Ningrat Solo asli Betawi

Ningrat Solo asli Betawi





            Dia bergelar Kanjeng Pangeran Aryo (KPA), satu tingkat kebangsawanan yang tidak main-main dari Kraton Surakarta Hadiningrat, Jawa Tengah. Tapi jangan kaget, ketika berbicara, gayanya ceplas-ceplos, terus terang, bersuara keras, berlainan sekali dengan tipe umum orang Solo yang halus.
            Tidak mengherankan, dia memang orang Betawi asli kelahiran Cengkareng, 12 Februari 1930 (usia 83 tahun pada tahun 2013), yaitu Kanjeng Pangeran Aryo Kyai Haji Doktorandus Nukman Muhasyim, pengasuh Pusat Pendidikan Islam Modern Al Huda, Cengkareng, Jakarta Barat. Sifat bawaannya sebagai orang Betawi tentu seperti digambarkan di atas, terus terang, tanpa tedeng aling-aling dan berani “pasang badan” di depan bila kepentingan masyarakat terganggu. Jiwa jawara Betawi yang pantang mundur ada dalam dirinya yaitu berani mengambil risiko dan mengambil tanggung jawab. Bukan tipe pemimpin cengeng. Sungguh, jauh dari itu semua.
            Sebagai orang Cengkareng, ia menjadi saksi perkembangan daerah tersebut dan sekitarnya. Dia gusar melihat salah satu daerahnya menjadi “sarang narkoba”, seperti disebut-sebut dalam pemberitaan berbagai media massa. “Kalau bisa pindahkan saja mereka itu dan jangan dibiarin hidup berkelompok, tapi dipisah-pisah biar menyatu dengan masyarakat lain,” ujarnya dalam Milad (hari ulang tahun) dirinya ke 83 di Aula Pusat Pendidikannya di Cengkareng, 15 Februari 2013 lalu. Ia khawatir karena narkoba akan cepat menghancurkan kehidupan remaja dan bangsa dalam waktu singkat.
            Kyai Muhasim tak lupa menyoroti perkembangan Provinsi DKI Jakarta di bawah pimpinan “orang asal Solo” Joko Widodo dan wakilnya Basuki Cahaya Purnama (Ahok). Dalam pandangannya, pemerintah jangan ragu-ragu bertindak tegas dan penuh keberanian dalam melaksanakan konsep atau gagasannya, dengan menyampaikannya lebih dahulu kepada DPRD.
            Pimpinan Pusat Pendidikan Al Huda yang pernah duduk di kursi DPRD DKI Jakarta periode 1971-1977 di masa kepemimpinan Gubernur Ali Sadikin ini menyatakan setuju dengan langkah Joko Widodo (Jokowi) jika Gubernur berorientasi pada kepentingan masyarakat kecil, kelas menengah ke bawah, tanpa mengabaikan kepentingan menengah ke atas. “Orang kecil sudah lama menderita, sudah letih menjadi kelas melarat. Tiba giliran mereka bisa tertawa dan bercanda ria,” tulisnya dalam buku memoir miladnya ke 83.

Jangan berorientasi proyek dan duit
            Konsolidasi internal pemerintah harus selalu dilakukan dengan pengawasan ketat, tak boleh ada karyawan Pemprov DKI yang berleha-leha dan selalu berorientasi pada proyek dan duit. Untuk itu Pak Kyai Muhasyim mengajak warga Jakarta mendukung positif kepemimpinan Gubernur Joko Widodo. Gubernur sudah sepatutnya mendengar suara hati tiap warga kota yang tanpa direkayasa, suara yang tulus, ikhlas, dan apa adanya.
            Ia meminta warga DKI Jakarta untuk lebih banyak taqorub kepada Allah SWT saling mengingatkan, saling menasihati menjauhkan diri dari perbuatan maksiat, hingga wilayah DKI Jakarta dijauhkan dari segala bencana, berhasil menjadi kota aman dan sejahtera di bawah kepemimpinan Gubernur Jokowi.
            Namun bila Pemprov DKI Jakarta melupakan tugasnya, maka Kyai Muhasyim dalam pidato miladnya menyatakan sanggup memimpin warga ke rumah Gubernur biar malam-malam pun.

Banjir dan sampah di Jakarta
            Mengamati banjir di DKI Jakarta, Kyai Muhasyim tidak menafikan bahwa Provinsi Jabar punya andil besar. Maka dia menyatakan setuju pembangunan waduk di Sungai Ciliwung, guna mengurangi beban Bendung Katulampa, agar Jakarta teringankan beban kebanjirannya. Waduk itu bisa dipakai juga untuk sarana pariwisata dan pengembangan perikanan maupun pengairan pertanian, begitu jelasnya.
            Kyai Muhasim mendukung rencana pembangunan tembok besar di tepi laut agar dapat menahan rob dari laut, namun menyatakan tidak setuju dengan saluran serba guna atau deep tunnel rencana Jokowi. Selain biayanya mahal, juga kalau pengendalian secara terpadu terwujud, saluran itu tidak ada gunanya lagi.
Selain itu kontribusi masyarakat guna mengurangi banjir antara lain dengan cara tidak membuang sampah sembarangan, sangat besar. Dia mengritik Pemprov DKI Jakarta yang dilihatnya belum mengolah sampah secara maksimal mengelola sampah. Kyai MUhasyim memandang perlu Pemprov membentuk “polisi sampah” guna mengawasi kebrsihan lingkungan. Mereka bisa direkrut dari berbagai ormas seperti Forkabi, FBR, PP, dan sebagainya. Itu sekaligus untuk memberi pekerjaan pada warga.

