Langsung ke konten utama

Jokowi, Bu Cicih dan Waduk Pluit

Bu Cicih
 Angin laut lembut berembus, membawa serta hawa sejuk segar menyapu tepi waduk yang luas. Senja hendak merembang dan perempuan paruh baya itu duduk menatap gubuk-gubuk yang berimpitan jauh di seberang. Kulit putihnya mulai kemerahan terkena sinar matahari terik kemarau di belahan utara Jakarta. Sengat matahari seolah tertindih hawa laut di Penjaringan itu.
                “Enggak kebayang deh,” kata perempuan itu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Ingatannya melayang kembali ke masa lima bulan silam ketika lapangan terbuka tempat dia duduk di bangku dengan nikmat itu masih berupa kampung padat, sesak oleh gubuk dan bangunan semi-permanen. Mereka berimpitan seolah berebut hawa segar, tersuruk di atas rawa-rawa yang penuh ditumbuhi enceng gondok.
                Gang-gang sempit mengular becek penuh bau amis. Anak-anak berlari-larian beradu dengan padatnya pejalan kaki, sepeda motor yang melintas membawa barang-barang berlebihan, sepeda butut, atau gerobak. Hidup layaknya neraka yang dipenuhi ketegangan otak, degup dada penuh emosi dan beban hidup kota metropolitan.
Seorang pekerja menyelesaikan pembuatan batas jalan
                Bulan Mei 2013 derita mereka bertambah ketika Gubernur DKI Jakarta yang baru, Joko Widodo, atau sering dipanggil Jokowi, datang menengok tempat tinggal mereka sambil membagikan hadiah berupa peralatan sekolah untuk anak-anak kampung itu. Mereka senang, tapi berikutnya bersungut-sungut sebab kampung sesak mereka akan digusur. Mereka panik, bingung. Di masa lalu isu penggusuran sering mereka terima dan pernah mendapatkan dana “kerohiman” a la kadarnya tapi lantas tak jadi digusur dan beritanya hilang ditelan waktu. Kini Gubernur asal Solo, Jateng, itu serius. Warga meradang. Apalagi para cukong yang sudah menikmati keuntungan besar selama bertahun-tahun dari tanah milik negara itu.
                Protes, unjuk rasa dengan dihiasi aksi kekerasan melawan Satpol PP, teriak-teriak, lantas mereka lakukan. Mereka ada yang menerimanya karena sadar tanah itu milik negara, ada yang minta ganti rugi tinggi-tinggi, dan ada yang tidak jelas juntrungannya. Maka wartawan media massa cetak maupun televisi rajin menyambangi daerah itu.
                Sejumlah gambar di TV memperlihatkan sesosok perempuan paruh baya, berteriak-teriak penuh emosi. Dialah perempuan yang kini duduk menikmati angin segar danau atau Waduk Pluit. Namanya Bu Cicih, kelahiran Cirebon 43 tahun silam. Ibu dari dua anak laki-laki dan seorang putri ini seolah menjadi pemimpin unjuk rasa, menjadi ikon pembalelo.

Bagian waduk yang masih dalam proses pengerukan. Lihat peralatan backhoe di seberang waduk.
Makan siang
                Maka datanglah pada suatu waktu undangan dari Gubernur DKI Jakarta Jokowi  untuk makan siang bersama di Balaikota. Maka berangkatlah sejumlah warga mewakili 1.700 KK yang terkena gusuran. Bu Cicih ada bersama mereka.
                “Ya, namanya orang kecil kayak kita-kita begini siapa yang mau ngajak makan siang? Mana di Balaikota lagi,” ujar Bu Cicih. Diceritakannya, Pak Jokowi orangnya ramah, tutur katanya halus. “Enggak kayak wakilnya Pak Ahok yang ceplas-ceplos,” tambahnya.
                Siang itu warga makan siang dengan lauk seafood lengkap. “Pak Gubernur bilang silakan makan banyak-banyak.”  Sehabis makan, Jokowi langsung bertanya dengan halus, apa sebenarnya yang diinginkan warga. Mereka dikasih tahu, mendiami tanah negara itu melanggar hukum, tapi Pemprov DKI tetap akan merelokasikan mereka ke tempat yang jauh lebih baik, lebih manusiawi. Maka mereka pun membuat daftar tuntutan.
                “Tapi namanya manusia ya? Ada juga yang ngelunjak, minta yang enggak-enggak,” kata Bu Cicih.
                Diceritakannya, di wilayah itu ada pengusaha besar yang menyimpan peralatannya. Semula ia menolak, tapi akhirnya ia menyerah, sadar akan kesalahannya. Kata Bu Cicih, pengusaha itu rela mundur dan bahkan peralatannya sampai dicuri orang. “Dia rugi besar, tapi selamat, gak perlu repot-repot,” tambahnya. Dia bilang ada lagi pengusaha kecil yang “mengamuk” dan menuntut yang enggak-enggak. “Bakal repot sendiri dia,” tutur Bu Cicih.
                Warga akhirnya menerima uang kerohiman sesuai keadaannya. Mereka senang sebab tidak digusur semau-maunya seperti di masa lalu. Mereka dimasukkan ke rusun yang tak jauh dari lokasi, diberi fasilitas cukup.
                “Enaklah, tempatnya bersih, fasilitas lumayan, dan teratur,” katanya.
                Dia memandang berkeliling. “Taman ini sekarang tempat rekreasi warga, campur-baur mulai yang dari perkampungan sampai dari rumah elit di dekatnya. Malem Minggu ramai. Minggu pagi ramai, banyak yang olahraga,” katanya. Perempuan ini sering tersenyum geli sendiri betapa bagaimana tingkahnya dulu ketika menentang penggusuran.
                “Belakangan setelah beres dan tahu hasilnya, saya suka malu sendiri, apalagi katanya di internet gambar saya masih ada waktu unjuk-rasa dulu,” katanya sembari ketawa.

