Zona NASI KEBULI Jakarta

Zona NASI KEBULI Jakarta
Popularitas nasi kebuli kian menanjak, kendati bagi warga Betawi, masakan asal Timur Tengah itu menjadi semacam “menu wajib” dalam pesta-pesta mereka sejak dulu. Ini karena persinggungan budaya mereka dengan Arab lewat jalur keagamaan, kekeluargaan, dan perdagangan.
            Selain bumbunya yang tajam, spicy kata orang Barat, setiap keluarga keturunan Arab pun memiliki gaya memasak nasi kebuli masing-masing. Inilah yang mengasyikkan, karena setiap kita menikmati nasi kebuli, maka akan tampak dari mana atau buatan siapa menu nikmat berbahan dasar daging kambing atau domba tersebut. Mirip masakan opor, di mana tiap keluarga punya style masing-masing.
            Oleh karena masakan ini berasal dan dibawa oleh orang-orang Arab dari tanah leluhurnya, maka dapat dipastikan, warung atau restoran yang menyajikan nasi kebuli tentulah berada di mana populasi keturunan Arabnya tinggi. Di Jakarta kita dapat melihat, konsentrasi komunitas Arab berada di tempat a.l.  Krukut, di wilayah Jalan Gajah Mada, Jakarta Barat, kemudian Cililitan, terutama Condet, Tanah Abang, serta Kampung Melayu dan sekitarnya.

Kampung Melayu Besar (sisi kanan foto) dilihat dari Kampung Melayu
            Di daerah Krukut jarang ditemui warung nasi kebuli, sebab daerah itu didominasi komunitas warga keturunan China. Mereka hidup bertetangga dengan rukun selama berabad-abad. Dahulu memang dijumpai warung makan nasi kebuli di Batuceper, tapi lantas menghilang tak pernah muncul kembali. Di daerah Condet dapat ditemukan restoran yang menyajikan masakan Timur Tengah, akan tetapi jumlahnya sedikit. Di Tanah Abang jumlahnya sedikit, kecuali satu-dua restoran besar dengan menu khusus Timur Tengah.
              Di Jalan Raden Saleh ada sekitar lima restoran Timur Tengah, akan tetapi mereka menyajikan berbagai menu, bukan hanya nasi kebuli saja.
              Sedangkan di Jl. Mampang Prapatan Raya ditemukan satu saja RM nasi Kebuli, yaitu RM Kebuli Ibu Hanna.
            Di daerah Kampung Melayu, terutama di Jalan Kampung Melayu Besar, terdapat sejumlah restoran yang menyajikan menu Timur Tengah dengan nasi kebuli sebagai unggulannya.
Jalan ini pendek saja, membentang dari  timur mulai Terminal Kampung Melayu ke arah barat hingga Jalan Abdullah Syafei (d/h Jl. Lapangan Roos) atau sebatas persimpangan rel KA. 
            Di sisi utara terdapat beberapa restoran nasi kebuli, antara lain, Ibu Hanna, Ibu Layla, Habib. Sedangkan untuk sate, dan sop kambingnya dilayani warung sate Mansur yang terkenal sejak dulu. Bang Mansur pun juga menerima pesanan nasi kebuli bila pelanggan menghendakinya, terutama untuk akikah.
            Di sisi selatan terdapat sebuah restoran yang menawarkan khusus masakan domba Afrika, selain nasi kebuli. Dulu juga ada rumah makan kecil yang menyajikan masakan Timteng terutama ya nasi kebuli itu.