Setuju ganjil-genap
            Berbeda dengan kebanyakan pengamat, pimpinan Al Huda, Cengkareng, itu mendukung penuh ide Jokowi untuk menerapkan sistem nomer mobil ganjil-genap. Ia berpendapat cara itu akan mengurangi beban kendaraan bermotor di jalan kurang lebih 50%. Kalau ada yang “mengakali” sistem nomer ganjil-genap, dia harus diberi sanksi, dihukum. Polisi harus tegas, bila sistem itu ditunjang Perda memadai.
            “Pendek kata, siapa juga yang jadi pemimpin Jakarta, kagak peduli dari mana datangnya, asal mereka memperhatikan kepentingan warga, kudu didukung,” katanya dalam pidato miladnya.

Khusus penumpang perempuan

thumbnail
Kereta api Commuter Line yang beroperasi di Jabodetabek menentukan dua gerbong, yaitu yang pertama dan terakhir diperuntukkan bagi para penumpang perempuan.
Mat Geblek nekat, naik ke salah satu gerbong khusus itu. Kontan ia ditegur petugas.
Mat Geblek     : Lho, saya juga penumpang perempuan kok, cuma sesekali aja ganti posisi buat variasi biar tidak bosan.

Ramalan kematian Hitler

thumbnail
Menjelang berakhirnya Perang Dunia II, pemimpin Nazi Jerman, Adolf Hitler, begitu gelisah. Ia lalu bertanya kepada dukun kepercayaannya, bertanya kapan, di mana, dan bagaimana dia mati.
Dukun itu mengelus bola kristalnya, lalu berkata:
Dukun           : Tuan, Anda akan mati di hari raya Yahudi.
Hitler mengerinyitkan keningnya, bingung.
Hitler             : Hari raya Yahudi yang mana? Kan banyak?
Dukun           : Tuan, hari apa saja saat Anda mati, itulah hari raya Yahudi 

Suami "geblek"

thumbnail

Seorang nyonya dengan girang menelepon suaminya dari kota turis Riviera yang indah.
Nyonya         : Pah, liburanku indah sekali kali ini, aku seperti perempuan baru!
Suami          : Aku juga begitu Mah, sudahlah tinggal lagi di sana sampai minggu depan

Bikin koran dalam 10 Hari

Bikin koran dalam 10 Hari




            Mungkinkah membangun satu suratkabar harian hanya dalam waktu 10 hari? Kemudian tetap hidup berjalan kontinu? Jawabnya bisa, kalau semua bersedia “kesetanan”, kerja keras siang dan malam, dengan semangat tempur yang serempak.
            Tulisan ini dibuat dalam rangka ikut-ikutan memperingati Hari Pers Nasional 9 Februari 2013 dan menjelang 10 tahun saat pendirian SKH Limboto Express, di Kab. Gorontalo, 4 Agustus 2013. Kenapa harus saya tulis? Karena ini pengalaman yang cukup menarik – minimal bagi saya sendiri – serta mungkin amat jarang terjadi, di mana proses pembangunan sebuah suratkabar harian yang kami lakukan waktu itu menyebal dari prosedur yang umum dilakukan penerbitan yang sejenis.
            Memang, terkadang keadaanlah yang memaksa orang untuk dapat berbuat di luar nalar pada umumnya serta di atas kemampuannya sendiri, dan terbukti kemudian tidak ada yang tidak bisa dikerjakan selama semua tenaga, pikiran dan usaha difokuskan kepada tujuan itu secara kompak, serempak. Memang tidak mudah, dan hanya pertolongan Allah Yang Maha Kuasa sajalah yang mengijinkan semuanya terjadi.
            Umumnya orang membangun koran harian dengan cara bertahap, dan dengan uji coba berkali-kali sehingga mendapatkan format yang pas.
            Pertama-tama tentu merumuskan ide, gagasan, cita-cita, visi-misi koran harian tersebut, disusul penentuan bentuk fisik, seperti layoutnya, ukurannya, jenis hurufnya, dan sebagainya. Tidak lupa proyeksi anggaran atau dana yang diperlukan.  Pada tahap berikutnya, atau bisa juga secara simultan, dilakukan penentuan kriteria Sumber Daya Manusia (SDM) yang akan mengawaki koran tersebut, dimulai dari pengisian para anggota redaksi, staf administrasi sebagai pendukung, kemudian perekrutan wartawan, serta staf pra-produksi  atau para layoutmen.
            Umumnya pula setelah mendapatkan tenaga calon wartawan, mereka ini diberi kursus atau pendidikan, agar sesuai dengan keperluan (visi-misi) koran harian tersebut. Bagi para calon wartawan yang masih belum memiliki pengetahuan mengenai jurnalisme, maka perlu dididik, dibimbing, atau dibina. Sedangkan bagi calon yang telah memiliki pengetahuan jurnalisme, diarahkan kembali (re-orientasi) agar selaras dengan haluan koran nantinya. Ini bukan pekerjaan mudah, sebab umumnya wartawan yang telah lama bekerja dalam satu sistem atau ritme tertentu tidak mudah menyesuaikan dengan suasana yang baru.
            Melihat pekerjaan yang begitu banyak dan panjang, maka jelas diperlukan waktu yang cukup lama guna melahirkan sebuah koran harian yang sesuai dengan cita-cita.

