50 Tahun Dewa Ruci Keliling Dunia

50 Tahun Dewa Ruci Keliling Dunia
Pada 18 Oktober 2014 ini genap 50 tahun kapal layar latih KRI Dewaruci menyelesaikan tugas Operasi Sang Saka Jaya, berkeliling dunia atas empat benua dan tujuh samudera, ketika ia memasuki perairan Indonesia di Irian Jaya (Papua) setelah delapan bulan terpisah dari Ibu Pertiwi.

KRI Dewa Ruci berlayar dengan layar terkembang penuh. Cantik.
Di bawah pimpinan komandan kapal, Letkol Laut (P) Hari Sumantri, KRI Dewa Ruci bersama 101 awaknya yang lain, berkeliling dunia dalam misi persahabatan, mengenalkan Indonesia sekaligus menunjukkan kepada dunia betapa tangguh orang Indonesia, apalagi para pelautnya. Dewa Ruci disambut meriah di semua pelabuhan yang disinggahinya, menjadi rubungan penduduk setempat. Hal ini karena selain eksotisnya kapal layar tiang tinggi ini, juga keramah tamahan para awak kapalnya. 

Banyak orang asing yang semula tidak tahu negara Indonesia, kecuali nama Soekarno yang populer dan menginspirasi negara-negara dunia ketiga untuk merdeka. Di Afrika nama Soekarno menjadi semacam “azimat” guna mendekatkan awak kapal dengan penduduk setempat. Sayangnya di New York, AS, Dewa Ruci dianak tirikan, diberi tempat sandar terisolasi dari penduduk setelah mengikuti lomba layar Bermuda-New York. AS memang tidak ramah terhadap Indonesia apalagi Soekarno. Protes dilayangkan oleh diplomat RI kepada panitia sehingga tempat labuh kapal latih kita dipindah lebih dekat. Selain itu, semestinya KRI Dewa Ruci mendapatkan juara pertama karena menjadi kapal layar terakhir yang menyerah kepada alam yang tidak mengembuskan angin sama sekali. Tapi Dewa Ruci tidak mendapat apa-apa kecuali urutan keempat.

Namun masyarakat AS, baik yang berkulit putih, hitam, hispanik apalagi yang berasal dari Indonesia sangat antusias mengunjungi kapal indah tersebut. Malahan dalam acara World’s Fair di New York, awak kapal menjadi perhatian utama. Mereka tidak percaya orang-orang kecil itu mampu mengarungi ombak yang ganas sejak dari Samudera India hingga Atlantik. Dalam parade, korps musik awak kapal KRI Dewa Ruci justru mendapat perhatian besar, warga Broadway membuntuti hingga akhir.
Seorang nenek warga setempat sampai berkata: “Ya Tuhan, mereka berbaris bak dewa-dewa saja….”.

Menyedot perhatian di New York World’s Fair
Gagal menjuarai lomba layar, awak kapal KRI Dewa Ruci, menyapu perhatian pengunjung New York World’s Fair 1964 dengan atraksi seninya. Dua orang kadet yang memiliki kemampuan tari wayang yang bagus, yaitu Adi Mulyo dan Akhmad Supriyo Taram, mengisi acara dengan tari perang antara Hanoman (Supriyo) dan Buto (raksasa) diperankan oleh Adi Mulyo yang bertubuh tinggi kekar. Tari ini mendapat applause dari penonton terutama para gadis dari berbagai bangsa di tribun khusus. Maka sang Buto pun ambil kesempatan, ketika ditendang Hanoman ia justru jatuh ke pangkuan gadis-gadis cantik itu. Tentu saja si cantik terpekik-pekik. Ini bonus hiburan tersendiri bagi pemain setelah dilanda ketegangan selama pelayaran.

Berkali-kali sang Buto ambil kesempatan seperti itu sampai akhirnya kena batunya. Ia terjatuh di depan gadis asal Spanyol, terlentang betulan dengan celana robek persis di bagian sensitif. Untungnya Buto memakai celana dalam! Para gadis Spanyol itu terkesiap dengan bola mata berputar-putar dan mimik yang tak dapat diduga. Sementara itu para awak KRI Dewa Ruci lain yang berdiri dekat panggung tak mampu menolong si Buto sebab mereka sendiri mengalami kejang perut karena tertawa terpingkal-pingkal habis-habisan.

Adi Mulyo memasuki masa purnawirawan dengan pangkat terakhir Laksamana Pertama, hingga kini masih tetap aktif berkesenian wayang sebagai dalang atau berperan sebagai Ki Semar dalam berbagai pementasan wayang orang terutama di TVRI Stasiun Pusat Jakarta. Kadet Akhmad Supriyo Taram sempat menjabat sebagai Kepala Pusat Penerangan TNI AL dengan pangkat Kolonel dan kini telah berpulang.

Jejaka yang “bernafsu melamar” gadis bule
Pengalaman lucu terjadi ketika KRI Dewa Ruci harus diperbaiki di sebuah dok di Yugoslavia selama sebulan. Maka biasalah jika para kadet “ngeceng” mencari kenalan nonik-nonik bule. Celakanya para kadet ini tidak tahu adat-istiadat setempat. Warga di situ terbiasa hidup di apartemen sehingga kontak sosial hanya diadakan di taman, café, dan sebagainya. 

Para kadet itu masih mengira adat istiadat mereka sama, sehingga kerap minta berkunjung ke rumahnya sebagai kunjungan kekeluargaan seperti di tanah air. Tentu saja si gadis tersipu-sipu, sebab menurut kebiasaan di sana, bila jejaka berkunjung ke rumah gadis itu sama artinya dengan melamar! Tentu saja wajah si jejaka menjadi biru sangking malunya.

Teh super mahal, anggur gratisan
Kejadian lainnya adalah ketika mereka memesan tiga gelas besar teh manis. Pelayan dan manajer café geger sampai meyakinkan bahwa para awak kapal KRI Dewa Ruci benar-benar memesan tiga jembangan teh manis. Rupanya para awak mengira teh di Yugoslavia murah seperti di Indonesia. Mereka bisa mendapatkan gratis bila makan di warung. Di Yugoslavia, teh harganya mahal sekali dan tidak sembarang orang memesan walaupun secangkir kecil! 
Sebaliknya jika mereka makan di resto atau café, sebagai air minum disediakan anggur hitam yang rasanya sepat-sepat manis. Gratis! Maka kesempatan itu dimanfaatkan baik-baik sehingga ketika pulang ke kapal larut malam, jalannya sudah sempoyongan, pipinya terasa menebal dan suka menyanyi!

