Menguber Tikus Spionase

Menguber Tikus Spionase






Oleh Adji Subela

Judul film            : Tinker, Tailor, Soldier Spy
Pemain               : Gary Oldman, Colin Firth, John Hurt, Mark Strong, dll
                                                      Skenario             : Bridget O’Connor
                                                      Sutradara           : Tomas Alfredson



           Kisah spionase sering menarik, karena di sana ada intrik, tipu-menipu, ketegangan, dan aksi-aksi fisik. Tapi tak semua kisah spionase harus seperti gaya agen 007 James Bond yang flamboyan-spektakuler, atau gaya Bounce yang penuh aksi Hollywood. Film Tinker, Tailor, Soldier Spy (TTSS) menjadi perkecualian.
           Film produksi 2011 garapan sutradara Tomas Alfredson ini mewakili gaya konservatif Inggris yang tenang, serius dan penuh misteri. Film adaptasi dari novel karya John le Carré ini penuh persoalan “administratif” mengenai kebocoran operasi Inggris di Hungaria selama perang dingin, awal dekade 70-an.
           Ceritanya agak mirip kisah nyata kebobolan dinas rahasia Inggris ke KGB Uni Sovyet, yang justru didalangi pimpinannya, Kim Philby. Juga mirip perburuan MI-5 terhadap Philip, Burgess Maclean dan Blunt para agen yang berkhianat seperti yang diceritakan mantan Asisten Direktur Dinas Rahasia Kontra-spionase MI-5 yaitu Peter Wright dalam otobiografinya, Spycatcher, yang menghebohkan di tahun 1988. Di buku itu kecurigaan jatuh pada puncak pimpinannya yaitu Sir Roger Hollis, tapi tak pernah terbukti sampai semua pensiun, dan menimbulkan perpecahan di dalam dinas rahasia itu.
           Pemimpin MI-5, Control (diperankan oleh John Hurt), berniat mengundurkan diri setelah operasi dinasnya di Budapest, Hungaria, gagal. Ia curiga ada salah seorang dari lima orang pucuk pimpinan menjadi “tikus” dan mengincar dirinya atas bocoran dari agen Rusia, Ricky. Control mengutus Jim Prideaux (Mark Strong) kembali menyamar ke Hungaria dan justru ditembak di sana, dan mengalami siksaan.
           George Smiley ditugasi Control untuk membuka siapa tikus di atas “sirkus” (operasi), walaupun sebenarnya dia pensiun. Setelah melalui penyelidikan panjang dan berbelit, Smiley berhasil menyingkirkan sejumlah rekannya yang kotor. Sementara itu Jim Prideaux mempunyai cara untuk mencucikan dirinya yaitu dengan menembak mati salah seorang pemimpin lainnya, Bill Haydon (Colin Firth) dengan berurai air mata sebab Bill adalah teman dekatnya. Akhirnya George Smiley justru memimpin dinas rahasia itu.

Gary Oldman nyaris menyabet Oscar
           Film versi layar lebar ini sebelumnya pernah diproduksi berupa serial televisi, dan di Indonesia pernah disiarkan TVRI Stasiun Pusat Jakarta pada awal dekade 80-an dengan judul yang sama. Versi TV lebih tegang, walaupun tetap tidak menonjolkan kekerasan.
Versi layar lebar sekarang ini lebih menekankan konflik batin Smiley dan bertumpu pada dramatiknya. Sejumlah aktor terkenal bermain di sini seperti John Hurt (The Elephant Man), serta Colin Firth yang memenangkan Piala Oscar sebagai Pemeran Utama Terbaik dalam film King’s Speech tahun lalu (baca resensinya di JURNAL BELLA www.adjisubela.com ini juga). Akting Gary Oldman patut dipujikan sebagai George Smiley yang sudah lelah karena memasuki masa pensiun dan diberati masalah serius yang menumpuk. Ia dinominasikan sebagai Pemeran Utama Terbaik, tapi kalah oleh Jean Dujardin, aktor Prancis yang belum terkenal di Indonesia.
           Nama Oldman menonjol ketika bermain sebagai Count Dracula dalam film garapan Francis Ford Coppola, meskipun ia sering bermain dalam film-film berat. Seperti biasa, John Hurt dengan aksen Inggrisnya yang kental mampu membawakan perannya sebagai Control, pimpinan Dinas Rahasia yang telah lelah.

Fotografi apik
           Seperti halnya film Inggris umumnya, gambar-gambar yang ditata oleh Hoyte van Hoytema cukup apik, dengan nuansa kemuraman yang merata tidak terjadi jumping serius yang mengganggu hingga akhir film. Kamera mereka tancap pada kaki-kaki dan tidak dengan cara handheld yang gambarnya sering memusingkan kepala seperti dalam film-film Hollywwod sejenis misalnya trilogi Bounce atau Mission Impossible.
          Komposisi terjaga dengan baik, tertib seperti “buku pakem” perfilman Inggris yaitu bagaimana menempatkan wajah big-close-up secara enak, di kiri atau kanan ruang, sesuai prinsip komposisi keseimbangan. Follow shot terjaga baik sehingga tidak ada kemelesetan kamera yang mengganggu. Ditunjang oleh kualitas film Fuji fotografi film TTSS enak dilihat, seolah meruntuhkan dominasi film Kodak di masa lalu (belakangan tersiar kabar Kodak menyatakan diri bangkrut).
          Bagi penonton atau pengamat film serius, film ini patut ditonton dengan tentunya memakai referensi mengenai dunia spionase Inggris yang naik-turun sejak PD II. Maka film berat semacam ini menjadi nikmat.

Tukang Bendhe

Tukang Bendhe


          Bendhe itu satu jenis gong kecil, suaranya nyaring, keras, sehingga dipakai sebagai penarik perhatian orang, misalnya di tempat pengumuman, rapat, atau untuk mengumumkan sesuatu keliling kampung.
          Pada era 50-an, orang belum banyak mengenal loudspeaker macam Toa atau Philips. Perangkat itu baru dikenal tahun 60-an, dan seiring majunya industri transistor, maka orang pun memakai loudspeaker jinjing yang ringan-praktis.
          Di kampung halaman saya di Ponorogo, Jatim, tahun 50-an, orang sering menjumpai pria tua yang berjalan ke mana-mana keliling kampung untuk menyiarkan “berita” berupa lakon wayang yang bermain di alun-alun kota. Pria itu memakai surjan lurik, kain dan blangkon gaya Yogyakarta. Ketika itu rombongan wayang orang (WO) yang sering berkunjung adalah Ngesti Pandawa asal Semarang serta belakangan WO Cipto Kawedar asal Kediri yang paling sering menyambangi penggemarnya di Kota Reog.
         Orang Ponorogo ketika itu paling suka tontonan sehingga rombongan kesenian seperti wayang orang, ketoprak, ludruk, dipastikan memperpanjang masa tontonannya sangking banyak penontonya.