Selain Kampung Melayu Besar, dulu dapat ditemukan juga rumah makan nasi bebuli di sekitar Kantor Kelurahan Rawabunga, berseberangan dengan Kampung Melayu Besar. Malahan nasi goreng kebuli yang sudah terkenal di Jalan Kebon Sirih Jakarta Pusat sempat membuka cabang di Kampung Melayu, tepatnya di Jalan Jatinegara Timur, pada malam hari.
Diperkirakan, Kampung Melayu merupakan wilayah dengan jumlah “produksi” nasi kebuli terbanyak di Jakarta, sebab selain restoran yang sudah disebutkan tadi, masih banyak keluarga keturunan Arab yang menerima pesanan katering nasi kebuli dan masakan Timteng lainnya seperti Marak Kambing, Nasi Krab Kambing, Kakab Kambing, Musaga, Nasi Briyani, Pacri, dan masih banyak lagi. Mereka ini umumnya tinggal di wilayah yang cukup luas antara lain di wilayah Jalan Wedana, Jalan Pedati, Jalan Penghulu, Gang Awab, Haji Yahya, Kampung Melayu Kecil  lain-lainnya.
Ada baiknya kita lihat beberapa di antaranya:

Pondok Nasi Kebuli Ibu Hanna
            Salah satu rumah makan nasi kebuli yang cukup lama ada yaitu Pondok Nasi Kebuli Ibu Hanna di Jalan K.H. Abdullah Syafei No. 31, Kampung Melayu Besar. Letaknya hanya beberapa puluh meter ke arah timur dari Perguruan Attahiriyah.
            Semula rumah makan ini sederhana, tapi berhubung semakin berkembang, maka tempat itu dibangun menjadi restoran bagus dengan berpendingin ruangan. Rumah makan ini juga melayani katering khusus masakan Timteng, khususnya nasi kebuli tentunya. Nampaknya justru katering ini yang kian maju, terutama pada hari-hari raya keagamaan, atau ketika banyak orang melaksanakan akikah untuk putra-putri mereka.


            Tentu saja nasi kebuli umumnya berbasis daging kambing atau domba. Akan tetapi mengingat banyak warga yang menghindari daging-daging tersebut, RM Pondok Nasi Kebuli Ibu Hanna juga melayani nasi kebuli berbasis daging ayam. Untuk porsi, itu tergantung seberapa banyak daging kambing gorengnya. Porsi reguler berupa sepiring nasi kebuli dengan tiga potong daging kambing ukuran agak besar, plus acar ketimun dan nenas serta sambal goreng hati. Selain itu pondok nasi kebuli ini juga menyediakan porsi nampan – seperti umumnya jamuan di Timteng – baik ukuran besar serta nampan kecil, yang umumnya untuk beberapa orang penikmat. Harganya bisa mencapai empat hingga enam kali porsi tunggal sesuai dengan berapa orang yang akan menikmati hidangan di nampan itu.

Rumah Makan Ibu Layla
            Berdekatan dengan perguruan Attahiriyah, dan juga kantor Assuryaniah terdapat rumah makan nasi kebuli, namanya RM Ibu Layla. Sama seperti Pondok Nasi Kebuli Ibu Hanna, di sini disediakan kebuli berbasis daging ayam, ditambah dengan Nasi Karab, dan sebagainya. Di sini juga menyediakan porsi nampan untuk empat atau enam orang sekaligus.

Sate Habib
            Beberapa belas meter ke arah timur dari Perguruan Attahiriyah, terdapat warung kecil menjajakan sate kambing namanya RM Habib. Juga, di sini disediakan nasi kebuli bila pelanggan memesannya. Tentu saja sebagai pendampingnya sate kambing.          
            Pendek kata bila penggemar nasi kebuli di Jakarta kebingungan mencari rumah makan yang menyajikan menu khas Timteng itu, tak ada salahnya mereka menyusuri Kampung Melayu Besar ini.
           
             