Banyak pengalaman lucu, sebagai selingan pengalaman menegangkan karena mereka sering diembus badai. KRI Dewa Ruci sering nyaris tengkurap dan hampir tenggelam, luput dari maut. Paling tidak berkali-kali layar robek, ada tiang yang patah, lalu di potongan tiang itu dipenuhi nama para awak kapal dengan goresan-goresan dan hingga kini disimpan di museum TNIAL.

Pulang
Setelah diombang-ambingkan ombak, gelombang, alun dan topan badai selama delapan bulan akhirnya pada 18 Oktober 1964 KRI Dewa Ruci memasuki perairan Irian Barat, dan disambut meriah. Puncak acaranya adalah ketika Presiden Soekarno menemui para awak kapal beberapa hari kemudian, sama seperti ketika mereka berangkat delapan bulan sebelumnya.

Pemerintah menganugerahi mereka Satya Lencana Sang Saka Jaya. Hanya ke 102 orang awak kapal KRI Dewa Ruci itu saja yang pernah menerima penghargaan seperti itu. Malahan mereka diusulkan naik pangkat satu tingkat, tapi ditolak oleh angkatan lainnya dengan alasan berlayar mengeliling dunia sudah menjadi tugas TNI AL. Mestinya mereka diajak berlayar menyeberangi Samudera Pasifik biar merasakan bahayanya menjadi pelaut!

Kisah nyata pengalaman KRI Dewa Ruci ditulis secara menarik oleh Cornelis Kowaas yang ketika itu masih berpangkat letnan. Buku ini pernah menjadi bacaan wajib bagi siswa seluruh Indonesia guna mengasah kebanggaan akan tanah air dan menggaris bawahi manusia Indonesia yang berjiwa pelaut sejak zaman nenek moyang. Sayang ketika diterbitkan kembali pada masa Orde Baru buku ini “disunat-sunat”, terutama yang menyangkut nama Ir. Soekarno. Akhirnya pada tahun 2010 buku diterbitkan lagi, selain seperti dulu, juga ditambahi informasi lainnya dengan judul Sebuah Kisah Nyata: Dewa Ruci, Pelayaran Pertama Menaklukkan Tujuh Samudera.

Serba-serbi KRI Dewa Ruci    
Kesibukan di geladak KRI Dewa Ruci ketika dihajar badai
Kapal latih KRI Dewa Ruci adalah dari jenis Barquantine buatan galangan kapal H.C. Stulchen, Jerman Barat, dibangun tahun 1952 kemudian diluncurkan 13 Januari 1953. Mulai juli 1953 kapal layar cantik ini masuk ke dalam jajaran armada TNI AL dan diberi nama KRI Dewa Ruci sesuai nama tokoh pewayangan yang sakti walaupun berbadan kecil. Komandan pertama KRI Dewa Ruci adalah Letkol (P) A.F.H. Rosenow, perwira laut Jerman yang menjadi WNI. Ia dikenal sebagai pelaut yang tangguh, berdisiplin tinggi, dan keras dalam mendidik kadet. Ia kemudian menjadi Syahbandar Angkatan Laut di Tanjung Priok dan meninggal dunia di tahun 1966. Atas permintaannya sendiri saat masih hidup, jenazahnya diperabukan lalu ditebar ke Teluk Jakarta. Sungguh seorang pelaut tulen.

Buku menarik mengenai pengalaman ertama KRI Dewa Ruci melayari 7 samudera

KRI Dewa Ruci memiliki panjang 58,30 m; lebar 9,50 m; dengan bobot 847 ton. Hingga sekarang KRI Dewa Ruci tetap bertugas mendidik para kadet Akademi Angkatan Laut, sambil menunggu penggantinya yang lebih baru.

Kemandang & sastra Jawa yang "suram"

Kemandang & sastra Jawa yang "suram"


 BUKU

Judul                            : Kemandang
                                      Antologi cerita pendek berbahasa Jawa
Penghimpun                  : Senggono
Penerbit                        : Dinas Penerbitan Balai Pustaka, Jakarta, 1958
Jumlah halaman            : 184
Ukuran buku                  : 13,5 cm x 20 cm
Ilustrasi                         : Elkana Siswojo

            Di tengah gersangnya ladang sastra Jawa, maka ketika membolak-balik halaman-halaman buku antologi cerita pendek dalam bahasa Jawa di “masa keemasaannya” terasa dingin di hati. Cerita pendek yang ditulis oleh para pengarang Jawa terkenal dan diterbitkan dalam rentang waktu antara tahun 1945 hingga 1956 ini sungguh merupakan perjalanan nostalgia yang indah.

            Ketika membacanya dengan penuh perhatian, tersembul rasa percaya seolah tak mungkin sastra Jawa tenggelam di abad berikutnya. Memang sejumlah pengarang masih bertahan menulis dengan menggunakan bahasa Jawa, akan tetapi sambutan orang Jawa sendiri terhadap sastranya kurang meriah dibandingkan sambutan mereka terhadap sastra Indonesia dan terjemahan. Mudah-mudahan anggapan ini salah dan kenyataannya justru sebaliknya! Sebuah pengharapan yang dapat diumpamakan sebagai menegakkan benang basah.

            Bahkan, kini tinggal dua majalah berbahasa Jawa yang masih terbit teratur yaitu Jayabaya dan Panyebar Semangat, semuanya terbit di Surabaya, dua ikon kalawarta berbahasa Jawa yang pernah begitu ditunggu-tunggu kedatangannya oleh para penggemar mereka, tapi kini pun kehidupannya mulai berat. Majalah lain sudah lama gulung tikar, dan masih ada satu lagi yang kini sekedar menjadi sisipan satu harian di Yogyakarta.  Mungkin ada beberapa lagi yang masih hidup, dan ini semacam doa pengharapan untuk kembalinya kejayaan sastra Jawa. Beberapa tahun lalu masih terbit majalah sastra Bali, yang ternyata juga memuat karangan-karangan berbahasa Jawa termasuk cerita pendek. Entah bagaimana kabar selanjutnya.

            Memang ada sejumlah pengarang sasra Jawa yang tetap menerbitkan karyanya secara independen, seperti misalnya Ny. Kushartati dengan nama samaran Fitri Gunawan, akan tetapi sambutan khalayak kurang antusias. Ia harus berjuang keras.