Dari kaki 2 ke kaki 4
          Oleh karena perangkat elektronik pengeras suara belum ada, jadi si pria tua itu difungsikan sebagai agen promosi berkaki dua. Saya katakan agen berkaki dua, sebab setelah itu digantikan tugasnya oleh makhluk berkaki empat, yaitu delman kuda. Mereka berkeliling kampung menyebar selebaran (flyers) berisi promosi cerita malam nanti dan berikutnya.
           Si pria itu setia menjalankan tugasnya setiap hari, dan selalu tiba di depan rumah kami sekitar pukul 17.00-an. Kami anak-anak kecil menjadi hafal dengan kalimat-kalimatnya seperti:
          “Tung-tung…mangga-mangga mangké ndalu ringgit tiyang Cipto Kawedar lampahinpun Gatotkaca Krama (Tung-tung, mari-mari nanti malam wayang orang Cipto Kawedar lakonnya Perkawinan Gatotkaca).”
           Pada kunjungan rombongan tersebut berikutnya, si pria sudah tidak nampak. Mungkin sudah meninggal dunia karena usia tuanya. Dia digantikan seorang pemuda pengidap DS (down syndrome), yang tak kalah rajinnya dengan pendahulunya. Pun kami hafal semua yang diucapkannya:
           “Hangga-hangga hamé-hamé hateng hipto hawedar….” Sebagai kanak-kanak kami suka mengganggunya. Tapi dia tetap menjalankan tugasnya dengan tekun dan tabah. Setelah besar kami malu sendiri pada dia. Kami tak mendengar kabarnya lagi, setelah tugasnya digantikan delman membawa gambar dan pengeras suara bertenaga aki. Setelah mobil Colt dari Mitsubishi menguasai pasar di era 60-an, maka kendaraan itu dipakai berkeliling karena jangkauannya kian luas.
         Kini para anak cucu mendapatkan informasi mengenai tontonan dari internet, televisi, atau setidak-tidaknya media cetak. Tukang bendhe sudah tak dikenal orang lagi.

Stand-up Comedy

thumbnail



Indonesia sedang dilanda demam stand-up comedy. Si Dongok bernafsu ingin tampil. Beberapa kali ia latihan di depan kawan-kawan kuliahnya. Semua berkomentar buruk:
“Sudah buang mimpimu, jangan tampil besok, banyolanmu payah,” kata seorang di antaranya.
“Oh, tak apa-apa, orang akan tetap menertawakanku karena itu.”

Film The Artist Memang "Gila"

Film The Artist Memang "Gila"



           Sineas Prancis memang “gendeng”. Mereka selalu kreatif, pantang meniru, dan menempatkan film sebagai karya seni bukan sekedar barang dagangan macam Hollywood. “Ideologi” mereka yaitu l’art pour l’art, seni untuk seni, tak peduli pakem-pakem yang sudah ada. Artinya bila ikut pakem, atau “buku pelajaran membuat film”, dus sama dengan yang lain-lain, maka mereka gagal berkarya seni.
           Oleh sebab itu gaya film Prancis benar-benar “gila” dan bagi mereka yang sudah tercekoki gaya Hollywood, kiranya perlu mengkonsumsi pil ketahanan urat syaraf untuk dapat menonton film negeri ini sampai habis, dengan jaminan belum tentu faham apalagi menghargainya. Pada umumnya film-film buatan Eropa daratan memang berbeda, istimewanya ya Prancis itu.
           Pada tahun 1988-an sutradara Prancis yang cukup terkenal André Tessiné berkata di depan wartawan di Jakarta bahwa membuat film bukan membuat paper. Maksudnya tentu tidak harus mengikuti aturan-aturan, pakem-pakem yang baku. Itulah intinya. Maka film-film Prancis sangat kreatif dengan berbagai eksperimen. Malahan sejumlah film yang “gila” sering dibuat ulang di Hollywood, seperti a.l. Three Men and A Baby, yaitu tentang tiga pria lajang yang terpaksa memelihara seorang bayi, kemudian Birdcase, seorang homo yang kelabakan karena anak lelakinya minta kawin dengan anak senator, dan masih banyak lagi.
          The Artist yang merebut Oscar 2012 ini sebagai film terbaik, memang disebut proyek “gila” oleh sutradaranya. Ia malahan menyebut pendananya juga gila mau membiayai proyek ini. Ternyata mereka sangat waras dan film terbukti sukses.

Hitam-putih tetap menarik
           The Artist, yang baik cerita maupun penyutradaraannya ditangani Michel Hazanavicius, tentu mengejutkan publik Indonesia yang sudah sangat terbiasa dengan film-film Hollywood yang menggelegar, penuh permainan efek-efek komputer, 3D, monster-monster ajaib, dan sebagainya, atau tercekoki film-film “Pocong” serta percintaan cengeng di dalam negeri, maka kehadiran film Prancis ini aneh. Ia muncul dalam hitam-putih, dan mengambil style tahun 1927.
Film hitam-putih nampaknya tak lekang pesona keindahannya di tengah hiruk-pikuk teknologi digital sekarang ini. Beberapa film sebelumnya memang juga dibuat dalam hitam-putih dan mampu membetot perhatian seperti The Elephant Man dekade 70-an yang memunculkan Anthony Hopkins, Raging Bull (1980) tentang petinju Joe de la Motta, yang memberikan Oscar bagi Robert de Niro sebagai aktor terbaik. Kemudian juga Schindler’s List besutan Steven Spielberg tentang penyelamatan sekelompok orang Yahudi oleh industriawan Jerman, dan masih banyak lagi.
           Kelihatannya film The Artist yang hitam-putih dan sebagian besar bisu ini dibuat dengan “mudah”, karena tidak berdialog, tapi diwakili teks-teks seperti film bisu akhir dekade 1920-an, serta ilustrasi musik sepanjang film. Padahal, problem besar terjadi pada fotografinya, karena harus berjuang menghidupkan gambar dalam gradasi putih, abu-abu sampai hitam. Kendati tak bersuara, film ini tetap menggunakan dialog yang tak terekam di audionya. Kelebihan lain film hitam-putih adalah suasana dramatiknya, misterius. Ini yang dieksploitasi oleh sutradara Michel Hazanavicius.
          Akting, memang harus kembali ke jaman film bisu yang berlebihan seperti gaya Charlie Chaplin. Ekpresi dalam bentuk olah tubuh dan olah mimik sangat menonjol guna mewakili ekspresi dialognya. Jean Dujardin (Aktor Terbaik 2012) menguasai dua unsur itu dengan baik, demikian juga aktris pendukungnya, Bérénice Bejo, yang juga diunggulkan tapi kalah oleh Octavia Spencer (The Help). Tampang Jean yang tampan didandani persis aktor tahun itu, lengkap dengan kumis a la Carry Grant atau Errol Flyn yang kemudian ditiru artis kita serta Singapura seperti Bing Slamet dan P. Ramlee.

Sederhana itu sulit
           Cerita The Artist sangat sederhana dan sangat klasik. Adalah aktor film bisu George Valentin (Jean Dujardin) mengalami masa jaya. Seorang gadis penggemarnya, Peppy Miller (Bérénice Bejo), tergila-gila. George menasihati (dalam teks tentunya): “Jika kamu ingin menonjol, maka kamu harus berbeda dengan yang lain”. George memberi satu titik tahi lalat di ujung bibir bagian atas kanan, mirip apa yang dipunyai Marilyn Monroe, Madonna atau Titin Sumarni, bintang film kita di era 50 hingga 60-an dulu.
           Adegan Peppy yang masuk ke kamar rias George dan membayangkan dirinya dipeluk aktor itu dengan menciumi dan memasukkan tangannya ke lengan jas yang tergantung sangat ekspresif. Tangan Peppy yang masuk ke lengan jas dan seolah-olah membelai pinggangnya, menawan. Dari sini mereka berkenalan.
          Peppy berhasil menjadi aktris pembantu di studio George karena kemampuannya menari. Lama-lama perannya meningkat. Badai menyerang George Valentin ketika era film bicara (talkie) tiba. Produsernya yang diperankan John “Flintstone” Goodman menganggap ia “habis”. George memberontak lalu ia menulis skenario, menyutradarai dan memproduksi film Tears of Love yang gagal dan membuatnya bangkrut. Istrinya pun meninggalkannya kecuali sopirnya yang setia, Clifton (John Cromwell) walaupun setahun tak dibayar.
           Peppy Miller yang sudah menjadi aktris tersohor, datang menolong George Valentin yang nyaris bunuh diri. Aktris ini memborong diam-diam barang-barang George di pelelangan. Ia semakin terharu ketika mengetahui George memegang erat rol film yang berisi adegan mereka berdua waktu rumahnya terbakar. Pertolongan terbesar Peppy adalah ketika ia menekan produser untuk memakai kembali George Valentin dan berhasil. Last shot film ini adalah ketika film terbaru keduanya disyut dalam keadaan bersuara, demikian juga filmnya, satu ekspresi yang menggambarkan datangnya era film talkie pada George Valentin.

