Langsung ke konten utama

Buah saga bisa gantikan kedelai?









Krisis harga kedelai pada pertengahan tahun 2013 lalu seharusnya mendorong masyarakat mencari bahan alternatif untuk tempe, kecap, tauco, dan tauge. Sayangnya ini meyangkut masalah selera yang tidak mudah diubah dalam tempo sesingkat-singkatnya. Bisa jadi memerlukan waktu satu generasi.

                Kedelai sekarang telah naik pangkat menjadi komoditas bergengsi. Ia  diskusikan di sejumlah rapat kabinet, jadi pemberitaan utama media masa dan media sosial, bahan debat di seminar, jauh dari gambaran Bung Karno di masa lalu. “Jangan menjadi bangsa tempe!” kata Bung Karno. Ini bisa dimengerti sebab kedelai rebus yang akan dijadikan bahan tempe di masa lalu harus diinjak-injak di dalam keranjang bambu (Jw, rinjing) untuk memisahkan biji kedelai dengan kulit arinya. Sekarang sudah ada mesin pengupas kulit ari kedelai.

                Kedelai dikenal memiliki gizi tinggi kaya dengan asam amino komplet. Bahkan negara-negara lainnya kini ikut membuat tempe, seperti Malaysia, Thailand, Jepang, Belanda, AS, dan sejumlah negara lain di Timteng.

Biji saga dan cangkang buahnya
                Ada biji-bijian lain yang memiliki gizi melebihi kedelai, yaitu buah saga yang warnanya merah menyala itu. Buah ini dulu populer di wilayah Kabupaten Pati, Jawa Tengah, khususnya di Kecamatan Juwana, sebagai bahan camilan, campuran kopi, atau bahan lauk-pauk. Saga dikenal di daerah lainnya dengan nama Seugeu, Ki Toke Laut, Binek, Bibilaka, dsb. Buah saga yang dimaksud di sini adalah saga pohon (Adenanthera pavanina), yang sering dipakai sebagai pohon peneduh. Di beberapa tempat di Jakarta pohon ini masih ditanam sebagai peneduh jalan. Di Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, misalnya masih ditemukan setidaknya satu pohon di sisi utara dekat dengan Plaza Pupuk Kaltim.Di daerah Duren Kalibata masih banyak ditanam sebagai peneduh jalan, demikian pula sejumlah taman seperti Taman Monas masih bisa dijumpai tanaman ini.

Nama saga yang lain adalah saga telik, atau saga rambat (Abrus precatorius) tanaman menjalar yang buahnya berwarna merah-hitam, sering dipakai sebagai obat sariawan dicampur kalau dengan daun sirih.



Kelebihan biji saga

                Biji buah saga tidak mengandung asam cyanida atau (HCN) yang berbahaya, tapi mengandung protein (NX 6,25) 48,2%, setara dengan biji kecipir sehingga lebih tinggi dari kedelai (k.l. 35%). Kandungan air 9,10%, lemak 22,6%, karbohidrat 10%, serat 5,66%. Biji saga juga mengandung asam amino lengkap. Pohon saga dapat tumbuh di sembarang tempat tanpa memandang kesuburannya, dan hidup di derah berketinggian dari 0 hingga 500 meter dpl (di atas permukaan laut). Perakarannya kuat dan berbuah tanpa memandang musim hingga berusia 40 tahun. Akar pohon saga yang besar-besar tidak membayakan bangunan di sekitarnya berbeda dengan pohon besar lainnya semisal flamboyan dan sebagainya. Bahkan kulit bijinya masih mengandung gizi yang baik sehingga dapat dipakai sebagai tambahan makanan ternak.

 Pusat Penelitian dan Pengembangan Gizi Departemen Kesehatan serta Balai Penelitian Kimia Departemen Perindustrian di Bogor akhir dekade 70-an lalu mengadakaan serangkaian penelitian buah saga. Tujuannya a.l. untuk mengembangkan buah yang potensial ini untuk dapat dikonsumsi secara umum oleh masyarakat.

Bahkan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) saat itu mencoba membuat mesin pengupas biji saga yang liat itu, selain mencari cara guna mengurangi bau yang langu.