Berawal dari telepon teman
            Pada awal tahun 2003, penulis mendapatkan kontrak kerja jangka pendek di Provinsi Riau. Sementara itu menjelang akhir masa kerja saya seorang kawan yang dahulu sama-sama bekerja untuk Harian Terbit, Sdr. Abdullah Lahay, menelepon. Ia saat itu sudah berada di kampung halamannya di Gorontalo setelah memasuki masa pensiunnya. Bung Abdullah Lahay minta saya membantu dia mendirikan koran harian di kota itu, milik Pemkab Gorontalo. Pada prinsipnya saya setuju tentu setelah menyelesaikan kontrak. Akan tetapi menjelang akhir pekerjaan, dia terus menerus mendesak saya segera datang ke Gorontalo, karena menurutnya semuanya sudah siap hingga penyediaan mesin cetaknya segala.
            Pada akhir bulan Juli 2003 saya berangkat juga ke provinsi yang masih baru itu. Bagi saya ini kesempatan baik untuk mengenal lebih dekat daerah tersebut. Daerah baru tentu memerlukan perangkat-perangkat baru, dengan demikian akan ada dinamika yang menarik di sana.
            Salah satu semangat yang mendorong saya untuk menyanggupinya adalah mereka sudah punya mesin percetakannya sendiri,dan personelnya (saya kira) sudah siap. Apalagi? Saya amat yakin pada awalnya namun kemudian “lemas” ketika menghadapi kenyataan sesungguhnya.
            Pada hari pertama, setelah mendarat di Gorontalo, saya minta Bung Abdullah Lahay dan Bung Dani Kairupan untuk melihat mesin cetak mereka. Kantor calon suratkabar ini terletak di Jalan Ade Irma Suryani Nasution, Limboto, hanya beberapa ayun langkah dari kantor Kabupaten Gorontalo. Saya temukan seperangkat mesin cetak offset lembaran (sheet) dan bukan mesin cetak offset rol sebagaimana lazimnya bagi koran harian. Saya tanya Pak Suwarno, operatornya, berapa kapasitas mesin ini per jam. Dia bilang antara 3.000 hingga 4.000 exemplar per jam. Saya mendadak lemas, sebab Bung Abdullah bilang pada saya koran itu nanti bertiras 10.000 per hari, 12 halaman, mana berwarna lagi! Artinya untuk mencetak saja memerlukan waktu lebih dari dua jam untuk satu muka, dan untuk dua muka berarti lipat dua lamanya. Itu pun jika prosesnya lancar-lancar saja. “Matik aku!” teriak saya dalam hati.