Adegan-adegan manis
           Tercatat beberapa adegan yang tergambar secara manis oleh Michel Hazanavicius, selain di dalam kamar rias seperti yang sudah dituturkan. Ketika George menyadari dirinya tersisih hanya karena ia dalam “bisu”, ancaman itu terbawa dalam mimpi. Dia tak bisa bersuara apa pun, selagi anjingnya terdengar menggonggong, dan bahkan selembar bulu pun terdengar menggelegar ketika jatuh di tanah. Audio dihidupkan, kecuali untuk George.
Adegan lainnya yang cukup ekspresif adalah gambar ketika ia menjadi pemabuk, dan menumpahkan minuman ke meja kaca. Cukup indah. 
          Demikian juga saat George memegang senjata ingin menyudahi hidupnya. Ia memasukkan laras revolvernya ke mulut dan penonton dibiarkan tegang beberapa saat. Kemudian adegan di-cut untuk memunculkan teks: BANG! Tentu penonton mengira pistol itu meledak dan mengakhiri penderitaan aktor sial itu. Ternyata itu suara mobil Peppy yang menabrak pohon di depan rumah sewaan George karena aktris itu tak pandai menyetir dan memaksa mendatangi rumah idolanya karena khawatir keadaannya.
           Itu hanya beberapa dari adegan ekspresif yang harus dilakukan sutradara sebagai konsekuensi tiadanya suara.
           Satu hal lagi yang harus diacungi jempol adalah kostum. Bayangkan mereka harus membuat kostum tahun 1927-an dalam jumlah banyak dan harus sama dengan mode jaman itu. Pantas bila film ini juga merebut disain kostum terbaik, di samping music score yang juga merebut Oscar. Sesungguhnya, penata dekor juga patut dipuji karena ia mengusahakan properti yang dipakai pada era itu dengan baik.
Total film ini menggondol 5 (lima) Piala Oscar meliputi:
  1. Film terbaik
  2. Aktor pemeran utama terbaik
  3. Music score terbaik
  4. Sutradara terbaik
  5. Disain Kostum terbaik
      Walaupun menyabet 5 (lima) Piala Oscar, tapi The Artist belum mampu menyaingi One Flew Over the Cuckoo’s Nest atau The Silence of the Lambs yang masing-masing menyabet lima kategori utama Piala Oscar. Bila ingin mencari selingan tontonan film di tengah film laga penuh kekerasan atau hantu-hantuan, maka The Artist menjadi selingan mengasyikkan, pun jadi noslagia bagi mereka yang pernah mengakrabi film bisu.

Anak Betawi Kibarkan Bendera Pusaka

Anak Betawi Kibarkan Bendera Pusaka

Judul                    : Abdul Latief Hendraningrat, Sang Pengibar Bendera Pusaka 17 Agustus 1945.
Penulis                : Dr. Nidjo Sandjojo, M.Sc.
                                    Penerbit              : PT Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 2011
Jumlah halaman : xviii + 274
Ukuran buku        : 15 cm x 23 cm

            Siapa yang tak pernah melihat foto pengerekan bendera pusaka Sang Saka Merah Putih saat proklamasi 17 Agustus 1945? Di sana ada pemuda berseragam PETA lengkap dengan samurainya mengerek bendera merah-putih jahitan Ibu Fatmawati itu.
Gara-gara seragam tersebut musuh-musuh republik menyebut kemerdekaan Republik Indonesia hadiah Jepang. Padahal pemuda Komandan Kompi (Chudancho) I Jakarta Shu Tentara Pembela Tanah Air atau PETA itu adalah Abdul Latief Hendraningrat (15 Februari 1911 – 14 Maret 1983). Namanya seolah tertelan jaman, karena sifatnya yang rendah hati dan memegang ajaran Jawa sepi ing pamrih (tidak mengedepankan kepentingan pribadi, red).
Secara etnis dia anak Jawa tulen, malahan berdarah biru, tapi dia lahir sebagai anak Demang (Wedana) Jatinegara 15 Februari 1911, dan besar di daerah itu. Ayahnya adalah Raden Mas Mochamad Said Hendraningrat, ibunya Raden Ajeng Siti Haerani. Ketika baru berusia setahun, ibundanya wafat dan diganti ibu tiri yang penyayang asal Garut yang memberinya tiga adik yaitu Rukmini, Rukmito Hendraningrat (diplomat yang cukup terkenal, red) dan Siti Salamah (Hlm.61). Tidak heran Latief pun menguasai secara aktif bahasa Jawa dan Sunda (serta dialek Betawi tentunya, red). Ia juga keponakan Mr. Ishak Tjokrohadisurjo, salah seorang tokoh perintis kemerdekaan.

Pendidik, tokoh PETA
Abdul Latief Hendraningrat juga fasih berbicara dalam berbagai bahasa asing seperti Inggris, Jerman, dan Prancis, selain Belanda karena ia ulusan AMS (Algemeene Middlebare School). Semasa penjajahan ia mengajar di berbagai perguruan yang berorientasi pada pergerakan kemerdekaan. Dia juga berkesempatan pergi ke Amerika Serikat untuk melaksanakan pameran di New York World’s Fair tahun 1939 dan meluangkan waktu untuk belajar masalah pendidikan (hlm 67-70). Semasa pendudukan Jepang ia mengusulkan pembentukan Pusat Latihan Pemuda karena pemuda militan masih kurang dibandingkan mereka yang berkemampuan intelektual (Hlm 81-82). Ia diberi wewenang memilih 15 pemuda sebagai awal, a.l. Kemal Idris, Rukmito Hendraningrat, Kusnowibowo, dan Muffreini. Ketika PETA dibentuk resmi 3 Oktober 1943, Abdul Latief Hendraningrat langsung diangkat sebagai Komandan Kompi (Chudancho) karena paling senior, di bawah Komandan Batalyon (Daidancho) Jakarta Mr. Kasman Singodimedjo. Dari sinilah identitas PETA Latief Hendraningrat nampak dalam foto yang sangat bersejarah itu. Ia juga menjadi salah seorang pendiri Badan Keamanan Rakyat (BKR) di jakarta.
Abdul Latief Hendraningrat pernah duduk di sejumlah jabatan penting seperti Direktur Pusat Pendidikan PerwiranTNI AD di Bandung, Atase Militer di Filipina, Washington, DC, AS, Direktur SSKAD di Bandung, anggota DPR GR, dan sejumlah jabatan lainnya termasuk Rektor IKIP Jakarta tahun 1965-1966. Ia pensiun dari tugas militer 1967 dengan pangkat terakhir Brigadir Jenderal TNI. Abdul Latief, seperti terlihat, dia banyak berkutat di bidang pendidikan, hingga selama masa bhaktinya di TNI AD. Ia menekankan pentingnya pendidikan, terutama pendidikan watak bangsa. Di masa pensiun ia menjadi wiraswatawan dan salah seorang tokoh ASITA (Associaion of the Indonesian Tours and Travel Agencies).