Para pengarangnya
            Antologi cerpen Kemandang berisi  5 (lima) puisi (geguritan, Jw) dan 17 cerita pendek. Para pengarangnya adalah sastrawan Jawa yang kelak mengisi kemeriahan sastra Jawa hingga dekade 80-an, serta ada satu dua yang masih menulis hingga era 2000-an. Beberapa pengarang yang terkenal pada masa itu yang karyanya dimuat dalam Kemandang antara lain:

-          Any Asmara seorang pengarang yang hanya lulusan sekolah rakyat (SD)  akan tetapi mampu mengukirkan namanya dalam dinding kenangan kejayaan sastra Jawa. Gaya tulisannya romantik, sering menghanyutkan. Nama aslinya adalah Achmad Ngubaeni Ranusastraasmara, lahir di Banjarnegara, Jateng, 1913. Ia pernah berjuang mengangkat senjata selama masa revolusi kemerdekaan, kemudian menjadi pegawai kantor Pemerintah Kopra, di Yogyakarta. Karangannya tersebar di berbagai penerbitan seperti Panjebar Semangat, Waspada, Kadan Jawi, Djaja Baja (Jayabaya) Tjrita Tjekak, Mekar Sari, Minggu pagi, Mustika Timur dan lain-lainnya.

-          Poerwadhi-Atmodihardjo, yang juga redaksi majalah cerpen Tjrita-Tjekak. Karyanya juga sering dimuat di majalah Jayabaya, Panyebar Semangat, Waspada, dll.


-          St. Iesmaniasita, perempuan pengarang sastra Jawa yang terkenal di masanya. Nama aslinya adalah Sulistyautami Iesmaniasita, lahir di Mojokerto, Jatim, tahun 1933, menjadi guru di Sekolah Rakyat (sekarang SD). Cerita pendek karangannya tersebar di berbagai majalah berbahasa Jawa antara dekade 50-an hingga 80-an. Selain itu pengarang ini juga menulis dalam bahasa Indonesia. Beberapa buku novel karyanya a.l. Tjerita di Tepi Brantas, Usapan Angin Persil, Kidung Wengi in Gunung Gamping dan masih ada beberapa lagi.

-          Soebagijo IN, nama lengkapnya adalah Soebagijo Ilham Notodidjojo, lahir di Blitar, Jatim, 5 Juli 1924. Wartawan LKBN Antara ini selain berkecimpung di dunia jurnalistik juga sering mengarang, terutama dalam bahasa Jawa. Wartawan-pengarang ini meninggal dunia September 2013. Di Kemandang karangannya yang dimuat adalah Dina Bakda Nggawa Begdja.


-          Liamsi adalah nama samaran Ismail, pengarang kelahiran Pare, Kediri, Jatim, 21 Juli 1926. Ia lulusan Sekolah Guru di Blitar tahun 1948, Taman Guru Taman Siswa Yogyakarta, dan Kursus Jurnalistik dan Kesusastraan di Surabaya. Ia menjdi guru di Taman Siswa Tuban, jatim. Di antologi cerpen ini ada tiga karangannya yang dimuat yaitu satu puisi berjudul Tirta Sutji, dan dua cerpen masing-masing Anak Kuwalon dan Klebu Gelar. Salah satu ciri karyanya adalah menyerempet kesusilaan, akan tetapi disampaikan secara halus, dan humoristis.

Mereka hanyalah tiga dari 15 pengarang yang karyanya dimuat dalam Kemandang.

“Bengi Ing Pinggir Kali”

Ilustrasi Bengi ing Pinggir Kali, lukisan karya Elkana Siswojo.
            Dari cerpen-cerpen yang dimuat di antologi ini, ada beberapa yang memang menarik perhatian, walaupun kesemuanya dipilih secara seksama oleh penghimpunnya dan memang bagus-bagus. Bengi Ing Pinggir Kali (Malam di Tepi Kali) karya Iesmaniasita misalnya, ditulis secara halus (sesuai dengan perasaan rata-rata kaum Hawa), menceritakan kisah misteri tentang hubungan antara pengarang, bernama Diah, dengan seorang perempuan yang ia kagumi, Yu An nama lengkapnya Andah Susilah. Dikisahkan, Yu An menjalin asmara dengan seorang perwira tentara di masa revolusi. Orangtuanya melarang, hingga Andah lari bersama si perwira ke kota lain. Persoalannya, Andah sudah dijodohkan dengan pemuda kaya pilihan orangtuanya. Sebuah alasan klasik. Perang kemerdekaan memisahkan mereka hingga terjadi pertemuan yang tidak mereka sangka. Si perwira telah cacat dalam pertempuran, satu kaki dan satu tangannya puntung. Tapi Andah tetap bertekad menikah dengan si perwira. Sebaliknya si perwira ingin mengembalikan Andah ke orangtuanya dalam keadaan suci-bersih tidak ternoda.

            Apa yang Ilkemudian, keduanya menemui sang pemuda pilihan, untuk menyelesaikan masalah. Ternyata si pemuda pilihan tak ubahnya seorang monster berwajah malaikat. Terjadi percekcokan sehingga sang perwira tertembak mati oleh si pemuda pilihan. Andah, perawan yang masih suci, digelandang dan diperlakukan oleh si pemuda pilihan sebagai pelacur hina dina.

            Andah terluka perasaannya. Pada suatu malam yang penuh misteri di tepi kali, Diah menemui seorang perempuan yang duduk di tanggul menangis sesenggukan. Ternyata itu adalah Andah, perawan yang sangat ia kagumi. Lalu Andah pun bercerita mengenai perjalanan nasibnya.

            Cerita itu terpenggal ketika ayahnya menemukan Diah duduk di tanggul kali sendirian di malam hari yang dingin. Diah menemukan, Yu An tidak ada di sampingnya. Tiga hari kemudian baru tersiar berita ditemukan mayat berjenis kelamin perempuan mengambang di kali, dengan ciri-ciri a.l. memakai cincin bertatahkan nama Andijanto, nama si perwira yang berbudi luhur namun terbunuh oleh Mr. Danu si pemuda pilihan.

            Plot Bengi Ing Pinggir Kali cukup kaya adegan dramatik dan emosional, sudah memenuhi syarat untuk menjadi sebuah skenario film atau sinetron, walaupun terasa klasik, serta mirip cerita film India.
           
            Saya memilih cerpen ini karena sejak saya baca di klas 2 SD, Bengi Ing Pinggir Kali selalu menggantung dalam bayangan pikiran saya. Ketika itu saya begitu tercekam oleh plot ceritanya yang pada pandangan saya dramatik, mengandung misteri.