“Modarrrr…”
            Kalau koran ini muncul ke pasar pukul 05.00 pagi berarti proses cetak harus dimulai pukul 24.00 tanpa tawar menawar, itu pun kalau tak ada problem. Lantas deadline untuk layout harus pukul 23.30, dan deadline berita dari redaksi mau tak mau pukul 21.00. Apa mungkin? Bisa saja, tekad saya.
Saya tengok kantor redaksi masih melompong lebar-lebar, belum ada perkakas apa pun juga. Okelah, bisa sembari berjalan. Saya tanya apakah semua ijin sudah ada, Bung Lahay dan Bung Dani serempak mengiyakan.
“Sip,” kata saya, “sudah ada wartawan? Redaksi?”
“Belum semua,” jawab mereka nyaris serentak. Baiklah.
“Pernah ada rekrutmen calon wartawan?” tanya saya.
“Ada, beberapa mahasiswa Universitas Gorontalo pernah mengikuti kursus dasar jurnalisme singkat oleh salah seorang pengurus PWI Pusat waktu itu, Pak E. Subekti.”
“Berapa hari?” lanjut saya. “Hanya beberapa hari saja.”
Matik aku. Itu artinya saya harus merekrut wartawan sekaligus redaksi, staf redaksi dan tata usaha sekaligus. Okelah, ini tantangan.
Sekitar tiga hari saya menikmati pemandangan Gorontalo serta kulinernya yang khas. Pada saat yang bersamaan, persiapan terus digesakan. Pada hari keempat, datang berita seperti geledek tanpa hujan tanpa mendung. Bung Lahay bilang, koran harian itu harus terbit tanggal 4 Agustus 2003, tepatnya hari Senin.
“Modarrrrr…,” teriak saya spontan. Masalahnya terbitnya si koran harian tinggal 11 hari dari hari itu.
“Tolong sampaikan pada Pemkab bahwa membangun koran harian tidak segampang itu, tidak secepat itu, Anda ‘kan paham?” kata saya. “Sudah, saya berkali-kali menjelaskan, tapi pak Bupati mengharuskan terbit hari itu,” jawab Bung Lahay.
“Oke, kita menghadap Sekda sekarang, ini harus dijelaskan,” kata saya. Pendirian suratkabar harian ini di bawah koordinasi Sekretaris Derah Kabupaten Gorontalo.
“Beliau sibuk sekali, sudah saya coba,” jawabnya.
Saya mendesak, hari itu juga harus bertemu Pak Sekda yang waktu itu dijabat Pak David Bobihoe, yang hingga 2013 menjabat Bupati Kab. Gorontalo. Tidak bisa tidak, kalau kepingin terbit 4 Agustus 2013 nanti.
Akhirnya kami bertemu dengan Sekda, didampingi Kepala Dinas Ekonomi Hamzah Yusuf, bagian keuangan dan bagian umum. Kebetulan Pak David pernah memangku tugas di bagian humas Provinsi Minahasa sehingga mengerti kesulitan saya.”Pak ini benar-benar permintaan abnormal, karena bapak tahu guna membangun koran harian memerlukan waktu berbulan-bulan, saya minta dukungan penuh Pemkab. Kalau tidak, percuma saya ke sini, lebih baik pulang ke Jakarta,” tutur saya. Jelas ini kalimat kasar kepada pejabat, tapi saya tak punya lainnya.
Saya menuntut segera diadakan 14 unit komputer untuk reporter, empat untuk redaksi, tiga untuk tata muka (layout) dalam tempo lima hari.
“Untuk pertama apa tidak bisa empat unit dulu pak?” tanya pak David.
“Mohon maaf pak, kalau waktunya sebulan saja, saya bisa menyanggupi, tapi karena ini10 hari, mohon diadakan, tidak peduli dari mana asalnya, boleh pinjam dahulu,” jawab saya.
Saya juga menuntut agar pada hari H-4 mesin harus sudah bisa berputar penuh, sebab ternyata mesin ini masih baru hingga perlu dirakit secara sempurna kembali sementara aliran listrik belum terhubung. Mungkin ada sederet tuntutan lainnya, saya sudah lupa karena kepala langsung terasa pening seperti anak SD minum tuak Cap Tikus.
Petang hari kami bertiga berunding disertai seorang calon sekretaris yaitu Bu Anti Karyawanti Samad. Dia lulusan sebuah PTN di Makassar, dan aktivis kampus. Maka semangatnya sungguh luar biasa, tahan banting, siap bekerja siang-malam meninggalkan dua putra dan suaminya di rumah. Untung ada Bu Anti! Dengan dia saya bisa bekerja cepat, segala keperluan dapat ditanganinya, walaupun sering tersendat, karena harus sesuai proses birokrasi. Dalam pertemuan dengan Sekda, saya sudah mendesak agar proses birokrasi dikesampingkan dulu karena ini keadaan “super darurat”.

Rekrut para “pemberontak”
Saya tanya Bung Abdullah Lahay, apakah kenal dengan para aktivis kampus Univ. Gorontalo (UN), kalau bisa yang “badung”, “agresif”, dan “sulit”. Tentu saja ini rekrutmen “ajaib”, tapi bagi saya perlu untuk proyek “gila-gilaan” ini. Kami memerlukan anak-anak muda yang siap “kesetanan”, bukan tipe anak muda kantoran berpakaian necis dan wangi. Maka lewat Bu Anti yang suaminya dosen universitas itu terkumpullah 10 mahasiswa, aktivis kampus, tukang demo yang rajin, termasuk mendemo Pemkab Gorontalo sendiri. Nah, lho! Biar saja, saya perlu pemuda-pemuda aktivis, “pemberontak” semacam ini. Sebagian dari mereka telah mengikuti kursus dasar jurnalistiknya Pak Subekti, sebagian tidak.
Sudahlah, tugas saya selama lima hari berikutnya adalah menggembleng “anak-anak badung” ini menjadi wartawan profesional. Memang gila, tapi saya tak punya cara lain. Dari kesepuluh mahasiswa itu hanya seorang mahasiswi yang ikut, kelihatannya dia dari spesies tahan banting dan gemar bertualang pula.
“Pendidikan super kilat” itu berlangsung dari pukul 10.00 hingga petang, hari, malahan sering hingga malam hari. Sistem pendidikan yang “saya ciptakan saat itu” juga, jangan-jangan belum pernah ada baik dari pengalaman atau buku-buku di mana pun, termasuk buku di sekolah komunikasi massa dan pengalaman wartawan jempolan dunia. Cihui. Saya dipaksa untuk menjadi “jenius” dadakan karena tuntutan keadaan.Biasanya saya adalah pria tolol.