Tertatih-tatih
           Sesungguhnya buku ini cukup penting guna mengungkap kehidupan para tokoh pejuang kemerdekaan, yang tentunya akan sangat bernilai bagi sejarah bangsa dan dapat dipelajari dan diambil manfaatnya oleh generasi mendatang. Sayangnya buku yang ditulis oleh menantu almarhum Abdul Latief Hendraningrat ini sejak awal sudah terjebak pada istilah “penulisan sejarah” tokoh pengerek bendera pusaka tersebut. Akan tetapi pembaca tidak mendapatkan gambaran apakah buku ini bercerita mengenai biografi Latief Hendraningrat, memoar, “sejarah” atau pemikirannya.
           Dari sembilan Bab yang ada, yang benar-benar berisi informasi mengenai Abdul Latief Hendraningrat secara memadai hanya Bab V hingga VIII. Satu resume yang lumayan rinci riwayat hidup tokoh ini terdapat di Halaman 251 hingga 262. Resume ini senyatanya dapat menjadi titik pijak kita dalam mencari informasi dan mendalami lebih lanjut siapa Abdul Latief Hendraningrat. Kita juga ingin ada catatan lebih rinci, akurat seputar proklamasi itu dari sisi pandang Latief Hendraningrat. Untung ada tuturan asli dari Abdul Latief Hendraningrat mengenai pengalamannya menjelang proklamasi 17 Agustus 1945. Informasi di sini sangat penting dan terbukti “menegangkan” dari langkah ke langkah, dari salah seorang pengukir sejarah (Hlm. 145 - 170).
           Satu informasi yang sangat penting yang dikemukakan penulis berdasarkan penuturan almarhum mertuanya itu bahwa pengerek (pengibar) bendera itu adalah Abdul Latief Hendraningrat sendiri dibantu seorang pemuda dari Barisan Pelopor bernama Soehoed (Hlm. 123). Tak ada nama lain. Soehoed ini pula yang diperintahkan pemimpin Barisan Pelopor Soediro (pernah menjadi Walikota Jakarta Raya, red) membuat tiang bendera darurat dari bambu dan ditanam beberapa meter dari dua tiang bendera yang dinilainya berbau Jepang. Seperti diketahui ada klaim di tahun 2011 dari orang lain yang mengatakan bahwa dirinyalah pengerek bendera Pusaka Merah Putih pada 17 Agustus 1945 itu (red).

Sejarah” tak bisa dihapus
Kendala kekurangan informasi ini dapat dimengerti mungkin kekurangan keterangan dari almarhum sendiri yang tidak banyak bicara. Ada banyak hal yang perlu dikorek dari almarhum. Seperti catatan kronologi Moeljati, salah seorang pendiri Kowad tentang perjalanan perjuangan kelompok Letkol Latief (Hlm 223-236) yang sangat rinci dari hari ke hari, adalah modal kuat mengenai mozaik “biografi” Latief Hendraningrat.
Abdul Latief Hendraningrat pernah mengalami masa pahit ketika ia ditahan tanpa sebab yang jelas berdasarkan Surat Perintah Panglima Angkatan Darat PRIN-77/3/1966 ditandatangani oleh Mayjen TNI M. Panggabean selaku Deputi Pembina Menteri/Panglima Angkatan Darat. Ia dibebaskan tanpa pengadilan dan tanpa penjelasan memadai oleh Jenderal yang sama melalui PRIN-317/7/1966 (Hlm. 200 – 201).
Almarhum “beruntung” sebab mendapatkan hak pensiunnya sebagai Pati TNI AD, dan ketika meninggal dunia dimakamkan di TMP Kalibata dalam upacara militer dengan Inspektur Upacara Menko Kesra Jenderal TNI (Purn) Surono. “Sejarah” perannya dalam republik tak bisa dihilangkan begitu saja.
Peristiwa pengerekan bendera itu tentu saja moment tunggal yang amat sangat berharga dan takkan berulang. Namun dengan cara bertutur buku yang kurang lancar sedikit membingungkan pembaca awam. Apalagi judul-judul Bab tidak terfokus pada diri Latief Hendraningrat (yang menurut catatan redaksi adalah kakek Gugun Gondrong dari garis ibunya, Ny. Hj. Tuning Sukobagyo). Alih-alih mendapatkan informasi akurat dan komplet mengenai siapa Abdul Latief Hendraningrat, kita justru lebih banyak mendapatkan pengetahuan lainnya.

Balasan anggota Damkar

thumbnail

Di sebuah kota kecil di Jerman, Frankenberg, para anggota Pemadam Kebakaran (Damkar) pada suatu waktu gemas karena warga enggan mengumpulkan uang guna membeli slang air yang baru. Para anggota pemadam itu lantas membuat pengumuman dan disiarkan dalam berbagai media lokal.
Bunyinya: Kalau anda sekalian tidak mengumpulkan dana buat kami, maka kami akan mencari uang dengan mengadakan konser oleh kami sendiri.
Warga “ketakutan” lantas buru-buru mengumpulkan dana, sebab mereka tahu betul bahwa para anggota pemadam kebakaran itu pemusik dan penyanyi yang sangat buruk, padahal orang kota itu sangat gemar menikmati musik klas tinggi.

Kunci Reformasi Ekonomi China

Kunci Reformasi Ekonomi China



Judul buku         : Reformasi Ekonomi RRC era Deng Xiao Ping, pasar bebas dan kapitalisme dihidupkan lagi.
Penulis              : Poltak Partogi Nainggolan
Penerbit            : Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 1995
Volume              : 232 halaman