Bu Haji, Ibu Para Seniman TIM

Bu Haji, Ibu Para Seniman TIM

             
  •    Warung para seniman beken
  •    "Galeri luar" mahasiswa IKJ



                Menjelang bulan puasa tahun 1433 H ini tepat setahun Bu Haji yaitu “Ibu” para seniman besar Jakarta yang dulu sering “mangkal” di Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta Pusat, meninggal dunia.
            Dapat dikatakan, ialah tokoh di luar bidang seni atau birokrasi yang membesarkan para seniman tersebut yang kemudian nama mereka berkibar di forum nasional maupun internasional. Hampir semuanya mengenal Bu Haji. Sehingga Bu Haji inilah yang benar-benar menjadi ibu bagi para seniman besar – sebagian kini telah tiada – ketika mereka masih merintis karir seninya. Bu Haji menjadi tempat berlindung, tempat berkeluh-kesah, terutama – apalagi – kalau bukan soal uang dan – terutama sekali – tentang salah satu naluri manusia yang paling dasar yaitu: makan.
            Para seniman dan para calon seniman yang kelaparan kala itu menjadikan warung Bu Haji tempat berlabuh paling aman. Mereka mendapatkan makan dan minum secukupnya, lalu ketika semuanya sudah kenyang, mereka tersenyum. Bu Haji mengerti, dan tanpa ekspresi emosi apa pun ia akan menjawab, “Ya, sudah entar aja,” dalam logat Jawa Cirebon yang kental.
            Akan tetapi para seniman itu banyak yang tahu diri. Mereka lantas mencatat segala jenis hutangnya di satu buku ekspedisi yang kecil panjang itu dan dibayar kalau, sekali lagi kalau, mereka mendapatkan rejeki. Kalau tidak, mereka sering menunda, bahkan ada beberapa di antaranya menunjukkan ekspresi seni mereka yaitu dengan cara: Menghilang! Artinya tak nampak batang hidungnya lagi. Baru setelah lama sekali mereka pun muncul, ada yang pura-pura lupa dan ada yang minta diskon hutangnya.
            Sekali lagi Bu Haji tak pernah marah. Wajahnya tetap tenang, tak ada nampak emosi senang, sedih, apalagi marah. Biasa saja.
Bu Hasan, menantu almarumah Bu Haji yang meneruskan warung dengan gaya baru
            Nama kecil Bu Haji adalah Turina, lahir pada tanggal 15 Mei 1930, berasal dari Kelurahan Kasugengan Kidul, Kecamatan Plumbon, Kab. Cirebon, Jabar. Jadi kalau masih hidup, bulan Mei tahun ini ia genap berusia 82 tahun. Ia menikah di usia muda dengan Pak Karsita, tetangga kampungnya lantas dikarunia putra tunggal yaitu Hasan yang sudah mendahului ibunya ke alam baka beberapa tahun silam.
            Wajahnya yang tenang, bijaksana, berawakan sedang, berkulit putih bersih, membuat Turina muda yang sudah jadi janda itu dikejar-kejar pria yang ingin memperistrinya. Beberapa kali ia membangun rumah tangganya dengan pria lain tapi selalu gagal sehingga Turina memilih pergi merantau ke Jakarta bersama Hasan. Di ibukota Turina kebingungan bagaimana melangsungkan hidupnya bersama si anak semata wayang.
            Ketika itu Taman Ismail Marzuki belum lama diresmikan oleh Gubernur Ali Sadikin tepatnya tahun 1968. Tursina melihat ketika itu begitu banyak kegiatan di tempat tersebut, banyak orang ke luar masuk, hilir-mudik di TIM. Tentunya mereka perlu makan dan minum, tapi belum ada yang melayaninya. Akhirnya muncul ide untuk membuka warung makan sederhana di seberang kompleks TIM, di bawah sebatang pohon kersen (widoro) yang rindang. Si empunya rumah juga tak berkeberatan trotoar di depan tempat tinggalnya dijadikan warung nasi. Pada awalnya warung berdiri aman, teduh, sejuk di bawah kerindangan pohon kersen yang rimbun. Orang suka berteduh di tempat ini untuk minum kopi, makan, atau sekedar melepas lelah. Bu Haji tak pernah mempersoalkannya.
            Tursina melihat, orang yang hilir mudik umumnya dekil, rambut gondrong dan berpakaian awut-awutan, sehingga tidak mungkin mereka membeli makanan mahal-mahal. Oleh sebab itu masakan warungnya sederhana saja sehingga harganya terjangkau. Yang penting nasinya cukup sehingga membikin pembelinya kenyang.
            Langganannya selain para seniman yang sering “nyaba” ke TIM juga para tukang becak atau tukang helicak. Waktu itu becak masih boleh mondar-mandir di daerah Cikini. Beberapa seniman yang sering mengunjungi warung Bu Haji antara lain, Gerson Poyk, WS Rendra, Putu Wijaya, Cok Simbara, El Manik, dan Torro Margens. Malahan Bu Haji pernah difilmkan oleh Putu Wijaya dan Torro Margens. Dia sendiri tak tahu film apa dan kapan diputarnya.
            Selain nasi, warung Bu Haji menyajikan sayur labu siam, rendang daging, ati-ampela ayam, tempe orak-arik, sayur tahu, telor ceplok, dan sop sederhana. Di samping itu ia juga menggoreng tempe yang ukurannya lumayan besar, tahu, serta ikan kembung.  