Redaktur datang, satu!
Untungnya, dua hari kemudian datanglah calon redakturnya, yaitu Lili Supaeli dari Jakarta. Ia tak banyak bicara, lugu, tapi pekerja tak pernah lelah dan tak pernah mengeluh. Saya gembira, paling tidak ada teman berdebat habis-habisan dengan dua orang rekan lokal sebelumnya. Kesepuluh “patriot” karbitan itu saya gembleng sampai termehek-mehek untuk menjadi wartawan klas Jakarta! Dan Bu Anti mendukung terus logistik dan keperluan administratif kami, dan ia sering berdebat keras dengan para pejabat setempat untuk menggoalkan tuntutan saya.
Saya pun minta Bung Dani Kairupan untuk mencarikan tiga orang operator komputer yang menguasai Pagemaker sebagai layoutmen. Disanggupi, dan mendapatkannya dua hari kemudian! Terimakasih ya Tuhan. Nantinya saya akan terkejut dan pusing setengah mati dengan para layoutmen ini.
Pada sore seusai kursus “semi militer” itu saya bekerja dengan Kang Lili hingga esok paginya menyiapkan artikel-artikel, laporan jurnalistik di kantor yang sudah punya dua komptuter baru. Kami menginap di kantor, tidur beralaskan kertas dan koran bekas. Ini sudah biasa kami alami. Setiap pagi Bung Lahay membawakan sarapan berupa nasi kuning, secara kontinu, konsisten tidak pernah berubah! Hingga H-3 sudah ada 14 unit komputer.tersedia, entah dipinjam dari mana masa bodoh amat. Sehari kemudian komputer layout sudah tiba sebanyak tiga unit dan saya minta para operator untuk mengetestnya.
Saya pun harus mengurusi mesin cetak. Saya tanya Pak Suwarno mengenai ukuran kertas dan ukuran muka cetaknya. Ia menyebutkan ukuran tertentu, yaitu sama dengan tabloid umumnya. Hal itu saya sampaikan pada layoutmen, agar mereka menyesuaikannya.
Para cawar (calon wartawan) sementara itu sudah saya oprak-oprak untuk turun ke lapangan sesuai tugas yang telah kami tentukan, lantas setibanya di kantor saya “paksa’ menuliskan laporannya. Pak Abdullah ikut kebagian pusing menuliskan kembali tulisan yang tidak jelas itu menjadi layak baca untuk “manusia umumnya” dan layak muat. Kang Lili terus mengungkungi komputernya mengejar target untuk laporan-laporan, artikel pengisi halaman, dsb, dan saya kesetanan sendiri antara menulis di komputer saya, mengecek wartawan, komputer layout, mesin cetak, dan Bu Anti yang mondar-mandir, pontang-panting termasuk merangkap sebagai pelayan pembuat minuman air teh. Kami belum punya tenaga pembantu kantor.. Tenaga tambahan kemudian muncul yaitu Rice Bobihoe, yang membantu Bu Anti sedapat-dapatnya. Kemudian saya harus berkoordinasi dengan Bung Dani untuk mengira-ngira ruangan iklan, dsb.
Redaktur lainnya kemudian tiba yaitu Ibrahim Adji. Dia sejenis manusia yang tahan banting, tak banyak bicara tapi suka humor dan bekerja nyaris seperti mesin buatan Jerman. Kontan ia pun langsung terlibat “huru-hara” kerja “gila” ini. Kami semuanya – tanpa pilih-pilih – hampir kesetanan, tidak ada yang tidak.

Kiamat betulan, bukan hampir!
            Akhirnya kiamat pun tiba terlalu cepat bagi saya. Hari itu adalah Minggu tanggal 3 Agustus 2003, artinya esok hari pukul 07.00 koran yang oleh Bung Abdullah dan Pemkab Gorontalo dinamai Limboto Express, harus sudah bisa disuguhkan kepada Menteri Komunikasi dan Informasi (d/h Deppen) Safii Muarif yang akan meninjau Kab. Gorontalo, diterima di kantor Kabupaten oleh Bupati Pakaya, dan lalu akan diantar menyaksikan acara akbar, yaitu pembukaan kantor  dan peresmian terbitnya SKH Limboto Express. Artinya koran harus sudah jadi pukul 07.00 tanggal 4 Agustus, esok pagi.
            Redaktur baru akan tiba esoknya juga, yaitu Ken Nagasi, yang sudah saya kenal ketika ia menangani mingguan di Cirebon, Jabar. Ia sejenis manusia trampil, serba bisa, dan lebih cenderung sebagai seniman ketimbang wartawan. Satu kejadian lucu, yaitu ketika masih di dalam pesawat, bersama Pak Menteri, ia berinisiatif mewawancarainya. Sayangnya ia lupa nama harian itu dan menyebutnya sebagai Libido Express. Pak Menteri tentu terperanjat, tapi langsung mahfum dan melayaninya. Sebelumnya kami sudah mengirim pertanyaan kepada menteri agar pada penerbitan perdana berita tentang beliau sudah ada.
            Saya katakan tadi bahwa hari Minggu malam itu sebagai kiamat, sebab ternyata saya baru tahu kalau dua di antara tiga layoutmen ternyata belum menguasai programnya, bahkan belum lama kenal komputer. Waktu saya tengok, teks berita meloncat-loncat, bergeser-geser di layar monitor seperti sebuah atraksi video game! Ampun, mak! Saya tentu senewen dan marah-marah pada Bung Dani. Saya minta “kepala” layout untuk bertanggung jawab. Tak ada waktu belajar lagi, tapi langsung bekerja untuk koran perdana esok hari! Dia sanggup. Okelah, tapi hati jadi kebat-kebit.
            Masalah kedua muncul, ketika Pak Warno terengah-engah dengan beribu-ribu permohonan maaf yang mungkin baru dikatakan sekali itu dalam hidupnya, meluncur dari mulutnya bahwa format yang sudah disampaikan itu keliru! Ya, Allah ya Tuhanku! Kenapa tidak mengatakannya dari kemarin? Sangking kesalnya saya menendang kursi lipat yang masih baru hingga terpental. Tambahan lagi asistennya belum menguasai mesin itu, bahkan belum bisa mengocok kertas agar tidak lengket. Saya minta Pak Warno menggembleng anak buahnya dalam tempo semalam. Pendek kata semua persoalan besar, mendasar harus selesai dalam waktu semalam, persis seperti legenda rakyat Jawa Tengah mengenai pembangunan candi seribu dalam tempo semalam. Semua orang waktu itu dituntut menjadi Raden Bandung Bondowoso untuk menyelesaikan tugas berat dalam tempo kurang dari semalam.
            Masalah berikutnya yang menambah senewen, ternyata mereka tidak punya mesin pelipat kertas, sehingga harus pakai “peralatan anugerah Tuhan yang serba guna” yaitu tangan. Tapi bagaimana merekrut orang pagi-pagi buta nanti? Kepala Dinas Ekonomi ikut sibuk menangani mesin, yang aliran listriknya baru menyala pagi harinya! Asyik betul semua kehebohan itu, tapi tak ada waktu untuk protes, merenung, menganalisi, berdebat. Semua harus kerja apa pun itu bentuknya.
           
