanya sederhana dan memakai bahan-bahan atau bibit minyak wangi yang terjangkau, maka dapat dikatakan hampir semua minyak wangi yang beredar waktu itu baunya nyaris seragam.           Satu merk yang popular pada saat itu, dan ternyata masih eksis hingga sekarang adalah minyak wangi cap Srimpi. Minyak ini dikemas dalam botol kaca kecil berukuran 14,5 ml, dengan cap gambar penari srimpi, berlatar belakang warna kuning.           Pada masa itu minyak Srimpi dipakai oleh pria maupun perempuan klas menengah di daerah-daerah. Baunya ringan, segar, minimalis, belum memakai formula yang canggih-canggih seperti halnya minyak wangi jaman sekarang.            Ketika jaman terus melaju, maka produk-produk

Nasi Goreng Madura di Pontianak

                Kurang dari dua tahun lalu, Imansyah bersama istrinya Siti Hamidah dan dua anaknya merantau ke Pontianak, Kalbar, dari kampung halamannya di Bangkalan, Madura. Di kota muara Sungai Kapuas ini mereka tinggal di rumah seorang kerabatnya yang mengusahakan rumah makan nasi goreng (Nas-Gor) di Sui Jawi. Pasangan ini belajar memasak nasi goreng khas Madura. Akhirnya setelah memahami segala seluk-beluk memasak nasi goreng, ditambah pengalamannya berdagang di kampungnya dulu, Imansyah dan istrinya membuka rumah makan nasi gorengnya sendiri, diberi nama Rumah Makan Siti Pariha di Jalan S. A. Rahman.   Di sini mereka mempekerjakan dua orang gadis kerabatnya guna melayani langganannya. RM Siti Pariha menarik pembelinya dengan mencantumkan kalimat: Cabang Sui Jawi. Rumah makan yang terletak berderet dengan rumah makan khas masakan Melayu serta sate ayam Jawa ini buka dari pukul 16.00 petang hingga pukul 23.00 atau hingga dagangannya ludes. Setiap hari RM Siti Par

Pak RT ogah lagu Barat

                          Sudah lama Pak RT yang di serial Bajaj Bajuri selalu berpenampilan serba rapi, rada genit dan sedikit munafik tapi takut istri ini tak nampak dari layar kaca TV nasional. Sejak serial Bajaj Bajuri yang ditayangkan TransTV berhenti tayang, Pak RT yang bernama asli H. Sudarmin Iswantoro ini tidak muncul dalam serial panjang. Walaupun begitu ia masih sering nongol di layar kaca dengan peran yang nyaris tetap yaitu Ketua RT, Ketua RW, guru atau ustadz.             Di luar perannya sebagai Pak RT tempat si Bajuri (Mat Solar), dengan istrinya si Oneng (Rike Diah Pitaloka)   dan mertuanya yang judes plus licik (Hj. Nani Wijaya) berdomisili, H. Darmin (panggilannya sehari-hari yang resmi sedangkan merk-nya yang lain tentu saja “Pak RT”) adalah pria yang berpembawaan santun dan halus.             Barangkali pembawaannya itu dilatarbelakangi oleh pendidikannya sebagai seorang guru. Mengajar merupakan cita-citanya sejak kecil. Sebagai anak kelima