“Kitab Perjanjian Lama”
            Buku ekspedisi seperti yang sudah disebutkan tadi penuh berisi daftar “dosa” para seniman. Jelasnya saja jumlah hutang-hutangnya, persis seperti pembukuan harian dalam ilmu akuntansi, sekaligus pihutang Bu Haji kepada para “calon orang besar”. Banyak dari mereka yang di kemudian hari hilir mudik memakai kendaraan beroda empat, sedangkan Bu Haji tetap saja berjualan nasi seperti dulu-dulu juga. Tak sedikit yang mengunjungi kembali Bu Haji untuk beramah-tamah, bernostalgia rindu pada masakan warung yang sebetulnya sangat standar. Memang, boleh dikatakan menu warung itu sejak berdiri di akhir dekade 60-an tidak berubah. Kendati monoton, warung itu tetap dikunjungi para “debtor” alias tukang hutang.
            Tentu saja tak semua seniman menggunakan “fasilitas kredit lunak” Bu Haji. Tak sedikit yang membayar kontan.
            Sedangkan bagi yang menghutang, ya itu tadi, mengisi buku ekspedisi. Tentu saja buku daftar dosa itu cepat penuh, sehingga perlu buku baru. Sedangkan yang lama tentu saja tak bakal dibuang karena berisi “aset terhutang”.
            Ya, namanya saja seniman, maka tak elok kalau tak usil. Energi kreatifnya disalurkan ke mana saja asal muncul, hingga tak urung buku ekspedisi pun menjadi sasaran. Buku catatan hutang yang lama diberi judul tulisan “Kitab Perjanjian Lama”. Sedangkan buku hutang yang baru diberi nama “Kitab Perjanjian Baru”. Celakanya ketika Kitab Perjanjian Lama sudah habis maka muncul buku baru lagi, sehingga yang ketiga diberi judul “Kitab Perjanjian Paling Baru karangan X (nama seseorang) dari Cirebon”.
            Selain berisi daftar hutang makan, kitab itu pun berfungsi sebagai sarana komunikasi antarmereka. Maklum pada saat itu telepon masih sangat jarang, dan HP baru muncul 40 tahun kemudian sehingga berisi pesan-pesan penuh pertanda, simbolisasi, dan kadang-kadang “fatwa”.
            Para seniman yang sudah menghutang makan itu terkadang masih pinjam uang kepada “Ibu” mereka dengan alasan untuk ongkos pulang. Dan itu diberikan, tanpa persyaratan apa-apa.  
            Aneh memang kenapa Bu Haji begitu murah hati memberi mereka pinjaman. Tapi justru itulah yang mengesankan dari almarhumah.

Ikhlas, berkah
            Menurut menantunya, Bu Hasan, almarhumah sering memberi makan para seniman atau para sopir becak yang kelaparan dan tak punya uang. Ia rela, ikhlas memberinya sehingga tak pernah bertanya-tanya lagi. Kalau dibayar ia hanya mengucapkan, “Alhamdulillah, emang sudah ada rejeki?”.
            Rupanya kebaikan hati Bu Haji mendapatkan berkah Illahi. Dengan warung nasi yang sederhana dan sering memberi hutang, bahkan memberi makan mereka yang memerlukan, almarhumah ternyata mampu melaksanakan rukun Islam yang kelima yaitu pergi berhaji pada tahun 1974 bersama anak tunggalnya, dan diulanginya empat tahun kemudian. Siapa sangka?
            Jadi sebenarnya almarhumah bergelar Hajjah, tapi para pelanggannya sejak awal sudah terbiasa memanggilnya Bu Haji hingga akhir hayatnya.
            Warung Bu Haji Turina ini punya ciri khusus. Menjelang bulan puasa, yaitu beberapa hari sebelum tiba Ramadhan, siapa saja yang makan di warungnya diberi gratis, malahan boleh menambah.
            “Silakan saja, ini munggahan,” ujarnya. Bagi yang betul-betul kelaparan dan sedikit punya semangat nekad, kesempatan itu akan digunakan sebaik-baiknya. Munggahan atau doa serta kenduri biasa dilakukan masyarakat Jawa untuk menyongsong bulan Ramadhan.