Sayangnya upaya itu tidak bergaung sama sekali saat ini, sebab ketergantungan masyarakat pada bahan kedelai kian tinggi sementara produksi dalam negeri tidak mampu mencukupi kebutuhan sebab hanya sekitar 20% saja.

Seperti dituturkan sebelumnya, tidak mudah mengubah selera orang sehingga perlu waktu lama untuk mengenalkannya. Akan tetapi dengan usaha yang keras dan konsisten bukan tidak mungkin masyarakat menerima buah saga sebagai bahan makanan bergizi tinggi ini, sebagai bahan asupan gizi yang murah, dan tidak harus mengimpornya. (dari berbagai sumber)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Minyak Srimpi

          Pada era 50-an tak banyak produk minyak wangi yang beredar di pasaran, terutama yang harganya terjangkau oleh mereka. Oleh karena itu, minyak pengharum badan itu banyak diproduksi perusahaan-perusahaan kecil guna memenuhi kebutuhan pasar akan pengharum. Oleh karena formulanya sederhana dan memakai bahan-bahan atau bibit minyak wangi yang terjangkau, maka dapat dikatakan hampir semua minyak wangi yang beredar waktu itu baunya nyaris seragam.           Satu merk yang popular pada saat itu, dan ternyata masih eksis hingga sekarang adalah minyak wangi cap Srimpi. Minyak ini dikemas dalam botol kaca kecil berukuran 14,5 ml, dengan cap gambar penari srimpi, berlatar belakang warna kuning.           Pada masa itu minyak Srimpi dipakai oleh pria maupun perempuan klas menengah di daerah-daerah. Baunya ringan, segar, minimalis, belum memakai formula yang canggih-canggih seperti halnya minyak wangi jaman sekarang.            Ketika jaman terus melaju, maka produk-produk

Nasi Goreng Madura di Pontianak

                Kurang dari dua tahun lalu, Imansyah bersama istrinya Siti Hamidah dan dua anaknya merantau ke Pontianak, Kalbar, dari kampung halamannya di Bangkalan, Madura. Di kota muara Sungai Kapuas ini mereka tinggal di rumah seorang kerabatnya yang mengusahakan rumah makan nasi goreng (Nas-Gor) di Sui Jawi. Pasangan ini belajar memasak nasi goreng khas Madura. Akhirnya setelah memahami segala seluk-beluk memasak nasi goreng, ditambah pengalamannya berdagang di kampungnya dulu, Imansyah dan istrinya membuka rumah makan nasi gorengnya sendiri, diberi nama Rumah Makan Siti Pariha di Jalan S. A. Rahman.   Di sini mereka mempekerjakan dua orang gadis kerabatnya guna melayani langganannya. RM Siti Pariha menarik pembelinya dengan mencantumkan kalimat: Cabang Sui Jawi. Rumah makan yang terletak berderet dengan rumah makan khas masakan Melayu serta sate ayam Jawa ini buka dari pukul 16.00 petang hingga pukul 23.00 atau hingga dagangannya ludes. Setiap hari RM Siti Par

Pak RT ogah lagu Barat

                          Sudah lama Pak RT yang di serial Bajaj Bajuri selalu berpenampilan serba rapi, rada genit dan sedikit munafik tapi takut istri ini tak nampak dari layar kaca TV nasional. Sejak serial Bajaj Bajuri yang ditayangkan TransTV berhenti tayang, Pak RT yang bernama asli H. Sudarmin Iswantoro ini tidak muncul dalam serial panjang. Walaupun begitu ia masih sering nongol di layar kaca dengan peran yang nyaris tetap yaitu Ketua RT, Ketua RW, guru atau ustadz.             Di luar perannya sebagai Pak RT tempat si Bajuri (Mat Solar), dengan istrinya si Oneng (Rike Diah Pitaloka)   dan mertuanya yang judes plus licik (Hj. Nani Wijaya) berdomisili, H. Darmin (panggilannya sehari-hari yang resmi sedangkan merk-nya yang lain tentu saja “Pak RT”) adalah pria yang berpembawaan santun dan halus.             Barangkali pembawaannya itu dilatarbelakangi oleh pendidikannya sebagai seorang guru. Mengajar merupakan cita-citanya sejak kecil. Sebagai anak kelima