Kita boleh terkagum-kagum pada kemajuan ekonomi Republik Rakyat China (RRC) yang begitu melejit, dalam kurun waktu yang hampir bersamaan dengan Indonesia ketika mulai membangun ekonomi. Sayangnya kita kini terpental-pental setelah diterjang tsunami krisis 1997 dan bertekuk lutut di depan International Monetary Fund (IMF).
China kini dianggap mampu menggeser kekuatan Jepang menguasai ekonomi dunia, dan menjadi pesaing ekonomi, politik, keamanan tangguh dari Amerika Serikat.
Buku tulisan Poltak Partogi Nainggolan ini berusaha menjelaskan bagaimana perjalanan pembangunan ekonomi RRC yang begitu mencengangkan dunia.
Ini semua berangkat dari satu nama yaitu Deng Xiao Ping dianggap sebagai Bapak Reformasi RRC, yang berhasil mengubah arah ekonomi RRC yang lebih mengarah ke pasar. Deng dipecat tiga kali oleh PKC (Partai Komunis China). Tahun 1933 dia dianggap kekiri-kirian. Tahun 1967 kembali dipecat karena oleh Mao Tse Dong dianggap sebagai “pejalan Kapitalis kedua” setelah Liu Shaoqi. Nantinya kelompok mereka disebut sebagai “pragmatis-realistis”. Tahun 1976 kembali dipecat karena dianggap bertanggungjawab atas peristiwa Tiananmen, di mana ratusan orang tewas dalam memperingati mendiang Zhou Enlai.
Tahun 1978 Deng bangkit lagi setelah tiga kali dipecat, dan direhabilitasi setelah Mao mati, lantas mulai melancarkan gaige (perubahan) dan kaifang (keterbukaan). Ia melancarkan slogan “sosialisme tidak berarti melarat”, dan “menyebabkan sebagian kecil orang menjadi kaya untuk kemudian menjadikan semua orang juga kaya”. Ia mengenalkan ekonomi pasar dan memperkenalkan xiahai (terjun ke lautan) di mana orang boleh melakukan ekonomi bebas. Dengan prinsip itu rakyat RRC tidak lagi terisolir seperti di jaman Mao yang menerapkan sistem ekonomi komando. Wilayah-wilayah yang dulu dikuasai asing berkembang lebih cepat kemakmurannya, karena menjadi daerah ekonomi bebas, dan daerah selatan seperti Guangdong, Fujian, Zhijiang lalu menyamai daerah Hongkong, Taiwan, Singapura.
Deng dkk sejak 1950 menganjurkan perubahan bertahap tidak ekstrem. Sektor industri berkiblat kepada Soviet yang menekankan produksi padat modal, industri dibangun lewat devisa yang ditarik dari sektor pertanian. Diperkenalkan Sanzi Yobao dan Si Da Ziyu yang menekankan sistem skala kecil penggarapan tanah pertanian perorangan, penjualan tanah, sistem kredit berbunga dan perdagangan sistem bebas. Melonggarkan sistem kolektivisme.
Peranan Bantuan Asing – sejak tahun 1978 RRC konsentrasi pembangunan ekonomi negara. Memanfaatkan kemakmuran hoaqiao (hoakiau) sebagai akumulasi modal. Antara US$500 juta hingga US$1 miliar setiap tahun dikirim hoakiau ke RRC.
Peranan swasta dan pasar . Egalitarian Mao memandulkan kreativitas dan inisiatif dalam kegiatan usaha. Birokrasi tak sesuai dengan kepentingan pembangunan ekonomi.
Peranan budaya-agama – pemunahan budaya konfusianisme oleh PKC sejak 1949 dianggap memandulkan kompetisi untuk maju. Budaya tradisonal, termasuk hubungan sosial keluarga dirusak. Ciri konfusianisme adalah realistik dan pragmatis. Prinsip segala sesuatu mesti dimanfaatkan untuk kepentingan tanah leluhur sejalan dengan Deng. Menganjurkan etika kerja keras, disiplin, tekun, hemat,bersaing untuk maju sebagai faktor strategis dalam menumbuhkan ekonomi nasional.
Buku ini mengingatkan pada 4 (empat) langkah penting Deng yaitu:
  • penghapusan komune rakyat –Komune Rakyat (Renmin Gongshe) dulu menghimpun semua fungsi pemerintahan. Pemerintahan adiministratif terdiri dari pemerintahan Kotapraja yang mengurus rencana administratif dan produksi nasional, dan Komite Penduduk Desa yang memiliki otonomi lokal dalam menjaga keamanan umum penyelesaian pertengkaran dan urusan-urusan umum lainnya. Pemerintahan sekarang memperkenalkan usaha pertanian baru yang dipropagandakan kepada khalayak luas sebagai sistem tanggung jawab (zerenzhi). Dalam mekanisme tanggungjawab tiap keluarga petani secara bersama dalam satu komune melakukan perjanjian dengan pemerintah setempat, untuk mengerjakan sebidang tanah dan mendapatkan keuntungan langsung. Areal pertanian dipercayakan kepada keluarga petani secara pribadi. Sistem baru ini membolehkan setiap tahun keluarga petani mengolah sendiri tanahnya, dengan keputusannya sendiri hinga menghapus kebijaksanaan kolektif di pedesaan RRC.
  • penghapusan monopoli negara – pada 1 Januari 1985 pemerintah RRC menghapus sistem monopoli pembelian hasil panen. Walaupun ada prinsip desentralisasi namun pengambilan keputusan ruang ekonomi makro meliputi konsumsi, pembentukan harga barang, alokasi input material, penyediaan tenaga karja, investasi dan pedagangan luar negeri semua di tangan negara. masa transisi terjadi beberapa kesulitan antara lain menipisnya bahan pokok keperluan rakyat lalu pemerintahan masih memasok untuk menekanharga. Ketika 15% pabrik rugi di 1984, pemerintah tunrun tangan sehingga tidak menimbulkan kekuatiran di kalangan buruh.
  • liberalisasi usaha dan manajemen – November 1981 PM Zhao Ziyang di depan Kongres Rakyat mengumumkan 10 petunjuk pembaungan ekonomi yang banyak memberi peluang rakyat.
  • pembukaan diri terhadap modal asing – dan
  • integrasi dalam ekonomi internasional.
Banyak hal yang penting kita pelajari dari uraian dalam buku ini. RRC yang dulu dijuluki Negeri Tirai Bambu, diramalkan sebentar lagi akan menjadi raksasa ekonomi dunia. Afrika dikuasainya. Sementara kita yang dulu pernah punya kesempatan untuk sangat maju, telah runtuh di kaki IMF akibat salah kelola ekonomi dan politiknya, selain praktik korupsi yang merajalela justru hingga ke partai-partai politik.

Mie Ayam Jl. Subang

Mie Ayam Jl. Subang


Pak Sakimo setia melayani pelanggannya

            Mie tentu saja berasal dari negeri China, dibawa oleh para hoakiauw ke Indonesia sejak berabad lalu. Kini mie malah sudah demikian melekat dalam kuliner lokal dan menjadi bagian dari hidup sehari-hari sebagian besar masyarakat, terutama di kota-kota besar tanah air. Salah satu jenis masakan mie yang terkenal adalah mie ayam, yaitu mie yang dimasak memakai air panas kemudian diaduk dengan minyak goreng, sawi hijau rebus, serta daging ayam berbumbu. Sering pula mereka menambahkan bakso serta pangsit, yaitu selembar terigu telur dengan daging cincang.
           Para penggemar mie ayam memilih makanan ini sebab harganya relatif murah, mereka mendapatkan asupan karbohidrat dalam jumlah lumayan mengenyangkan, mendapatkan daging serta sayuran, di samping rasanya tentunya.
          Orang-orang dari Wonogiri, Jateng, menjadikan mie ayam sebagai salah satu dagangan unggulannya di samping bakso. Dulunya, para pedagang mie ayam berasal dari Comal, perbatasan antara Jabar-Jateng. Salah seorang warga Wonogiri yang setia menjajakan mie ayam sejak tahun 78-an adalah Pak Sakimo (65 th), pria asal Giriwoyo, Kec. Baturetno, Wonogiri. Ia menggelar dagangannya di pojok antara Jalan Latuharhary dan Jalan Subang, Menteng, Jakarta Pusat. Rasa masakannya di atas rata-rata sedikit, dan konsisten walaupun harga sembako di pasaran sedang naik, sehingga pelanggannya setia mengunjungi gerobak mie ayamnya hingga kini.
           Sejak pagi-pagi, sekitar pukul 07.00 ia sudah datang dari tempat tinggalnya di daerah Jakarta Kota, dan menyediakan sarapan bagi para karyawan yang lewat di daerah itu. Pada awalnya, pelanggan utamanya adalah siswa-siswa sekolah di dekatnya, serta para orangtua atau pengantar mereka. Setelah sekolah itu pindah ke Kelapa Gading, langganan terbesarnya berkurang. Namun demikian pengalaman berjualan puluhan tahun di tempat itu membuatnya mendapatkan langganan setia. Boleh dikatakan dia tak sempat beristirahat melaayani pembeli. Untuk itu ia mendidik keponakan laki-lakinya agar dapat membantunya dan pada saatnya berdiri sendiri.
           Ditanya mengenai awal pekerjaannya, Pak Sakimo bercerita, pada dekade 70-an ia bekerja di Jakarta Kota. Di dekat tempat tinggalnya ada orang Purwokerto yang membuat mie telur untuk dijual di pasar. Dia diajari bagaimana memasak mie ayam yang ketika itu masih termasuk jenis makanan baru.
           “Ya, sudah, saya belajar dan ternyata enak juga berdagang mie ayam, keterusan sampai sekarang,” tuturnya.
           Baginya berdagang tak mengenal sukses atau tak sukses. Dia berprinsip terus bekerja, melayani langganan dan mencari apa yang disukai mereka. “Hidup tak perlu ngoyo (memaksa) sebab rejeki sudah diatur dari atas (maksudnya Tuhan),” tambahnya ketika sempat beristirahat dan berbincang-bincnag dengan JURNAL BELLA.
Tempat berjualan Pak Sakimo enak, teduh, tenang tidak berisik. Para langganannya mulai dari pelajar SLTA hingga karyawan kantoran atau para supir taksi yang melintas di kawasan itu. Di sampingnya ikut berjualan pria asal Tasik yang melayani minuman serta rokok pelanggan Pak Sakimo.

