Taximeter Anti-cerewet

thumbnail


           Supir taksi merasa jengkel dengan penumpangnya, seorang pria cerewet. Penumpang itu sok tahu jalan dan tukang kritik cara mengemudi supir taksi. Suatu saat penumpang ini melihat taximeter dan merasa jalannya terlalu cepat dan kemahalan. Si supir akhirnya bicara:
           “Tuan, taximeter ini merangkap cerewet meter. Makin cerewet penumpangnya makin cepat dia berputar.”

Supir Taksi Berprinsip

thumbnail


            Seorang supir taksi minta berhenti dari pekerjaan yang baru dijalaninya seminggu. Padahal bossnya menyukai hasil pekerjaannya.
           Boss : “Kenapa kamu berhenti?”
           Supir taksi : “Saya tidak suka ada orang bicara di belakang saya.”

Supir Taksi Usil

thumbnail


            Seorang pria eksekutif dengan muka masam masuk ke taksi dengan tergesa-gesa.
Supir : “Mau ke mana, Tuan?”
Pria : “Jangan usil turut campur urusan orang lain!”

Selera sex Charlie Chaplin

Selera sex Charlie Chaplin



            Anak-anak sekarang jarang yang mengenal aktor serba bisa era film bisu yaitu Charles Spencer Chaplin. Ia nama populernya Charlie Chaplin dengan ciri mengenakan jas rombeng kekecilan, topi bulat, celana lusuh kedodoran, bertongkat dan memakai sepatu kebesaran. Tapi aktor yang disebut-sebut sebagai terbesar sepanjang Abad Ke-XX lalu itu tidak sembarangan.
            Selain berakting, ia pintar menulis skenario, menyutradarai, bahkan mengarang lagu. Namun hidupnya dibayangi skandal sex dengan gadis-gadis. Ia pernah dikabarkan menyuruh bunuh diri kekasihnya yang masih imut-imut. Chaplin lahir di Inggris, menjadi terkenal di AS lalu menghabiskan masa tuanya di Swiss sebab ia selalu dicurigai sebagai orang komunis. Ia pernah diburu agen Nazi hendak dibunuh sebab mengejek Adolf Hitler dalam filmnya The Great Dictator.
Anak perempuannya, Geraldine Chaplin, mengikuti jejak sang ayah di bidang akting tapi tak pernah menonjol. Boneka yang menggambarkan dirinya termasuk paling laris hingga sekarang.

"Bangun Lagi Rumah Proklamasi!"

"Bangun Lagi Rumah Proklamasi!"
Pengibaran bendera Merah-Putih jahitan Ibu Fatmawati. Yang mengibarkan adalah Chudancho Latief Hendraningrat dan Soehoed (membelakangi kamera) dari Barisan Rakayt pimpinan Sudiro. Foto-foto bersejarah ini diambil oleh Alex Sumarto Mendur dengan negatif plat terbatas.

Rumah Bung Karno di Jalan Pegangsaan Timur 56 saksi penting Proklamasi Kemerdekaan.
  • Guna kepentingan sejarah bangsa dan pariwisata
  • Bang Ali pernah akan membangunnya kembali
  • Kenapa Bung Karno membongkar rumahnya?
            Sejumlah kelompok a.l. terdiri atas para konservasionis, arsitek, ahli sejarah dan idealis menginginkan agar rumah Bung Karno di Jalan Pegangsaan Timur 56 (sekarang Jalan Proklamasi) Jakarta Pusat, tempat di mana Proklamasi Kemerdekaan diumumkan 17 Agustus 1945, dibangun kembali sesuai aslinya.
            Pembangunan kembali rumah itu dianggap penting baik dari sisi sejarah maupun pewarisan nilai-nilai Kemerdekaan 1945 kepada generasi muda mendatang. Di samping itu rumah bersejarah tersebut diharapkan dapat menjadi obyek/tujuan wisata sejarah di Jakarta sebagaimana halnya Museum Fatahillah dan Kota Lama sekarang. Dengan adanya monumen Kemerdekaan, di mana peristiwa penting yang mengukir sejarah Kemerdekaan diumumkan, dapat memberi gambaran nyata ke pada generasi muda tentang bagaimana Proklamasi diumumkan.
            Pembangunan kembali rumah itu secara fisik tidak akan mengalami hambatan sebab tapak bangunan hingga kini masih ada, terlebih lagi gambar arsitektur dari tahun 1935 masih tersimpan lengkap. Di samping itu dokumentasi mengenai segala bagian bangunan mulai dari kusen, tegel, kunci, gerendel, gembok hingga perabotan masih lengkap. Dokumentasi itu dibuat sesaat sebelum rumah bersejarah itu dirubuhkan untuk dibangun Gedung Pola seperti sekarang ini.
Para arsitek serta alumni Fakultas Teknik Jurusan Arsitektur Univ. Tarumanagara, mengharapkan baik Pemerintah Pusat, Pemprov DKI Jakarta, serta pengusaha besar mau mengijinkan dan membiayai pembangunan kembali rumah bersejarah tersebut.

Negara lain melakukan
           Negara lain yang mencintai sejarah bangsanya melakukan pembangunan kembali tempat-tempat sersejarah mereka guna kepentingan generasi muda serta peresapan nilai-nilai sejarah mereka sendiri, di samping untuk pariwisata.
Beberapa monumen sejarah yang menjadi contoh pembangunan kembali rumah Proklamasi itu antara lain kompleks Williamsburg di Virginia, AS. Kota itu memang bukan lokasi proklamasi kemerdekaan Amerika Serikat, tapi wilayah tersebut tempat awal koloni asal Inggris mendirikan pemukimannya. Kota tersebut berhasil dibangun kembali seperti sedia kala, sekaligus ditunjukkan kehidupan saat itu dengan menggaji para aktor/aktris untuk berperan sesuai situasi jamannya. Sekarang selain untuk kepentingan sejarah kota itu menjadi tujuan wisata dengan angka kunjungan tertinggi di AS.
            Sebuah bangunan gereja Ortodoks yang dihancurkan pemerintahan komunis Uni Sovyet di kota St. Petersburg berhasil dibangun kembali selain guna keperluan peribadatan juga untuk mengenang sejarah Rusia. Gereja itu juga banyak dikunjungi wisatawan dalam maupun luar negeri.
            Kota Warsawa, Polandia, membangun kembali sejumlah gedung bersejarah yang hancur lebur akibat Perang Dunia Ke II lalu. Pemerintah kota menganggap penting pembangunan kembali bangunan kuno itu selain untuk kepentingan sejarah juga sebagai daya tarik pariwisatanya. Mereka berhasil, gedung-gedung dibangun sesuai aslinya kendati beberapa bagian disesuaikan dengan tuntutan jaman.