Tetap eksis walau sederhana
            Menjelang adanya pelebaran Jalan Cikini Raya, Bu Haji sudah pasang kuda-kuda. Ia mencari tempat berikutnya. Mungkin karena terpesona oleh kedermawanan Bu Haji, sebuah perusahaan swasta yang ada di sebelah kanan TIM memberinya tempat. Dinding gedung yang mengelilingi halaman belakang dijebol, untuk warung Bu Haji di mana akses utamanya langsung ke Jl. Cikini 9.. Rupanya tak sedikit karyawan perusahaan tersebut, dan juga karyawan perusahaan lainnya di sektiarnya sering makan di warung murah-meriah-berkah tersebut.
            Bertahun-tahun tempat itu dibiarkan apa adanya, segala perabotan masih seperti dulu juga. Malahan kaca etalase sayurannya sudah bertahun-tahun dibiarkannya pecah. Kendati begitu warung tetap ramai oleh para mahasiswa IKJ, seniman-seniman yang masih datang ke TIM, karyawan swasta dan PNS. Tetap ramai sampai malam.

Galeri “luar”
            Nampaknya kebiasaan menjadikan warung Bu Haji sebagai sarana berkomunikasi masih berjalan, bahkan hingga jaman HP ini. Sejumlah mahasiswa meninggalkan catatan-catatan di warung itu. Bahkan warung kecil itu berubah menjadi semacam sanggar atau galeri bagi mahasiswa IKJ. Mereka sering mendandani interior warung dengan barbagai macam kreasinya. Setelah beberapa lama, lantas diganti oleh temannya yang lain.
"Galeri seni" di warung Bu Haji. Insert, almarhumah Bu Haji (Foto: Repro Tabloid Bersatu, edisi 2-10 Okt 2000
            Jadi meskipun sempit, sederhana, interior warung Bu Haji di samping TIM lantas berubah menjadi galeri di luar arena TIM. Ini dapat dipahami sebab untuk memamerkan karya-karya mereka memerlukan biaya. Maka tumbuhlah kerjasama antara pemilik warung dan seniman muda itu, dan pengunjung lain dapat menikmati dekor yang selalu berganti dari waktu ke waktu.

Warung Bu Haji kini
            Sesuai dengan tuntutan jaman, maka warung Bu Haji yang “begitu-begitu saja” pun mulai berubah. Pemilik lahan membuatkan tempat makan yang lebih bersih, teratur dan rapi. Warung Bu Haji digusur dan sekarang sudah menempati pojok yang bersih, dengan etalase aluminium menggantikan etalase yang kacanya sudah pecah.
            Selain itu sudah ada beberapa kios makan lainnya sehingga tempat itu kini lebih lengkap, bersih dan teratur. Suasana Warung Bu Haji model lama kini hanya eksis di dalam sanubari para pelanggan warung yang pernah mengalami kedermawanan Bu Haji. Sejak warung itu diperbaiki seperti sekarang, Bu Hajjah Turina tidak lagi terjun langsung. Fisiknya sudah renta dan sakit-sakitan. Semula pengelolaan diserahkan kepada keponakannya, Tholib. Namun karena yang bersangkutan punya kesibukan sendiri, Bu Haji mempercayakannya kepada menantunya yaitu Bu Hasan.
            Menu warung ini sudah semakin komplet dan penampilannya bersih, “modern”. Tapi bagi mereka yang pernah menjadi pelanggan warung Bu Haji lama, maka tempat itu tinggal menjadi “sejarah” dalam ingatan masing-masing.
            Banyak seniman besar yang dulu pernah menjadi pelanggan dan mendapatkan kemurahan hati Bu Haji kini sudah tak pernah mengunjunginya lagi hingga meninggalnya Ibu yang dermawan itu setahun lalu.
            Semoga arwahnya diterima di sisi Allah SWT, diampuni segala dosa dan kesalahannya dan diterima segala amal ibadahnya. Amien ya robbal alamien.