Happy ending

thumbnail


          Setelah preview sebuah film selesai, penulis naskah film itu menanyai seorang penonton dengan penuh harap akan pujian, “Apakah Anda merasakan bahwa film itu akhirnya memiliki happy ending yang hebat?” Penonton menjawab acuh tak acuh: “Oh, ya, tentu saja kami semua bahagia setelah akhirnya film itu tamat”.

Orang Minang Turunan Iskandar Zulkarnain?

Orang Minang Turunan Iskandar Zulkarnain?



Oleh Adji Subela

Judul    : Minangkabau – Dari Dinasti Iskandar Zulkarnain Sampai Tuanku Imam Bonjol
Penulis            : Amir Sjarifoedin Tj.A.
Editor            : Asril Esden dan M. Yadi
Penerbit    : PT Gria Media, Jl. Pulogadung Raya No.15 Kawasan Industri Pulogadung, Jakarta Timur, Telepon (021) 4603973
Edisi            : Cetakan 1, 2012
Jumlah halaman    : xxvi + 551
Ukuran buku        : 15 x 22 cm

    Membicarakan Minangkabau nampaknya bakal mengungkap banyak hal. Dan yang paling menarik tentunya klaim bahwa suku ini masih keturunan Iskandar Zulkarnain (Alexander the Great). Dari mana pun asal usulnya, suku ini menoreh banyak catatan penting di sejarah Indonesia. Suku perantau ini menyebar ke berbagai daerah dan negara. Diaspora mereka membawa serta kebudayaan Minang dan Indonesia pada umumnya. Banyak tokoh berbagai bidang yang mencatatkan namanya di forum nasional maupun internasional. Bahkan dalam survai CNN mengenai makanan terlezat, maka rendang, yang sering dikaitkan dengan Minang, menempati urutan pertama.
    Penulis dari awal sudah mengatakan ia tidak menulis buku sejarah, tapi sekedar cerita, sebuah nostalgia mengenai kebudayaan Minangkabau (hlm.xxi). Ia bercerita mengenai alam Minangkabau (hlm.6 – 43), kemudian adatnya (hlm.55 – 84), sistem kekerabatannya (hlm.89 – 129), ikatan kemasyarakatnya (hlm. 131 – 160), kerajaan Minangkabau (hlm.163 – 170) dan lain-lain sampai 16 bab. Ia juga mengemukakan kenapa orang Minangkabau suka merantau. Pendek kata nyaris komplet. Kalau saja penulis menyertakan sejarah dan seluk-beluk masakan Minang yang terkenal sebagai produk budaya, akan lebih menarik.
    Cerita mengenai Minangkabau karya Amir Sjarifoedin Tj.A. ini disusun dari 292 buku rujukan, ditambah berbagai sumber lainnya, dapat menjadi informasi awal untuk meneliti lebih mendalam mengenai kebudayaan Minangkabau. Bagi pemula, “buku cerita” ini cukup mengasyikkan untuk dibaca, guna menambah pengetahuan kebudayaan suku-suku di tanah air.
Seperti bagian yang menarik mengenai klaim keturunan Iskandar Zulkarnain yang sudah disebutkan. Penulis menguraikan asal-usul kepercayaan itu, termasuk di dalam tambo Minang, serta penelitian Poortman. Klaim itu digambarkan berawal dari Sultan Djohan Djani, bajak laut yang berhasil menjadi penguasa Daya Pasai (1168 -  1204 M) (hlm.45). Bajak laut ini berasal dari Gujarat dari bapak orang Persia dan ibu orang Punjabi. Malahan Poortman mengatakan siapa saja orang Gujarat selalu mengaku keturunan Iskandar Zulkarnain. Penulis menambahkan Iskandar Zulkarnain tidak pernah menguasai Minangkabau (hlm.44).
Penulis juga mengungkap betapa ada penguasa Pasai berikutnya yaitu Sultan Malik Ul Mansur, yang pandai memalsu sejarah. Amir Sjarifoedin menyamakannya dengan Ki Gede Pemanahan dari Mataram yang memalsu sejarah keturunan. Penulis membeberkan putra Malik Ul Mansur yaitu Sultan Said Amanullah Perkasa Alam itulah yang menerapkan mitos dinasti Iskandar Zulkarnain di alam Minangkabau seperti kesimpulan Poortman pada akhirnya.
Jerih payah penulis untuk menyusun “buku cerita” ini patut dihargai. 

Calon Prajurit AL

thumbnail



Seorang pemuda mendaftarkan diri hendak menjadi prajurit  Angkatan Laut. Seorang penguji bertanya:
Penguji           : Apakah kamu bisa berenang?
Calon prajurit : Tidak, Pak. Kenapa rupanya? ‘Kan AL punya kapal?

Kacamata Baca

thumbnail



Pasien           : Dok, setelah saa memakai kacamata ini apakah saya langsung membaca?
Dokter mata  : Tentu, tentu saja
Pasien             : Ini tentulah kacamata ajaib, sebab seumur hidup saya butahuruf

Perkawinan a la Hollywood

thumbnail




  • Hollywood adalah tempat terkenal di mana pada waktu pesta perkawinan, pengantin perempuan tetap memegang erat-erat karangan bunganya, kemudian melemparkan pengantin prianya jauh-jauh
  • Hollywood juga menjadi tempat memanipulasi dongeng untuk kanak-kanak. Misalnya dongeng mengenai keluarga beruang, “Pada suatu masa ada tiga beruang, yaitu Papa Beruang, Mama Beruang dan anak beruang dari perkawinan Mama Beruang sebelumnya.......”

Minyak Srimpi

Minyak Srimpi



          Pada era 50-an tak banyak produk minyak wangi yang beredar di pasaran, terutama yang harganya terjangkau oleh mereka. Oleh karena itu, minyak pengharum badan itu banyak diproduksi perusahaan-perusahaan kecil guna memenuhi kebutuhan pasar akan pengharum. Oleh karena formulanya sederhana dan memakai bahan-bahan atau bibit minyak wangi yang terjangkau, maka dapat dikatakan hampir semua minyak wangi yang beredar waktu itu baunya nyaris seragam.
          Satu merk yang popular pada saat itu, dan ternyata masih eksis hingga sekarang adalah minyak wangi cap Srimpi. Minyak ini dikemas dalam botol kaca kecil berukuran 14,5 ml, dengan cap gambar penari srimpi, berlatar belakang warna kuning.
          Pada masa itu minyak Srimpi dipakai oleh pria maupun perempuan klas menengah di daerah-daerah. Baunya ringan, segar, minimalis, belum memakai formula yang canggih-canggih seperti halnya minyak wangi jaman sekarang.
           Ketika jaman terus melaju, maka produk-produk minyak wangi yang lebih “canggih” bermunculan, apalagi jenis wewangiannya berbeda, maka minyak wangi cap Srimpi mulai tertepikan. Pemakainya beralih ke kelompok masyarakat berpenghasilan lebih rendah, seperti para pesinden, dan sebagainya. Wanginya yang khas memberi cap yang spesifik.
            Kini di tengah persaingan minyak wangi produk asing serta edisi “palsunya” di kios-kios refill ternyata minyak wangi cap Srimpi produksi Ratu Liv, Solo, Jawa Tengah itu masih bertahan. Pasarnya sudah berbeda dibandingkan tahun 50-an dulu. Sekarang minyak wangi ini tidak menempati rak-rak toko besar, tapi lebih banyak ditemukan di kios-kios kembang, berdampingan dengan kemenyan, dupa, belerang, dan berbagai alat upacara tradisional lainnya.
           Selain di pasar tradisional, minyak ini dapat juga dijumpai di lapak penjual bunga di dekat pekuburan. Yang jelas, hingga tahun 2012 Abad ke-21 ini minyak legendaris cap Srimpi bertahan di pasarnya sendiri, membawa aroma kenangan romantisme pada masa dekade 50-an dahulu. Lagu-lagu keroncong dan lagu-lagu daerah ketika itu semarak saat Republik kita masih berusia remaja.