Melengkapi “museum rumah”
Rumah Bung Karno, tempat Proklamasi Kemerdekaa 17 Agustus 1945. Rumah ini perlu dibangun kembali untuk situs sejarah perjuangan kemerdekaan.

            Jakarta kini memiliki sejumlah “museum rumah” yang memiliki nilai sejarah tinggi. Beberapa di antaranya adalah Museum Sasmita Loka di Jalan Lembang, berupa bekas rumah Jendral Ahmad Yani yang gugur di tangan pemberontak G.30.S/PKI tahun 1965. Di Jalan Tengku Umar juga ada Museum Jendral A.H. Nasution yang juga bekas rumah almarhum yang nyaris menjadi korban keganasan G.30.S./PKI, namun putri bungsunya gugur.
“Akan sangat bagus kalau rumah Bung Karno dibangun kembali guna melengkapi museum-museum sekarang yang dulunya rumah saksi sejarah bangsa kita,” kata Ir. Indro Kusumowardono, salah seorang konservasionis penggiat kelompok yang menginginkan pembangunan rumah Proklamasi.

Walikota Jakarta Sudiro menentang pembongkaran
            Walikota Jakarta Sudiro mengatakan dirinya menentang rencana Bung Karno untuk membongkar rumah di Jl. Pegangsaan Timur 56 tersebut untuk dijadikan Gedung Pola. Ia menganggap rumah itu sangat bersejarah bagi rakyat Indonesia. Rencana tersebut memang tertunda hingga Sudiro merasa beruntung ketika rumah tersebut dirubuhkan ia sudah tidak menjabat sebagai Walikota lagi (Soebagijo I.N., Sudiro Pejuang Tanpa Henti, PT Gunung Agung, Jakarta, 1981, hlm 259).

Bang Ali ingin membangun kembali
            Sebenarnya ide pembangunan kembali rumah Bung Karno yang bersejarah itu pernah pula dilontarkan kepada Gubernur DKI Jakarta waktu itu, Letjen TNI (Mar) Ali Sadikin. Kebetulan salah seorang pejabat DKI yang pernah menangani pemugaran Museum Fatahillah dan Jakarta Kota yaitu Ir. W.P. Zhong (alias Tjiong Sun Hong) sudah mengusulkan hal itu kepada beberapa pihak.
Ternyata Bang Ali sendiri berpendapat serupa. Ketika meresmikan Gelanggang Remaja Planet Senen dan pembangunan empat monumen lainnya ia menyatakan Pemprov DKI akan membangun kembali rumah bersejarah tersebut, tinggal menunggu ijin dari Pemerintah Pusat (Ramadhan KH, Bang Ali, Demi Jakarta 1966-1977, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 1993) . Namun hingga Gubernur itu lengser, cita-citanya tak terwujud, bahkan hingga sekarang.
Di masa pemerintahan Presiden Suharto dibangun patung Sukarno-Hatta di halaman Gedung Pola dan diresmikan olehnya pada 16 Agustus 1980. Namun letaknya membelakangi arus lalu lintas hingga tidak tampak secara baik. Di masa itu dikabarkan pula diajukan usulan untuk membangun kembali rumah bersejarah Bung Karno tempat Proklamasi Kemerdekaan diumumkan, tapi Presiden RI Kedua itu cuma tersenyum dan menjawab,”Kan sudah ada patungnya.”

Kenapa Bung Karno membongkar rumahnya?

Pembacaan teks Proklamasi oleh Ir. Sukarno. Bung Hatta ada di sebelah kanan gambar. Kiri berdiri dengan seragam PETA adalah Chudancho Latief Hendraningrat, kakek Gugun Gondrong (baca cukilan biografinya di rubrik RESENSI)
            Satu pertanyaan besar yang menggayuti para peminat sejarah sejak dahulu yaitu kenapa Bung Karno menyuruh membongkar rumahnya yang bersejarah itu. Presiden RI Pertama itu terkenal benci pada tanda apa pun berkaitan dengan kolonialisme sehingga membiarkan patung-patung ataupun gedung-gedung warisan Belanda yang indah-indah dirubuhkan walaupun dia sendiri berlatar belakang arsitek.
            Tapi kenapa ia membiarkan rumah bersejarahnya ikut dirubuhkan?
            Ada pendapat yang bersifat spekulatif bahwa Bung Karno merasa rumah itu memberinya kesedihan terhadap perkawinannya dengan Ibu Fatmawati karena dari situlah awal perpisahannya dengan Ibu Negara Pertama tersebut, walaupun secara resmi tidak bercerai. Hal ini berpangkal dari perkawinan Bung Karno dengan Hartini, ketika belum lama Ibu Fatmawati melahirkan Guruh Sukarnoputra, tahun 1953. Akan tetapi alasan yang pasti belum pernah jelas.

Bang Ali Gagas Pemugaran Kota

Bang Ali Gagas Pemugaran Kota



Bang Ali (tengah) sedang inspeksi pemugaran didampingi Kepala Kantor Pemugaran Jakarta Kota Ir. W.P. Zhong (kanan kemeja putih berkacamata). (Foto W.P. Zhong)



  • Pemugaran meliputi tiga gedung dan kawasan Kota Lama
  • Pemugaran kota pertama di Asia Tenggara