“Kita pikirkan besok”
            Mendadak kepala saya pusing sekali. Saya keluar, berjalan-jalan malam-malam di alun-alun di depan kantor kabupaten. Di masa itu di sana masih sepi sekali, hanya ada satu gerobak penjual rokok. Saya berjalan mondar-mandir, berdoa mohon ampun kepada Allah SWT atas segala dosa dan kesalahan saya selama ini sehingga mendapat pekerjaan tersebut. Belum lagi ada “pencerahan” tiba-tiba saya bertemu pria yang berjalan menunduk. Ternyata dia Pak Warno yang juga pusing berjalan-jalan cari angin. Dari mulutnya keluar bau bir!
            Di kantor, Bung Abdullah, Ken Nagasi, Lili Supaeli, Ibrahim Adji, Bung Dani dan semuanya juga pasti kesetanan bekerja luar biasa dahsyat.
            Ketika saya kembali ke kantor, jam menunjukkan kira-kria pukul 22.00. Ternyata di sana sudah ada Sekda yang dari raut wajahnya tidak bisa dipungkiri, ikut tegang. Barangkali, beliau telah mendapatkan informasi awal dari Bung Abdullah.
            Saya datang, dan langsung disambut Sekda, Pak Daivid Bobihoe tersebut.
            “Bagaimana pak?” tanyanya dengan terbata-bata. Keadaan di kantor waktu itu luar biasa sibuk, centang-perenang.
            “Saya konsentrasi agar besok aman, bisa terbit tepat waktunya, Pak,” jawab saya.
            “Bagaimana esoknya lagi? Bisa terus terbit?” sambungnya.
            “Akan saya pikirkan besok pak,” jawab saya dengan sekenanya mengandung nada fals, kebingungan.
            Sekda mengangguk-angguk tapi jelas terbaca kecemasannya, tak bisa disembunyikan oleh senyumnya. “Besok saya pastikan terbit pak, pagi-pagi, tapi kami tidak punya tenaga pelipat kertas. Kita tak punya mesin lipat pak, jadi harus manual.”
            Pak David mengangguk-angguk dan tak lama kemudian meninggalkan kantor. Tanpa dukungan penuh tokoh ini, kiranya Limboto Express belum bisa terbit Senin, 4 Agustus 2003.. Saya tahu kemudian sebagai project officer beliau bekerja luar biasa guna memenuhi tuntutan kami.
Saya masuk ke ruang wartawan sembari berteriak: “Hai..prajuritttt, gimana? Masih mau bertempur?” Teriakan saya belum ada yang menjawab, semuanya tenggelam dalam rasa yang sulit digambarkan. “Gimana kawan-kawan? Masih sanggup maju terus?” ulang saya. Beberapa calon wartawan yang sangat energik menjawab : “Siap bosss.. maju terus!” Beberapa di antaranya diam, menatap monitor komputer dengan tegang, beberapa di antaranya berkeringat. Entah kenapa.