Dosa Pers, Kapitalisme Global

Dosa Pers, Kapitalisme Global





Menyongsong Peringatan Hari Pers Nasional 9 Februari 2012 di Jambi


Oleh Adji Subela

Judul                   : Hiperrealitas dan Ruang Publik: Sebuah Analisis Cultural Studies
Penulis               : Dr. Selu Margaretha Kushendrawati
Penerbit             : penaku, Jakarta, Juli, 2011-12-11
Penyalur             : Wedatama Widya Sastra, Jl. M. Kahfi I, Gg. H. Tohir II No.46, Jagakarsa, Jakarta Selatan 12620 – Telp – 021 - 7865262
Jumlah halaman : xiii + 244
Ukuran buku        : 14 cm x 20 cm


             Jaman berubah, filosofi berubah. Kegesitan jaman untuk lari ke depan membikin masyarakat terengah-engah, gamang, termasuk persnya. Maka jalan keluar yang gampang adalah larut pada arus, karena tak tahu apa yang harus dilakukan menghadapi masa depan yang tak menentu.
             Pers, yang dulu menjadi agen perubahan, memegang tiga fungsi utama yaitu sebagai alat penerangan, hiburan, dan pendidikan, kini memasukkan fungsi baru yang besar dan utama hingga menepikan tiga fungsi terdahulu, yaitu sebagai agen iklan sepenuhnya dari perusahaan besar atau berskala multi-nasional. Maka publik tak pernah lagi mendapatkan informasi yang seimbang, obyektif, dan pro-publik seperti apa yang menjadi kredo jurnalisme di masa lalu.
            Balasan itu semua adalah terjadinya perlawanan pasif publik yang a.l. menghasilkan jasmine revolution di potongan utara benua Afrika, seperti Tunisia, Mesir dan Libya baru-baru ini. Publik menemukan ruang lainnya, ruang publik lewat internet misalnya. Kasus pembakaran diri Muhammad Bousisi, pedagang kakilima (K-5) yang tergusur memicu perlawanan publik terhadap pemerintah lewat jejaring sosial internet.
            Publik kini disuguhi satu realitas semu yang justru dipercaya sebagai yang asli, lewat media massa. Terjadi simulasi yaitu proses imitasi tanpa realitas asli, yang hasilnya justru lebih nyata dan menjadi tolok ukur bagi yang nyata. Ekspansi modal kuat membikin media massa masih eksis, dan sebaliknya kapitalisme tidak akan menjadi mengglobal tanpa peranan media massa (Hlm. 45).
            Buku Hiperrealitas dan Ruang Publik: Sebuah Analisis Cultural Studies karya Dr. Selu Margaretha Kushendrawati, dosen program S1, S2, dan S3 di Univ. Indonesia serta sejumlah perguruan tinggi lainnya ini, mengulas pandangan kritis-pesimistik Jean Baudrillard, filsuf asal Prancis. Baudrillard yang sampai pada kesimpulan bahwa pada akhirnya kita akan masuk ke tingkat catastrophe yaitu kehancuran makna akibat implosi, ledakan ke arah pusat dan penghancuran diri. (Hlm.235).
            Publik (terutama mereka yang pernah bersinggungan dengan pers) sudah lama gregetan pada media massa tanah air, yang ternyata refleksi media massa dunia masa kini. Berita pun sudah dimasuki iklan terselubung, berita pun memakai kata-kata hiperbola, bombastis, dan sangat sepihak tanpa konfirmasi dan kering referensi.
           Jean Baudrillard, seorang pengamat asal Prancis, sangat kritis terhadap globalisasi dan kapitalisme global. Di bagian akhir buku penulis pun mengritisi Baudrillard yang dianggap pesimistik. Namun bagaimana pun paparan mengenai ide penulis Prancis itu memberi pengetahuan dan wawasan baru dalam melihat hiruk-pikuk model pemberitaan media massa sekarang ini. Pembaca kritis akan dapat menempatkan dirinya kembali ke jalan yang “benar”, tidak larut oleh hiruk-pikuk para “kapitalis global”.
           Buku ini penting dibaca oleh orang-orang yang pernah gelisah mengamati perubahan media massa, khususnya di tanah air tercinta. Ini semacam Kitab Pencerahan.

Makanan Khas & Ekonomi Warga

Makanan Khas & Ekonomi Warga

Sate ayam Ponorogo

(Bagian-2)

Oleh Adji Subela

Yang belum mendapatkan posisi

  1. Sate ayam Ambal, Kebumen. Seperti yang dapat Anda baca dalam situs ini beberapa waktu lalu, dari segi rasa sate ayam Ambal berpotensi untuk maju. Di Jakarta beberapa kali orang menawarkan sate ini tapi menemui kegagalan. Di Jalan Lapangan Roos, Tebet, Jakarta Selatan, dulu terdapat satu restoran khusus menawarkan sate Ambal. Tak bertahan lama. Demikian juga yang ada di Jalan Buncit Raya, disusul di Parung, Bogor. Persis seperti dikatakan Pak Kasman, generasi keempat pewaris satu Ambal, tanpa pengabdian dan kecintaan, hidup-mati dari dagangan itu, bisnis tidak bertahan lama.
  2. Sate Ayam Ponorogo. Sate ayam ini semula hanya berkembang di Ponorogo dan kota-kota lain di Jatim atau Jateng. Belum ada warung sate ayam Ponorogo yang berhasil menancapkan brand mereka. Ketika reog Ponorogo diklaim Malaysia, banyak yang memanfaatkan momentum itu untuk berjualan sate ayam gaya Ponorogo, seperti di Rawamangun, Cikokol, Depok. Semuanya kurang berhasil dan banyak yang tutup. Di Depok hanya di Margonda yang masih bertahan. Salah satu kendalanya, harga sate ini sedikit agak mahal dibandingkan sate ayam Madura yang sudah populer, sementara publik belum terbiasa dengan rasanya.
  3. Sate ayam model Ambal, Kebumen, dan penikmatnya
    Dawet Ayu Banjarnegara. Dawet yang populer di Jakarta adalah asal Banjarnegara, di samping dawet cendol Bandung. Cendol Bandung telah eksis sebelumnya. Akan tetapi, dawet Banjarnegara, dengan merk Dawet Ayu itu datang dengan gaya tradisionalnya sama seperti di tempat asalnya, menawarkan cendol yang sama-sama hijau. Kini semakin banyak gerobak dawet yang berciri gambar tokoh punakawan wayang di pikulannya. Mereka mampu menghidupi keluarga dan sanak-familinya.
  4. Dawet ayu Banjarnegara dengan gerobak khasnya keluar masuk kampung di Jakarta
    Dawet hitam Butuh. Di Jakarta, kini mulai bertebaran orang asal Butuh, Kutoarjo, Jateng, menawarkan produk daerah mereka berupa dawet cendol hitam. Cendol ini dibuat dari pati aren dan dicampur abu merang sehingga berwarna hitam. Rasanya kurang lebih sama saja dengan cendol pati aren lainnya, akan tetapi warna hitam menjadi brand mereka sehingga lama-lama orang Jakarta terbiasa. Dawet cendol hitam dikenalkan antara lain oleh Bondan Winarno lewat acaranya yang populer, Wisata Kuliner, di salah satu stasiun TV nasional. Ekspansi dawet ini mulai terasa di ibukota, namun belum populer betul.