Oleh Adji Subela

           Seandainya Bang Ali masih ada, ia tentu bangga melihat Museum Sejarah Jakarta (sering disebut pula Museum Fatahillah), Taman Fatahillah serta lingkungannya di Kota Lama Jakarta. Daerah ini sangat hidup siang maupun malam, kian banyak kelompok pencinta sejarah dan museum yang meramaikan daerah peninggalan VOC tersebut. Yang lebih membanggakan, mereka kebanyakan dari generasi muda.
           Tak hanya itu. Para wisatawan asing sering tidak melewatkan kesempatan mengunjungi Museum Sejarah Jakarta (MSJ) dan sekitarnya hingga ke Pasar Ikan dengan Museum Baharinya. Kelihatannya wisatawan mancanegara (wisman) menjadikan kunjungan ke Kota Lama sebagai keharusan, selagi minat mereka ke obyek wisata lainnya di ibukota sekarang terasa berkurang. Wisatawan domestik dari luar kota banyak yang mengunjungi obyek wisata sejarah ini pula, memakai bus-bus, terutama sekali pada saat liburan.
Maka tujuan Bang Ali untuk memugar kawasan itu k.l. 40 tahun lalu untuk menarik wisatawan terbukti. Bukan hanya itu. Pemugaran Kota Lama Jakarta itu menjadi pemugaran pertama satu kawasan kota di Asia Tenggara. Singapura dan Malaysia belajar banyak dari pengalaman Jakarta waktu itu.

Gagasan Bang Ali
            Banyak orang tidak tahu bagaimana pemugaran Museum Sejarah Jakarta (MSJ) atau Museum Fatahillah ini dilaksanakan. Pemugaran yang meliputi gedung MSJ, dulunya Balaikota VOC (Stadhuis), gedung Museum Seni (dulu gedung Pengadilan, Raad van Justitie dan Kantor Walikota Jakarta Barat), gedung Museum Wayang (dulu Museum Jakarta yang lama) serta lingkungan Kota lama Jakarta,harus selesai dua tahun.
Museum Fatahillah ketika masih menjadi Markas Kodim 0503 Jakarta Barat (Foto: Ir. Robby Djojoseputro)
Kantor Pemugaran Jakarta dengan segala daya upaya dan kerja kerasnya berhasil menyelesaikan tugasnya tepat waktu. Apa yang kita lihat sekarang merupakan keringat dan daya upaya para pejabat DKI yang berkaitan, tim pemugaran dan Gubernur Ali Sadikin.
Itu semua merupakan buah manis dari gagasan Gubernur DKI Jakarta Letjen (Mar) Ali Sadikin yang menjabat dari 1966 hingga 1977. Gubernur yang terkenal cerdas, sigap, berani, bertanggung jawab dan memiliki visi ke depan yang jauh ini mendapatkan idenya ketika masih menjadi Menteri Perhubungan berpangkat Brigadir Jenderal di tahun 1964. Ia mengunjungi Warsawa, Polandia, Belanda dan Amerika Serikat. Di negeri-negeri itu ia terkesan dengan kepiawaian orang sana dalam melestarikan benda-benda cagar budaya (BCB).
Di Warsawa, Polandia, ia terkesan saat mendapat penjelasan bahwa kota itu hampir seluruhnya dibangun kembali sesuai aslinya setelah habis dibombardir selama PD II. Selain menyangkut masalah sejarah, ternyata juga menarik wisatawan mancanegara.
Di AS ia pun terkesan dengan kota Wlliamsburg yang dibangun kembali seluruhnya pada awal Abad Ke-20 lalu.
Ketika dilantik sebagai Gubernur DKI Jakarta pada 28 April 1966 oleh Presiden Sukarno, Bang Ali mendapat tugas berat. Ia dipilih oleh Presiden I RI itu karena berlatarbelakang TNI AL yang menguasai masalah kelautan sehingga cocok untuk Jakarta yang kota pelabuhan. Selain itu Ali Sadikin dinilai memiliki sifat een beetje koppigheid alias sedikit keras kepala.
Bang Ali ditugasi untuk mendandani Jakarta sehingga pantas sebagai ibukota Indonesia. Jakarta harus punya penampilan fisik yang waardig (berharga), perintah Bung Karno. Orang tidak hanya hidup dari roti, tapi juga perlu punya kebanggaan nasional.
Setelah menjabat beberapa waktu Bang Ali menemukan, para wisatawan asing menjadikan Jakarta sekedar tempat melintas, tak mau menginap, sebab mereka memilih langsung ke Jawa Tengah, Yogyakarta atau Bali yang memiliki atraksi budaya lebih banyak.
Jakarta harus memiliki daerah yang menarik wisman karena tak punya candi, tak punya keraton. Oleh karena itu Bang Ali berniat membangun daerah penarik wisatawan asing (terutama) hingga mereka mau tinggal lama di Jakarta. Dengan demikian, ibukota dapat menerima uang lebih banyak dari pelancong itu.

Pucuk di cita ulam tiba
Pada pertengahan tahun 1969, ada seorang pakar keramik dan kerajinan dari United Nations Development Programme (UNDP) yang bekerja untuk Dep. Perindustrian guna mengembangkan kerajinan a.l. di Toserba Sarinah, namanya Sergio Dello Strologo. Pria Amerika kelahiran Italia ini memiliki pengalaman memugar Devon House di Jamaica. Ia terkejut setelah diantar seorang stafnya yaitu Soedarmadji Jean Henry (Adji) Damais, bahwa Jakarta memiliki gedung-gedung peninggalan VOC yang masih utuh, demikian juga lingkungannya.
Musem Sejarah Jakarta (Museum Fatahillah) selesai dipugar 1974 dan menanti diresmikan Bang Ali dan menerima tamu PATA. (Foto: Ir. Indro Kusumowardono)
Ia mengajukan proposal kepada Bang Ali secara komplet untuk memugar wilayah itu sehingga dapat menjadi obyek wisata untuk Jakarta. Bang Ali yang memang memiliki niat untuk itu sejak lama, langsung menyetujui rencana orang UNDP tersebut seketika itu juga. Banyak stafnya yang terkaget-kaget, kenapa Bang Ali begitu cepat mengambil keputusan.. Gubernur Jakarta itu minta pemugaran harus selesai April 1974 bertepatan dengan konperensi PATA di Jakarta.
Tugas berat itu selesai dalam tempo dua tahun setelah melalui masa persiapan selama dua tahun lebih, dan pesta penyambutan peserta PATA diadakan di Museum Sejarah Jakarta sekarang ini.

"Dracula" masih hidup!

"Dracula" masih hidup!