“Klebu Gelar”

            Cerpen kedua yang saya pilih dari Kemandang adalah karya Liamsi berjudul Klebu Gelar atau Masuk Perangkap. Selain sedikit menyerempet “bahaya” Klebu Gelar memiliki kejutan di akhir cerita. Satu kejutan yang berpihak pada kebenaran, pada keluhuran moral. Setelah membaca sampai akhir, pembaca bisa saja menganggap nasib yang dialami tokoh antogonis sebagai hukuman terhadap kenakalan lelaki yang nekat ingin merusak rumah tangga orang lain, apalagi si suami sasaran sedang mengadu nyawa bertugas di daerah pertempuran. Hukuman yang setimpal dan harus diterima oleh lelaki mata keranjang.

            Adalah Srini, istri seorang prajurit yang ditinggal tugas ke luar daerah. Seorang lelaki hidung belang merayunya habis-habisan, sudah sampai pada titik kenekatan yang keterlaluan. Tentu saja Srini sangat risih sebagai istri prajurit yang setia. Pada suatu saat pertahanan Srini runtuh. Ia berkirim surat ke pada sang Arjuna nekat agar datang pukul 11.00 malam. Supaya tidak dicurigai Srini meminta si Arjuna diam-diam tanpa berkata apa-apa untuk datang pada malam hari, ruangan digelapkan total dan tidak boleh ada cahaya sedikit pun termasuk rokok.

            Syarat tersebut terlalu ringan untuk playboy kampung, Cassanova KW-3. Maka ia pun menyanggupinya dengan pongah. Nafsu birahi membutakan akal sehat manusia waras. Pada malam yang menggairahkan, Djono si Arjuna mengendap-endap tanpa suara seperti syarat utamanya. Karena gelap gulita Djono mendapatkan hukuman awal berupa terantuk kursi, “kejedot” dahinya pada meja. Tapi bukan halangan baginya. Ia maju terus. Baru saja membuka pintu, tangan lembut perempuan yang ia idam-idamkan dengan penuh nafsu menariknya ke dalam. Lalu segala sesuatunya terjadi dengan seru dan diam dalam kegelapan. Akhirnya pertahanan perempuan angkuh itu rubuh.

Ilustrasi cerpen Lajange Djenate Dik Ar karya R. Noegrohp
            Djono pun pulang dengan penuh rasa kemenangan. Puas bukan main. Di rumah ia dijelang ibunya yang menyesalkan kenapa Djono pulang terlambat malam itu. Sebab hanya beberapa menit sebelumnya, Srini – perempuan yang ia incar dan baru saja ia setubuhi (menurut kepercayaannya) – dengan kawannya seorang perempuan yang lebih tua, menunggunya. Mereka pulang dengan tangan hampa.

            Bagai tersambar petir Djono terkejut bukan main. Ia bingung, mana Srini yang asli? Apakah yang baru saja ia setubuhi dengan penuh nafsu di rumah Srini ataukah yang baru saja pulang dari rumahnya? Akhirnya akal sehatnya kembali bertengger. Ia amati kembali surat Srini. Lho! Bukankah Srini itu pendidikannya sangat rendah dan tidak pandai baca tulis? Tapi kenapa tulisan surat itu begitu indah dan rapi memakai kalimat yang canggih?
Pertanyaannya terjawab beberapa hari kemudian setelah Djono berobat ke dokter spesialis penyakit kulit dan kelamin. Dua orang perempuan “nakal” bercakap-cakap di dekatnya, mengenai berapa upah yang diberikan Srini untuk melayani pria hidung belang di rumahnya dalam keadaan gelap gulita. Dari situ Djono bergidik bagaimana kotornya perempuan tersebut dan yang telah menularinya hingga sama-sama manejadi pasien dokter spesialis itu!

Liamsi menuliskan cerita itu dengan gaya kocak, terutama pada adegan Djono hendak masuk ke rumah Srini. Walaupun kejadian itu menjadi musibah Djono, pembaca dibawa agar menyukuri nasib sial si Don Juan kampung tersebut.

“Marga Godaning Sripanggung”

            Marga Godaning Sripanggung atau Akibat Godaan Sripanggung. Cerita ini sebenarnya biasa saja, sering menjadi bahan karangan sastrawan lain. Akan tetapi pengarangnya, Hadi Kaswadhi, yang lahir di Ngawi 2 April 1930, menuliskannya dengan begitu apik. Diceritakannya Sutata begitu gandrung dengan bintang panggung rombongan sandiwara yang bermain di desa sebelah. Dewi Kirah. Orangnya biasa saja akan tetapi memiliki daya tarik luar biasa ketika bermain d pentas. Sutata lupa pada kewajibannya sebagai kepala rumah tangga hingga tak menghiraukan ketika anaknya jatuh sakit hingga menemui ajalnya. Rasa sakit hatinya muncul setelah Dewi Kirah acuh-tak-acuh pada nasibnya dan meninggalkan dirinya dengan mudah ke pelukan orang lain. Sesal dahulu pendapatan sesal kemudian tiada berguna. Itu nampaknya pesan moral yang ingin disampaikan pengarang.

“Wekasane Krisis”

            Cerita pendek ini juga biasa saja plotnya, akan tetapi memiliki relevansi tinggi di tahun 2014 sekarang ini, di tengah gencarnya upaya pemberantasan korupsi di Indonesia. Itu artinya 59 tahun setelah cerpen ini dimuat majalah Panyebar Semangat no.49. Memang kisah korupsi ini hidup di sepanjang jalan Republik Indonesia sejak tahun 1945, bahkan bibit-bibitnya sudah ditanamkan oleh begundal VOC (termasuk Gubernur Jenderal) di Nusantara sejak Abad ke-17.

            Seorang mandor bangunan diberi kepercayaan atasannya untuk menangani sebuah proyek pembangunan, dan diserahi tanggung jawab keuangan sebesar Rp.15.000,- suatu jumlah yang ketika itu luar biasa. Sayangnya mandor yang semula pengangguran ini memiliki kebiasaan yang sulit dihilangkan yaitu berjudi kartu ceki (kartu Cina). Maka dengan proses berliku dan pertarungan antara baik dan buruk, di mandor gagal mengambilkan uang sebesar itu dalam tempo 24 jam. Konsekuensinya jelas, ia mendiami ruang berjeruji besi, dan setiap hari dikirimi makanan oleh anak istrinya yang setia.