Glodok Harco sepi hobbyist

Glodok Harco sepi hobbyist

                Pertokoan Glodok Harco begitu kondangnya hingga dari dekade 70 hingga 80-an banyak pengunjung luar kota menyempatkan diri ke daerah ini mencari barang-barang elektronik bermerk dengan harga miring. Di seberang Glodok Harco atau di sisi barat Jalan Gajah Mada dan Jalan Hayam Wuruk terletak pertokoan Glodok Building yang tersohor dengan produk tekstil lokal maupun impor.
                Tidak heran jika sekarang pun di berbagai pelosok Jabodetabek bermunculan toko peralatan listrik dengan memakai kata Glodok sebagai merknya, untuk sekedar numpang beken dari nama besar Glodok Harco itu.
                Daerah Glodok yang terletak di wilayah Pecinan, Kecamatan Tamansari, Jakarta Barat, ini terkepung oleh beberapa jalan ekonomi penting yaitu Jalan Pinangsia, Jalan Pintu Besi Selatan, Jalan Gajah Mada/Hayam Wuruk dan Pancoran. Di jaman VOC, Glodok menjadi tempat pemukiman para perantau asal Hokkian, terletak di luar tembok kota Batavia. Sebagian penduduknya merupakan orang-orang yang diusir dari dalam benteng kota Batavia setelah kerusuhan tahun 1740 yang memakan banyak korban warga etnis China. Ini sebenarnya buntut dari permusuhan antara Gubernur Jenderal Valckenier melawan anggota Dewan Hindia van Imhoff.
Wilayah di dalam tembok kota Batavia di masa sekarang adalah Taman Fatahillah dan sekitarnya. Di luar tembok kemudian tumbuh pemukiman juga di mana di tempat itu dulu dibangun rumah sakit, selain pertokoan Cina. Belakangan dibangun pula penjara Glodok yang terkenal, karena di tahun 60-an kelompok band Koes Bersaudara dipenjarakan oleh pemerintahan Sukarno karena dianggap menyanyikan lagu ngak-ngik-ngok yang dicap pro-Barat.
                Ada berbagai versi mengenai asal nama Glodok, antara lain dari kata gerojok atau pancuran air, di mana pada masa awal kekuasaan VOC warga Batavia mendapatkan air bersih dari kali Ciliwung yang dialirkan memakai gorong-gorong terbuat dari tanah liat bakar (teracotta) ke air mancur di tengah halaman gedung Museum Sejarah Jakarta. Ketika itu air Ciliwung masih sangat bersih dan layak minum. Warga China sulit melafalkan kata gerojok maka jadilah nama Glodok sampai sekarang.

Harco, pusat elektronika
                Pada akhir dekade 60-an dibangun pusat pertokoan modern Glodok dengan pembagian “tugas” sebelah barat untuk barang-barang tekstil dan kebutuhan pokok, sedangkan di timur berjualan barang-barang elektronik, suku cadang, serta peralatan lain yang berkaitan.
                Sudah sejak tahun 1967, generasi muda Jakarta dijangkiti demam radio amatir, dan pada gilirannya mereka menggemari kutak-kutik membuat peralatan elektronik sendiri atau berusaha mereparasi barang-barang yang rusak. Mereka pada masa itu biasa mendapatkan suku cadang di Glodok Harco selain daerah lainnya seperti Jalan Kembang Sepatu, Senen. Glodok merupakan tempat penjualan segala jenis peralatan listrik dan elektronik yang terlengkap di masa itu. Perkembangannya begitu pesat hingga Glodok identik dengan segala jenis pernak-pernik elektronika.