           Sosoknya tinggi – hampir dua meter, tepatnya 196 cm – memiliki wajah serius, dingin, kejam. Suaranya besar, dalam, dengan akses Inggris kental. Sorot matanya juga angkuh. Setiap kali ia muncul pria ini mengusung wibawa keseraman, hingga peran Count Dracula menempel padanya hingga kini. Padahal Christopher Lee, aktor kelahiran Westminster, Inggris, ini sudah lama meninggalkan perannya sebagai Pangeran Dracula si Pangeran Kegelapan.
          Kalau Anda menonton film Hugo yang gambarnya apik itu, di sana ada tokoh Tuan Labisse si pustakawan misterius. Pemerannya adalah Christopher Lee yang kini berusia 90 tahun (lahir 27 Mei 1922). Untung masih bisa melihat dia ketawa sebab di kebanyakan filmnya ia adalah pria jahat, pendiam dan sadis. Selain sebagai Dracula, Lee juga memerankan tokoh China Fu Man Chu serta menjadi dukun Kerajaan Rusia Rasputin.
           Ia bermain dalam Starwars dan trilogi The Lord of the Rings sebagai Saruman padahal ingin menjadi Gandalf, namun terhalang kondisi fisik yang sudah tua sekali.

Kisah hidupnya unik
           Diam-diam Lee memiliki sejarah yang istimewa. Dia lahir dari ayah Inggris dan ibu keturunan bangsawan asal Italia. Oleh sebab itu nama lengkapnya adalah Christopher Frank Carandini Lee. Nenek buyutnya, Marie Carandini, adalah penyanyi opera Italia yang masyhur dan pamannya Dubes Italia untuk Jerman. Christopher Lee adalah seorang polyglot, yaitu orang yang bisa berbicara dalam banyak bahasa yaitu Inggris, Prancis, Jerman, Italia, Yunani, Spanyol, Rusia dan Swedia.
           Di Perang Dunia II Lee pernah menjadi pilot dan bertempur di berbagai front. Tapi karena gangguan penglihatan ia tidak boleh terbang lagi, lalu menjadi anggota intelejen tempur. Tahun 1946 ia memasuki dunia peran hingga sekarang. Dia mulai mengukir namanya lewat film horror produksi Hammer Horror Film sebagai Dracula. Setelah lima film ia bosan dan berhenti. Para pemeran Dracula lainnya seperti Bella Lugosi, Lon Chaney, Boris Karloff atau pun Frank Langela tidak mampu menyaingi kepopuleran Lee.
           Sangking kepinginnya menjiwai peran sebagai Dracula, Lee pernah diprotes tetangganya lantaran beberapa malam aktor ini memakai kostum Dracula dan hilir mudik di halaman belakang rumahnya.
           Oleh karena reputasinya sebagai aktor seram itu maka sepupu tirinya yaitu Ian Fleming si penulis cerita spionase James Bond 007 itu hendak memberikan peran sebagai Dr. No dalam seri James Bond pertama Dr. No (1970) kepada Lee mendampingi Sean Connery. Tentu saja si Dracula senang bukan main. Tapi ternyata gagal sebab produser telanjur menunjuk Joseph Wiseman. Ia baru berkesempatan main di James Bond dalam The Man With The Golden Gun tahun 1974 sebagai Fransesco Scaramanga mendampingi Roger Moore.
           Film yang ia sukai adalah Jinnah (1998) di mana ia bermain sebagai Muhammad Ali Jinnah Bapak Bangsa Pakistan serta The Wicker Man (1973).
           Hebatnya lagi Christopher Lee pernah masuk dalam buku rekor dunia Guiness Book of World Records sebagai aktor terbanyak bermain dalam film yaitu 275 kali sejak tahun tahun 1946, dianugerahi gelar Sir tahun 2009, dan mendapatkan penghargaan film Inggris, BAFTA, tahun 2011 lalu lewat Tim Burton, sutradara kondang yangmengaguminya dan sering mengajak bermain dalam filmnya.

Kenneth Branagh belum beruntung

Kenneth Branagh belum beruntung

          Sayang aktor Irlandia kelahiran kota Belfast, Kenneth Branagh gagal merebut Piala Oscar tahun 2012 ini, walaupun ia diunggulkan sebagai Aktor Pembantu Pria Terbaik dalam My Week With Marilyn. Ia kalah oleh aktor AS asal Kanada Christopher Plummer dalam Beginners.  Keduanya aktor jempolan yang miskin Oscar.
          Banyak yang berpendapat, akting Branagh di film ini kurang mendapatkan porsi cukup. Padahal ia adalah aktor serba bisa yang dimiliki Irlandia dan yang berkarya di Inggris. Ia mampu berakting, menulis, dan menyutradari film sama baiknya, mirip aktor-penulis AS John Malkovich. Ia bermain hebat dalam Hamlet, demikian pula ia kerahkan kemampuannya untuk bermain dan menyutradarai Frankenstein. Ia memang kurang beruntung sebagai aktor hebat sama dengan

Hati-hati

thumbnail



         Seorang perempuan hamil yang naik taksi minta sopir agar berhati-hati menyetir sebab ia hendak melahirkan anaknya yang keenam.
         “Anak keenam? Dan anda menyuruh saya berhati-hati?”

Kecelakaan

thumbnail



Sebuah taksi bertabrakan dengan mobil sedan. Pasangan suami istri di mobil sedan selamat tanpa cedera, tapi sopir taksi cedera berat sedangkan 10 orang Skotlandia di taksi itu harus mendapatkan perawatan khusus karena syok. Masalahnya mereka telah membayar duluan ongkosnya.

Terlambat

thumbnail


           Seorang pria komplain kepada sebuah perusahaan taksi karena taksi yang ia pesan pada jam yang ditentukan belum datang juga. Ia khawatir terlambat tiba di airport.
           “Sabar Tuan, sebentar lagi taksi anda akan tiba. Juga, pesawat anda akan terbang terlambat,” jawab seorang operator perusahaan taksi.
           “Jangan bodoh. Sayalah pilotnya!”


Nama asli Ben Kingsley

Nama asli Ben Kingsley


           Aktor Ben Kingsley mulai muncul ketika memerankan Bapak India Mahatma Gandhi dalam film Gandhi. Namanya kian menanjak dan banyak mendapatkan tawaran main dalam film berat-berat. Banyak yang memuji permainannya dalam Gandhi yang memberinya piala Oscar untuk Peran Utama Pria Terbaik. 
         Aktingnya meyakinkan sebagai orang India. Ini tidak mengherankan sebab Ben Kingsley adalah aktor Inggris keturunan India yang lahir di Yorkshire, 31 Desember 1943. Nama aslinya adalah Khrisna Banji.