            Cerpen Wekasane Krisis (Akhirnya Krisis) karya Poerwadhi Armodihardjo ini cukup menarik sebab pada awal ceritanya pembaca tidak tahu di mana si mandor korup itu berada, hanya dialog penuh perasaan dengan putrinya yang memelas meminta uang. Sebuah hukuman lain di luar KUHAP. Selanjutnya adalah serangkaian cerita penyesalan atas kebodohannya sendiri.

            Di masa dekade 50-an itu masalah korupsi sudah menggerogoti republik yang berusia masih muda. Sejumlah kasus dengan modus penjualan persetujuan kontrak terjadi karena keterlibatan sebuah partai politik. Pengusaha ini sering dijuluki pengusaha aktentas.

            Seorang pejabat tinggi (menteri) juga diduga terlibat masalah korupsi di dekade 50-an itu tapi dapat dipertanggungjawabkan hingga lolos dari bui.

            Presiden Soekarno sendiri sempat mengeluh mengenai Departemen Agama yang disebutnya penuh upaya korupsi, dan ternyata hingga sekarang masih berlangsung!

            Nah, bukankah dengan membaca cerita pendek ini kemudian membikin perasaan kita terulur hingga masa 60 tahun silam? Bahwa keadaan yang satu ini tidak banyak berubah walaupun kian modern.

Puisi

            Moeljono Soedharmo menyumbangkan dua puisi yang berjudul Gusti… dan Pengudarasane Tjah Glandangan (Keluhan Anak Gelandangan), yang berisi cerita bagaimana seorang anak gelandangan menderita kepada ibunya. Kemudian Liamsi walaupun mengarang persoalan menyerempet bahaya ia juga menyumbang satu puisi berjudul Tirta Sutji atau Air Suci.

            Membaca Kemandang ini seolah mengingatkan kita pada masa kejayaan sastra Jawa, dan berharap kapan era itu dapat dijangkau kembali.

            Tidak lupa kita dapat menikmati ilustrasi lukisan karya Elkana Siswojo yang bergaya vignet dan menjadi ciri ilustrasi buku sastra terbitan Balai Pustaka era 50 hingga 60-an.


(Bahan-bahan tersedia berkat kebaikan hati Sdr. Gunarso TS.)



  


Sisi human interest sejarah NKRI

Sisi human interest sejarah NKRI
Buku

Judul                            : Ngungak Sejarah – NKRI Limang Jaman
Penulis                         : Soebagijo IN
Bahasa                         : Bahasa Jawa populer
Penerbit                        : Pena Kreasi
Editor/Penglaras            : Goenarso TS
Jumlah halaman            : 426
Ukuran buku                  : 16 cm x 24 cm
Harga                           : Rp.175.000,- plus ongkos kirim
Kontak                          : Goenarso TS no. HP 0813 1578 7850

           
Bosan membaca buku sejarah yang kaku, formal-resmi, dan sering terlalu subyektif tergantung siapa yang menuliskannya? Sebaliknya, Anda ingin membaca latar belakang atau peristiwa yang terjadi di belakang adegan heroik momen-momen sejarah? Yang sangat menarik, dan menunjukkan sisi manusiawi di balik peristiwa akbar itu?

Terbayangkah oleh kita bagaimana Bung Karno susah-payah menahan kencing dalam penerbangan memakai pesawat tempur Jepang dari Vietnam ke Singapura? Kemudian tokoh proklamator itu terpaksa buang air kecil di sebuah lubang yang berakibat air seninya berhamburan lalu membasahi tokoh proklamator lainnya yaitu Bung Hatta? Dan Bung Hatta tertawa terpingkal-pingkal seperti yang beliau tuturkan dalam memoirnya?

Bagaimana penjahat perang Jepang Jenderal Tojo berusaha mengakhiri hidupnya dengan menembak dirinya sendiri tapi gagal, dan dengan terluka parah ia justru ditolong pasukan Amerika Serikat?

Atau bagaimana tingkah-polah arogan gembong PKI Muso yang sebenarnya kampungan?

Dialog-dialog atau kejadian apa di balik rapat akbar Lapangan Ikada, bagaimana para pemuda penculik Soekarno-Hatta mendapatkan semprotan karena gegabahnya, juga menarik untuk diketahui.

Buku sejarah bukan lagi satu teks mati dengan satu penfasiran, tapi kini diberi keleluasan untuk memaknainya berdasarkan peristiwa di balik sejarah.
Soebagijo IN (5 Juli 1924- September 2013)

            Silakan baca buku tulisan Soebagijo IN (almarhum) berjudul Ngungak Sejarah – NKRI Limang Jaman (Menengok Sejarah, Lima Zaman), yaitu cerita di balik peristiwa sejarah berbobot human interest kental. Oleh karena itu buku ini menjadi sangat menarik, bukan saja untuk mengingatkan kita akan sejarah Negara Kesatuan Republik Indonesia, tapi juga segala tingkah polah para pengukir sejarah nasional.

            Acuan zaman yang dipakai dalam buku ini menurut penulisnya berdasarkan peristiwa sejak masa Revolusi, Liberal, Demokrasi Terpimpin, Orde Baru, dan Reformasi.

            Di samping menyajikan peristiwa sejarah yang baku dan sudah sering kita simak, buku karya wartawan senior dari LKBN Antara ini memuat kejadian-kejadian lucu, menyedihkan, atau menegangkan. Dari buku semacam ini pembaca bias belajar bahwa tidak mudah melakoni peran sebagai pengukir sejarah. Semua jerih-payah yang “manusiawi” ini mengingatkan kita agar tidak menempatkan para tokoh sejarah sebagai “dewa” tanpa kesalahan sebab mereka semua ini manusia juga. Tentu saja cara pandang tersebut tidak boleh berarti merendahkan para tokoh sejarah kita, akan tetapi justru menambah bumbu penyedap sejarah. Peristiwa-peristiwa yang dibeber di buku merupakan cukilan dari buku-buku lama berbahasa Belanda milk Pak SIN.

            Sayang, buku ini ditulis dalam Bahasa Jawa popular sehingga menyulitkan pembaca yang tidak memahami bahasa tersebut. Semula isi buku adalah artikel bersambung karya Soebagijo IN – atau yang terkenal dengan singkatan SIN – di salah satu majalah mingguan berbahasa Jawa yang terlama yaitu Panyebar Semangat terbitan Surabaya. Tulisan dimuat antara 4 September 2010 hingga 17 Maret 2012 lalu.