Lulu dan teman-temannya senang bermain di "Taman Jokowi"
Indah, bersih
                Kini pembangunan taman Tahap I selesai, diteruskan ke Tahap II. Daerah kumuh itu dalam tempo lima bulan berubah jadi cantik, bersih, lapang. “Gak nyangka,” tambah ibu tiga anak itu. Bagian timur waduk masih utuh, belum tersentuh. Di bagian selatan mesin backhoe ampibi terus mengeruk lumpur dan enceng gondok tanpa lelah.
                Taman Jokowi, begitu penduduk menyebutnya, mulai ramai pada petang hari. Anak-anak dari kampung di sekitar Mesjid Luarbatang bahkan datang berombongan naik odong-odong atau bajaj untuk bermain ke taman baru ini. Lulu, Fauziah, Fitri dan teman-temannya yang lain mengatakan lebih suka bermain di sini sebab lapang, bersih.  Mereka menyewa mobil mainan, otoped pedal, dll. Bu Cicih memanfaatkan peluang ini, dia beli tiga unit otoped seharga masing-masing Rp.800 ribu lalu disewakan Rp.5000 per 30 menit. “Lumayan, sehari dapat sekitar enam puluh ribuan, kalau hari libur sampai seratus lima puluh ribu,” uturnya dengan riang.
                Matahari kian tenggelam, angin kian mendingin di tengah temaram langit. Pasangan-pasangan remaja berdatangan, duduk menghadap ke waduk berbagi rayuan. Pedagang dilarang masuk sebab membikin taman jorok, kotor.
                Bu Cicih dan teman-temannya kini penuh senyum menyongsong asa. Di seberang waduk masih menanti sekitar 7.000 KK untuk direlokasi.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Minyak Srimpi

          Pada era 50-an tak banyak produk minyak wangi yang beredar di pasaran, terutama yang harganya terjangkau oleh mereka. Oleh karena itu, minyak pengharum badan itu banyak diproduksi perusahaan-perusahaan kecil guna memenuhi kebutuhan pasar akan pengharum. Oleh karena formulanya sederhana dan memakai bahan-bahan atau bibit minyak wangi yang terjangkau, maka dapat dikatakan hampir semua minyak wangi yang beredar waktu itu baunya nyaris seragam.           Satu merk yang popular pada saat itu, dan ternyata masih eksis hingga sekarang adalah minyak wangi cap Srimpi. Minyak ini dikemas dalam botol kaca kecil berukuran 14,5 ml, dengan cap gambar penari srimpi, berlatar belakang warna kuning.           Pada masa itu minyak Srimpi dipakai oleh pria maupun perempuan klas menengah di daerah-daerah. Baunya ringan, segar, minimalis, belum memakai formula yang canggih-canggih seperti halnya minyak wangi jaman sekarang.            Ketika jaman terus melaju, maka produk-produk

Nasi Goreng Madura di Pontianak

                Kurang dari dua tahun lalu, Imansyah bersama istrinya Siti Hamidah dan dua anaknya merantau ke Pontianak, Kalbar, dari kampung halamannya di Bangkalan, Madura. Di kota muara Sungai Kapuas ini mereka tinggal di rumah seorang kerabatnya yang mengusahakan rumah makan nasi goreng (Nas-Gor) di Sui Jawi. Pasangan ini belajar memasak nasi goreng khas Madura. Akhirnya setelah memahami segala seluk-beluk memasak nasi goreng, ditambah pengalamannya berdagang di kampungnya dulu, Imansyah dan istrinya membuka rumah makan nasi gorengnya sendiri, diberi nama Rumah Makan Siti Pariha di Jalan S. A. Rahman.   Di sini mereka mempekerjakan dua orang gadis kerabatnya guna melayani langganannya. RM Siti Pariha menarik pembelinya dengan mencantumkan kalimat: Cabang Sui Jawi. Rumah makan yang terletak berderet dengan rumah makan khas masakan Melayu serta sate ayam Jawa ini buka dari pukul 16.00 petang hingga pukul 23.00 atau hingga dagangannya ludes. Setiap hari RM Siti Par

Pak RT ogah lagu Barat

                          Sudah lama Pak RT yang di serial Bajaj Bajuri selalu berpenampilan serba rapi, rada genit dan sedikit munafik tapi takut istri ini tak nampak dari layar kaca TV nasional. Sejak serial Bajaj Bajuri yang ditayangkan TransTV berhenti tayang, Pak RT yang bernama asli H. Sudarmin Iswantoro ini tidak muncul dalam serial panjang. Walaupun begitu ia masih sering nongol di layar kaca dengan peran yang nyaris tetap yaitu Ketua RT, Ketua RW, guru atau ustadz.             Di luar perannya sebagai Pak RT tempat si Bajuri (Mat Solar), dengan istrinya si Oneng (Rike Diah Pitaloka)   dan mertuanya yang judes plus licik (Hj. Nani Wijaya) berdomisili, H. Darmin (panggilannya sehari-hari yang resmi sedangkan merk-nya yang lain tentu saja “Pak RT”) adalah pria yang berpembawaan santun dan halus.             Barangkali pembawaannya itu dilatarbelakangi oleh pendidikannya sebagai seorang guru. Mengajar merupakan cita-citanya sejak kecil. Sebagai anak kelima