Bongkar Museum Fatahillah dikritik

Bongkar Museum Fatahillah dikritik
Kompleks Museum Sejarah Jakarta tahun 1971 sebelum dipugar, difoto dari arah timur. Latar depan adalah Jl. Lada. Bagian yang akan dibongkar adalah yang beratap segitiga, tengah, berbatasan dengan gedung bertingkat di sisi kiri. (Foto: Robby Djojoseputro)





  • Perlu tender terbuka sebab MSJ sudah milik masyarakat luas

           Keinginan Museum Sejarah Jakarta (Museum Fatahillah) untuk membongkar bagian belakangnya guna membangun gudang dua tingkat untuk penyimpanan koleksi menuai protes sejumlah pengamat dan pencinta museum.
           Ada yang mengusulkan agar setiap kebijakan MSJ ditenderkan terbuka sebab Musem Fatahillah itu kini sudah seperti milik publik Jakarta, bahkan mungkin Indonesia.
Langkah untuk membongkar sebagian gedung bersejarah yang sudah berusia 300 tahun lebih tersebut kabarnya akan dilaksanakan tahun ini juga. Bagian museum yang akan dibongkar itu adalah ruang di halaman belakang yang mepet dengan gedung pajak yang bertingkat di belakang dan berbatasan dengan Jalan Lada, berseberangan dengan Gedung BNI 46.
           Ruangan ini merupakan bagian penting dari Museum Sejarah Jakarta karena sudah berusia tua walaupun tidak setua gedung utama yang dulunya Stadhuis (Balaikota) VOC.
“Apabila ruangan itu dihancurkan maka keseimbangan museum rusak, sebab MSJ sekarang ini sudah menyatu seperti selama ini. Masing-masing bagian sekarang ini punya peran yang menunjang apa yang dinamakan Museum Sejarah Jakarta,” kata sumber yang tak mau disebutkan namanya.
           Ditanyakan mengenai kesulitan pihak MSJ untuk menyimpan benda-benda koleksi yang tidak terpamerkan, ia menjawab bahwa gedung tersebut dapat dibangun di pelataran parkir yang berada di dekat Balai Konservasi.
“Tanah itu,” katanya, “memang milik bank BUMN, tapi saya yakin bisa dirundingkan untuk keperluan itu, sebab hingga sekarang toh juga telantar”.
Pada hematnya, fungsi tempat parkir masih bisa dipertahankan dengan membangun gudang di atasnya.
Banyak pihak menyayangkan rencana tersebut. Sebab dalam pandangan mereka gedung bertingkat yang ada di belakang kompleks MSJ yang ada sekarang itu pun dipandang merusak pandangan Taman Fatahillah.
“Kalau sudah terjadi ya sulit, tapi jangan sampai kita menambah kerusakan lingkungannya,” ujar pengamat museum tersebut.
Pengamat lainnya yang juga mantan Kepala Museum Jakarta, Adji Damais, mengatakan sebaiknya museum itu memiliki satu master plan ke arah mana dan bagaimana museum itu akan dikelola. Dengan demikian pengembangannya terarah dan tidak tambal-sulam.

Perlu ditenderkan terbuka
Sementara itu seorang arsitek mengatakan, pembangunan gudang itu sebaiknya ditenderkan secara terbuka sehingga segala lapisan masyarakat ikut melihat, menilai, dan menentukannya. Dengan demikian masyarakat ikut bertanggung jawab atas segala yang dikerjakan MSJ.
“MSJ kini sudah milik warga Jakarta, dan bahkan mungkin Indonesia. Banyak aktivitas yang mendukung museum tersebut. Jadi sudah sewajarnya kalau setiap langkah kebijaksanaan terhadap museum tersebut dikemukakan kepada masyarakat terlebih dahulu,” tambahnya.


Nota: Alangkah baiknya bila pembaca memberikan komentar, usul, kritik. Terimakasih.

HUGO dan gambar indahnya

HUGO dan gambar indahnya



          Stasiun KA menjadi tempat pertemuan berbagai macam perangai manusia. Di akhir era 1920-an, satu stasiun KA di kota Paris menjadi tempat pertemuan ego manusia dengan latar belakang Perang Dunia I yang kejam, merenggut nyawa maupun harga diri warga.
          Di situ ada bekas pesulap yang juga bintang film bisu sekaligus produser yang akibat perang menjadi penjual mainan bekas, Tuan Georges Méliés. Lalu ada pengawas stasiun yang sulit bergaul karena cedera kaki permanen di mana kaki palsu besinya tak berfungsi baik, dan harus selalu diberi pelumas. Di situ ada pria tua Monsieur Labisse yang misterius.
          Mereka terangkai menjadi satu ketika Hugo Cabret (diperankan Asa Bitterfield) seorang “tikus stasiun”, “pencuri cilik” menemukan robot yang disimpan mendiang ayahnya (diperankan aktor yang mulai laris, Jude Law). Robot ini diselamatkan sang ayah di antara rongsokan museum. Hugo penasaran dan ingin menghidupkan robot tersebut. Berkat pelajaran dari ayahnya yang ahli jam, dia pintar dalam soal utak-atik mesin mekanik otomatik.
         Guna mendapatkan suku cadang dia harus mencuri dari berbagai tempat termasuk toko Tuan Georges Méliés (Ben Kingsley). Ia ketahuan menyimpan buku skema robot yang membuat Méliés naik pitam lalu merampasnya tanpa alasan jelas. Hugo sedih dan anak perempuan Méliés yaitu Isabelle (Chloe Grace Moretz) menolongnya. Cewek ini ternyata menyimpan kunci robot. Keduanya menemukan bahwa robot dapat berjalan dan mampu menggambar salah satu adegan film dari novel Jules Verne, yaitu Voyage to the Moon.
         Di rumah Georges keduanya menemukan tas berisi penuh dengan ilustrasi film termasuk yang digambar si robot. Georges Méliés amat murka dan depresi. Ternyata Méliés dulunya adalah aktor dan pembuat film ternama Prancis. Ia memiliki robot yang kemudian sebagian suku cadangnya ia ambil untuk membuat kamera film yang gagal. Kedua anak itu kemudian menyusuri seluk beluk film Prancis sejak masa Lumiére bersaudara. Di sana mereka bertemu René Tabard (Michael Stuhlberg) yang masih menyimpan film-film karya Georges Méliés yang dibakar selama perang dan membuatnya patah arang meninggalkan dunia perfilman. Georges bahagia menemukan kembali copy filmnya.