Perjuangan mandiri
           Masih banyak lagi makanan-makanan khas daerah yang kini sudah berjaya atau sedang berjuang mencari posisinya. Sesungguhnya para pioner penjualan segala jenis makanan khas adalah pahlawan bagi keluarga maupun warga di kampung halamannya. Dengan gigih, mereka memasarkan produknya. Ia tidak tergoda akan iming-iming jenis dagangan lain, dengan kata lain mereka hidup atau mati dengan satu produk unggulan itu.
           Kini banyak tersebar berbagai jenis usaha waralaba. Promosi dan publikasinya sangat berlebihan, membikin silau orang-orang untuk mengikutinya, persis seperti teknik Multi Level Marketing yang menawarkan “kekayaan uang” di awang-awang. Lalu outlet-outlet mereka menjamur di mana-mana dan dikabarkan di media massa dengan gegap-gempita. Salah satu daya tariknya karena disebutkan pemiliknya mengeruk uang miliaran per bulan. Terbukti kemudian gerai bisnis “menggiurkan” ini banyak yang rontok satu per satu, dan habis begitu saja, sama seperti nasib perusahaan MLM yang pengusahanya sudah telanjur kaya, tapi downliners-nya sudah compang-camping, badan capek, uang banyak keluar dan terbukti tidak mendapatkan pesawat terbang, rumah mewah atau kapal pesiar seperti yang digembar-gemborkan.
           Di awal tahun 2001 ada satu bisnis waralaba yang nampak “kemaruk” atau terlalu bernafsu untuk mengembangkan banyak jenis makanan, seolah hampir semua makanan diwaralabakan olehnya. Diberitakan di media massa secara besar-besaran pemiliknya begitu hebat mengeruk uang tiap bulannya. Terbukti kemudian waralaba itu kini ambruk nyaris tak berbekas lagi.
Dawet ireng (hitam) khas Butuh, Purworejo mulai "bertarung" di Jakarta
           Malaysia lebih hati-hati tidak sembarangan memberi ijin waralaba. Seseorang harus membuktikan dagangannya telah laku dan populer minimal dua tahun. Di Indonesia pendatang baru langsung mewaralabakan produknya walau belum teruji di pasar, sehingga terbukti luruh dengan cepat. Yang paling celaka nasibnya adalah para pewaralaba yang mungkin tersihir berita media massa dan promosinya lantas ikut-ikutan investasi sekedar mencari “peluang bisnis”. Mereka korban promosi berlebihan, salah satu ciri kapitalisme. Mereka umumnya ambrol di jalan, sebab dia pun tak mau keluar banyak modal untuk mempromosikan usahanya, satu policy yang seharusnya dilakukan pemilik/pemegang waralaba.
Nampaknya yang lebih bijaksana adalah para pedagang makanan “kuno” seperti yang diceritakan sebelumnya. Pak Kasman, salah seorang pelopor sate ayam Ambal, Kebumen, bilang kepada saya, banyak orang yang mencoba-coba berjualan sate sepertinya tapi gagal. Itu karena mereka bukan “keturunan penjual sate” yang asli seperti dirinya. (Baca Artikel saya terdahulu mengenai Sate Ayam Ambal di situs ini juga)



            Dalam kalimat sederhananya itu, tergambar bahwa selama produk itu diperjuangkan mati-matian, di mana orang hidup atau mati hanya menjual dagangan unggulannya, maka itulah penjual profesional yang kebal cobaan. Mentalitas inilah yang dimiliki para pioner dan penerus penjual makanan dari daerah sehingga berhasil, bukan saja untuk kesejahteraan keluarga mereka, tapi juga warga lainnya serta nama daerah, tanpa publikasi berlebih-lebihan.
Terbukti kemudian, satu cara penjualan yang “kuno”, “tradisional”, “ketinggalan jaman”, kurang “trendy”, “jadul” justru menunjukkan daya tahan luar biasa, karena didukung oleh para anggota keluarga yang setia, dedikasi tanpa henti karena menyangkut hidup atau mati mereka sendiri. Terbukti pula bisnis tradisional ini kemudian sedikit demi sedikit memperbaiki diri, meningkatkan kualitas seiring kontak mereka dengan kemajuan jaman.
Mereka pun kini mampu membeli kios-kios di pertokoan mewah dan hidupnya pun mewah tanpa gegap gempita promosi yang sudah di luar nalar sehat, dan salah satu point terpenting dari pembicaraan kita kali ini adalah: Mereka memberikan kemakmuran pada daerah asalnya.
Semua dilakukan dengan rendah hati, tanpa gembar-gembor publikasi yang sering membujuk, “menipu”, dan menyesatkan publik.
Kearifan lokal Indonesia terbukti mampu bertahan atas gempuran kapitalisme, neo-liberalisme. Itu kata berlebihannya. Sekali lagi, ketika terjadi krisis ekonomi – yang berkembang kea rah krisis multidimensi – tahun 1977 sektor ini masih tegar, karena tidak terlalu bernafsu untuk ekspansi yang biasanya didorong guna mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya, sehingga untuk itu mereka harus mengerahkan modal yang umumnya diambil dari pihak lain seperti institusi bank, misalnya.
Pertanyaannya, kenapa kita gampang percaya pada promosi bisnis yang datang dari negeri Barat ketimbang local wisdom yang terbukti ampuh hidup di negeri kita sejak jaman nenek-moyang dahulu? Salah satu jawabnya mungkin, orang terpengaruh ingin lekas kaya raya mendapatkan kesenangan dunia mengejar impian model American Dreams, melupakan keseimbangan dan kebijaksanaan hidup.
Tentu saja kita tidak menolak konsep kemajuan dari mana pun datangnya. Akan tetapi semakin jelas bahwa apa-apa yang berakar dari budaya kita sendiri terbukti paling cocok untuk kita selagi di Barat sendiri mulai muncul kritik terhadap kebudayaan yang mereka kembangkan, karena tidak mampu menyelesaikan efek-efeknya terutama terhadap lingkungan hidup. Kearifan Timur mulai dilirik orang Barat. Apa kita meninggalkan dan melupakan, apalagi tidak menganggap baik akar budaya yang terbukti mampu membentuk harmoni yang begitu indah selama ini, sebagai warisan nenek-moyang kita sendiri?

TAMAT

CATATAN – mengenai apa “kesalahan” promosi yang berlebihan yang berkembang pada era neo-kolonialisme dan peranan media massa sekarang ini, dikupas Dr. Selu Margaretha Kushendrawati dari Univ. Indonesia dalam bukunya berjudul Hiperralitas dan Ruang Publik – sebuah analisis cultural studies. Baca rubrik RESENSI edisi sekarang ini guna mendapatkan gambaran sekilas isinya.