Kursus informal
                Para pedagang elektronik – terutama suku cadangnya – bukan sekedar penjual biasa saja. Mereka umumnya punya latar belakang pengetahuan elektronika yang memadai, sehingga sering terjadi dialog, diskusi, dan bahkan perdebatan seru dengan para pelanggannya mengenai skema rangkaian-rangkaian peralatan elektronika.
                Di masa itu belum banyak dikenal peralatan elektronik memakai integrated circuit (IC), sehingga bila rusak maka montir dapat mengganti suku cadangnya dengan mudah. Dengan masuknya era IC, maka peralatan menjadi praktis tapi sulit diperbaiki kecuali mengganti sekalian satu modulnya.
Lantai dua, kini sepi-sepi saja
                Peralatan yang paling populer – karena banyak dipakai dalam berbagai skema – adalah rangkaian penguat arus atau amplifier (Ing) atau verstekker (Bld). Para hobbyist maupun profesional biasa merangkainya sendiri karena jenis yang diperlukan tidak atau belum ada di pasaran. Kegiatan ini sangat mengasyikkan karena tidak mudah mengerjakannya. Banyak faktor yang menentukan keberhasilannya. Inilah yang menjadi semacam candu bagi para penggemar elektronika. Dari skema yang sama, beberapa orang perangkai belum tentu punya hasil yang sama dan sesuai kebutuhan.
                Dapat disebutkan Glodok Harco di masa jayanya yaitu dari dekade 70-an hingga 90-an akhir, masih menjadi semacam kursus tidak resmi bagi pemula dan tempat diskusi ramai bagi para seniornya. Boleh dikatakan mereka saling mengenal satu per satu karena kerap bertemu untuk keperluan yang sama di Glodok Harco. Suasana menjadi begitu sibuk, hidup, penuh gairah.

“Legenda” Glodok
                Ada beberapa toko suku cadang yang terkenal di kalangan profesional maupun amatir, antara lain toko Marconi, OK, Sinar Surya, Leisure Voice, dan lain-lainnya semuanya di lantai dasar. Dapat kita temukan toko-toko yang khusus menjual satu jenis suku cadang saja akan tetapi sangat lengkap, misalnya baterai kering, tranformator, berbagai jenis kabel, dsb.  
                Malahan di toko-toko tertentu dapat ditemukan berbagai suku cadang bekas pakai yang karena tidak diproduksi lagi atau sulit untuk mendapatkannya di mana-mana, antara lain karena pabrik pembuatnya sudah tidak ada, maka barang itu menjadi eksklusif. Seorang penggemar elektronik “klas berat” pernah membeli sebuah lampu bekas khusus untuk pre-amplifier buatan tahun 1935 seharga Rp.4 juta. Suku cadang itu sudah tidak dibuat lagi, walaupun mutunya sangat bagus, mampu memperkeras sinyal suara persis seperti aslinya. 
Selain nama-nama yang sudah disebutkan, ada lagi sebuah toko peralatan yang cukup terkenal karena barang-barangnya eksklusif, sulit ditemukan di mana-mana, yaitu toko Multi-Voice milik Oom Pho atau sering juga dipanggil Pak Pho. Barang-barang di sini ada yang baru dan ada pula yang bekas pakai. Akan tetapi Pak Pho sering mendapatkan barang bekas yang sangat tinggi kualitasnya, mengalahkan barang-barang baru sekali pun. Berbagai macam suku cadang yang musykil dapat ditemukan di sini. Sayang sekali sejak pertengahan tahun 2011 toko ini ditutup sebab Pak Pho sudah sakit-sakitan sementara anak-anaknya tak ada yang mau melanjutkan usaha sang bapak. Dia lebih memilih melayani pelanggannya di rumahnya di Jalan Keadilan 2, berjarak kira-kira 50 meter dari Jalan Gajah Mada, di sebelah kiri.
                Dapat dikatakan, toko-toko yang sudah disebutkan tadi menjadi semacam “legenda” bagi para penggemar elektronika, terutama toko Multi-Voice, yang di kalangan pedagang pun sering menjadi bahan percaturan, baik karena uniknya toko maupun pemiliknya.
                Ketika mulai masuk suku cadang berupa IC sederhana, maka para perakit semakin sering mengunjungi Glodok Harco. IC waktu itu belum secanggih sekarang, hanya terbatas pada penguat arus, pembagi frekuensi, dan sejenisnya. Di masa ini mulai dijual rangkaian setengah jadi atau populer disebut kit. Jadi orang tinggal merangkai-rangkaikan saja plus beberapa suku cadang yang tidak tercakup sehingga lebih mudah. Sebelumnya mereka harus merangkai sendiri bagian demi bagian, karena suku cadang dalam keadaan terurai. Maka toko-toko suku cadang bertambah ramai oleh pembeli dari kalangan profesional serta para amatir terutama dari kalangan mahasiswa dan siswa-siswa sekolah menengah teknik.
Salah satu gang di lantai dasar yang dulu ramai oleh para penggemar elektornika
Untuk para pemula atau murid-murid SMK (dulu Sekolah Teknik Menengah) serta mahasiswa fakultas teknik/elektronika, mereka biasanya berkunjung ke gang kedua dari arah depan, karena di sana banyak dijumpai toko suku cadang serta kit dengan harga murah serta rangkaian-rangkaian sederhana. Selain itu mereka juga dapat menjumpai toko sejenis di lantai dua. Di sana meeka dapat berdiskusi mengenai satu rangkaian tertentu, dan membeli rangkaian setengah jadi dengan harga murah. Toko ini milik seorang pria tua yang memiliki pengetahuan mengenai elektronika yang luas. 