Tahan dulu! Tahan dulu!
            Maka “neraka yang sebenarnya” pun tiba. Pagi-pagi buta kami ramai-ramai berkutat di mesin cetak, semua berita sudah masuk, walaupun terlambat, tapi sudah jadi plat. Maka plat-plat itu dipasang dan mesin dinyalakan. Mogok! Putar sana putar sini, periksa sana periksa sini, sampai Pak Hamzah Yusuf pun turun tangan hanya berkaos kutang, tangan Pak Warno berlepotan, maka mesin pun berputar juga akhirnya. Hingga pukul 06.00 pagi saat para karyawan Kabupaten sibuk menata tempat upacara, koran belum kelar semua. Saya lihat sejumlah PNS sibuk melipat kertas koran yang selesai dicetak bolak-balik. Mereka baru mendapatkan ketrampilan melipat pagi itu juga dari seorang teman. Agar segala “huru-hara” di dalam kantor tidak nampak dari luar, maka semua jendela yang menghadap ke tempat upacara kami tutup rapat-rapat.
            Pukul 06.00 diberitakan pesawat Menteri telah mendarat dan segera ke kabupaten. Semua sibuk, terlebih-lebih kami karena ditambah ketegangan tak terkira-kira. Singkatnya acara sudah dimulai, Menteri sudah hadir, begitu pula Gubernur Gorontalo waktu itu Ir. Fadel Muhammad, Bupati Gorontalo dan pejabat penting lainnya.
            Saya segera membisiki ketua panitia dan pembawa acara, seorang ibu-ibu yang bersuara merdu, agar mengulur waktu seperlunya menunggu koran rampung. Mereka mengerti dan menjalankan pesan saya dengan sangat sempurna. Mungkin acara penting itu agak terulur waktunya dari jadual seharusnya, tapi semuanya berjalan lancar, gembira.

Akhirnya!
            Hingga pukul 07.00 lebih sedikit, beberapa belas koran telah rampung dicetak dan dilipat, maka segera kami bagikan kepada tamu dan hadirin, terutama untuk Pak Menteri. Untuk beliaulah kami selama ini semuanya jungkir balik dengan beban stress tinggi!
            Saya lihat dari jauh, Pak Menteri mengangguk-angguk, membaca edisi perdana SKH Limboto Express, dalam sajian empat warna di halaman 1 dan 12 didampingi Bupati Gorontalo. Sekilas Pak Sekda melihat kepada saya sambil mengacungkan jempolnya..Saya pun membalasnya.
            Saya tidak dapat mengikuti seluruh acaranya, karena langsung jatuh terduduk di kantor kelelahan sekaligus puas bahwa hari itu kami semuanya, tanpa pandang bulu, baik unsur Pemkab, redaksi, tata usaha, produksi, dan lain-lainnya, berhasil menerbitkan sebuah suratkabar harian baru lewat cara-cara yang tidak biasa. Limboto Express telah kami lahirkan secara sesar, tapi berhasil.
            Sementara itu mesin cetak terus menderu-deru meneruskan pekerjaan perdananya di Limboto. Secangkir teh manis saya teguk dengan rasa puas, seolah lepas dari beban berton-ton di pundak dan kepala. Entah ke mana teman-teman lainnya, saya tertidur di kursi.

Terus Pak!
            Petang harinya kami bekerja keras lagi, memikirkan apa yang harus kami sajikan esoknya. Pak David rupanya kaget juga pada hari kedua kami terbit terus walaupun muncul kesiangan karena memang kami masih bayi berusia 10 hari. Alhamdulillah, sejak tanggal 4 Agustus 2003 itu Limboto Express hidup terus sampai saya meninggalkan Gorontalo empat bulan kemudian. Ia tetap hidup terus tutup dua tahun kemudian karena berbagai sebab.

Profesional?                                                                                   
            Lama setelah pengalaman di Gorontalo itu, saya bertemu dengan salah seorang mantan karyawatinya yang baru masuk bekerja sepeninggal saya. Saya mendapatkan cerita menarik mengenai apa yang kami kerjakan waktu itu, terutama saya, si bawel, tukang goprak.
            Rupanya, para wartawan muda itu mengeluh selama saya pimpin, menggerutu namun tidak berani mengatakannya di hadapan saya.
            “Pak Adji Subela itu orangnya keras,” kata seorang di antaranya. Mereka bercerita bagaimana cara saya memimpin selama empat bulan. Sering, kata mereka, dia (maksudnya saya) menendang pintu bila terlambat, atau berteriak-teriak. Tapi katanya, saya pun ramah setelah lepas dari pekerjaan dan suka bercanda-ria.
            “Kami dipaksa untuk menjadi wartawan profesional. Mana mungkin kami ‘kan masih baru semua,” keluh seorang di antaranya.
            Saya tertawa terbahak-bahak mendengarnya. Saya tahu betul kalau dinilai mereka punya kemampuan rata-rata katakanlah, 10 poin. Kalau mereka saya dorong dengan kapasitas bernilai 10 juga, maka paling-paling mereka muncul dengan hasil 7 atau 8 saja. Maka saya geber mereka dengan kapasitas 15, maka rata-rata mereka mampu mencapai nilai 10 bahkan ada yang lebih. Beberapa di antara mereka menunjukkan kemajuan fantastik, lebih dari yang kami harapkan semula. Kami para redaktur mengajarkan mereka untuk menulis dengan teknik jurnalisme dan bahasa Indonesia standard, serta memegang teguh kode ethik jurnalistik.
Setelah Limboto Express berhenti terbit, mereka berpencar dan mendapatkan pekerjaaan sesuai dengan kemampuannya.Mereka memang pemuda yang tangguh, sesuai dengan predikatnya dahulu sebagai aktivis kampus.(Adji Subela)

Jam Bisu Warisan Batavia

Jam  Bisu Warisan Batavia



Mantan staf Kantor Pemugaran Jakarta Kota 1972-1974,Indro Kusumowardono, memeriksa mesin jam di Museum Sejarah Jakarta, 40 tahun setelah direparasi di pebarik aslinya di London, Inggris.