Diinspirasi kisah nyata
           Cerita film ini merupakan dramatisasi atas secarik kisah hidup seniman film Prancis, Georges Méliés, yang menghasilkan banyak film bagus. Di jaman film bisu ia memelopori munculnya kisah dalam film, dan memakai berbagai macam efek yang fantastik di kala itu. Beberapa filmnya yang terkenal a.l. Jean d’Arc, Le Château Hante, Les Adventures de Baron von Mûnchhausen dan ratusan lainnya yang ternyata berhasil menarik minat publik AS juga. Ia penerus Lumiére bersaudara pelopor film Prancis, membuat film pertamanya tahun 1897. Sayangnya film-film pada masa itu dijual lepas ke pemilik bioskop yang semaunya meng-copy film itu dan mengedarkannya sendiri, tanpa memberi royalti pada Méliés.
           Méliés dalam kenyataannya kemudian hidup melarat dan menjadi penjual koran eceran di salah satu stasiun KA di Paris. Ia ditemukan mati tahun 1938 di rumah penampungan orang miskin.

Sederhana
          Cerita yang diangkat dari novel karya Brian Selznik dengan judul The Invention of Hugo Cabret ini sebetulnya tidak terlalu rumit, tapi penulis skenario (John Logan) menyimpan latar belakang cerita di belakang sehingga menjadi misteri. Penonton dibuat penasaran akan kelanjutan tiap adegannya.
         Akting para aktor cilik juga sederhana, belum matang betul. Akan tetapi film ini menampilkan tiga bintang hebat yaitu Ben Kingsley yang pernah mendapatkan Oscar sebagai Pemeran Pria Terbaik dalam Gandhi. Kemudian ada Jude Law yang main di berbagai film thriller serta bintang “seram” yang berhasil berperan sebagai Dracula dalam film-film produksi Hammer Film, Inggris, yaitu Christopher Lee sebagai Labisse.

Gambar indah
         Terlepas dari permainan yang belum matang para bintang cilik, gambar film Hugo amat bagus di bawah arahan Robert Richardson, serta efek visual oleh Rob Legato. Dengan teknik visual komputer serta teknik matte gambar sangat indah dengan pergerakan kamera, track, dolly yang halus dan sulit dibayangkan oleh kamerawan jaman dulu. Establishing shot yaitu dari pandangan udara (aerial view) kota Paris dengan Menara Eiffel dan Triomph d’Arc yang terkenal, kamera follow dolly halus dan pelan ke dalam stasiun KA hingga menerobos para penumpangnya. Gambarnya luar biasa di antara gambar dalam adegan lain yang fantastik sehingga pantas menang Oscar untuk sinematografi terbaik. Demikian pula editing suaranya amat baik.
           Dalam ajang perebutan Oscar awal Februari lalu film Hugo arahan sutradara top Martin Scorsese dinominasikan untuk film terbaik tapi kalah oleh The Artist karena kalah unik dan ”gila”. Hugo juga dijagokan di bidang sutradara, skenario adaptasi, pengarah seni, sinematografi, mixing suara, musik, kostum, editing film, dan visual efek terbaik.

Piala Oscar yang didapat
         Akhirnya Hugo mendapatkan Piala Oscar untuk Best Art Director (Dante Ferretti dan Francessa Lo Schiavo), sinematografi terbaik (Robert Richardson), editing suara terbaik ( (Philip Stockson dan Eugene Gearty), dan visual efek terbaik (Rob Legato, Joss Williams, Ben Grossman, dan Alex Henning).

Kepalsuan si Sexy Marilyn Monroe

Kepalsuan si Sexy Marilyn Monroe


           Siapa tak suka disuruh menemani bintang sexy Marilyn Monroe di tempat tidur? Apalagi bagi pemuda polos 24 tahunan yang pekerjaannya menjadi asisten (jelasnya pesuruh) sutradara terkenal?
           Siapa pun pastilah mau menuruti ajakan tersebut ketika mendiang bintang sexy itu sedang populer di dunia, sebelum skandal percintaannya dengan Presiden AS John F. Kennedy terungkap ke publik.
           Si anak haram yang menjadikan foto Abraham Lincoln sebagai ayahnya – karena bapak biologisnya tak jelas siapa dan ke mana adanya itu – sedang galau antara ketenarannya yang diciptakan oleh para cukong Hollywood dan kepribadiannya sendiri. Ia merasa dirinya dikelilingi kepalsuan tapi ia harus terus berjalan karena semuanya sudah terlalu jauh, dan asistennya menekankan, kalau Marilyn mundur maka mereka semua menganggur.
          Ketika Marilyn Monroe diajak Sir Laurence Olivier, aktor-sutradara-produser flm Inggris yang sedang moncer namanya waktu itu, untuk membintangi film produksinya, The Sleeping Prince, di Inggris, terjadi ketegangan. Akting Marilyn yang sebetulnya pas-pasan mengecewakan Sir Laurence Olivier (Larry), sementara si sexy merasa tekanan suasana dan tuntutan padanya terlalu besar.