            Tulisan tersebut dikumpulkan, diedit, dan diselaraskan kembali oleh Goenarso TS, wartawan senior di SKH Pos Kota, lulusan Pendidikan Guru Agama yang memilih menjadi wartawan, dan juga mantan Pemimpin Redaksi majalah berbahasa Jawa, Damar Jati, Jakarta, yang juga pengagum berat almarhum Pak  SIN. Selain sekedar mengedit tulisan, Goenarso TS juga menambah banyak foto dari berbagai sumber, juga kotak-kotak yang berisi kejadian yang diketahui Pak SIN tetapi belum dituliskan kembali, serta tata letaknya.

            Ditanya mengenai kenapa Pak SIN menuliskan artikelnya dalam bahasa Jawa, Goenarso mengatakan, hal itu disengaja agar selain memelihara bahasa yang mulai dilupakan penuturnya juga sebagai “eksklusif” tidak biasa.

            Menjelang wafatnya bulan September 2013 lalu, Pak SIN menyatakan kepuasannya atas kerja Goenarso TS. “Beliau untungnya sudah sempat menerima langsung royalty atas buku ini,” tutur Goenarso. Menurut orang Purworejo yang mengasah kemampuan jurnalistik dalam bahasa Jawanya di Majalah Parikesit, Surakarta, era 70-an ini, buku sudah terjual 100 eksemplar.

            Para pembeli buku ini kebanyakan adalah orang-orang yang suka pada kisah sejarah serta para pemerhati maupun penggemar bahasa Jawa.
           
            “Kapan diterjemahkan ke bahasa Indonesia?” Tanya Bella.Jurnal
            “Pertama ini merupakan warisan asli dari Pak SIN, saya ingin mengabadikannya. Kalau nanti permintaan meningkat, mungkin akan diusakan penerjemahannya,” jawab Goenarso TS.

           

Warteg "spiritual"

Warteg "spiritual"
            Bentuk warung tegal (warteg) satu ini biasa saja, sederhana, mirip sosok warteg yang ada di Jabodetabek. Tapi jangan kaget, di warung makan satu ini pelanggan bisa bersantai sebentar, setelah menikmati makanan yang rasanya cukup enak, untuk membaca buku atau majalah yang ditaruh di rak di salah satu pojok warung. Jumlah koleksinya lumayan, ada puluhan judul.
Ahmad (tengah) melayani pelanggannya dengan akrab
            Bukan itu saja. Di warteg ini orang yang sedang galau bisa berkonsultasi dengan pemiliknya, Ahmad A. Rahman, yang di lingkungannya sering dipanggil “Mbah”. Berbeda dengan para penasehat spiritual tertentu yang menarik biaya di luar akal, Ahmad mengaku lebih sering memberi makan atau sekedar ongkos pulang “pasiennya”. Masalahnya yang datang berkonsultasi adalah para warga yang secara ekonomi, sosial, dan spiritual memang memerlukan bantuan benar-benar.

            Warung yang diberi nama Warteg “NN Pos Tiga” ini terletak di Jalan Hankam Raya, Jatimurni, Pondok Melati, Bekasi. Lokasinya tak jauh dari Kantor Cabang Pembantu Bank BNI dan Mandiri, di sisi timur jalan yang lumayan ramai arus lalulintasnya.
            Selain “perpustakaan” di wartegnya, Ahmad juga mendirikan Taman Bacaan Umum yang gratis di rumah pribadinya di kampung Kresek, Pondok Melati, Bekasi. Taman bacaan yang diberi nama Ibnu Sina itu juga didirikan di kampung asalnya, Bulakamba, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah.

            Jadi selain menyajikan masakan olahan istrinya yang berasal dari Lirboyo, Kediri, Jatim, yang memberi kepuasan fisik ini, warteg NN Pos Tiga juga menyediakan menu mental-spiritual baik bahan bacaan maupun doa-doa.
            Perjalanan hidup pria yang biasa dipanggil Ki Reksobumi ini, cukup unik. Ahmad adalah lulusan Fakultas Sosial Politik Universitas Diponegoro, Semarang. Lulus dari PTN tersebut ia menjadi wartawan majalah yang isinya sebagian besar masalah ghaib dan spiritualisme. Di sela-sela kesibukannya, Ahmad memperdalam ilmu peninggalan kakeknya, sehingga lama-lama bukan lagi sebagai reporter, ia malah menjadi “narasumber” untuk urusan kebatinan/spiritual. Banyak orang yang berkonsultasi kepadanya.

Membaca sebelum bersantap siang
            Tiba-tiba saja arah hidupnya berbelok secara mengejutkan. Ahmad merasa mendapatkan “wisik” alias bisikan ghaib yang memintanya berhenti menjadi pegawai dan menantang hidup untuk berwiraswasta serta menolong orang lain. Pilihan menjadi pengusaha warteg dia ambil karena banyak anggora keluarganya yang terjun di bidang ini dan ia banyak mengambil pengalaman. 

            Sang istri yang semula bekerja sebagai staf pabrik konveksi, harus merelakan berhenti bekerja dan membedah tabungannya untuk modal usaha. Ahmad mendirikan lima warteg sekaligus pada tahun 2005. Semula maju-maju semua, tapi ternyata berbisnis tidak semudah yang ia perkirakan. Banyak tantangan terutama kejujuran para pegawainya. Maka ia tutup empat di antaranya dan tinggal satu yang dipertahankannya yaitu NN Pos Tiga itu.

            Di warung ini ia bekerja bertiga yaitu dirinya, istri dan anak perempuan tunggalnya yang masih duduk di klas tiga SLTP. Ahmad bercerita, mengambil pembantu warung dewasa ini sulit. Selain harus mengeluarkan uang muka Rp.500 ribu untuk “commitment fee”, si pembantu pun suka menuntut, minta hanya di depan, tak mau memasak apalagi mencuci piring atau bersih-bersih, dan minta digaji Rp750 ribu per bulan, plus hari libur Sabtu Minggu.

            “Bukan main deh,” tutur pria yang murah senyum ini kepada JURNAL BELLA, “itu aja kalau betah beberapa bulan masih mendingan. Umumnya baru dua bulan sudah minta berhenti, dan kita harus membayar lagi lima ratus ribu kalau pesan lewat agen di kampung.”
Ahmad memeriksa koleksi buku di rumahnya di Kampung Kresek, Pondok Melati, Bekasi
            Maka dari itu sejak beberapa tahun terakhir ia turun tangan sendiri bersama istrinya. Pelanggan warung tegalnya lumayan banyak, terutama para karyawan kantor di sekitarnya plus para pedagang keliling. Mereka akrab dengan si pemilik warung, karena selain menikmati makanan mereka bisa mengisi jiwa mereka dengan membaca atau berkonsultasi dengan pemilik warung yagn memang ramah.