            Dulu sekali, ketika Jakarta masih bernama Batavia, lonceng berdiameter 50 cm dan tingginya 75 cm itu setiap sejam setia mengingatkan warganya lewat dentangannya, mengumandang ke seluruh penjuru kota. Ia begitu setia dan ajeg berputar seolah ikut menggelindingkan bumi ke arah timur.
             Dentangan itu berasal dari tuas pemukul lonceng besar yang digantungkan di satu kubah di bagian atas atap gedung Stadhuis atau Balaikota Batavia, sekarang menjadi Museum Sejarah Jakarta. Tuas itu bergerak memukul sesuai jumlah waktu yang ditunjukkan oleh jarum besar pada piringan yang terpasang di luar.
            Jantung dari itu semua, adalah seperangkat mesin jam yang terbuat dari besi tempa serta kuningan. Mesin ini didudukkan di kerangka besi kokoh sebesar lengan orang dewasa. Di sana sepuluh cakram bergerak berputar seiring perjalanan waktu. Tenaga putaran itu berasal dari sekumparan per baja yang ditaruh di sebuah tabung logam. Sebuah engkol, juga sebesar lengan, dipakai untuk memutar per tersebut sehari sekali. Nampaknya perlu orang bertenaga raksasa untuk memutar benda tersebut.
            Belum ditemukan catatan kapan jam raksasa itu dipasang di Stadhuis, tapi ada yang memperkirakan pada Abad Ke-18. Perkiraan itu didasarkan pada keterangan yang didapat dari pabrik tersebut yang hingga tahun 1973 masih beroperasi. Perusahaan jam yang berkedudukan di London itu sampai heran sebab produknya masih utuh terdapat di ibukota Indonesia, Jakarta. Bagaimana mereka tahu?
            Ceritanya pada tahun 1972 dimulai pemugaran gedung Stadhuis yang ketika itu masih dipakai oleh Markas Kodim 0503 Jakarta Barat. Pemrakarsa pemugaran itu adalah Sergio Dello Strologo yang mengajukan proposalnya bersama asistennya, Soedarmadji “Adji” Damais kepada Gubernur DKI Ali Sadikin. Proposal itu langsung disetujui saat itu juga.
            Tahun 1973 ketika kegiatan pemugaran berlangsung, Sergio minta bantuan perusahaan penerbangan Cathay Pasific untuk membantu memperbaiki jam besar seperti yang kita ceritakan tersebut. Pabrik pembuatnya ditemukan, dan jadilah jam itu diangkut ke London, Inggris, menggunakan pesawat Cathay  Pasific. Semua biaya perbaikan juga ditanggung maskapai penerbangan tersebut. Sebagai ungkapan suka cita bahwa produknya masih ada di Indonesia, pabrik jam itu memberikan potongan biaya.

Jamnya kok “bisu”
            Akhirnya jam itu dipasang kembali ke tempatnya semula. Ketika itu kubah harus diperbaiki, tapi bahan penutupnya ternyata berbeda. Aslinya berupa lempengan timah hitam tebal yang dipasang di bagian dalam berkeliling. Selain itu, nampaknya guna menghindari terpaan hujan, bagian atas kubah juga ditutup memakai kaca oleh Belanda. Oleh Sergio lembaran timah hitamnya diganti dengan bahan sintetis. Tibalah saatnya untuk uji coba yang dihadiri oleh Gubernur Ali Sadikin.
            Sayang dentang lonceng jam itu tidak terdengar sama sekali dari luar. Padahal di dalam, suaranya keras menggema. Sergio menjelaskan, nampaknya lonceng itu pun juga tidak terdengar sejak kubah ditutup pakai kaca dan timah hitam oleh Belanda. Yang menjadi pertanyaan kapankah lonceng itu terakhir berbunyi? Sebab kelihatannya Belanda segera menutup tempat itu guna melindungi jam dari cuaca. Lantas apa gunanya kalau lonceng tidak berbunyi? Apakah mereka memandang cukup memasang piringan dan jarum jam di luar? Belum ada jawaban pasti.
            Sementara itu ketika Adji Damais menjadi Kepala Museum Sejarah Jakarta, ia mengusulkan agar jam dipindahkan ke halaman belakang museum di puncak menara besi buatan, supaya suara loncengnya terdengar. Namun hingga sekarang tidak terwujud. Pada tahun 2006 ada perusahaan Belanda yang menawarkan perbaikan jam berlonceng itu, tapi Pemprov DKI tak punya biaya. Than 2011 ada seorang WN Belanda untuk membantu memperbaiki atas biaya pribadinya, namun tidak pernah terdengar lagi hingga sekarang.
            Jam  itu kini masih “nangkring” di tempatnya, warnanya kusam, terpasang di perancah kayu jati besar-besar.
            Entah siapa yang nanti mampu membunyikannya kembali, sama seperti ratusan tahun lalu.