Si Polos datang
           Maka saat seorang plonco yaitu si pesuruh Colin Clark datang dengan kepolosannya Marilyn langsung tertarik agar menemaninya. Colin sebenarnya putra profesor ahli sejarah berdarah biru, dan tinggal di kastil indah. Colin ingin berbuat sesuatu karena sebagai anak bungsu dia tak punya apa-apa yang dapat dibanggakan keluarganya. Ia menjadi pesuruh di studio milik Larry dengan gaji tak pernah dipersoalkannya. Pembuatan film menjadi dunia baru yang menarik hatinya.
           Di depan Colin, Marilyn dapat menjadi perempuan biasa.
Kau tak tahu bagaimana menjadi Marilyn Monroe,” keluh si sexy itu pada teman barunya mengenai rahasia di balik popularitasnya.
Tapi Tuan Miller mencintai Anda, ‘kan,” sanggah Colin.
Tidak, ia tak ingin menikah denganku. Ia selalu mengatakan keburukanku di buku hariannya,” jawab Marilyn. Pada kenyataannya dalam pembuatan film itu ia hamil muda, diperkirakan dengan Arthur Miller penulis beken yang menjadi pacarnya setelah tiga kali pernikahannya gagal.
          Kedekatan Marilyn dengan Colin membuat bintang sexy itu bangkit semangatnya dan bermain dengan lancar, memuaskan Larry yang disebut-sebut menaksirnya diam-diam. Kedekatan Colin pada Marilyn membuat Arthur Miller cemburu, begitu pula petugas kostum yang dipacari secara kilat oleh pemuda plonco itu.
          “Jangan terlalu dekat padanya, “ begitu nasihat supir Marilyn selama di Inggris, Roger. Kepolosan Colin-lah yang membangkitkan semangat hidup si bintang dan menjadikan Marilyn sebagai orang biasa yang tidak diselubungi kepura-puraan alias kepalsuan. Apakah Colin benar-benar “tidur” dengan Marilyn, tidak dijelaskan dalam film. Tapi gaya Hollywood si Marilyn yang dengan bebas bertelanjang ketika keluar dari kamar mandi dan berenang di hadapan Colin, memberi kesan “terjadi sesuatu”. Yang jelas film menuturkan mereka sering berciuman bibir.
          Ternyata Colin melupakan petuah si tua Roger. Ia kian terbenam, dan ketika film selesai ia harus menghadapi kenyataan bintang pujaan itu harus pulang ke AS. Adegan bagaimana Marilyn yang kecewa harus berpisah dengan pemuda simpatik itu cukup indah, yaitu close-up wajahnya di jendela Rolls Royce, dengan bayangan daun maple yang menguning di musim gugur berkelebatan, diiringi suara Nat King Cole membawakan lagu hitnya The Autumn Leaves.
           Colin kesepian dan mulai mencoba mengunjungi pub untuk melupakan kesedihannya. Adegan di sini juga manis, yaitu tatkala Colin duduk tepekur di bar dan pelayannya memandangnya penuh kesima seperti melihat malaikat. Begitu pula rupanya para pengunjung lainnya, seolah terpesona melihat ke arah Colin. Ternyata bukan pemuda sial itu yang membuat mereka terpaku, tapi perempuan muda yang berdiri di belakangnya yang mendekat tanpa ia ketahui yaitu si bintang sexy dunia: Marilyn Monroe.
           “Aku sebenarnya tak ingin berpamitan….,” tutur Marilyn.
           Ketika film itu sudah jadi dan diputar awal (preview) Sir Laurence Olivier puas akan hasilnya, apalagi Colin yang memiliki kenangan tak terlupakan di dalam pekerjaan pertamanya itu.
           Setelah pembuatan film tadi, Larry berperan sebagai Archie Rich dalam lakon The Entertainer di panggung Royal Court Theater dan sukses. Setelah proyek film The Prince and The Showgirl tersebut, Marilyn bermain dalam Some Like It Hot, film komedinya yang termasuk laris.
          Sedangkan Colin Clark belakangan menjadi pembuat film dokumenter yang berhasil di Inggris, dan penulis yang sukses. Tahun 1995 ia menuliskan memoarnya tentang selama seminggu menemani Marilyn Monroe dengan judul The Prince, The Show Girl, And Me. Dari buku ini film dibuat.
           Film garapan sutradara Simon Curtis tersebut cukup enak ditonton sebagai film drama, apalagi bila kita tahu film tersebut buatan Inggris yang berbeda dengan dar-der-dor Hollywood. Gambarnya apik, di bawah arahan Ben Smithard. Gambar yang paling bagus adalah dalam scene di mana Colin dan Marilyn duduk di kamar dan berlatarbelakang halaman rumah besar di musim gugur. Cara penyinaran di dalam (indoor) dan di luar (outdoor) sangat serasi, indah. Begitu pula adegan bergerak di kaca mobil seperti disampaikan sebelumnya. Semuanya tercapai dengan film Kodak yang menjadi andalannya.
           Naskah adaptasi dari buku kenangan Colin Clark ditulis dengan lancar oleh Adrian Hodges.
           Peran sebagai Sir Laurence Olivier dibawakan oleh aktor serba bisa kelahiran Belfast, Irlandia, yaitu Kenneth Branagh yang dinominasikan sebagai Peran Pembantu Pria Terbaik dalam Oscar 2012 tapi kalah oleh aktor asal Kanada, Christopher Plummer.
           Pemeran Marilyn Monroe dibawakan oleh Michelle Williams yang juga dinominasikan sebagai Pemeran Utama Perempuan Terbaik, namun kalah oleh Meryl Streep yang tampil prima sebagai PM Margaret Thatcher.

Tonton The Iron Lady, Pemimpinku!

Tonton The Iron Lady, Pemimpinku!



Oleh Adji Subela


  • “Di antara mereka mungkin ada yang tidak setuju, tapi pemimpin macam apa saya ini kalau tidak bisa menemukan cara (mengatasi masalah)?”
  • Rakyat memilih kita untuk bekerja mengatasi masalah….”