            Masakan di warung ini lumayan enak untuk klas warteg yang sederhana. Ahmad menyediakan banyak menu guna melayani pelanggan yang selera dan minat makanannya berganti-ganti setiap harinya.
            Hasil dari wartegnya itu ia sisihkan sebagian untuk Taman Bacaan serta nantinya ia berambisi untuk mendirikan pos bantuan hukum bagi warga kebanyakan.
             
               

Quo Vadis 50 Tahun Roket Kita

Quo Vadis 50 Tahun Roket Kita
Roket Kartika I kebanggaan Indonesia (dulu) sebelum diluncurkan pada 14 Agustus 1964.
            Bulan Agustus mendatang  tepatnya  14 Agustus 2014persis 50 tahun kita meluncurkan roket pertama yaitu Kartika I di pantai Cilauteureum, Kawedanaan Pameungpeuk, Kabu. Garut, Jabar.
            Namun perkembangan roket Indonesia seolah “jalan di tempat”. Tahun 2009 Lembaga Penerbangan Antariksa Nasional (LAPAN) dikabarkan bertekad untuk meluncurkan roket dan mengorbitkan satelit sendiri tahun 2014. Banyak pemerhati antariksa dan roket nasional berharap banyak agar ambisi itu terwujud.
            Tak dinyana, alih-alih meluncurkan satelit buatan sendiri pakai roket made in dalam negeri, Kepala LAPAN Thomas Djamaluddin menyatakan, kita akan meluncurkan roket dan mengorbitkan satelit sendiri nanti 25 tahun lagi ! (Kompas, Sabtu, 10 Mei 2014 halaman 13).
Rupanya sudah menjadi “penyakit” bangsa kita – yang seolah ditularkan oleh pemerintah – selama 10 tahun terakhir, kita biasa menunda harapan kebahagiaan. Sering kali pejabat pemerintah menyebutkan, Indonesia mencapai kemakmuran pada tahun 2030. Artinya mereka seakan minta rakyat agar memahami bahwa sekarang ini pemerintah tak bisa berbuat apa-apa. Bahkan harapan saja harus tertunda begitu lama. Begitu juga roket yang seharusnya menjadi kebanggaan bangsa dan mampu sebagai alat “penggentar” bagi pertahanan Indonesia.
Jika roket dan satelit itu benar-benar terwujud (marilah kita doakan dengan sepenuh hati yang tulus bersih dan dengan penuh permohonan ampun kepada Tuhan YME, agar janji yang berkepanjangan itu terpenuhi) maka baru tahun 2039 rakyat Indonesia yang sekarang masih bayi menyambut gembira momentum itu. Sedangkan yang sekarang berada pada tingkat lansia dan pernah menyaksikan kejayaan dan kebanggaan bangsa Indonesia tahun 1964 semua sudah mati! Atau yang lebih parah lagi kita semua sudah lupa.
Oh, ya, doa kita tadi termasuk permohonan agar janji itu pada tahun 2039 tidak mundur lagi hingga tahun 2100 misalnya. Masalahnya jangan sampai pada saat itu yang namanya satelit dan roket rancangan kita sudah jadi barang antik mainan anak-anak.
            Sebelumnya ada harapan lembaga itu mengembangkan roket berbahan bakar cair dan serangkaian percobaan roket serie 240-X. Lembaga itupun sudah berhasil membuat satelit A-1 bekerjasama dengan salah satu universitas di Jerman, serta A-2 yang sudah dibuat sendiri. Roket berukuran nano serta mikro berbentuk dadu.
           
           
Roket “penggentar”

            Marilah kita tinggalkan kisah pilu ini, dan kembali “memamah biak” mengunyah kebanggaan masa lalu (mau apa lagi?), di mana kita sebagai bangsa benar-benar merasa memiliki harga diri dan harapan besar. Ekonomi saat itu boleh saja menderita, akan tetapi kita punya kebanggaan lain selain capaian fisik serta pengenyangan perut semata. Bung Karno sering mengatakan (mengutip peribahasa Belanda) bahwa manusia tidak hanya hidup dengan roti, “de mens leeft niet van brood aleen”. Kemudian olehnya diterjemahkan lebih jauh sebagai “een natie leeft niet van brood aleen”, sebuah negara tidak hanya hidup dengan roti (makanan pokok lain). “Ada national pride,” kata Bung Karno dalam pidato pelantikan Ali Sadikin sebagai Gubernur Daerah Khusus Istimewa Jakarta 28 April 1966.
Ada kebanggaan nasional! Itulah intinya, bukan sebagai bangsa budak yang diperintah, didikte negara asing sedangkan secara ekonominya pun tidak membanggakan apa-apa.
            Maka Kartika I menjadi salah satu upaya strategis berupa roket sepanjang 10,5 meter dan berbobot 220 kilogram buatan dalam negeri, sebagai hasil kerjasama Angkatan Udara RI, LAPAN, ITB, dan Pusat Industri Angkatan Darat (PINDAD), dalam Proyek Pengembangan Roket Ilmiah dan Militer Awal (PRIMA). Ini merupakan sub-proyek dari Proyek Roket Ionosfer Angkasa Luar atau Proyek S, dipimpin Laksamana Muda Udara Budiardjo dan Kolonel Udara J. Salatun.
            Sebuah proyek ambisius yang didorong oleh Bung Karno untuk memacu kemampuan ruang angkasa Indonesia mendahului negara-negara berkembang di dunia, utamanya Asia, Afrika, dan Amerika Latin. Bahkan di Asia waktu itu baru Jepang yang berhasil meluncurkan  “roket pensil” mereka di Tanageshima.
            Ketika itu Bung Karno berambisi besar untuk menjadikan Indonesia sebagai negara berkembang pertama yang meluncurkan roket, satelit dan bom nuklir. Tentu saja ambisi itu menakutkan negara-negara yang ia sebut sebagai neo-kolonialis atau nekolim.
            Jika sekarang kita mendengar kejayaan roket pendorong yang mampu berfungsi sebagai misil balistik antarbenua buatan Korea Utara, Tiongkok, India, Pakistan, Iran, maka pada tahun 1964 negara-negara tersebut belum “berbunyi” sama sekali.
            Kepeloporan Indonesia dalam bidang peroketan (antariksa) sekarang disalip secara menyedihkan oleh negara-negara tersebut.
            Bulan Agustus 2009 lalu Korea Selatan meluncurkan satelit pertamanya memakai wahana roket buatan dalam negerinya, Vehicle-1 (KSLV-1). Roket sepanjang 33 meter, berbobot 140 ton dan senilai US$400 juta (Rp.3 trilyun) dibuat atas kerjasama para ahli Korsel (negeri sekutu AS) dengan Rusia, diluncurkan dari Goheung. Di bulan yang sama AS meluncurkan lagi pesawat ulang alik Endeavour-nya.
            Republik Rakyat China berhasil mengorbitkan astronot pertamanya tahun 2008. Tak disangka, negeri Tirai Bambu itu diam-diam mengembangkan roket mereka di Gurun Gobi, yang menurut desas-desus dibantu oleh ahli roket dari Jerman yang ikut mengembangkan perekonomian Tiongkok hingga seperti sekarang ini. Malaysia tahun 2009 mengorbitkan satelitnya sendiri lewat roket Rusia. Bukan tidak mungkin negeri jiran ini kelak menyalip kita.

