Percaya Tidak?

thumbnail
Ini bukan iklan sponsor. Kejadiannya berlangsung di kota kecil di Jawa Timur, Ponorogo. Di suatu hari di bulan November 2011 lalu kota ini dilanda hujan angin. Wilayah yang paling rusak kena amukan angin itu adalah di sekitar jembatan Sekayu, di tepi barat kota. Banyak bangunan yang rusak parah. Satu-satunya yang utuh adalah satu gudang, di timur jembatan. Tahukah Anda gudang apakah itu? Gudang penyimpanan jamu Kuku Bima! Rosa! (Jw, kuat) mungkin begitu teriak Mbah Maridjan kalau masih hidup.

Orang Skotlandia

thumbnail
Dasar Skot
• Dua orang Skotlandia bertemu setelah merantau meninggalkan kota Edinburgh 25 tahun lalu. “Ayo masuk ke pub minum-minum seperti dulu lagi,” kata seorang di antaranya. “Baik, dan jangan lupa, kamu yang bayar.”
• Seorang pemain musik dari dusun mengira, buku the Guinness Book of Records adalah sebuah piringan long play (LP) pengiring orang minum whisky!
Dasar Kepala Batu
• Seorang nenek bertanya kepada pemain piano, “Kenapa kamu selalu memainkan lagu yang sama”. “Lagu itu mengiang di dalam kepalaku.” “Itu karena kamu kepala batu, sampai lagu itu tak bisa keluar dari dalamnya,” jawab si nenek sambil berlalu.

Gizi dari Hutan Jati

Gizi dari Hutan Jati
 
Boros
 Boros tapi dicariLirih yang mempesona
            Awal musim hujan sekarang ini di daerah hutan jati di Kec. Saradan, Madiun, membawa berkah berganda-ganda bagi penduduk sekitarnya.
            Secara serentak, di lantai hutan itu bertumbuhan tunas-tunas tanaman sayuran, bumbu dan jejamuan (empon-empon, Jw) seperti kunyit, jahe, temu kunci, lempuyang, lengkuas, dan sebagainya, bersamaan dengan munculnya daun jati muda yang berwarna hijau terang.

Suplemen bergizi tinggi
Telur kupu-kupu jati yang ditinggalkan di musim lalu lantas menetas menjadi ulat. Ulat jati ini segera menyantap daun-daun jati muda lantas lekas membungkus diri menjadi kepompong (enthung). Pada saat demikian itu, penduduk sekitarnya memanen enthung jati tersebut untuk dijadikan bahan lauk-pauk dengan cara digoreng atau dimasak lainnya. Pada tahap berikutnya ketika daun-daun jati sudah tumbuh subur, giliran belalang jati yang menyerbu menikmati daun segar itu.

Mengenang Alexander Hutagalung

Mengenang Alexander Hutagalung










Legenda suntikan Mbah Galung, "mantri suntik" Ponorogo asal Sibolga

Oleh Adji Subela
Keluarga besar Mbah Galung dengan 10 anaknya. Paling kiri keponakannya
Orang Ponorogo yang berusia di atas 45 tahun umumnya kenal siapa Mbah Galung. Tokoh ini sangat populer sebagai mantri kesehatan di Kota Reog sejak jaman Jepang. Dia dikenal sebagai orang yang murah hati, penyabar, dan bersungguh-sungguh dalam menjalankan tugasnya. Jiwa sosialnya sangat tinggi sehingga dia dicintai orang-orang dari strata sosial bagian bawah.
Mbah Galung ini nama aslinya adalah Alexander Hutagalung, lahir di Sibolga, Sumut, tahun 1912. Ia menjadi orang Batak pertama – yang diketahui – yang datang dan menetap di Ponorogo, Jatim, dan beranak-pinak hingga sekarang di Kota Reog itu. Setelah perang kemerdekaan, baru menyusul keluarga Sitompul, pimpinan Bank Koperasi Tani dan Nelayan (BKTN). Salah seorang putranya adalah aktor watak Maruli Sitompul yang kini sudah almarhum. Seorang putranya yang lain adalah perwira tinggi kepolisian. Keluarga ini masih ada hubungan keluarga dengan Alexander Hutagalung dari garis ibu. Berikutnya keluarga Panggabean, Manurung dan Siahaan. Kedua orang yang terakhir ini dikabarkan pulang ke tanah leluhurnya di Sumut, akan tetapi ada anaknya yang menetap.

 Merantau ke Jatim sejak remaja cilik
Alexander Hutagalung sudah merantau ke Surabaya sejak klas satu sekolah menengah kesehatan di jaman kolonial. Di sana ia bertemu dan bersahabat dengan teman sekolahnya, gadis asal Wonorejo, Malang Selatan, yaitu Satiyem Legiman (lahir 1911). Keduanya menikah lantas “dibenum” (ditugaskan) ke daerah Ponorogo hanya beberapa saat sebelum Jepang masuk Indonesia.

Mangga, Nangka, di desa-desa di Madiun

Mangga, Nangka, di desa-desa di Madiun


Pohon mangga berderet di jalan di Desa Jatirejo, Kec. Wonoasri.

Buah nangka bergelantungan di pohonnya di tepi jalan di Kecamatan Caruban

Berkat visi Bupati yang berorientasi pada
ekonomi rakyat kecil dan lingkungan hidup



            Perjalanan ke desa-desa di Kabupaten Madiun, Jatim, terasa lebih menyenangkan ketika menyaksikan buah-buahan dan bunga-bungaan bergelantungan di sepanjang jalan.
            Ini berkat jasa Bupati Kab. Madiun Ir. Kadiono (1988-1998) yang memiliki visi ke depan kuat dan rasa cinta pada warganya yang tinggi. Dengan pola wajib tanam buah-buahan unggulan di tiap-tiap pekarangan rumah serta di lahan kritis, ia telah mewarisi warga Madiun modal untuk ekonomi keluarga mereka hingga kini. Beberapa tanaman lain seperti mahoni dan asam Jawa juga digalakkan.
            Berkat produksi nangka yang berlebih, warga Desa Kedondong, Kecamatan Kebonsari berinisiatif mengolahnya menjadi kripik nangka yang mendongkrak ekonomi desa dengan industri rumahannya.
            Mangga manalagi dan gadung produksi Madiun menembus pasar luar daerah walaupun masih dengan cap “mangga Probolinggo”.  
            Buah yang paling banyak ditemui di desa-desa Madiun memang mangga – yang kini sudah lewat musimnya – kemudian nangka genjah yang hampir tak kenal musim. Bunga kenanga ditanam di sepanjang jalan desa berselingan dengan buah-buahan tadi dan menjadi penghasilan tambahan penduduk.