            SUPERB! Itu kata yang tepat bagi Meryl Streep ketika memerankan mantan PM Britania Raya Margaret Thatcher, dalam film garapan Phyllida Lloyd, The Iron Lady.
           Bukan lantaran ia sudah memenangkan Piala Oscar untuk perannya itu, tapi Meryl Streep yang sudah jadi langganan nominasi Oscar tersebut mampu menghidupkan tokoh Margaret Thatcher dengan prima justru pada masa ketika “Perempuan Besi” itu telah lengser dari kedudukannya dan menjadi perempuan tua biasa, yang belanja susu sendiri ke toko dekat rumah. Pada episode inilah justru peran yang sulit, yaitu ketika seorang mantan pemimpin negara besar harus dibayangi masa lalunya, kegamangannya di usia lajut, kesepiannya dalam sendiri, dan pengorbananan yang telah diberikan serta bayangan almarhum suami Dennis Thatcher (diperankan oleh Jim Broadbent) yang sangat dicintainya.
           Eksploitasi psikis sang mantan pemimpin sangat prima, dengan ditunjang oleh make-up yang sangat baik, termasuk memasang gigi palsu pada Meryl Streep agar "sesuai dengan aslinya". Make-up men yang terdiri dari Mark Collier dan J. Roy Helland juga memenangkan Oscar untuk jerih payahnya itu. Boleh dikatakan, inilah film puncak untuk Meryl Streep di mana ia bisa peras kemampuan aktingnya. Dia pelajari dan dia latih aksen Inggris Margaret yang kental dan tegas dengan penekanan kata terakhir, menekankan gambaran keteguhan hatinya.
           Kesuksesan Meryl Streep memerankan tokoh terkenal ini mengikuti para pendahulunya seperti Yaphet Kotto sebagai Idi Amin, George Scott sebagai Jenderal Patton, Ben Kingsley sebagai Mahatma Gandhi, dan lain-lainnya. Sedemikian hidup peran-peran itu dibawakan mereka sampai orang bisa lebih percaya pada pemeran itu daripada tokoh aslinya.

Galau seorang nenek
           Film ini bercerita mengenai kenangan Margaret Thatcher di masa tuanya, diungkap dalam otobiografi yang diberi judul Margaret Thatcher, A Life in Number 10. Maksudnya bagaimana ia merintis karir hingga tinggal di Downing Street Nomer 10, tempat tinggal resmi PM Inggris. Dibuat dalam bentuk kilas-balik film ini tidak membingungkan, dan penonton begitu mudah membedakan adegan masa kini dengan masa lalunya.
           Establishing shot menggambarkan seorang perempuan tua memilih botol susu di rak toko kecil lalu berjalan terbungkuk-bungkuk seperti nenek-nenek umumnya hendak membayar di kasir. Ia mengantri seperti warga umumnya, tapi ia nampak syok ketika melihat bagaimana orang-oang Inggris sekarang tidak sesopan dahulu, mulai malas mengantri dan menghormati perempuan tua, dan…..tidak mengenali bekas pemimpin mereka. Ia merebus telur sendiri, melayani suaminya, Dennis Thatcher, teh, telur setengah matang dan roti berlapis mentega. Ia berjalan terbungkuk-bungkuk seperti warga biasa di sela desingan kendaraan di jalan raya, dan tumpukan sampah, satu hal yang membuatnya geregetan di masa awal karir politiknya.
Konflik-konflik bathinnya mulai muncul ketika ia gamang memasuki kehidupan normal sebagai perempuan tua dengan suaminya, dan hidup sebagai nenek-nenek pada umumnya. Padahal ketika hendak menikah dengan Dennis, putri pemilik toko grosir itu sudah menegaskan bahwa dia bukan perempuan yang suka tinggal di rumah melulu, mencuci pakaian, piring, menyapu dan lain-lainnya. Dia adalah aktivis Partai Konservatif. Calon suami tak peduli. Dennis muda yang diperankan oleh Harry Lloyd, menerima dan menikmati perkawinannya. Kisah cinta mereka tulus dan romantik hingga kakek-nenek.
Geregetan
           “Geregetan” pertama Margaret muda (diperankan oleh Alexandra Roach) adalah cemoohan remaja-remaja putri temannya yang menjulukinya gadis toko grosir sebab dia memang bekerja membantu orangtuanya. Kemudian setelah mendapat kesempatan kuliah di Oxford ia tumbuh menjadi gadis cerdas dan keras hati. Dalam Partai Konservatif ia mulai menapak karir politiknya hingga menjadi anggota parlemen. Ia menjadi satu-satunya tokoh politik perempuan yang menonjol hingga merebut kursi Ketua Partai. Banyak pihak yang sinis padanya terutama karena ia selalu memperjuangkan peningkatan kesejahteraan keluarga seperti kesehatan dan pendidikan.
           Ketika kemudian duduk sebagai PM Inggris perempuan pertama, ia makin galak. Saat Argentina menyerang Kepulauan Falkland (Malvinas) Margaret Thatcher meradang dan minta perebutan kembali. Biaya yang menjadi keberatan sejumlah jenderal diabaikan. “Kita harus merebut milik kita di mana pun,” katanya sambil menunjuk bagaimana ketika Hawaii diserang Jepang, AS yang jauh tempatnya mempertahankan hingga pecah perang Pasifik.
           PM Margaret Thatcher betul. Britania Raya menang dan ia kian populer. Ia dijuluki Perempuan Besi atau “The Iron Lady” karena selain pendiriannya yang kukuh, ia keras menghadapi Uni Sovyet dan sekutunya hingga runtuhnya tembok Berlin serta negeri Tirai Besi itu. Ia tambah populer dan bertahan di kedudukannya hingga 10 tahun. Ia menjadi perempuan PM Britania Raya satu-satunya hingga kini.

Contoh kepemimpinannya
Dalam film lembut ini ada beberapa adegan yang sangat ekspresif seperti ketika Margaret melepaskan pakaian dan aksesorinya dibantu sang putri, Carol (Olivia Colman), seolah ia meninggalkan atributnya sebagai kepala pemerintahan Britania Raya, lalu berjalan tertatih-tatih sebagaimana seorang nenek yang kelelahan berjalan. Sekali lagi akting Meryl Streep tak terbantahkan sebagai sangat baik.
          Juga adegan di mana Margaret harus berlatih vokal guna memperbaiki suaranya yang cenderung cempreng meninggi juga sangat bagus.
           Bagi penulis, adegan penting, bagus dan justru relevan untuk Indonesia saat ini adalah ucapan Margaret – lewat shot close-up dan mimik wajah yang prima dari Meryl Streep – yang berbunyi:
           “Rakyat memilih kita karena mereka percaya kita bisa mengatasi masalah-masalah…….” Serta,
          “Di antara mereka mungkin ada yang tidak setuju, tapi pemimpin macam apa saya ini kalau tidak bisa menemukan cara (mengatasi masalah)?”
Banyak suara rakyat kita yang merindukan pemimpin yang seperti itu. Untung ada film The Iron Lady. Mudah-mudahan banyak pemimpin kita menonton film tersebut dan khususnya menyimak bagian ini.