Sepi, kebanjiran produk pabrikan
                Wajah Glodok Harco dewasa ini jauh berbeda. Sudah sejak lima tahun terakhir, suasana kian sepi, tak ada lagi kerumunan penggemar elektronika di depan toko untuk mendapatkan suku cadang dan berdebat dengan penjualnya. Kehangatan antarpenggemar elektronika sudah pupus, sepi.
                Apa yang dapat kita saksikan hanyalah toko-toko yang menjual barang jadi buatan pabrik, sama seperti di pertokoan lainnya baik di Blok M, Senen, Jatinegara, dan sebagainya. Semua barang sudah dibuat di pabrik hingga bagian sekecil-kecilnya, dan orang hanya dipaksa menerima apa yang dijual pabrik. Tak ada kemampuan untuk mengutak-atik seperti di masa lalu. Bahkan dengan semakin canggihnya peralatan dan teknik penjualan, kini para montir hampir kehilangan pekerjaannya. Bila ada peralatan elektronika rusak, maka lebih baik membeli baru lagi ketimbang mereparasinya, karena kerusakan itu sulit diperbaiki montir, dan mereka lebih suka mengganti hampir keseluruhannya. Pabrik sekarang amat bersimaharajalela mengukuhkan kekuasan mendikte pasar secara otoriter dan hegemoninya dengan menjejalkan barang seragamnya sesuai “penelitian selera pasar”. Pemakai hanya pasif menerima apa saja yang ditawarkan sekaligus membunuh kreativitas para montir serta para penggemar elektronika.
                Di kalangan masyarakat Jawa terkenal adanya ramalan Jayabaya atau Jangka Jayabaya yang menyebutkan kelak (mungkin dimulai dari jaman sekarang), pasar akan kehilangan kumandangnya. Tak ada lagi kumandang keceriaan atau kehidupan pasar seperti yang dulu kita kenal. Orang hanya datang, melihat, membayar dan pergi begitu saja membawa barangnya. Tak ada diskusi atau debat hangat. Hubungan terasa begitu kaku, dibandingkan ketika tahanan (weerstand), kondensator, spoel, transformator, lampu-lampu penguat, dsb. masih menjadi andalan.
                Kita, orang-orang yang pernah merasakan masa jayanya era-era yang lalu, tentu rindu akan suasana seperti itu. Akan tetapi kita sulit memutar jarum waktu kembali. Maka yang tertinggal hanyalah sekeping nostalgia saja yang diceritakan ke mana-mana.