Roket Kartika I buatan Indonesia melesat ke angkasa pada 14 Agustus 1964, tepat pada HUT Pramuka.



















 Qua vadis roket Indonesia

            Nilai strategis peroketan dan persatelitan tentu tak usah diragukan sama sekali. Ketika manusia sudah mulai melirik planet lain untuk berimigrasi dari bumi yang sudah renta penuh sampah, jelas sekali antariksa menjadi strategis, apalagi dikaitkan dengan fungsi pertahanan atas kedaulatan bangsa dan negara.
            Kita bisa lihat bagaimana pentingnya memiliki satelit sendiri ketika sebuah bank plat merah, BRI, akan membeli satelit untuk urusan bisnis mereka. Sebelumnya berbagai satelit komunikasi sudah kita miliki walaupun (mohon ampun kepada Allah SWT) harus dibeli atau disewa (!) dari negara asing. Satelit Palapa menjadi kebanggaan Indonesia sebab ketika itu negara anggota ASEAN lain belum memilikinya.
            Ketika dengan bangganya seorang menteri memamerkan satelit Palapa, seorang wartawan muda yang agak “bodoh” bertanya kenapa Indonesia tidak membuat sendiri satelitnya? Jawaban pak menteri cukup “hebat”, katanya kenapa harus susah-susah bikin, membeli lebih hemat. Masya Allah ampuni kami ya Allah, mendapatkan pejabat yang bermental pedagang atau makelar seperti itu.
            Memang selama Orde Baru masalah antariksa dan peroketan dikesampingkan secara meyakinkan. Pertama pemerintah harus memberi makan rakyat yang sudah kelaparan parah. Kedua, harus memenuhi kebutuhan mereka akan sandang, papan, serta alat transportasi. Maka masalah antariksa benar-benar ada di awang-awang jauh di sana, apalagi semangat Orba ya seperti kata menteri di atas itu: beli saja daripada bikin sendiri.
            Maka semangat seperti itu kemudian keterusan, apalagi pemerintah Orba lebih memilih mengembangkan sistem ekonomi “kekeluargaan” alias mementingkan bisnis keluarga pejabat saja.
            Proyek antariksa merana. Tidak ada perhatian serius apalagi dana, selagi para ahli peroketan dan satelit bertambah banyak.
            Kalangan peroketan pun mengeluh katanya sulit bekerjasama dengan negeri lain sebab roket dan satelit menjadi obyek strategis. Bahan bakar roket pun, kabarnya, baru bisa dibuat di dalam negeri sendiri baru beberapa tahun belakangan.
            Tapi pertanyaan besarnya kenapa negara lain bisa mengembangkannya? India diduga mendapatkan keahlian itu dari Uni Soviet (waktu itu), Pakistan juga, Korea Utara apalagi. Iran mendapatkan kemampuannya atas “bocoran” dari China.
            Kenapa Indonesia tidak bisa?
            Jerman berhasil membangun roket berbahan bakar cair pertama di dunia melalui proyek Peenemunde selama 10 tahun, meskipun tidak dihargai apalagi dibantu oleh Adolf Hitler. Hanya Angkatan Darat mereka yang bersikukuh hingga dihasilkan roket V-1 dan V-2 yang pada saat-saat terakhir kekalahan Jerman justru terbukti berhasil memporak-perandakan Sekutu.
            Kita berharap jangan sampai “kebodohan” Hitler itu terulang justru di Indonesia.
            Beruntung sekali, alih-alih tidak jadi-jadi membuat roket besar dan tidak kunjung mengorbitkan satelit sendiri, LAPAN kini bekerja sama dengan Kemhan, PINDAD, dan lain-lainnya memproduksi alat utama sistem pertahanan (alusista) .
            Jangan sampai keenakan “berdagang” lantas menunda harapan rakyat akan satelit dan roket Made in Indonesia.
            Kini kita di persimpangan jalan. Apakah kita membuat sendiri roket dan satelitnya atau cukup mengimpor atau menumpang saja. Ini sekaligus mengukuhkan kemampuan baru bangsa kita yaitu apa-apa serba impor, mulai dari daging sapi, garam, bawang, cabai, dan sebagainya hingga singkong. Ada alasan yang bagus, yaitu roket dan satelit adalah obyek strategis sehingga kita pun harus didikte negara asing. Sudah tanggung, semua arah hidup bangsa disetir negara lain bahkan untuk mengurusi Taman Kanak-kanak pun harus kalah (semoga tidak) dengan negara besar patron kita.
Ini roket Kappa-8. Bukan buatan Indonesia, tapi dibeli dari Jepang guna penelitian yang hasilnya untuk sumbangan data peroketan bagi IQSY (International Quiet Sun Year). Pada tahun 1964 diadakan proyek crash program untuk mendirikan pusat antariksa di Pameungpeuk, Garut, Jabar. Proyek dipimpin oleh Dr. A. Baiquni dari Univ. Gajah Mada. Baiquni adalah ahli atom/nuklir pertama Indonesia yang disekolahkan pemerintah ke luar negeri.
            Semoga kita segera mampu meluncurkan roket dan mengorbitkan satelit yang semuanya Made in Indonesia sebelum saksi sejarah kebanggaan Kartika I pada mati kehabisan umur, yaitu mereka yang juga sekaligus saksi kelambanan sebuah pemerintahan!!